
Sarapan adalah waktu berkumpul kelurga. Bagi keluarga Tuan Latif di waktu ini diwajibkan untuk berkumpul bersama kecuali sakit atau sedang dalam dinas luar kota.
"Qi nanti Qari tolong kamu ajarkan gimana cara menjalankan perusahaan. Jangan biarkan dia bermain-main terus. Mulai sekarang dia harus sudah bertanggung jawab dalam kerjaanya." Kakek memberikan amanah pada Naqi.
"Loh ko Naqi sih Kek, kenapa bukan yang lain ajah. Naqi kalo ngajarin dia nggak bakal bisa seriuz Kek. Yang ada dia malah yang ngajarin Naqi," protes Naqi, karena memang pada kenyataanya Qari sangat susah untuk damai dengan Naqi.
"Kalo begitu, biar Alzam yang ngajarin Qari. Biar dia nggak bisa berkutik kalo diajarin sama asisten kamu." Kakek memberi solusi lain.
Qari yang mendengar nama Alzam musuh bebuyutanya pun langsung melotot matanya.
"Hah... ko Alzam sih. Enggak-nggak najis banget Qari urusan sama sicupu itu. Yang ada Qari darah tinggi ngadepin cupu." Kini giliran Qari yang protes.
"Capa cupu... biar dia penampilanya kaya orang cupu tapi otak dia lebih pinter dari pada otak loe," jawab Naqi, nggak terima asisten kepercayaanya dikatain oleh adiknya sendiri. Sebab Alzam adalah orang yang sangat bisa diandalkan. Andai tidak ada asisten seperti Alzam pasti kerjaanya bakal kacau balau. Maka dari itu Naqi sangat baik dengan Alzam.
"Tetep ajah dia di mata gue cowok cupu dan lemah," balas Qari.
"Kamu mulai hari ini belajar sama Alzam, dan dalam waktu satu bulan kamu harus sudah bisa dilepaskan." Kakek mengetuk palu yang tandanya nggak bisa diganggu gugat.
"Kek... kenapa mesti Alzam...." Qari kembali protes.
"Nggak ada penolakan Qari!" Apabila Kakek sudah bicara begitu berati mau tidak mau Qari harus mengikuti kemauan Kakeknya.
Qari pun akhirnya diam dan mengikuti kemauan Kakeknya. Namun dalam hatinya ia tetap menolak diajarkan oleh Alzam. Apa kata cowok itu pasti menertawakan Qari dan membalas perbuatan Qari semasa sekolah dulu.
Sementara Cyra tidak memperdulikan dengan perdebatan atara suaminya dan adik Iparnya. Kini Cyra sudah terbiasa dengan pertengkaran mereka, sama seperti mamih yang tetap mengunyah tanpa terganggu dengan kegaduhan yang anaknya buat. Seperti hari-hari biasanya Cyra akan lebih dulu berangkat.
"Ra, biar aku antar kamu," ucap Naqi ketika Cyra akan berpamitan dengan semua anggota keluarga.
Cyra kaget ada hal penting apa yang akan Naqi bicarakan sampai ia mau bersusah payah mengantar dirinya ketempat kerja. "Apa nanti Cyra nggak bikin Mas Naqi terlambat?" tanya Cyra pasalnya tempat dia kerja lebih jauh dari kantor Naqi.
"Enggak ko!"
Cyra pun akhirnya mau diantar oleh suaminya.
"Ada hal apa yang ingin Mas Naqi sampaikan?" tanya Cyra ketika mobil perlahan mulai pergi meninggalkan halaman rumah.
"Maksudnya apa yah, emang kalo mau antarin istri kerja mesti ada sesuatu dulu." Naqi menjawab tampa menoleh ke arah Cyra.
"Ya enggak sih, cuma kan biasa gitu mas baik-baik kalo ada maunya. Misalnya ngajak bohong, ngajak kerja sama," terka Cyra yang curiga pada kebaikan suaminya.
"Enggak lah, aku ngajak bareng lagi BT ajah. Hubunganku sama Rania lagi renggang, dan dia minta aku menjauhin dia dulu karena dia ingin fokus sama kesembuhanya." Naqi pun menceritakan permintaan Rania.
"Oh ngedeketin karena hubungan sama Mba Rania lagi kurang sehat. Apa semua laki-laki begini sifatnya, selalu sajah mencari pelarian," batin Cyra, ia membuang pandanganya keluar jendela, ia tidak lagi menanggapi ocehan Naqi.
Setelah melewat kebisuan selama dalam perjalanan Naqi pun sampai ke lokasi syuting istrinya.
"Nanti pulang jam brp? Biar aku jemput?" tanya Naqi sebelum Cyra turun dari dalam mobilnya.
"Biar Cyra pulang sendiri ajah. Takutnya nanti malah ngerepotin Mas." Cyra menolak niat baik Naqi.
"Udah nggak ada yang repotin, sekalian aku mau ajak kamu kesuatu tempat. Jam berapa empat atau lima. Kalo nggak, kamu nanti kirim pesan ajah biar aku bisa jemput. Ingat jangan pulang sebelum aku jemput kamu!" Naqi pun langung mengacungkan jari telunjuk bak orang tua yang menasihati anaknya.
"Ya udah, nanti Cyra kasih kabar kalo sudah mau pulang, tapi benerkan Mas, nggak ngerepotin?" Cyra memastikan, yang ia takutkan justru nanti mengganggu kerjaan suaminya.
