
Di rumah megah dan mewah Tuan Latif, terjadi kekacauan pasalnya sejak semalam Naqi dan Cyra tidak pulang. Pagi-pagi dihubungi pun tidak ada nomor yang aktif.
"Udah lah Kek, Mam. Mungkin mereka lagi bulan madu. Kalian nggak pernah kasih mereka waktu buat bulan madu jadi mereka kabur buat bulan madu wajar lah." Qari terlihat lebih santai.
Sekarang Qari bahkan sudah menjabat sama seprti Naqi, sehingga semua kerjaan Naqi, Qari bisa gantikan, jadi dia tidak kehilangan apabila Abangnya tidak datang ke kantor. Sedangkan Alzam menjadi asisten pribadi Naqi dan Qari dibantu oleh Mirna, asisten Alzam.
Sementara Qari sudah beberapa kali menjalin pendekatan dengan laki-laki, mengikuti kemauan Alzam. Namun Qari belum mau melepaskan Alzam begitu saja. Qari masih ingin menjadi istri Alzam, tentunya.
"Ini bukan bulan madu Qari, lagian kalo bulan madu Kakek udah tawarkan untuk ambil cuti. Naqi sama Cyra masih belum mau jadi jangan bilang ini bulan madu. Nanti kamu lihat Naqi datang ke kantor tidak. Biar kakek tau ada apa sebenarnya." Tuan Latif meminta Qari mencari tahu tentang Abang dan kaka iparnya.
Dengan malas akhirnya Qari menyetujui permintaan kakeknya juga.
*****
Di tempat lain...
Fifah tengah menagis pasalnya Niko selalu menuduhnya mandul, karena sudah enam bulan mereka menikah, Fifah belum juga hamil. Pagi ini Niko datang ke rumah Fifah untuk melakukan penyatuan. Bahkan Niko sudah hampir satu bulan ini tidak tinggal di rumah Fifah.
Niko selalu tinggal di rumah Zoya dengan alasan Zoya yang tengah sakit. Fifah memakluminya. Namun belakangan Niko selalu menuntut agar Fifah segera hamil.
"Nanti sore kita pergi ke dokter kandungan aku mau tau kamu sebenarnya wanita bisa memberikan aku keturunan atau tidak. Rasanya sia-sia aku melakukan hubungan sama kamu, kalo kamu juga nggak kunjung hamil." Niko langsung meninggalkan Fifah tanpa menyentuhnya. Dia sudah kehilangan naf'su nya karena mengingat Fifah tak juga hamil.
Fifah menangis beban fikiranya sangat berat. Ia ingin sekali pergi dari neraka milik Niko, Namun lagi-lagi orang tua Fifah masih membutuhkan uang dari Niko.
Bahkan sekarang Tuan Kifayat sudah bisa pulang ke rumah yang Niko sewakan untuk orang tua Fifah. Namun Tuan Kifayat masih belum bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya yang kaku bak mayat hidup. Sebenarnya seharusnya masih sangat disarankan untuk berobat, tetapi karena alasan ekonomi, Fifah memutuskan untuk menghentikan pengobatan.
Fifah tidak mau dikatakan menumpang terus dengan Niko. Setiap ada masalah Niko akan mengatakan bahwa keluarganya hanya menumpang makan pada dirinya. Memang kenyataanya seperti itu, tapi bukanya Niko yang mau semua ini.
Dia yang menjadikan Fifah mesin produksi anak agar bisa memberikan keturunan dan dia mau menggantinya dengan pengobatan orang tua Fifah maka dari Fifah tidak memberontak, karena ia masih membutuhkan kucuran uang dari Niko, meskipun Fifah sangat tersiksa dari kelakuan Niko.
Sore hari pun Niko menepati ucapanya dia mendatangi lagi rumah istri mudanya, dan akan meminta Fifah untuk memeriksakan diri ke dokter agar tau dia ada masalah atau tidak di rahimnya. Sebenarnya Fifah enggan, tapi karena dipaksa terus akhirnya Fifah pun menyetujuinya.
Sepanjang perjalanan Niko dan Fifah diam. Niko yang kesal dengan sikap Fifah pun menepikan Mobilnya.
****
"You yakin cin, mau pulang kerumah laki you, I'm nggak setuju kalo you pulang ke sana." Meta masih sangat berat melepas anak angkatnya pulang ke rumah suami durjananya.
"Yakin Met, lagian aku mau menyelesaikan masalahku dong, aku nggak mau lari dari masalah. Aku mau kita baik-baik kedepanya tidak saling menuding." Cyra harus meminta kejelasan juga. Terlebih pasti Kakek dan Mamih juga mencari dirinya.
Cyra pun memutuskan untuk pulang menggunakan Taxi sementara Meta juga pulang. Di tengah jalan Meta menghentikan laju kendaraanya pasalnya ia melihat sebuah mobil yang terpalkir di tepi jalan yang sepi.
"Gila yah orang-orang sekararang. Matahari masih kelihatan udah nggak tahan banget. Enggak punya uang apa buat menyewa hotel, di dalam mobil mana di pinggilnjalan masih juga ngambil kesempatan." Meta akan memberi pelajaran pada orang yang berada di dalam mobil itu. Meta yakin bahwa penumpangnya tengah bercocok tanam karena mobil yang gerak naik turun.
