Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Perlindungan Dari Meta


Setelah menempuh jarak antara rumahnya dengan rumah sakit, kini Meta telah sampai di rumah sakit. Ia langsung keruangan dokter yang sudah ia buat janji denganya.


Meta menuntun Afifah dengan sangat pelan, sebab ia terlihat sekali menahan sakit di perut bagian bawanya. Bahkan beberapa kali Fifah menahan perutnya dengan sebelah tanganya. Oh iya, sebelumnya Fifah sudah menyamar menggunakan kaca mata hitam topi dan masker. Semuanya milik Mas Wawan yang ia pinjam.


"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam. Padahal Meta baru mengetuk satu kali.


Meta masuk langsung nyengir menampakan gigi-gigi rapihnya.


"Hehehe... nunggu lama yah?" kekeh Meta sebenarnya tidak enak karena sudah membuat dokter lama menunggu.


"Menurut kamu gimana, coba sekarang alasanya apa?" ucap sang dokter.


"Baper banget loe Sam, ini istri orang perutnya tiba-tiba sakit. Nggak mungkin kan dia lagi kesakin gini gue bawa mobil kaya orang ngetrek yang ada nyawanya langsung loncak pas ada lubang atau polisi tidur. Loe tahu sendiri jalanan di ibu kota banyak lukisan tiga dimensinya," seloroh Meta. Yah dokter yang Meta minta bantuan adalah dokter Sam. Dokter keluarga Naqi juga.


"Ini cewek yang loe ceritain," tunjuk Sam.


"Iya, emang ada lagi cewek yang gue bawa," sungut Meta, padahal Sam bertanya hanya basa basi tetapi Meta sudah baper ajah.


"Maksudnya gue cuma basa basi Cong." Sam tidak baper.


"Udah ah buruan diperiksa, jangan tanya mulu kaya wartawan. Jangan lupa ajah sekalian periksa perutnya takutnya tuh laki gila masukin benda-benda aneh ke dalam rahimnya, yang membuat dia kesakitan gitu. Secara otaknya dia kan memang sudah gesrek jadi bisa ajah imajinasinya macam-macam." Meta meminta pemeriksaan semuanya detail tanpa satu kurang apapun.


"Buka ajah sayang, masker, topi, dan kacamamu. Ini udah di dalam jadi kamu nggak usah nutupin wajammu yang kaya mangga jatuh dari pohon, gembeyur." Meta membantu Fifah membuka kaca mata, masker dan topinya. Sam yang melihatnya tentu kaget, pasalnya ia tidak menyangka bahwa wajah Fifah separah ini. Ia jadi keingat Cyra pertama kali bertemu denganya. Di mana hampir disekujur tubuhnya penuh dengan luka kekerasan.


"Ya Ampun kenapa bisa seperti ini Met? Kamu tapi ini sudah ambil foto-foto dan vidio kan?" tanya Sam, hanya mengingatkan tentu Sam tahu bahwa Meta pasti sudah memikirkan kearah sanah.


"Aman," jawab Meta dengan pengacungkan jari jempolnya.


Fifah pun menjalani serangkaian pemeriksaan yang cukup memakan waktu, dan terakhir dari yang Sam lihat dari hasil-hasil check up Fifah ia sekarang tengah hamil.


"Hamil?" tanya Meta dan Fifah bersamaan.


"Iya ini hasil, dari pemeriksaan USG dan Urin, kamu positif," jawab Sam dengan serius.


"Tapi lebih baik kamu dirawat deh Fah, soalnya kondisi kamu kurang sehat sehingga nanti berpengaruh sama janin kamu." Sam menyarankan agar Fifah menjalani opname.


Fifah menatap ke Meta, dan menggelengkan kepalanya samar, sebagai tanda bahwa ia tidak mau menjalani opname.


"Kalo di rawat di rumah saja gimana Sam? Dari pada dia di sini tidak nyaman malah fikiranya setres kan justru berbahaya juga buat ibu hamil." Meta mengajukan usulan.


Sam pun akhirnya menyanggupinya karena, memang yang terpenting fikiran Fifah tidak setres dulu. Setelah mempertimbangkan dengan matang antara Fifah, Meta dan Sam akhirnya Fifah mau apabila menjalani perawatan di rumah Meta. Nanti akan ada dokter yang menangani langsung, khususnya dokter kandungan.


Setelah semua urusan selesai Meta kembali menuntun Fifah dengan sabar. Mereka akan kembali kerumah Meta.


Di dalam mobil terjadi kebisuan. Terlebih Fifah, semenjak tahu dirinya tengah hamil jadi lebih murung. Meta yang tahu dengan perasaan Fifah pun menepikan kendaraanya.


Fifah menatap kesekeliling. "Udah sampe yah?" Fifah hendak beranjak dari duduknya akan membuka pintu mobil, namun buru-buru Meta menahannya.


