
Qari meringis ketika pergelangan tanganya coba di pegang oleh Deon, tanganya benar-benar nyeri. Semua karena perbuatan dia sendiri.Yang menarik paksa tanganya, saat Deon cengkram pergelangan tanganya. Coba dia tidak berontak dan diam saja semua ini akan baik-biak saja.
"Sakit banget yah?" tanya Deon dengan menirukan wajah Qari yang sedang meringis menahan sakitnya. Qari hanya membalas pertanyaan Deon dengan membuang pandanganya, jengah. Sudah jelas meringis berati sakit. Seperti itu kira-kira sura hati Qari.
"Ini kayaknya tangan loe terkilir, kita sebaiknya pergi ke dokter Ortopedi! Kalo tidak buru-buru di obati nanti yang ada tangan loe makin sakit dan bengkak," ucap Deon, justru dia terlihat cemas. Padahal seharusnya dia bahagia karena berati tujuanya untuk menyakiti Qari akan benar-benar terwujud.
"Apaan, doktar dokter, orang ini mah cuma kekilir, di bawa ke tukang urut juga nanti sembuh. Loe pergi ajah cari tukang urut buat ngurut tangan gue, sekalian loe pergi juga dari sini! Gara-gara loe rencana gue gagal total. Gimana mau main game coba kalo tangan gue kaya gini. Kenapa sih loe datang mulu ke hidup gue. Tau nggak loe itu bawa sial buat gue," dengus Qari. Memang si Deon itu selalu membuat Qari darah tinggi terus.
"Enggak bisa Qari mana tahu tukang urut, mana sendi dan urat yang terkilir, udah paling benar pergi ke dokter," ujar Deon tidak mau kalah oleh ucapan Qari.
Qari pun semakin di buat kesal dengan Deon. Kemarin dia bertemu dengan Deon hidupnya di bikin susah, dengan terkunci segala di atap gedung. Mana kelaperan, kehausan dan untung di atap gedung itu ada toiletnya sehingga tidak terlalu repot. Kalo enggak ada toiletnya enggak tahu gimana repotnya Qari berada di atap gedung itu. Dan sekarang dia bertemu dengan Deon lagi, rencananya yang sudah di susun secara mateng bahkan sampe cuti kerja dan izin sama mamih butuh rayuan yang sangat berat buat meluluhkan mamih dan mengizinkan Qari menginap di hotel ini agar bisa bermain game sepuasnya, tetapi semuanya kembali gagal dan itu semua karena kedatangan Deon.
"Ayok buruan kita pergi ke dokter, katanya nanti kamu pengin main game sepuasnya kalo diam ajah tidak di obati gimana cara main gamenya," ucap Deon sembari mendorong tubuh Qari supaya mau mengikuti dia.
"Tunggu dulu dompet dan ponsel gue ada di atas kasur. Nanti kalo gue nggak bawa dompet, gue mau bayar tagihan rumah sakit pake apa?' tanya Qari masih dengan nada malasnya.
"Astagah Qari, loe pikir gue orang miskin banget apa? Sampai bayar tagihan ajah tidak mampu. Nih." Deon membuka dompetnya yang mahal tetapi saangat tipis, persis seperti dompet anak kost diakhir bulan. Namun black card ada beberapa biji. Berati sudah jelas dia bukan orang sembarangan. Deon mengambil satu kartu berwarna hitam dan menjulurkanya kepada Qari agar Qari memegangnya dan bisa ia gunakan buat membayar rumah sakit.
"Simpan saja, gue masih punya uang receh buat sekedar beli panadol, pusing gue lama-lama dekat dengan loe," ucap Qari sembari tetap berjalan ketempat tidurnya dan mengambil tas yang berisi ponsel dan dompetnya.
"Dasar keras kepala," batin Deon. Qari lagi-lagi dibuat heran dengan Deon bahkan mobilnya bukan kelas Qari. Di mana Deon memakai Lamborghini Aventador SVJ Roadaster Grigio Telesto dengan warna gray metallic yang di bandrol debgan harga, sekitar dua puluh tiga miliar. Bayar pajaknya saja setara dengan harga p*jero, mungkin. 'Siapa sebenarnya Deon?' batin Qari semakin dibuat penasaran dengan laki-laki yang berada di sanpingnya. Apa memang Deon benar-benar sultan, atau dia hanya rakyat jelata yang mencoba mencari perhatian Qari dengan benda dan barang-barang mewah ini. Kalo cara kedua, berati Deon salah sasaran. Qari tidak langsung silau dengan benda-benda itu justru Qari semakin ilfil dengan laki-laki yang menganggap kalo wanita akan luluh dengan benda-benda sampah seperti itu. Tetap di hati Qari number one and only bambang Alzam seorang yang berhasil duduk di singgahsana hatinya.
