
Setelah Rania dan Naqi mengetahui setatus mereka adalah kakak beradik, kini mereka seolah terlibat perang dingin. Mereka jarang sekali terlibat obrolan, entah apa yang ada di pikiran keduanya, tetapi baik Naqi dan Rania seolah saling menghindar. Kebutuhan Rania setiap butuh bantuan selama tinggal di rumah sakit pun lebih banyak di bantu suster.
Padahal sebelum tahu bahwa mereka kakak beradik. Rania apabila butuh bantuan seperti ke toilet atau lain sebagainya selalu meminta bantuan Naqi. Justru Rania tidak mau apabila Suster yang membantunya. Ia lebih suka kalo Naqi yang melakukanya dan Naqi pun tidak pernah keberatan dengan yang Rania minta, ia dengan sangat telaten mengurus dan menjaga Rania. Namun kali ini kebalikanya, berbalik seratus delapan puluh derajat dengan yang dulu.
Sekarang Rania di rumah sakit sudah tiga hari, tetapi kondisinya pun belum banyak ada perubahaan. Naqi pun tengah menunggu informasi dari mamih mengenai keberadaan papihnya. Ia berjanji akan menyeret papihnya kehadapan Rania dan mrlenceritakan yang sebenarnya terjadi. Naqi juga sudah memiliki rencana untuk kembali ke keluarganya dan pastinya akan memperkenalkan Rania sebagai kakaknya. Tentu Luson yang akan menjelaskan semuanya pada keluarga besarnya. Maka dari itu ia kali ini tengah harap-harap cemas menunggu informasi di mana Luson.
***
Di lain tempat....
"Cin you yakin tega tingalin I'm, Mamih you. Nanti kalo you pergi siapa yang hibur I'm kalo lagi sedih? Huhuhu..." Meta tidak henti-hentinya sejak tadi menangis ketika membantu merapihkan pakaian dan segala keperluan Cyra selama nanti tinggal di luar negri.
"Astagah Dady, kenapa kamu dari tadi tidak berhenti nangis bahkan anakmu saja sudah pusing dengar kamu menangis," pekik Fifah yang ada di situ juga dan merasa Meta itu keterlaluan. Lagian kan Cyra juga sudah berkata bahwa dirinya pergi bukan untuk putus komunikasi. Mereka masih bisa telepon, chat, bahkan vidio call. Lalu kenapa Meta sesedih itu mau melepaskan Cyra.
Sementara Cyra saja cuek dan santai. Meta sudah sejak pulang kerja tidak mood untuk makan dan lain sebagainya. "Mamih, you nggak bisa rasain apa yang Dady rasakan sedih sekali mau melepas Cyra pergi," protes Meta tidak terima dengan tegoran dari Fifah.
"Iya loh Met, kamu nggak usah segitu bersedihnya, lagian bahkan Cyra perginya masih besok pagi. Dan kamu sudah menangis dari tadi pulang kerja apa air mata kamu belum habis? Jangan kamu habiskan malam ini air matanya. Besok kalo perpisahan di Bandara kamu nggak nangis lagi nggak rame dong," ledek Cyra. Sementara yang lain justru tertawa menertawakan Meta yang paling heboh, paling merasa sedih seorang diri karena kepergian Cyra.
Yang lain pun hanya menertawakan Meta yang dari tadi terus meraung menangisi Cyra yang besok akan terbang ke negara momynya di rawat. Sementara Tuan Kifayat sudah lebih dulu terbang ke negara 'K' semua yang atur akomodasi dan lain sebagainya adalah kakek. Begitupun keberangkatan Cyra kakek yang mengatur semuanya.
Setelah mereka semua selesai mempersiapkan barang-barang yang akan Cyra bawa, kini team Cyra pun tengah mengadakan pesta kecil-kecilan untuk perpisahan Cyra malam ini. Tidak ketinggalan Qari dan Alzam pun datang. Walaupun dua couple itu datang paling belakangan, tetapi yang terpenting kedatanganya. Yah, walaupun Cyra sudah bukan kakak ipar Qari, tetapi hubungan mereka masih sangat baik.
Bahkan Cyra pun masih sering main ke rumah Tuan Latif. Kemarin pun Cyra habis dari rumah Tuan Latif, bahkan ia sepat menginap, biarpun tidurnya di kamar Qari. Itu semua karena Cyra tidak mau tidur di kamar Naqi lagi. Terlalu banyak kenangan manis yang sangat-sangat ingin Cyra lupakan sehingga Cyra akan menghindari hal-hal yang, memancing ia ingat dengan kenangan bersama mantan suaminya.
Cyra ingin sebelum dirinya pergi ia menghabiskan satu malam untuk berkumpul dengan mamih dan Qari. Yah, kemarin mereka tidur satu ranjang dengan wanita yang banyak memberikan pelajaran buat Cyra. Baik mamih maupun Qari. Apa lagi Qari sekarang sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Qari yang dulu. Qari yang sekarang ialah Qari yang sangat bertanggung jawab baik dari kerjaan dan apa pun itu.