"Ini belum sampai rumah, bahkan rumah masih dua jam perjalanan lagi, (canda Meta) aku sengaja berhenti karena kamu yang dari tadi melamun terus, mikirin apa sih?" tanya Meta ia bahkan kini telah merubah posisi duduknya dengan menghadap ke pada Fifah.


"A... aku bingung, apa aku harus balik lagi pada Niko? Karena aku sekarang hamil?" tanya Fifah dengan murung, pandanganya bahkan menerawang kedepan tanpa kedip.


"Jangan!!!" Meta menjawab dengan suara baritonya membuat Fifah kaget, dan menoleh ke arah Meta sekaligus.


"Kenapa?" tanya Fifah aneh.


"Kamu lupa kemarin kamu hampir mati karena laki-laki itu, sekarang kamu mau balik lagi dengan kondisi kamu hamil dan juga lemah kaya gini. Gimana perlakuan dia sama kamu nanti? Apa dia akan nerima kamu dengan tulus. Ingat Fifah dia hanya ingin anak kamu. Yang ada dia tidak akan peduli dengan nyawa kamu. Bahkan mungkin nanti apabila kondisi kalian hanya bisa selamat salah satu Niko akan memilih anak kamu yang selamat. Kamu dibiarkan meregang nyawa begitu sajah. Jangan bodoh kamu Fifah!" Meta nampak emosi dengan Fifah.


"Tapi ini anak dia, dan kalo aku hamil tanpa ada suami dan nanti anak aku lahir nggak ada Papahnya bagaimana? Aku tidak mungkin bisa menghidupi anak ini sekarang, dan untuk merawatnya aku juga tidak tau bisa atau tidak." Fifah kembali terisak. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Dengar aku Fah, Kamu sembunyikan kehamilanmu! Dan secepatnya aku akan mengurus surat cerai kalian. Kamu jangan sampai keceplosan atau kalo bisa jangan temui laki-laki ke'pa'rat itu. Nanti aku akan buat alasan agar pengadilan tidak curiga dengan tidak hadirnya kamu. Soal anak kamu dan semua keperluan kamu serahkan sama aku. Aku jamin kamu tidak kekurangan satu apapun. Aku akan anggap anak kamu seperti anak aku. Kamu harus percaya sama aku! Selagi kamu percaya aku pastikan kamu akan aman dan juga anak kamu tidak akan ada yang tahu kalo itu anak laki-laki ben-cong itu." Meta rasanya untuk menyebut nama Niko saja sangat enggan.


"Tapi aku tidak enak dengan kamu dan Mamah kamu. Aku cuma numpang di rumah itu, terlebih aku hamil kebutuhanku pasti banyak dan belum nanti kebutuhan lainya." Fifah bukan tidak mau mengikuti saran dari Meta, hanya ia yang belum terlalu kenal sama Meta pasti semakin dibuat tidak enak tinggal di rumah Meta.


Hahahahah... Meta tertawa renyah sembari menyenderkan punggunya serta tangan sebagai sandaran kepalanya.


"Fifah... Mamah itu justru seneng kalo kamu ada di rumah kami. Terlebih nanti kamu hamil dan memberinya cucu. Percaya deh dia orang yang paling seneng dengar kehamilamu. Kamu siap-siap ajah dengan pantangan-pantangan Mpok Mia." Meta yang tiap tahun ditanyain cucu tentu tau bagai mana hebohnya Nyak'nya kalo sampe tahu bahwa kini Fifah sedang hamil.


Fifah mengernyitkan dahinya merasa heran. Masa ada orang suka dengan kehamilan cewek yang hamil tapi bukan anak dari darah daging anaknya alias cucu kandungnya.


Pokoknya Fifah mengira bahwa Meta hanya menghiburnya.


"Enggak percaya?" tanya Meta, yang melihat reaksi Fifah justru heran.


Dengan yakin Fifah menganggukan kepalanya tandanya ia tidak percaya dengan penuturan Meta.


"Kita buktikan yah, Kalo aku bener kamu cium aku. Tapi kalo kamu bener aku yang cium kamu," kelakar Meta, lumayankan dapat ciuman gratis lah, sebagai icip-icip dikit.


Buuukkk... sebuah pukulan melayang ke punggung Meta.


"Aduh... bumil galak banget..." dengus Meta, padahal pukulan Fifah tidak terasa sama sekali.


"Makanya jangan cari kesempatan," ucap Fifah kini ia sudah bisa tersenyum.


"Iya-iya, aku pikir nggak engeh dengan syaratnya," cicit Meta dengan terkekeh renyah.


Fifah pun setidaknya mendapatkan perlindungan ketika bersama Meta, dan juga Meta yang baik, Mamah Mia yang juga tak kalah baik, membuat Fifah sedikit lega.