
Cyra meletakan satu piring cake hasil buatan dirinya dan Naqi. Ia juga meletakan satu cangkir kopi di atas meja kerja Kakek. Namun, kedua netranya menangkap sesosok gambar wanita yang sangat mirip dengan dirinya, tetapi jelas bukan dirinya.
"Kakek, wanita yang ada di foto itu siapa?" tanya Cyra menunjuk pada gambar yang ia maksud.
Kakek pun baru sadar bahwa ia lupa menyimpan foto Ezah, ibu kandung Cyra.
Di mana Ezah sebenarnya adalah ibu kandung Cyra yang menikah dengan anak dari sepupu Kakek yang sudah lama terpisah karena mereka tinggal di beda negara. Namun mereka di kabarkan mengalami kecelakaan pada saat berlibur ke negara yang terkenal dengan sebutan negara seribu pulau, Indonesia.
Namun kakek mulai curiga ketika para pekerja yang ikut berlibur hanya menemukan jasad Darya. Mereka tidak menemukan jasad Ezah. Di mana para pekerja mengaku kalo Ezah hanyut dalam kecelakaan mobil yang masuk ke sungai sedangkan sopir dan jasad Darya sebagai suami atau papah Cyra ditemukan. Namun jasad Ezah, ibu Cyra tidak ditemukan keberadaanya. Awalnya Kakek percaya bahwa jasad anak dari sepupunya memang hanyud ke sungai dan sulit untuk menemukanya. Namun semakin lama kecurigaan kakek kembali muncuk ketika harta peninggalakan Almarhum satu per satu berpindah tangan.
Terlebih Darya dan Ezah adalah pengusaha kaya yang memiliki berbagai aset terutama di negri ini.
Setelah ditelusuri satu persatu ternyata kekayaan keluarga mereka telah berpindah tangan dan habis entah kemana. Namun semakin di selidiki lebih dalam lagi, kekayaan mereka berpindah tangan pada salah satu karyawan kepercayaan Darya yaitu kaka dari Tuan Kifayat. Setelah sekian lama menelusuri dan di cari kebenaranya ternyata kaka dari Tuan kifayat juga meninggal tidak lama dari kecelakaan itu, dan kekayaanya diambil alih oleh Tuan Kifayat.
Sangat sulit memang kakek memecah teka teki ini pasalnya rencana mereka sangat matang dan hampir kehilangan jejak, sulit di telusuri. Namun berkat orang-orang kakek yang sangat konsisten dan rela bekerja keras akhirnya Kakek bisa menemukan Ezah dengan selamat si rumah Kifayat meskipun saat di temukan kondisi Ezah sangat memprihatinkan. Tubuh yang kurus dan kumel karena tidak terawat serta tubuh yang banyak bekasa luka. Namun yang paling membuat kakek tidak bisa memaafkan Tuan Kifayat adalah kondisi mata Ezah yang buta.
Tuan Latif tengah menangani sakit Ezah dan mengusahakan penyembuhan matanya. Kakek untuk saat ini belum bisa menceritakan siapa wanita yang ada difoto pada Cyra. Bukan karena Kakek ingin menyembunyikan keberadaan Ezah dari anaknya, tetapi kakek tidak ingin melihat Cyra bersedih manakala melihat keadaan ibu kandungnya yang sangat memprihatinkan. Namun suatu saat apabila kondisi Ezah sudah sembuh dan bisa melihat kembali pasti kakek akan mempertemukan Ezah dan anak kandungnya yaitu Cyra.
"Kek... kenapa Kakek melamun?" tanya Cyra mengerak-gerakan tanganya dihadapan kakek. Agar Kakek tersadar dari lamunanya.
Kakek terperanjat. "Ah Kakek hanya memikirkan sesuatu, tetapi tidak terlalu penting. Sudah lupakanlah." Kakek pun akhirnya mengambil sepotong kue, mencicipi kue buatan Cyra dan Naqi.
"Ini kue butan kamu? Wah ternyata kamu jago bikin kue yah? Kenapa kamu tidak ambil kursus lalu mengembangkanya menjadi bisnis. Kalo kuenya enak begini mah pasti banyak yang beli." Kekek coba mengalihkan pertanyaan Cyra.
"Ah Kakek bisa sajah. Cyra itu buat kue hanya karena hobby dan lagi kalo jualan belum ada waktunya untuk memulai semuanya Kek," jawab Cyra dengan polos.
"Duduk lah dulu!" Kakek meminta Cyra duduk di hadapanya.
Cyra pun menurut sajah duduk di kursi depan kakek.
