Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kecemasan Meta


Hue... Hue... Hue... Fifah pagi-pagi perutnya merasakan gejolak yang sangat parah, bahkan matanya masih terpejam tetapi perutnya sudah mual yang luar biasa. Sehingga ibu satu anak itu langsung beranjak dari tidurnya dan lari kekamar mandi dengan kedua matanya yang masih setengah terpejam. Baik-baik Fah nambrak pintu!! "Tenang Thor, paling pintu yang kena omel."


Meta yang sedang tertidur pun ketika mendengar suara kegaduhan dari kamar mandi langsung mengikuti langkah istrinya. Sebelumnya Meta menyambar handuk dan melilitkan di tubuh bagian bawahnya.


"Kamu kenapa Baby?" Kecemasan menghinggapi Meta, dalam fikiranya ia langsung membayangkan apa yang akan terjadi andai tembakanya benar. "Astagah, Mpok Mia bakal ngamuk ini," batin Meta, tanganya masih memijit tengkuk leher istrinya.


Hah... Hah... Fifah mengambil nafas dan membuang nafas kasar, setelah perutnya tidak mual lagi. "Ini gara-gara kamu Dad," protes Fifah dengan mata melotot dan kedua tanganya berkacat pinggang.


"Loh, kok gara-gara aku, aku dari tadi tidur terus Baby," protesnya dalam hatinya sudah tidak tenang, karena Fifah akan segera memberika kejutan. Meta bukan tidak ingin mempunya buah hati, hanya saja ia masih ingat betul pesan mamahanda tercinta. Mesy masih terlalu kecil, kasihan asi jadi tidak eklusip, kasih sayang takut kurang, belum lagi kerepotan, di mana biasanya anak kecil penginya sama mamihnya terus. Sebenarnya kalo repot bisa-bisa banget Meta membayar pengasuh buat anak-anaknya, tetapi Fifah tidak mau kalo anaknya di asuh orang lain. Dia pengin menjadi ibu seutuhnya, toh ada emak anggkatnya(Cyra), Grandma (Mpok Mia) dan juga omanya (Mommy Ezah).


"Iya gara-gara kamu pengin di naiki terus, aku harus mandi malam-malam terus dan jadinya masuk angin," oceh Fifah, dengan bibirnya bersungut bak ikan mujaer.


Ha... Hahahaha... Meta tertawa renyah menandakan betapa leganya perasaanya, itu tandanya dia tidak jadi kena omel oleh Mpok Mia. " Mesy, tenang kamu tetap jadi cucu kesayangan oma dan grandma mu," pekik Meta.


Fifah yang tidak tahu dan heran kenapa justru suaminya girang, disaat dia tengah merasakan tidak enak badan kemarahanpun menghinggapi dirinya. "Dad, kamu kayaknya seneng banget liat aku sakit, kamu enggak sayang kan sama aku?" tanya Fifah dengan nada bicara sedih sekali.


Hap... Hap... Langkah Fifah sengaja di hentak-hentakan menyerupai anak kecil yang tengah ngambek, dan kembali ke tempat tidurnya.


Blep... Suara ranjang yang ia duduki dengan kasar, tangan ia lipat dan pandangan di buang ke arah jendela yang jelas terlihat bahwa ini masih terlalu pagi, warna langit yang masih gelap terlihat samar dari jendela yang sengaja godenya tidak di tutup sebagian.


"Huh, ngambek lagi," keluh Meta membuag nafas kasarnya. Dan segera mengikuti istri nakalnya yang harus dibujuk biar tidak ngambek-ngambekan lagi.


Sebelum Meta benar-benar merayu Fifah doa pun dia panjatkan dengan penciptanya. "Ya Allah semoga istriku jangan dibikin galak-galak. Cukup Mpok Mia ajah yang Author bikin galak. Lembutkan hati othor biar Fifah tetap jadi Fifah yang nurut dan genit. Amin." Doa Meta ucapkan dalam hatinya.


"Baby, maafin Dady yah, Dady tadi itu hanya bercanda, biar Baby tidak sedih. Ga ada niatan kok Dady buat ngetawain Babyku. Dady sayang banget sama Baby, pokoknya luasan samudra akan Dady....


