
Ewwaa... suara sendawa Cyra ketika ia selesai makan dengan banyak menu,(Sendawanya udah ditutup yah, kan di hadapan calon suami harus jaga image). Mungkin gadis itu kelaparan setelah berteriak-teriak ketika menaiki wahana di dufan tadi. "Kita mau langsung pulang atau mau kemana lagi?" tanya Naqi dia akan mengikuti saja kemana keinginan calon istrinya itu.
"Dih calon istri, PD banget Qi" pov othor.
"Pulang ajah Mas ini sudah malam, nanti malah di omelin sama satpam di rumah," ucap Cyra di mana sebenarnya dia itu sudah kecapean karena bermain tanpa henti dan tentunya jeritanya yang membahana hampir sama dengan suara sang diva, Cyra juga ingin merebahkan badanya di kasur yang empuk.
Tentu sebelum mereka pulang Naqi lebih dulu membeli oleh-oleh untuk keluarga Cyra, calon mertuanya. Naqi juga sebenarnya sudah ingin pulang, karena dia ingin bertemu juga dengan kakeknya mungkin saja kakeknya sudah pulang, dan setidaknya Naqi sudah mengantongi izin dari Kakek sehingga ia tidak akan was-was. ini dia belum mendapat kejelasan sama sekali, bahkan kakeknya pun untuk di temui oleh dirinya sulit sekali.
"Apa seperti ini nasib cucu yang lahir dari pernikahan yang sah, akan selalu kalah dengan cucu dari yang lahir dariĀ hubungan yang tidak jelas," batin Naqi sama seperti Qari yang merasa tersisih oleh kakeknya.
"Mas, enggak mampir dulu?" tanya Cyra sebelum benar-benar masuk kedalam rumahnya, tentu dengan kantong makanan di tanganya. Biasa buat sogokan penjaga Cyra agar cepat-cepat di restui. Naqi sudah kebelet pengin kawin.
"Lain waktu saja Ra, badanya pegel juga pengin istirahat," tolak Naqi. Yah, sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin buru-buru bertemu dengan kakeknya, dan langsung merebahkan badan di kasur empuknya.
"Ya udah kalo nanti Mas udah sampe rumah kabarin yah, naik motornya jangan ngebut dan tetap hati-hati," ucap Cyra dengan senyum mendamaikan yang sangat terlihat tenang, dan hal itu yang membuat Naqi makin pengin buru-buru nikahin wanita dihadapanya.
"Iya terima kasih Ra, kamu juga yah istirahat dan mimpiin Mas yah," ucap Naqi sebelum ia benar-benar pulang kerumahnya.
Cyra pun segera masuk kerumah dan Naqi sendiri melajukan motornya untuk pulang juga ke rumah keluarga Ralf.
Sesampainya di rumah tentu sesuai rencananya di mana Naqi akan langsung menemui kakeknya. "Mih, kakek ke mana?" tanya Naqi yang justru tidak melihat tanda-tanda ada kakeknya di rumahnya.
"Kakek belum pulang, katanya untuk mengurus acara pernikahan Rania dan Adam akan banyak kerjaan di luar. Entah akan bulang jam berapa," ucap mamih, dengan santai.
Sementara Naqi yang mendengar hal itu semakin kesal dan ingin marah dengan Tuan Latif itu, kenapa dia malah seolah-olah ingin memanas-manasi dirinya. Kenapa mesti Rania terus yang jadi nomor satu sedangkan dia saja cucunya boro-boro di perhatikan. Naqi hanya ingin sebuah izin dan restu dari kakeknya itu, tetapi kenapa sesulit itu, apa memang Tuan Latif ingin menghukum dirinya.
Namun hukuman yang seperti apa lagi yang di peruntukan untuk dirinya setelah Naqi merasakan bahwa dirinya sudah cukup banyak menerima hukuman dari kakeknya atas kesalahanya memilih kakak tirinya. Sementara Rania akan tetap jadi Qween.
