
Brak... Suara pintu di banting oleh mamih. "Astagah, kenapa lagi ini baginda ratu," cicit Naqi, tetu saja masih bisa di dengar oleh mamih. Secara ibu kandungnya pendengaranya masih bagus terlebih beliau masih memapah putranya menuntun dengan enggan ke arah tempat tidur besar milik Naqi.
"Jelaskan apa rencana kamu ini, sama mamih! Mamih tau kamu sedang merencanakan sesuatu, sehingga tidak mau di rawat di rumah sakit. Biar sakit kamu tidak sembuh-sembuh kan? Lalu kamu bisa berlama-lamaan dengan anak menantu mamih," oceh mamih begitu anaknya duduk bersandar di kepala ranjang dan mamih berdiri di sebelahnya.
"Ya ampun min kenapa nuduh anaknya kaya gitu sih Mih. Jahat banget Mih, Naqi itu benaran enggak betah kok Mih berlama-lama di rumah sakit. Menyiksa banget Mih di rumah sakit itu," bela Naqi, tidak mau dong dituduh dengan tidak manusiawi sama ibu kandungnya sendiri, tapi sejak kejadian ini dia semakin yakin bahwa mungkin saja dirinya bukan anak kandung tetapi anak pungut. Habisan mamihnya selalu menuduh yang tidak-tidak dengan anaknya itu.
Mamih meletakan bokongnya di sisi ranjang Naqi dengan malas. Pandanganya di alihkan ke wajah Naqi seolah sedang mengobrak abrik isi hati anaknya untuk menyari kebenaran atas ucapan Naqi.
"Iya enggak betah tapi itu bukan alasan utama, karena alasan utamanya sudah bisa mamih tebak," tuduh mamih, tidak menyerah bahwa tebakanya benar adanya.
"Iya Naqi juga kasihan sama Cyra, karena kalo Naqi di rawat di rumah sakit terus Cyra pasti cape dan takutnya nanti malah jadi Cyra ikut-ikutan sakit," jawab Naqi dengan mulut manisnya.
"Heh... Bualanya, pinter banget, jadi kelihatan kan anak mamih itu buaya darat, sama kaya bapaknya," desis mamih sembari membung pandanganya ke jendela, dan dengan nada yang seolah jijik mendengar ucapan anaknya sendiri.
"Loh kok jadi bawa-bawa Luson, sudah jelas Naqi beda sama Luson. Naqi setia hanya mencintai satu wanita dan tidak ingin berpaling. Menggunakan segala cara agar wanita itu tetap jadi milik Naqi apa seperti itu tidak lebih dari cukup menunjukan bahwa Naqi itu setia Mih?" protes Naqi, sangat tidak setuju dengan ucapan mamihnya. Wanita yang di gadayang-gadang telah melahirkanya tetapi dengan bengis menuduhnya buaya darat sepeti papihnya yang menjadi pemuja wanita-wanita haus akan belaian kepuasan s*ksualitas.
"Tapi tetap sekeras apapun kamu mengelak darah Luson mengalir di tubuhmu. sehingga sangat besar kemungkinan sifat buruknya juga menurun sama kamu, Naqi. Mamih tidak mau ada wanita yang sama nasibnya dengan mamih. Makanya mamih tidak ridho ketika kamu mendapatkan hati Cyra dengan cara-cara kotor. Mamih mau kalo kamu ingin mendapatkan Cyra lagi berjuanglah dengan bersungguh-sungguh. Iklaskan hatimu untuk melalui proses yang tidak mudah ini." Mamih mamasih dengan pandangan yang ia buang keluar jendela menerawang menembus indahnya langit biru di balik kaca tebal yang menutup jendela tersebut.
Andai diizinkan untuk membunuh satu manusia, mamih akan membunuh Luson, kenapa sebegitu bencinya mamih dengan laki-laki yang telah memberinya dua buah hati? Mamih hanya ingin melindungi wanita-wanita yang tidak berdaya menjadi korban selanjutnya dari laki-laki yang masih sah menjadi suaminya, tetapi hanya dalam sebuah perjanjian hitam di atas putih. Pada kenyataan Luson dari hidup mamih sudah mati. Hati mamih bahkan sudah benar-benar mati rasa dengan suaminya itu. Tidak hanya hati rasa, tetapi mati kepedulinya. Sehingga suaminya akan meregang nyawa pun mamih tidak peduli dan justru tidak jarang mamih mendoakan suaminya agar diambil saja oleh pemilik kehidupan sesungguhnya.