Qari adalah sosok pemimpin yang sangat di idolakan selain tegas, dia juga teliti dan ternyata omonganya benar bahwa otaknya cerdas. Buktinya semenjak perusahaan berpindah tangan ke Qari dan di dampingi Alzam tentunya. Omset nya maju pesat, dan prodak-prodaknya masuk ke dalam prodak terbaik dan selalu laris di pasaran.
"Sam, aku perhatiin sepertinya kamu dan Qila semakin dekat apa kalian ada hubungan yang lebih dari seorang sahabat di belakang kita?" tanya Cyra yang merasa Qila, sahabatnya menyembunyikan sesuatu tentang hubunganya dengan Sam.
Benar saja, wajah Qila dan Sam tiba-tiba sajah berubah merah merona seolah tengah menyembunyikan dosa. Padahal biasa saja wajar laki-laki dan perempuan saling suka.
Sam pun menunduk malu, "Iya kami sudah jadian tadi siang," jawab Sam dengan malu-malu kucing, tidak kalah malu juga terlihat dari wajah Qila, yang sebelumnya tidak pernah berpacaran. Sam adalah pacar pertamanya, sebab Qila dan Cyra memiliki umur yang masih muda sehingga belum pernah mengenal cinta-cintaan. Terlebih sejak lulus sekolah Qila sudah langsung bekerja, sehingga tidak terfikirkan sedikit pun untuk memiliki kekasih.
"Kenapa sih kalian itu bisa jadian sebegitu cepatnya. Kenapa aku mengejar cinta aku sebegitu sulitnya," sungut Qari sembari melirik ke arah Alzam. Yang ternyata Alzam juga tengah melakukan hal yang sama sehingga ia terlibat adu pandang sesaat, tetapi sedetik kemudian saling membuangnya lagi.
Yang lain pun terkekeh manakala melihat kelakuan Alzam dan Qari. Mereka tahu bahwa dua manusia ini saling sayang, tetapi entahlah mereka selalu sulit untuk disatukan.
Alzam yang selalu lurus, datar dan tidak bisa berekpresi mankala merasakan sesuatu. Sedih, bahagia, kaget, terkejut, dan lain sebagainya ekpresinya selalu sama. Sehingga sangat sulit mengetahui perasaanya sesuanggunya. Apakan Alzam juga mencintai Qari atau tidak. Namun yang jelas Qari masih sangat mencintai Alzam, walapun Alzam selalu menolak apabila Qari menembaknya. Alasanya ia tidak pantas bersanding dengan Alzam. Karena perbedaan di kaki Alzam mebuat ia selalu murung dan tidak mau untuk memiliki pasangan.
"Ok karena malam ini ada yang baru jadian makan-makan malam hari ini dipersembahkan oleh pasangan baru jadian ini," ujar Cyra dengan menunjuk ke arah Sam dan Qila.
Proookkk... prookkk... prookkk... suara tepuk tangan dari semua yang mengadakan perpisahan di rumah Cyra.
Qila pun seketika bingung... " Kenapa mesti aku?" tanya Qila dengan bingung.
"Itu semua karena kalian yang jadian. Bukan kamu tapi lebih tepatnya Sam. Iya kan Sam?" goda Fifah dengan menaik turunkan alisnya menggoda dokter Sam. Sementara Meta sudah tidak melow lagi dia kini tengah makan dengan lahap, hal itu karena ia yang sejak tadi menangis sehingga kini tinggal rasa lapar yang tertinggal. Mengembalikan tengaganya yang terkuras itu.
"Santai saja. Kalian mau pesan apa, pesan saja biar aku yang bayar." Sam pun malam ini sebagai seponsor untuk pesta kali ini. Yah itung-itung pajak jadian kan.
"Eh... yuk pesan-pesan makanan sepuasnya." Mereka pun dengan bersemangat memesan menu makanan yang diinginkan dari sebuah aplikasi pesan antar makanan. Padahal makanan sudah banyak tetapi rasanya kalo tidak membuat Sam mengeluarkan uang akan sangat disayangkan. Sehingga mereka memesan lagi sekiranya apa yang diinginkan.
Malam ini pun benar-benar dimanfaatkan untuk saling bertukar cerita hingga saling bermanja-manja ria pasalnya besok Cyra sudah tidak ada di negara ini lagi. Mereka hanya bisa berkangen-kangenaan lewat layar pintar saja.
...****************...
Teman-teman mampir ke karya bestie othor yook... Kenalan dulu namanya Ka Kim99, kalian wajib manpir yah, selain ceritanya kocak juga ada bapernya loh...
Yuk langsung kepoin ke lapaknya, jangan sampai nyesel loh kalo nggak mampir....