Tittt... Kunci mobil terbuka seperti di film-film hollywood. Mobil itu menunjukan kemewahanya.
"Udah sih yang ada ajah. Lagian sekarang bukan waktunya berdebat. Ayo buruan gue habis ini juga ada urusan, jadi kayaknya kita harus pisah dulu. Tapi nanti malam gue akan datang lagi ke kamar loe buat ajah kencan," ucap Deon denga mata di kedipkan menggoda Qari.
"Enggak usah datang ke kamar gue lagi. Karena setelah pulang dari dokter rencananya gue mau pindah pelanet, jadi loe nggak perlu susah-susah buat datang ke kamar gue," beo Qari. Hal itu memancing Deon tertawa renyah. Semakin Deon tidak sabar membuat Qari terhukum kesalahan orang tuanya.
Andai Qari bukan dari musuh bebuyutanya. Pasti Deon akan bekerja dengan sangat ketas agar bisa meluluhkan hati Qari.
Akhirnya setelah di bujuk dengan kerja keras Qari pun mau kerumah sakit dengan mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan Qari dan Deon lebih banyak terlibat perang mulut. Yah seolah Deon memang mengajak mati bareng dengan Qari. Membawa mobil seolah jalanan ini adalah pacuan balap. Ah, iya Deon hanya membalas perbuatan Qari tempo hari, yang membawa mobil seperti tengah di kejar-kejar rampok.
Tidak perlu nganti-ngantri begitu datang Qari sudah langsung masuk keruangan dokter yang akan memeriksa sakit Qari. Ingin rasanya Qari protes ketika dokter itu memberikan obat luar untuk mengobati sakitnya. Padahal kalo mau jujur Qari tidak merasakan sakit apa-apa lagi. Apalagi tanganya harus diperban dan coba di pasang gift, katanya agar tanganya enggak sakit. Lagi-lagi Qari menunjukan sikap biasa saja, tanpa rasa nyeri atau apapun itu.
Semua ritual yang menjengkelkan sudah di lewati dan kini saatnya pulang. Namun yang membuat Qari bingung jalan yang di lewati bukan jalan menuju hotel tempatnya menginap.
"Deon, ini gue mau diculik kemana sama loe? Ini jalan bukan ke hotel tempat gue menginap," tanya Qari, akhirnya gadis itu mau mengeluarkan suaranya. Setelah dari dokter Qari memang menunjukan sifat malas berbicara. Apapun pertanyaanya Qari akan diam saja. Baru kali ini Qari mengeluarkan suara emasnya.
Deon terkekeh. "Rumus menculik tidak kaya gini Neng. Kalo gue menculik loe, tangan loe gue iket, mata gue tutup, mulut gue bekap pake lakban kalo enggak kain lap. Lah loe mah tangan mau dipake buat meluk gue juga bisa. Mulut mau cium gue juga masih aman. Mata, mau dipake buat mandangin gue terus juga bisa banget, kaya sekarang." Deon mengalihkan pandanganya ke arah Qari dan tersenyum jahil, sembari bibir dimanyunkan seolah laki-laki itu hendak mencium Qari.
Qari buru-buru membuang pandangan membunuhnya ke luar jendela. Menghindari wajah songong Deon. "Terserah apa kata loe lah. Yang jelas gue mau di bawa kemana?" tanya Qari ulang.
"Apartemen gue, loe pasti kalo gue pulangin ke hotel enggak istirahat. Gue tahu dalam otak loe sesampainya di hotel bakal lepas tuh gift dan main game," ucap Deon dengan yakin.
Deg!! Jantung Qari berhenti berdetak. "Kenapa gue di ajah ke apartemen nih laki, dan lagi kenapa dia tahu sih kalo gue akan main game dan lepas nih benda aneh yang nempel ditangan gue," batin Qari tak henti-henti mengutuk Deon.