"Ok, Naqi akui Naqi memang tidak bisa membohongi mamih. Karena mamih lebih tahu Naqi dari pada Naqi sendiri. Iya memang Naqi memiliki rencana licik itu. Naqi ingin Cyra merawat Naqi lebih lama dan lebih lepas dibanding di rumah sakit, Cyra memang merawat Naqi tetapi kami tidak banyak terlibat obrolan. Jadi Naqi melihat Cyra seperti bosan. Tapi kalo di rumah ini pasti Cyra lebih ceria dan Naqi ingin melihat Cyra yang sepeti dulu lagi. Naqi bisa menjalin kedekatan yang lebih dengan Cyra," tutur Naqi, pandanganya menunduk tidak berani melihat ekpresi wajah kecewanya ibu kandungnya. Sudah pasti mamih sakit ketika anaknya memiliki cara selicik itu. Seolah tetap mengikat Cyra agar wanita incaranya tetap merawatnya dan dekat denganya.
"Mulai sekarang mamih yang akan merawat kamu, bukan Cyra lagi!" ucap Mamih dengan tegas. Tidak ingin ada bantahan dari anaknya.
Naqi diam saja, mau tidak mau menerima keputusan mamihnya.
"Mamih kecewa dengan kamu, mamih berharap sangat besar kamu tidak menggunakan cara-cara kotor untuk kembali mendapatkan cinta Cyra. Kasihan Cyra, kalo dia tahu kamu sengaja membuat proses penyembuhan lukamu agar semakin lama dan hal itu tidak lain agar Cyra makin lama merawat kamu, percayalah Cyra akan semakin menarik dirinya jauh dari kamu. Bahkan bukan tidak mungkin Cyra juga bisa saja tidak percaya lagi sama kamu. Belajarlah dari pengalamanmu Naqi. Jangan mainkan perasaan perempuan walaupun dengan niatan bercanda, karena hal itu tetap akan menyakiti sang wanita apabila mengetahuinya. Kamu punya adik perempuan. Kakak tiri kamu juga perempuan dan mamih, mamih juga perempuan yang hatinya sudah mati rasa karena kebohong-kebohingan kecil sampai kebohongan terbesar dari papih kamu. Mamih tidak ingin kamu bernasib seperti Luson. Memiliki pasangan tapi pasangan tidak peduli dengan nasib kamu. Mamih ingin kamu dan Cyra nantinya apabila bersatu lagi itu karena ketulusan dari hati kalian berdua." Suara Mamih bahkan sudah bergetar, berbicara sangat pelan dan setiap katanya ditekankan dengan sangat tegas, seolah kekecewaan itu benar-benar membuat hatinya mati.
"Maafin Naqi Mih, Naqi tidak berfikir sampai sana. Naqi hanya berfikir gimana caranya agar Naqi bisa lebih lama dan lebih berinteraksi dengan Cyra. Naqi tidak memikirkan dampak buruknya andai Cyra mengetahui ide konyol Naqi. Maafin Naqi yang membuat mamih kecewa dan sedih sudah memiliki anak seperti Naqi," lirih Naqi, ia sudah benar-benar tidak berani melihat wajah kecewanya wanita yang telah melahirkanya itu.
"Bersabarlah Naqi, proses yang lama dan melelahkan akan terasa lebih mengena di hati. Dari pada proses yang singkat tetapi dengan cara kotor. Mamih tidak akan segan-segan tidak memberi restu pada kamu apabila kamu menggunakan cara nomor dua. Mamih akan menentang kalian besatu lagi meskipun jelas-jelas Cyra juga menginginkan bersatu dengan kamu apabila mamih tau kalo kamu dengan sengaja dan memaksa Cyra untuk hidup dengan kamu. Kamu tahu kan maksud mamih apa? Kamu anak yang cerdas, bahkan mamih bangga dengan kecerdasan kamu, sehingga mamih tidak harus menjelaskan dua kali maksud dari omongan mamih."
Ibu dua orang anak itu bukan benci dengan putranya melainkan ia melindungi putranya demi masa depan yang lebih baik lagi. Memiliki hari tua yang disayang keluarga akan melebihi kebahagiaan apapun. Mamih tidak ingin nasib putranya itu sama dengan papihnya yang bahkan persiapan hari tuanya tidak tahu akan seperti apa. Apakah akan bahagia dengan anak cucunya atau teronggok seperti mayat hidup di sebuah ruangan sempit tanpa ada yang peduli dengan nasibnya. Mamih terlalu sayang dengan putranya sehingga tidak ingin bernasib buruk seperti bayanganya yang terakhir.