Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Rencana Tuan Latif


Setelah memastikan bahwa Cyra tidak ada yang ingin mencoba wahana lainya, Cyra dan Naqi pun memutuskan akan melanjutkan kencanya dengan berjalan-jalan di pinggir pantai, untuk menikmati sun set. Dengan berjalan tanpa alas kaki dan menikmati pasir pantai. Lagi-lagi Cyra hanyut dengan kebahagiaan yang sederhana itu. Dia dan Naqi hari ini benar-benar berkencan seperti ABG. Bucin, mungkin mereka sekarang tengah merasakan menjadi budak cinta. Tangan keduanya saling bertautan dan berjalan menyusuri bibir pantai. Sekali-kali dua anak manusia yang sedang jatuh cinta bermain air laut yang terbawa sapuan ombak hingga mengenai kaki mereka. Pasangan bucin itu pun lalu duduk di pinggir pantai, setelah lelah menyusuri panjangnya bibir pantai. Setelah berselfi ria dan berpose dengan pose terbaiknya Cyra dan Qari memutuskan duduk menikmati keindahan pantai di sore hari dengan angin berhenbus dengan sejuk. Foto selfi couple ia niatnya ingin pamer di sosial medianya, tetapi lagi-lagi Cyra menghapusnya karena ia takut nanti ada yang mengetahui hubunganya dengan Naqi. Meskipun kalo di kalangan keluarga hubungan mereka sudah tidak ada yang di tutup-tutupi lagi. Namun untuk konsumsi publik Cyra berlum berani melakukanya.


"Aku itu lagi kesel banget sebenarnya Ra, untung kamu ada ide buat ajak aku jalan-jalan kayak gini, sehingga aku sudah tidak begitu kesal lagi. Tapi kalo keingat kakek, suka gondok lagi," ucap Naqi ketika Cyra baru meletakan bokongnya di atas pasir setelah bermain air.


"Pantesan Cyra liat. Mas Naqi itu kayak lagi ada masalah gitu, ada masalah apa emang coba bilang sama Cyra siapa tahu Cyra bisa bantu!" balas Cyra sembari menatap wajah Naqi yang memang setengah murung itu.


"Kesel ajah sam Tuan Latif," jawab Naqi jutek.


"Kakek, kenapa kakek, dia baik kok," bela Cyra, yah bagi Cyra kakek itu udah seperti dewa penolong. Sehingga ia tidak merasa bahwa kakek itu menyebalkan.


"Baik sih baik tapi pilih kasih, masa Rania sama Adam mau nikah minggu depan. Dia langsung terima itu lamaran dari keluarga Adam, dan juga kakek akhir-akhir ini selalu sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Bahkan untuk mempersiapkan semuanya kakek harus beragkat pagi, dan entah lah ia akan pulang sampai jam berapa. Aku mau ngomong dan minta izin buat nikahin kamu ajah susah banget buat ketemu sama dia," adu Naqi, dan memang baru kali ini dia di bikin sekecewa seperti ini oleh kakek. Pantas saja Qari sangat membenci Rania karena memang kakak tirinya itu seperti rubah berbulu domba baik di luar, tapi ternyata dia itu ingin menguasai semuanya. Bahkan anggota keluarganya satu petsatu berpihak pada Rania.


"Mba Rania akan nikah sama dokter Adam? wah kalo gitu, mungkin kakek lagi mempersiapkan pesta pernikahan mereka. Terlebih ini pernikahan dokter Adam yang sudah jelas juga rekan sejawatnya yang mungkin saja mau di undang, dan kakek juga menikahkaan Rania cucu perempuanya mungkin akan mengundang banyak rekan bisnisnya. Sehingga butuh gedung dan persiapan yang sempurna," ucap Cyra  justru terlihat antusias. Sedangkan Naqi yang mendengar jawaban Cyra langsung kesal dan malas untuk melanjutkan ceritanya.


"Udah ah jangan bahas kakak tiri aku, masih kesal aku saama dia dan sekarang malah kakek juga ikut ikutan buat bela dia  makin kesal deh," ucap Naqi, keinginanya hanya satu bertemu dengan kakek kan meminta izin untuk menikahi Cyra lagi. Sebab mamih hanya akan mengizinkan apabila Naqi sudah mendapat izin dari kakek.


Namun bagaimana dia meminta izin dengan kakeknya apabila bertemu  dengan kakeknya ajah tidak bisa, dan kalo meminta izin dari sambungan telepon itu sangat tidak sopan.


