Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
TesPek


"Ded, coba Dady belikan mamih tespek, kok kayaknya badan mamih akhir-akhir ini enggak enak banget yah," ucap Fifah, begitu bangun dari tidurnya, dan di bagian perut bagian bawah seolah ada yang mengganjal dan juga selera makan dia menurun, bawan lesu dan lain-lain yang membuat dia malas buat melakukan aktifitasnya.


Meta yang baru sajah bangun dan nyawanya bahkan belum terkumpul sempurna pun kaget dengan apa yang istrinya katakan. "Kamu hamil lagi Cinta?" tanya Meta dengan kedua matanya melotot, senang banget itu tandanya dia hebat, sekali tabur langsung tumbuh, bibit yang dia miliki sangat unggul. Pikir Meta dengan kesombongan paling sempurna.


"Belum tau Dad, kan baru di coba test dulu, takutnya aku hanya kecapean ajah kan nggak tahu juga," ujar Fifah sembari duduk di samping ranjangnya, dan Mesy seperti biasa sama dua baby sisternya Oma dan grandmanya.


"Kamu siap-siap ajah! Kita kedokter saja biar lebih pasti kamu hamil atau tidaknya, enggak usah pake tes pek apaan kadang nggak akurat," balas Meta dengan antusias, dan tentu dia ingin pamer dengan yang lainya bahwa dia laki-laki yang hebat, sejatanya memang tidak usah di ragukan lagi. Meskipun nanti dia akan kena ceramah oleh mamah Mia, itu urusan nomor sekian yang terpenting dia bisa pamer dengan ke jan-tananya.


"Tapi nanti kalo aku hamil lagi gimana? Pasti nanti mamah marah dan juga Mesy masih terlalu kecil, masih terlalu butuh perhatian lebih dari kita Dad," ucap Fifah justru terisak menangis, seolah dia adalah pasangan ABG yang hamil di luar nikah dan yang cowok  tidak mau bertanggung jawab. Meta merangkul dan mengusap-usap rambut Fifah yang tergerai acak-acakan.


"Hust... Hust... jangan nangis lagi yah, itu bukan masalah yang besar. Biar nanti suamimu yang selesein semua masalahnya. Aku yang akan menghadapi mamah Mia, percayalah mamah tidak akan marah justru dia akan bahagia, karena itu tandanya rumah ini akan semakin ramai. Lagian mamah Mia ngomong kaya gitu itu karena dia saking sayangnya dengan Mesy, jadi mamah takut kalo Mesy kurang kasih sayang, padahal mah tidak akan mungkin Mesy kurang kasih sayang. Kalo kamu benar-benar hamil lagi kita cari Baby sister yang profesional buat ngurus Mesy sehingga dia tidak kurang kasih sayang, dan kamu tidak kecapean mengurus anak kita," ucap Meta dengan sangat lembut bahkan siapa pun yang melihatnya akan iri dengan pasangan pengantin baru itu. Terlebih Meta memeluk dengan hangat istrinya yang tengah sensitif.


Meta pun menyiapkan pakaian Fifah ketika dia sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi, tentu bukan hanya pakaian istrinya saja, tetapi juga pakaian dia juga, Meta yang siapkan. Biasnya Fifah yang melakukanya tetapi karena istrinya yang sedang tidak enak badan dan dugaan sementara adalah hamil, maka Meta yang mengalah dan  menggantikan tugas Fifah.


Setelah semua siap dua pasangan itu pun menuruni tangga. "Loh tumben Fifah sudah rapi nak?" tanya Mamah Mia, biasanya Fifah hanya mengenakan daster ketika mengantarkan Meta kerja. Namun pagi ini dia terlihat lebih rapih dari biasanya.


"Iya Mah, Fifah sedang kurang sehat, ini sebelum Meta ke kantor mau ajak Fifah periksa dulu," ucap Meta sembari menggendong Mesy yang seolah anak bayi menginjak lima bulan itu sudah tahu yang sedang bicara itu adalah Dady'nya sehingga tanganya ia taik-taikan menadakan bayi itu minta di gendong oleh Meta. Mesy begitu di gendong Meta langsung menyusup kesela-sela ketiak Dady nya. Kebiasaanya sejak masih di dalam kandungan Fifah suka dengan aroma keringat Meta. Tidak asem tetapi tentu wangi, sehingga bocah bayi itu seolan kecanduan, apabila di gendongan Meta dia akan nyaman di bagian tersenbunyi itu. Tidak jarang Mesy juga akan tertidur setelah mencium wangi Dady nya.


"Mesy mau diajak sayang?" tanya mamah Mia lagi.


"Ajak ajah Mah, sekalian anak ini jalan-jalan sejak Dady nya kerja jadi karyawan Bucanya Mesy, jarang sekali di kasih libur, jadi hampir tidak pernah ajak anak istri jalan-jalan, sedangkan Bucanya itu kerjaanya kencan terus sama si duda," cicit Meta tentu dia sedang menyindir Cyra, di mana Cyra di panggil oleh Mesy adalah Buca (Bunda Cantik)


"Nah kan gayanya udah mirip banget sama si duda, memang cocok nih duda sama janda. Biar buru-buru di kawinin ajah lah biar makin sombonya level tiga puluh," Meta yang memang deman berdebat ketika Cyra meladeninya tentu semakin menjadi.


"Level tiga puluh bon cabe kali. Tapi kalo aku dan Mas Naqi nikah lagi kamu kira-kira setuju enggak, Met?" tanya Cyra dengan nada centil dan mata di naik turunkan.


"Enak ajah nikah- nikah, ya enggak lah. Buktiin dulu tuh duda bener-bener serius berubah nggak? Nanti udah balik nikah lagi sama kamu, tuh duda bertingkah lagi kan minta di garuk bijinya," ucap Meta dengan nada mengancam. (Gaya bahas Meta memang aga fikiranya kotor yah teman-teman, karena dia ceritanya kalo ngomong nggak ada filter, alias ceplas-ceplos)


Cyra pun hanya menyerahkan semuanya ke pada Meta, karena Meta kan laki-laki tentu tahu dengan sikap Naqi bisa dibilang serus dengan niatnya mendekati Cyra atau memang karena merasah bersalah dan hanya ingin meminta maaf sehingga apabila ada wanita yang jauh sempurna dari Cyra dia akan meninggalkanya lagi. Maka dari itu Cyra lebih baik menunggu apa yang Meta nilai dari usaha Naqi, baru memutuskan semuanya, yah ibarat kata keputusan Cyra ada ditangan Meta.


Setelah sarapan Meta dan Fifah pun berangkat ke rumah sakit, dan dia sudah membuat janji dengan dokter sehingga dia tidak lagi mengantri seperti dulu kalo mau berobat, kekuatan uang ia gunakan untuk menghemat waktu.


Meta menggandeng tangan Fifah dengan mesra dan Mesy di gendong dengan tangan kirinya. Bahkan di otak Meta dia membayangkan tanganya mengendong Mesy yang lagi lucu-lucunya dan tangan satunya menggandeng Fifah yang perutnya sudah buncit.


"Fifah... Fifah!"


"Sial ngagetian ajah sih, mana lagi ngelamun enak-enak malah dikagetin ajah bertebaran kan lamunan gue," umpat Meta, tanpa melihat dulu siapa yang memanggilnya. Afifan dan Meta yang merasa di panggil pun menoleh dan betapa kagetnya ternyata yang memanggil adalah mantan suami Fifah.


"Aduh mana tadi anak gue di bawa lagi, gimana kalo nih ben-cong tau kalo Mesy hasil dari perbuatanya," batin Meta  mulai tidak tenang.