"Kalo kamu minat dengan bisnis kue ini, Kakek bisa bantu. Jadi nanti kamu tidak harus kerja keras membuat adonan kue, mengemas dan memasarkan prodak kamu. Cukup kamu mencari para karyawan yang bisa kamu andalkan. Kamu nanti hanya membagi resep dan menuangkan ide-ide untuk jualan kamu. Gimana kamu tertarik tidak?" tanya Kakek dengan antusias. Kakek ingin mengembangkan hobby Cyra.
"Sebenarnya Cyra tertarik Kek, tapi Cyra juga takut kalo nanti bisnis Cyra malah rugi terus gulung tikar karena tidak ada pembeli gimana?" Cyra yang belum terbiasa dengan dunia bisnis pasti takut apabila usahanya langsung bangkrut dan merugi.
Hahahaha... Kakek tertawa dengan renyah.
"Cyra... Cyra... namanya bisnis, jualan itu pasti ada untung dan ada ruginya. Kamu juga ketika memutuskan untuk berbisnis atau berjualan harus tau ilmu dan triknya dulu. Jangan langsung terjun, buka lapak langsung nawarkan dagangan. Kalo begitu caranya ya iya ada kemungkinan kamu bangkrut dan usahamu langsung gulung tikar.
"Kalo kita mau dagang, kita itu harus tau produk yang akan kita jual. Target pemasaran keunggulan, kelemahan. Kalo nggak gini ajah deh kamu belajar dengan cucu Kakek yang paling ganteng, Naqi. Setelah itu kalo kamu tertarik untuk mencoba berbisnis, Kakek akan coba pinjamkan kamu modal. Kamu harus punya target dalam berbisnis. Agar kerja kamu tidak sia-sia." Kakek memberikan solusi pada Cyra.
Cyra masih bingung. Bukan dia tidak mau mencoba usaha yang Kakek ajarkan, tetapi kalo harus belajar dengan Naqi sepertinya akan sulit. Pasalnya mereka sajah akurnya hanya sebentar. Lebih lama berantemnya dari pada akurnya. Gimana mereka akan saling membantu, yang ada malah saling mengacaukan.
"Ko malah gantian kamu yang bengong. Kenapa?" tanya kakek mengagetkan Cyra.
"Ah... tidak Kek, nanti Cyra coba fikir-fikir lagi deh Kek." Cyra mencoba mengulur waktu agar Kekek tidak selalu menekanya.
Sebenarnya Cyra ingin bertanya kembali dengan foto wanita yang ada di atas meja kakek. Namun Cyra merasa sungkan pasalnya sepertinya kakek tidak ingin memberi tahu siapa wanita itu.
Akhirnya Cyra pun pamit undur diri, tetapi masih dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
Cyra keluar dari ruangan kakek dengan banyak teka teki di dalam kepalanya. Ingin ia masuk kembali kedalam ruangan itu, dan kembali menanyakan foto wanita itu, rasanya selalu membuatnya bertanya tanya.
Mamih, Naqi dan Qari yang melihat wajah murung Cyra pun mengira Cyra telah dimarahi oleh kakek, sehingga keluar ruangan itu dengan wajah murung, dan jalan yang lemas seolah kehilangan tenanganya. Mereka saling melempar pandangan, dan setelahnya menggidigkan bahunya.
"Ra kamu kenapa? Kalo Kakek marahin kamu, karena kamu masuk ruanganya. Kamu jangan ambil hati yah Kakek memang seperti itu suka tidak suka diganggu kalo soal kerjaan." Naqi sebagai orang pertama memberi dukungan pada Cyra.
Cyra pun kaget dengan maksud omongan Naqi. Ia akan mengatakan bahwa dia sedih bukan kakek marah karena ia masuk ruanganya. Justru kakek suka dengan cake buatan merekan.
E....
"Kakak Ipar, jangan sedih kalo Kakek ngomong sesuatu biarkan sajah. Anggap ajah angin yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri." Qari tidak mau kalah memberikan dukungan juga untuk kakak Iparnya.
"Hust... kamu itu kalo ngajarin sesuatu tidak pernah benar." Mamih menepuk pundak anak gadisnya yang mengajarkan Cyra tidak benar.
"Kamu jangan ikutin omongan Qari. Itu namanya tidak sopan. Kalo Kakek berkata kurang mengenakan buat kamu kamu jangan ambil hati. Maafkan sajah perkataan Kakek." Mamih pun nampaknya lebih bijak.
"Bukan ko Mih, Mas, De. Kakek tidak marah, justru Kakek suka dengan kue buatan Cyra dan Mas Naqi," jawab Cyra dengan santai.
Mamih, Naqi dan Qari pun sepontan membuang nafas kasar...
Huhhh....