"Apa cucu Kakek itu cuma Rania, Rania dan Rania. Apa cucunya tidak ada lagi. Naqi cuma ingin bertemu dengan kakek untuk meminta izin menikah dengan Cyra. Itu Naqi lakuin juga karena Naqi yang masih peduli dengan kakek sebagai orang tertua di rumah ini. Setelah itu biarkan Naqi yang mengurus pernikahan Naqi seorang diri. Tidak apa-apa Naqi tidak diakui oleh kakek," ujar Naqi dengan nada yang terlihat penuh emosi.
"Naqi kamu ngomong apa sih, kakek itu hanya ingin memberi yang terbaik buat cucunya, Rania. Itu saja tidak ada yang lain, kenapa kamu jadi marah seperti itu. Biarkan Kakek melakukanya karena Rania memang berhak untuk mendapatkan perhatian kakek juga," balas Mamih yang justru seolah ibu kandungnya juga berpihak pada Rania.
Sontak Naqi yang badanya sedang cape dan ditambah dengan kesal dengan kakeknya dan juga mamih yang seolah mendukung kakeknya menambah kegondokan Naqi. Laki-laki berumur tiga puluh tahun itu pun langsung meninggalkan mamihnya dan naik ke kamarnya guna beristirahat, mungkin dengan tidur besok ia akan bertemu dengan kakeknya.
"Hahaha... dasar bocah kebelet kawin sampe sebegitunya," dengus mamih ketika melihat putranya yang ngambek masuk ke dalam kamarnya.
Cyra yang baru masuk ke dalam rumahnya justru kaget ketika melihat kakek dan Mr Kim ada di rumahnya.
"Loh, kakek ada di sini? Tadi Mas Naqi pengin buru-buru pulang katanya pengin ketemu Kakek," ujar Cyra dengan memberi salam dengan hormat.
"Biarkan saja, sekali-kali biar buat kejutan sama anak bandel itu," balas kakek dengan santai. Cyra semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Sampai kakek meminta duduk Cyra untuk mengutarakan kedatanganya.
"Jadi gini Ra, Kakek datang kesini itu untuk melamar Cyra, mau enggak menikah lagi dengan cucuk kakek yang bandel itu," ujar kakek dengan suara yang halus, meskipun diselipkan ada sedikit candaanya tetapi Cyra tidak tertawa hal itu karena ia yang kaget dengan kabar yang kakek bawa.
"Loh kek, apa kakek artinya sudah merestui hubungan Cyra dan Mas Naqi, kata Mas Naqi dia masih belum dapat izin dari kakek," jawab Cyra dengan wajah bingungnya.
Kakek hanya tertawa renyah, biarkan saja dia uring-uringan, kakek lebih juga dia yang uring-uringan giti," balas Kakek dengan senyum mengembang sempurna.
"Astagah, jadi itu tandanya kakek... Cyra tidak melanjutkan keterkejutanya. Karena kakek yang meletakan jari telunjuknya dan itu tandanya ia harus tutup mulut.
"Gimana mau enggak? Tawaran ini cuma berlaku satu kali loh," ucap Kakek dengan terkekeh. Dan pastinya yang lain juga sama bahkan suara ruangan pun riuh seolah ada pasar malam.
Wajah Cyra seketika memerah karena malu. "Mau, kek," jawab Cyra sembari menunduk.
"Alhamdulillah, kamu tenang ajah kalo Naqi macam-macam bakal kakek seleding," ucap Kakek dengan gayanya yang seperti jagoan.
"Siap Kek, Cyra akan mengadu sama Kakek kalo Mas Naqi sakiti Cyra," balas Cyra dengan tersenyum bangga, karena kakek yang selalu berpihak padanya. Sementara Naqi yang cucunya sendiri malah tidak di pihaknya.
"Alhamdulillah, mudah-mudah ini adalah keputusan yang baik dan tentu semoga baik juga buat semuanya." Doa kakek dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau juga ingin yang terbaik buat cucu-cucunya.
"Amin," jawab serentak, dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Jadi kapan Kek acara pernikahanya?" tanya Cyra dengan sepontan.
Sontak saja ruangan kembali riuh dengan tawa renyah. Wajah Cyra pun kembali memerah.
"Sabar Ra, sabar...."