"Ya enggak, bawel!"
"Eh... eh... tunggu dulu, enggak mau cium tangan suami emang?" Naqi menyodorkan tanganya dan memainkan alisnya naik turun.
Cyra pun semakin heran dibuat oleh kelakuan Naqi. "Mas lagi nggak mimpi kan? Atau dalam bawah pengaruh obat-obatan?" tanya Cyra heran dengan mengrenyitkan dahinya.
"Loh emang kenapa ada yang aneh dengan kelakuan aku?" tanya Naqi justru ia pun aneh dengan pertanyaan Cyra.
"Iya Mas, kamu kaya abis kepentok jadi rada gegar otak."
"Ish... sembarangan kamu kalo ngomong, buruan tinggal cium tangan ko banyak sekali protesnya!" Naqi makin menyodor-nyodorkan punggung tanganya.
Cyra pun pada akhirnya menerima tangan Naqi dan mencium punggu tanganya dengan asal. "Udah, ada lagi? Mumpung belum turun?" tanya Cyra dengan jutek.
"Ada, nih." Naqi memanyunkan bibirnya.
Cyra pun seketika membuka pintu mobilnya dan langsung meninggalkan Naqi dengan tawa renyahnya.
"Hai cin, tumben diantar Pak Bos?" tanya Meta kepo, mungkin dalam pikira Meta Pak Bosnya udah berubah.
"Iya Bos Besar abis kepentok meja kepalanya, jadi aga gegar otak!" jawab Cyra jutek, ia nggak mau bahas Naqi. Karena bagi Cyra, Naqi baik itu karena lagi berjauhan dengan Rania sajah, mungkin Naqi takut bahwa kepulangan Qari untuk menggantikanya sebagai pewaris utama. Setelah semua tujuanya tercapai pasti mereka akan balik bersama. Jadi sebisa mungkin Cyra tidak terpengaruh dengan sifat baik Naqi. Sebisa mungkin Cyra selalu menjaga hatinya, agar tidak terlalu sakit dikemudian hari.
Setelah Cyra tidak terlihat lagi, Naqi pun menginjak pedal gasnya, melajukan kendaraanya menuju kantor Ralf Grup. Ketika ia baru datang, ternyata di dalam ruanganya sudah ada Qari yang nungguin di dalam ruang kerjanya.
"Dari mana ajah loe?" tanya Qari sembari matanya tetap terfokus dengan ponsel yang ada ditanganya.
"Kencan kenapa? Iri! Lagian ngapain loe disini ruangan loe di samping bareng Alzam." Naqi menunjuk ruangan yang ada disebelahnya.
"Ish... gue males bang satu ruangan sama cowok cupu itu, kaku banget nggak bisa diajak bercanda. Belum dia itu diotaknya adanya kerja dan kerja. Gue kerja bareng loe ajah yah Bang, gue janji bakal jadi anak yang manis selama kerja." Qari pun memerankan aktingnya agar Naqi iba dan mengizinkanya kerja bersama Abangnya, secara kalo sama Alzam, pasti dia akan setres ngadapi cowok itu. Secara Alzam adalah musuh bebuyutan Qari. Waktu sekolah Qari selalu ngejahilin Alzam tetapi tuh anak lempeng-lempeng ajah mana penampilanya membuat mata Qari sakit.
"Enggak-enggak buruan sanah, kerjaan udah banyak! Enggak boleh males." Naqi mendorong Qari agar kerja di ruangan sebelah di mana ruangan itu adalah ruangan kerja Alzam, asistenya.
Dengan berat hati dan muka ditekuk akhirnya Qari meninggalkan ruangan Abangnya dan berganti masuk keruang sebelah.
Qari masuk dengan wajah BT, bibir manyun, serta wajah ditekuk. Sementara Alzam hanya melihat dengan tatapan acuh. Sebab tadi pagi Tuan Latif sudah memberitahukan tugas barunya untuk mengajarkan Qari mengenai pekerjaan sama seperti Naqi. Alzam pun menyanggupi kerjaan itu sebab ia orangnya nggak pernah protes mengenai kerjaan itu.
Qari meletakan bokongnya dikursi kebesaranya dengan kasar.
"Jadi kerjaan gue disini ngapain!" tanya Qari lagi-lagi dengan jutek dan sombong.
"Tunggu sebentar Nona, saya sedang memilah pekerjaan yang tidak terlalu rumit untuk Anda pelajari," jawab Alzam dengan sopan, dan padangan mata fokus pada tumpukan map didepanya.
Disebrang mejanya Qari memainkan bibirnya mengikuti perkataan Alzam tapi tanpa menimbulkan suara. "Sok banget tuh laki, tunggu ajah gue kerjain dia," batin Qari sambil tertawa dengan jahil ke arah Alzam.
Boookkk...
Alzam meletakan setumpuk map yang berisi laporan untuk Qari pelajari.
"Apa ini, buat apa map sebanyak ini." Dengan kedua mata melotot. Qari bingung mau diapakan map-map itu.
"Anda pelajari Nona, setelah itu Anda cek satu persatu, kalo sudah yakin tidak ada selisih. Anda bisa antarkan keruangan Tuan Naqi untuk minta tanda tangan.
Qari mengepalkan tanganya dengan kencang dan menatap Alzam dengan nyalang....
#Wah tambah lagi ini pasangan yang kaya anjing dan kucing...