Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Senyum Kebahagiaan


"Naqi sinih!" Kakek dengan nada yang lembut, dan senyum mengembang, terlihat sekali kebahagiaanya, memanggil Naqi agar mendekat ke padanya.


Sementara itu Naqi yang terlanjur kecewa dan dongkol terhadap kakek pun hanya mendenguskan nafas kasar, dan membuang pandanganya. Laki-laki itu mengira bahwa tuan Latif memanggilnya untuk memintanya memberikan selamat pada Adam dan Rania, pasangan pengantin baru itu. Semua mata seolah tertuju pada Naqi tanpa terkecuali pasangan pengantin baru yang tengah berbahagia. Namun Naqi tetep cuek, tak mengindahkan panggilan Kakek.


"Naqi, kemarilah. Bukanya Qanita mengatakan kalau kamu ingin menikah, duduklah di sini. Kita akan bicarakan sekarang." Kakek dengan suara lembutnya berusaha merayu Naqi yang masih bersikeras duduk saja, dan justru sok jual mahal. Membuang pandangan seolah sudah tidak butuh lagi dengan kakeknya itu. Naqi yang sebenarnya masih marah, dongkol dan gondok pun akhirnya mengangkat tubuhnya dengan malas, dan menghapiri orang-orang yang masih berkumpul. Lagi-lagi semua orang seolah tatapan matanya mengamati setiap langkah Naqi. Risih, Naqi merasakan risih ketika di perhatikan seperti itu, dirinya bukan Cyra yang sudah biasa dengan tatapan para penggemarnya yang bahkan jumlahnya tidak sedikit.


"Duduklah," ujar Kakek, menujuk kursi yang tadi di duduki oleh Adam. Sementara Adam sudah berdiri di belakang Naqi, begitupun Rania berdiri di samping Adam. Tangan Adam menggenggam erat tangan Rania.  Seolah laki-laki yang baru saja menyandang setatus suami ketakutan apabila Rania akan di ambil oleh orang lain.


"Qanita bilang kamu pengin nikah dengan Cyra, apa itu benar?" tanya Kakek dengan tegas dan tentu serius.


"Iya seperti yang Mamih katakan," jawab Naqi dengan nada yang masih terlihat ada kekesalan.


"Kalau di beri kesempatan menikah sekarang apa sudah siap?" tanya Kakek lagi. Kali ini tatapan matanya lebih serius.


Naqi tentu terkejut dan mungkin jantungnya akan copot saat itu juga, tetapi dia ingat belum pernah merasakan giman enaknya membuat adonan Mochi yang sesungguhya, sehingga ia harus tetap sehat, agar bisa membuat adonan mochi bersama istri bocilnya. "Se... sekarang Kek?" tanya Naqi dengan terbata.


"Iya, kenapa? Apa kamu tidak mau? Kalau tidak mau maka Kakek tidak akan menyetujui kalau kamu mau menikahi Cyra lagi," balas Kakek, nadanya masih tetap tegas dan serius.


"Bu... bukan begitu Kek, tapi Cyra saja belum datang, masa aku nikah Cyra tidak tahu kalau hari ini adalah pernikahan kita berdua. Kalau Naqi malah mau banget kalau di minta nikah saat ini, siap lahir batin." Naqi menjawab dengan sangat yakin.


"Soal itu kamu enggak usah takut semuanya sudah aman, tinggal kepastian kamu yang jelas kamu mau enggak menikah dengan Cyra?" tanya Kakek ulang agar yang lain juga dengar dengan jawaban Naqi.


"Siap Kek, siap banget!" jawab Naqi dengan tegas dan yakin, sehingga banyak yang tertawa, bahagia dengan jawaban Naqi. Dan kini Naqi sudah lupa kalau dia sedang marah dengan kakeknya, justru laki-laki itu terharu dan ingin memeluk tuan Latif saat ini juga dengan penuh rasa terima kasih. Sepertinya Naqi sudah sedikit sadar dan terbuka bahwa yang dilakukan kakeknya adalah niatnya untuk memberi kejutan terhadap Naqi. Senyum bangga dan bahagia tersungging di wajah Naqi menggantikan kekesalan dan kebencian terhadap kakeknya. Sayang tuan Latif duduk bersebrangan dengan dirinya kalau tidak pasti sudah dipeluknya.


Tidak lama Cyra keluar, kali ini mamih berjalan bersama dengan momy, di mana di tengah adalah Cyra, yang sejak tadi mengisi pikiran Naqi, karena cemas mimikirkan Cyra. Ternyata calon istrinya justru sudah lebih dulu berada di gedung ini dan tengah mempersiapkan semua untuk acara pernikahanya. Naqi menatap calon istrinya dengan penuh damba, bibir bawahnya di gigit tanpa sadar karena saking gerogi dan  bahagianya, senyum bahagia tidak lepas dari wajah Naqi. Dia tidak menyangka bahwa semua ini adalah acara untuk dirinya dan Cyra. Sedangkan dari kemarin Naqi sudah mengumpat tuan Latif dengan kata-kata yang kurang pantas.