"Sabar dong Mas, bukanya Cyra juga tidak masalah kok, nikahnya nanti-nanti yang penting izin dulu di kantongi, agar pernikahan kita yang kali ini itu berkah dan yang terpenting bisa menjalani pernikahan ini dengan bahagia dan bisa melewati ujian yang kita lalu nanti  dengan bersama-sama. Lagian malah kalo kita belum nikah  berati masih di kasih kesempatan untuk saling berdekatan," ucap Cyra denga mencoba menghibur Naqi.


Naqi pun tersenyum dan coba mengikuti saran dari Cyra, dan setelah menikmati sunset yang sangat bagus karena memang cuaca juga yang sangat cerah. Tangan mereka saling bergenggaman dan Cyra menyenderkan kepalanya di pundak Naqi..


"Mas, boleh enggak Cyra bertanya?" ucap Cyra dengan suara lirihnya.


"Mau tanya apa? Soalnya jangan yang sulit-sulit yah, naanti ketahuan kalo Mas itu dulu lulus sekolah karena hasil mencontek," kelakar Naqi sembari menatap Cyra penuh arti.


Cyra tersenyum dengan lebar ketika mendengar jawaban dari Naqi. "Enggak kok, cuma pengin tahu ajah. Kenapa sih Mas Naqi itu bisa suka sama Cyra, sedangkan Cyra itu wanita yang memiliki kekurangan bahkan banyak yang melihat kalo Cyra itu kayak laki-laki dan tidak seperti wanita pada umumnya yang memiliki mahkota indah di atas kepalanya. Alasan Mas Naqi itu apa? Kenapa memilih Cyra sedangkan wanita lain banyak yang lebih sempurna dari pada Cyra?" tanya Cyra dengan mata tetap fokus menatap lurus kelangit jingga keemasan yang terlihat sangat indah.


Naqi menarik nafasnya dalam. Dia juga bingung apabila di tanya cinta dari mananya. Yang jelas Naqi sayang dengan Cyra. Bahkan dia seolah lupa kalo calon istrinya itu tidak memiliki rambut.


"Dari mana yah Ra, jujur kalo ditanya seperti ini Mas itu bingung jawabnya. Dulu Mas juga ragu dengan perasaan ini sehingga Mas tetap bertahan memilih Rania. Mas ragu kalo perasaan Mas sama kamu itu hanya sebatas kasihan dan iba dengan nasib kamu. Mas takut kalo hanya iba dan kasihan Mas tidak bisa membahagiakan kamu. Karena Mas tidak tulus dengan kamu. Tetapi setelah Mas kehilangan kamu. Satu tahun itu membuat Mas terhukum oleh rindu dan kesalahan. Sehingga Mas yakin kalo perasaan sama kamu itu bukan iba dan kasihan, tetapi Mas memang cinta dan sayang sama kamu. Sampai-sampai seolah dunia tanpa warna dengan kepergian kamu. Dan soal kekurangan. Semuanya sudah tertutup dengan kelebihan kamu yaitu kamu baik dan cantik. Justru rasanya kamu itu aneh kalo lagi pake wig," ucap Naqi sembari menatap Cyra. Jadi Cyra memang kalo jalan suka pake wig ataupun penutup kepala baik topi maupun sejenisanya.


"Jadi Mas udah cinta dan terima Cyra apa adanya? Tapi nanti kalo kita punya anak dan anaknya kaya Cyra gimana?" tanya Cyra dengan sedikit murung, takut nanti kalo benar terjadi dan anaknya suatu saat mendapakan nasib sama seprti dirinya yaitu di buly teman-temanya sangat sakit rasanya. Sebagai orang tua tidak rela apabila anak-anaknya di buly.


"Semuanya kekurangan dan kelebihanya juga. Dan soal anak, kita harus terima apapun kondisi anak kita nanti karena itu adalah anugrah dari Tuhan," jawab Naqi dengan senyum mengembang. Dan laki-laki itu tahu bahwa Cyra memang sedang cemas dengan jawaban Naqi.


Cyra pun tersenyum puas mendengar jawaban calon suaminya itu. Setidaknya kalo Naqi menerima semua yang ada di dirinya, tidak akan ada penyesalan dalam dirinya suatu saat nanti.


Naqi pun sama tersenyum lebar dengan mengenggam tangan Cyra semakin erat. Ingin dia mencium bibir calon istrinya itu, tapi....


#Jangan macam-macam yah Qi....


"Tuhkan dimarahin mak othor."