
Naqi mengrejapkan sepasang matanya dan melihat sekeliling, tetapi rasa sakit di kepalanya semakin berdenyut dan terasa semakin kuat sajah....
"Mas, kamu nggak apa-apa?" tanya Cyra dengan cemas dan segera membantu Naqi untuk duduk ditumpukan bantal yang sengaja ia susuh tinggi.
"Thanks Ra,"
Cyra hanya mwngangguk samar.
Selanjutnya Sam memeriksa Naqi, dari tekanan darah dan yang lainya. "Berapa hari emang nggak tidur?"
"Baru semalam Dok, dan itu juga karena jamu yang diberi oleh Kakek." Cyra yang menggantika Naqi menjawab. Melihat Naqi yang pucat dan tangan juga terasa dingin.
"Aku kasih resep ajah yah, nanti obatnya ditebus keapotik ajah, dan sepertinya Naqi hanya kelelahan sajah sehingga nggak usah terlalu dicemaskan," ucap Sam, lalu ia memebrikan selembar resep yang Cyra harus tebus.
Sam pun berpamitan karena memang ia juga ditugaskan oleh Naqi untuk menemani Rania, karena Naqi yang tidak bisa memantau perkembangan Rania, sehingga Sam'lah yang menggantikanya untuk sementara.
"Gue pulang, cepet sembuh yah Qi." Sam berpamitan dengan Naqi.
Naqi hanya membalas dengan anggukan lemah.
"Mas aku antar dokter Sam dulu yah," pamit Cyra.
Sam turun lebih dulu diikuti oleh Cyra dibelakangnya.
"Gimana hasil pemeriksaanya Sam?" tanya Mamih yang juga ingin tahu kondisi anaknya.
"Semuanya bagus Tan, Naqi hanya kecapean ajah karena kemarin dia bergadang, kata Cyra. Selebihnya aman Tan," jawab Sam.
"Syukur deh kalo gitu, ini kamu mau langsung pulang?" tanya Mamih, sekedar basa basi, tentu mamih sudah tau kalo Sam akan pulang.
"Iya Tan, ada teman yang lagi di rawat dan nggak ada yang nemanin jadi Sam harus menemani di rumah sakit," ucap Sam, lalu ia berpamitan dengan Mamih.
"Mih Cyra antar dokter Sam kedepan yah, sekalian mau minta Pak Kusno nebus resep obat untuk Mas Naqi d iapotik depan," pamit Cyra. Yah walaupun tanpa berpamitan Mamih juga nggak akan keberatan toh hanya di depan rumah, tetapi sebagai menantu yang baik harus menghargai mertuanya.
"Iyah... iyah," balas Mamih dengan santai.
"Oh iya Ra kamu sama Naqi tetap pada komitmen awalkan?" tanya Sam setengah berbisik begitu sampai di depan rumah.
"Maksud dokter Sam apa?" tanya Cyra yang nggak tau maksud pertanyaan Sam.
"Udah kamu jangan kaget gitu, aku tau ko gimana hubungan kami dan Naqi. Bahkan perjanjian kamu dan dia pun aku tahu," ucap Sam semakin merancau tak jelas. Tentu Cyra tau maksud dari perkataan Sam, hanya Cyra malas untuk menanggapinya. Baginya Naqi terlalu ember kenapa harus dibicarkan dengan dokter Sam juga rahasia mereka. Mana dokter Sam juga ember, segala disampaikan kembali sama Cyra tentu Cyra tidak nyaman dengan pertanyaan dokter Sam.
"Dokter, bukanya Anda akan menemani Mba Rania di rumah sakit? Nanti keburu malam loh!" Cyra secara tidak langsung mengusir Sam.
"Ya udah deh aku pamit Ra," ujar Sam yang tau bahwa Cyra tidak nyaman dengan pertanyaanya.
"Iya Dok, hati-hati di jalan yah," ucap Cyra lalu melambaikan tanganya. Kemudian Cyra mencari Pak Kusno untuk menebus resep obat Naqi di apotik.
Selanjutnya Cyra menyiapkan sop ayam jahe buatanya sepecial untuk Naqi.
"Min Cyra dan Mas Naqi makan di kamar yah," ujar Cyra sembari membawa baki berisi makananya dan Naqi ke dalam kamar.
"Iya, Mamih percayakan Naqi sama kamu. Urus suamimu yanh benar. Biar dia makin lengket sama kamu." Mamih masih sajah hobby meledek menantunya.
Cyra hanya membalas dengan senyuman masamnya.
Cyra membuka pintu kamar dengan sikunya dan mendorong dengan pelan.