"Kakek, ini Naqi bukan sedang mimpi kan?" tanya Naqi pada tuan Latif tetapi pandangan matanya masih menatap kaggum dengan calon istrinya yang kini sudah duduk di samping Naqi. Menunduk karena malu Naqi terlalu berlebihan menatapnya, sehingga tawa lirih dari tamu undangan sudah terdengar. Kekurangan dari pasangan tidak menghalangi kebahagiaan Naqi, karena Naqi sudah menerima kekurangan Cyra dengan Ikhlas. Bagi dia tidak ada bedanya Cyra dengan yang lain. Sama-sama cantik, tetapi di mata Naqi Cyra yang terbaik.


"Mau di pandangin terus atau mau di sahin cepatan. Jamu kakek sudah menunggu, untuk kado nanti malam loh," ujar tuan Latif, agar Naqi segera melangsungkan ijab kabul. Penghulu pun sudah menunggu dari tadi, tetapi Naqi justru masih asik menatap calon istrinya.


"Mau Kek," balas Naqi sudah tidak lagi menatap ke arah Cyra. Pak penghulupun menyodorkan kertas yang harus Naqi hafalkan untuk menghalalkan Cyra. Mas kawin juga baru di tentukan sebelum acara ijab kabul, dan dari keputusan Cyra dan Naqi di putuskan bahwa maskawin terdiri dari uang senilai sepuluh juta dan yayasan untuk peduli sesama. Yah, itu yang Cyra minta, sebenarnya bisa saja Naqi memberika mas kawin yang lebih dari itu, atau lebih dari pernikahanya yang dulu, tetapi Cyra menolaknya, karena mungkin Cyra ada rasa trauma ketika di nikahi dengan maskawin sepuluh milliar dan saham justru berakhir di perceraian, sehingga Cyra kali ini memilih menikah dengan maskawin yang tidak memberatkan dan semoga bermanfaat untuk orang banyak.


""Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Abqari Naqi Ralf bin luson All Latif dengan anak saya yang bernama Najiha Benazir Cyra bin Maheza Ji Zhien denngan mas kawin uang senilai sepuluh juta rupiah dan satu unit Yayasan Peduli Sesama, di bayar tunai."


"Sah ........... " ucap para saksi dengan jelas.


Tangis haru terdengar dari momy Ezra di mana ia mengingat suaminya Maheza yang sudah tidak ada bahkan belum melihat anaknya terlahir kedunia tetapi suaminya sudah berpulang ke rahmatullah. "Sayang, mungkin kamu melihat dari atas surga sanah, anak kita hari ini menikah, doakan agar anak kita bahagia bersama suaminya untuk selamanya," batin Ezrah berdoa untuk putri dan menantunya yang baru sah menjadi suami istri dan kini tengah berbahagia.


(Mungkin ada yang aneh kok bin nya beda dengan pernikahan yang dulu? Iya dulu Kifayat ngaku-ngaku jadi bapaknya Cyra, tapi yang bener bapaknya Cyra namanya Maheza. Kalau pernikahan dulu sah atau tidak? Sepertinya tidak karena nasabnya bukan ayah kandungnya)


Rankaian cara satu persatu di lalui Naqi dan Cyra lewati sorot kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Naqi dan Cyra. Bahkan Naqi sudah menghampiri kakek dan memeluknya, mengajak berdamai, bahkan Naqi mengucapkan permintaan maaf serta rasa terima kasih karena sudah menyiapkan pernikahan yang mewah ini.


Tamu undangan pun datang silih berganti entah berapa banyak tuan Latif mengundang rekan bisnisnya hingga Naqi dan Cyra merasa lelah berdiri terus.


"Kayaknya Kakek sengaja bikin kita kecapean biar nggak ada lembur malam," bisik Naqi di samping telinga Cyra sembari menggosok-gosok kakinya yang sudah pegal.


"Bagus dong, Cyra biar bisa langsung tidur," jawab Cyra so jutex.


"Enak ajah... Tetep tanggung jawab, nanti readers protes kalo ga di kasih yang Nunu Nana," balas Naqi, menyampaikan unek-unek para readers.


"Biarin ajah, kata othor lebih baik digantung." Cyra tertawa terkekeh.


Naqi pun kembali berfikir. "Ok juga ide, Othor," batin Naqi senyum menyeringai terlihat dari keduanya.


Pukul sembilan acara sudah mulai berkurang dan Naqi serta Cyra bersiap akan beranjak dari pelaminan. Yah, pesta pernikahan itu hanya di peruntukan cucu kesayanganya yaitu Naqi dan Cyra. Sementara Adam dan Rania yang di cemburui Naqi hanya numpang ijab kabul setelah itu mereka menikmati acara sebagai tamu undangan.


Cyra dan Naqi berjalan beriringan dan bergandengan tangan, dengan penuh bahagia, menuju kamar hotel yang sudah dipersiapkan untuk melewati malam panjang mereka.


Naqi mendorong pintu ketika sudah berhasil memasukan kunci keamanan. Niat hati akan langsung menerkam Cyra begitu sampai di dalam kamar.


"META.....!!!" pekik Naqi dan Cyra secara bersamaan.


❤❤❤❤TAMAT❤❤❤❤


Terima kasih buat reders terlope othor ,udah ngikutin sampai sini, Othor ga ada apa-apanya tanpa kalian. Terus dukung othor. Masukan dan kritikan kalian sangat berarti buat othor. Semoga kita semua selalu menjalin silahturahmi yang sehat. Salam cinta dari othor untuk semuanya...😘😘