Meta turun dari mobilnya ia mengintip ke dalam mobil itu. Betapa kagetnya Meta ketika liat penumpangnya yang hampir meregang nyawa karena di cekik sama laki-laki yang ada di dalam sana.
Braaaakkkkkk... Braaaaakkkk... Braaaakkkk... suara kaca jendela mobil yang meta pukul pake batu besar sampai pecah berantakan. Meta langsung membuka pintu mobil dan menarik tangan laki-laki itu, setelah laki-laki itu turun dari mobil, lalu Meta meninjunya dengan sekuat tenaga.
Niko pun tersungkur di jalanan. Meta menendang perut Niko sampai ia meringis menahan sakitnya.
"Gila yah kamu Bung, kamu hampir membuat wanita itu mati sia-sia. Kalo ada masalah diselesein buka dibunuh." Meta meninggalkan Niko yang meringis menahan sakit di perutnya dengan ujung bibir mengeluarkan darah.
Meta langsung menghampiti wanita yang tengah terbatuk-batuk dengan luka bibir pecah, pipi biru karena tamparan Niko dan nafas yang tersenggal.
"Kamu baik-baik saja kan?" Meta membopong Fifah memindahkan pada mobilnya. Yah wanita yang hampir mati karena dicekik adalah Afifah.
"Kita mau kerumah sakit atau kemana?" tanya Meta dengan gemetar.
Fifah menggeleng, karena ia sudah merasa baikan, hanya pipi yang panas, air matanya jatuh tanpa henti. Hampir saja ia meninggal karena kelakuan Niko.
Meta menghentikan mobilnya.
"Kamu yakin?" tanya meta dengan menatap Fifah dan memegang pipinya yang biru.
Fifah mengangguk, tidak ada kata yang keluar dari mulut Fifah. Kecuali suara isakan tangis darinya.
"Dia siapa? Lalu kenapa dia mau membunuh kamu?" Lagi, Meta yang penasaran pun terus mencecar Fifah dengan pertanyaan.
Namun Fifah justru menangis semakin kencang. Meta pun menggeser tubuhnya dan menarik kepala Fifah ke dalam dadanya. Meta terenyuh dengan tangis Fifah. Ia ingin menenangkan Fifah. Mungkin hanya dada yang Fifah butuhkan saat ini.
Cukup lama Fifah menagis bahkan matahari pun sampai tenggelam baru Fifah bisa sedikit tenang. Fifah melepaskan pelukan Meta. Ia duduk bersandar.
"Terima kasih," Fifah yang sudah lebih baik mau memulai obrolan meskipun masih terbata karena isakan tangis yang masih ada.
"Udah lebih baik. Bisa cerita dia siapa? Kalo kamu merasa terancam dengan laki-laki itu biar aku bisa membantu melaporkanya ke polisi," ucap Meta, sebab ia juga kesal kelakuan laki-laki itu tidak bisa ditolerin. Hampir dia membunuh wanita yang ada disebelahnya. Telat beberapa menit saja Meta datang, Fifah bisa pindah alam.
Fifah menunduk memainkan jari-jarinya.
"Kamu nggak usah takut, aku bukan orang jahat. Penampilan aku memang seperti ini, tapi aku orang baik," ucap Meta mengenalkan dirinya. Agar Fifah tidak takut.
"Di... dia suami aku," lirih Fifah.
"Su... suami?" tanya Meta terkejut, "Suami kamu kenapa mau membunuh istrinya?" Meta semakin dibuat penasran.
"Aku istri ke dua, istri pertamanya tidak bisa hamil. Lalu dia menikahi aku agar punya keturunan, tapi kita sudah menikah selama enam bulan belum juga hamil. Dia marah-marah terus menuduh aku mandul dan lain-lain. Tadi dia mengajak aku priksa ke dokter untuk mengetes kesuburan rahim aku. Ditengah jalan tadi kami berantam hebat. Lagi-lagi dia menghinaku. Selama ini aku dia dan mengalah apabila dia menghina aku dan keluargaku. Namun tadi aku tersulut emosi juga. Lalu aku bilang, sepertinya yang mandul buka aku tapi dia buktinya punya dua istri tidak bisa membuahi.....Hihihihi...." Fifah tidak melanjutkan ceritanya karena tidak tahan. Ia terlalu sedih ketika mengingat kejadian tadi, di mana Niko langsung marah dan membabi buta menampari pipinya sampai mencekik hampir ia kehilangan nyawanya.
Meta mengelus rambut Fifah. "Sudah kamu aman bersama aku. Tinggalkan laki-laki tempramen kaya dia. Biar dia hidup dengan penyesalanya." Meta tidak tega apabila ada wanita yang disakiti oleh laki-laki.
Fifah pun akhirnya mengangguk. Kebetulan ia juga ingin lepas dari Niko.
Meta pun melajukan kembali mobilnya dan menganjak Fifah tinggal di rumahnya. Lumayan kan bisa buat teman Mpok Mia. Yang kesepian di rumahnya seorang diri.