"Padahal nggak usah repot-repot Ra, lagian rasanya juga nggak nafsu makan Mas tuh," ucap Naqi lirih.
"Loh, justru itu kalo lagi sakit dan nggak nafsu makan ya dipaksain biar tetap ada tenaga dan cepat sembuh! Cobain deh Mas! Masakan Cyra memang selalu juara jadi nyesel kalo nggak makan dan dihabisin," beo Cyra dengan menyombongkan dirinya.
Naqi pun terkekeh melihat tingkah Cyra yang terlalu percaya diri. Cyra menyuapi Naqi dengan sabar dan telaten. Kemarahanya seolah menguai karena melihat suaminya yang terbaring sakit.
"Gimana enak nggak masakan Cyra?" tanya Cyra, padahal tadi dia yang menyombongan diri meyakini masakanya paling enak, tapi malah bertanya lagi. Gimana toh....
"Em... sesuai dengan omongan kamu, masakan kamu paling enak, bahkan masakan restoran mahal pun lewat," kekeh Naqi memuji masakan istrinya yang memang lezat.
"Lebai deh, ya nggak gitu juga mujinya Mas," protes Cyra dengan muka manyunya.
"Kan kamu juga tadi yang bilang kalo masakan kamu paling enak, ini ko malah bilang lebai. Nanti kalo dibilang nggak enak salah lagih." Naqi sepertinya langsung sembuh karena disuapi sama Cyra.
"Iya maksud Cyra itu biasa ajah kasih penilaianya, jangan berlebihan begitu. Kalo berlebihan begitu jatuhnya malah fitnah," ucap Cyra dengan menatap tajam sama Naqi.
"Apa pun itu, tapi memang masakan istri bocil Mas itu paling juara sih, Mas sampe nggak bisa nolak apa lagi ditambah disuapi sama istri enak juga yah," ledek Naqi, dengan tatapan yang menggoda.
"Nih enak nih..." Cyra mencubit perut Naqi, agar jangan kebiasaan gombal dan membual.
Aw... aw... aw....
"Ampun Nyoyah..." kelakar Naqi. Nampaknya ia benaran langsung sembuh karena sudah makan sop buatan Cyra.
"Mas kayaknya udah nggak butuh obat yah? Apa jangan-jangan Mas itu sakitnya bohongan!" Tuding Cyra dengan menyipitkan matanya layaknya tengah mengintrogasi.
"Mana ada sakit bohongan, kalo Mas keliatan fresh itu selain karena sop buatan kamu, dan satu lagi Mas nggak pengin membuat istri bocil Mas cemas," ucap Naqi santai.
"Bisa banget yah kalo cari alasan mah." Cyra meninggalkan Naqi yang telah ia suapi dan kini gantian dia yang makan. Padahal sebelum pulang Cyra sudah makan banyak di rumah Mas Wawan, tetapi sampe rumah rasanya setok makanan diperutnya sudah habis sehingga ia harus makan lagi.
"Ra makanya disini sih," titah Naqi yang melihat Cyra hendak makan di sova.
"Kenapa sih Mas? Enakan makan disini lah lega bisa makan sambil koprol," jawab Cyra asal.
Namun jawabanya lagi-lagi membuat Naqi terkekeh. Ia curiga jangan-jangan istrinya titisan badut.
"Ra..." Panggil Naqi lagi.
"Apaan sih Mas ah, nggak tau banget aku itu kelaparan, cacing di dalam perut udah berdemo ria nih, masih ajah dipangil-panggil terus!" sungut Cyra, tidak memperdulikah panggilan Naqi.
"Buruan Ra, aku pengin liat kamu makan nih!" Naqi membuat alasan agar Cyra mau pindah makan di depanya.
"Loh Cyra jadi curiga jangan-jangan Mas Naqi ngidam," ucap Cyra dengan PD'nya mulut tanpa fiter itu mengucapkan kata-kata tak senonoh itu.
"Iya aku ngidam makanya pindah sini, makanya buruan nanti babynya ngiler loh," ledek Naqi.
Cyra langsung bergegas menghampiri Naqi, dengan membawa sepiring penuh makananya. "Mas Naqi ngidam sama siapa?" tanya Cyra dengan berbisik agar tidak ada yang mendengarnya.
"Ngidam sama kamu lah!!? Nyicil dulu sekarang ngidamnya, lain kali bikinya," kelakar Naqi, ia lagi-lagi berhasil mengerjai istri bocilnya.
Cyra pun mendengus kesal, karena sudah dikerjaain sama suaminya yang kembali kemode nyebelin....
#Naqi mending sakit ajah deh. Sembuh malah berisik!! Ngerengek mulu kaya bocah pengin nyusu....