Huwe... Fifak kembali mengambil langkah seribu menuju kamar mandi, mendengar Meta merayu rasanya sangat bikin mual, itu yang Fifah rasakan.


Dengan keheranan Meta kembali menyusul istrinya. "Kita kedokter!" ucap Meta, sembari membersihkan sisi bibir istrinya yang basah.


"Tidak usah Dad, aku hanya masuk angin, dan bosen denger gombalanmu yang itu-itu ajah bahkan aku sampai hafal rayuan kamu. Enggak ada niatan buat ganti gombalanya di Google banyak Dad, kamu tinggal copy ajah diapalin terus praktikin ke aku. Kayaknya itu lebih baik Dad, dari pada dari dulu 'Luasnya samudhra akan aku sebrangi, dalamnya lautan akan aku selami(Mati nanti), gunung akan aku daki demi pujaan hati Fifahku tercinta' (Dibaca dengan intonasi baca puisi)" Fifah menirukan gaya Meta kalo sedang merayu.


"Heheh... Kirain Baby seneng kalo Dady bikin puisi itu, abisan kalo Dady baca pusi itu Babyku ketawa-ketawa terus, jadi kirain suka." Meta menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sengaja membuat rambutnya acak-acakan.


"Sebenarnya Fifah ketawa bukan karena lucu, tapi lebih ke tidak enak kalo tidak ketawa nggak menghargai usaha suami, tapi kalau keseringan juga bosen Dad, bikin mual ajah." Keberanian Fifah memang pantas diacungi jempol.


"Ya ampun Baby, jadi ketawa kamu ketawa palsu selama ini Baby, kejam!!" Drama di mainkan oleh Meta.


"Makanya belajar dari internet cara merayu istri, cara menggombalin istri, dan cara-cara yang lainya. Masa aku terus yang nyumbang ide, sekali-kali gitu Dad, idenya dari kamu," beo Fifah, sebenarnya Fifah bukan tipe yang suka di gombalin atau di rayu, Fifa biasanya lebih santai dan cuek dengan kaya Meta yang memang kurang inisiatif. Malah apabila di film atau sinetron kesayangan Mpok Mia suaminya romantis dan godain istrinya, mamah mudah itu akan mengumpatknya 'Lebay' itu kata-kata unggulanya.


Namun, kali ini justru menyarankan Meta untuk mencari gombalan. "Baiklah Baby, besok Dady akan mencari info-info itu dari google ataupun aplikasi khusus mengajarkan membuat istri bucin," balas Meta dengan menggelendot ke pundak istrinya, yang membuat Meta betah berlama-lama di posisi itu. Bagi Meta wangi rambut dan kulit leher istrinya itu sangat membuatnya ketagihan.


"Awas Dad ah... Aku mual deket-deket kamu, kamu malam ini bau banget," protes Fifah, yang kembali merasa mual, ketika berdekatan dengan Meta. Padahal kan sebelum-sebelumnya Fifah suka banget dengan bau badan Meta, pokoknya wangi alaminya membuat Fifah langsung diserang rasa yang aneh, sehingga dengan berani membisikan kata-kata manisnya. 'Aku pengin' itu kata-kata yang mebuat cape di tubuh Meta seketika hilang.


Jadwal pulang kerja Meta, adalah yang paling di tunggu oleh Fifah, karena saat itu wangi Meta itu Ma'co banget menurut Fifah.


"Mah, maaf yah nitip Mesy dulu. Ifah mau nyiapin keperluan Mas Wawan dulu." Itu adalah trik yang selalu Fifah gunakan agar bisa mem-uaskan suaminya.


Mpok Mia atau mommy Ezah pasti akan senang ketika dititipin Mesy, bayi lucu itu adalah mainan yang tidak pernah membuat bosen. Mpok Mia juga nggak pernah curiga kalo menyiapkan keperluan yang mantunya maksud itu keperluan batinya.


"Aman?" bisik Meta.


"Tentu," jawab Fifah dengan manja dan tanganya akan memberikan kode bahwa permainan sebaiknya segera di mulai sebelum Mesy menjerit, mencari sumber kehidupanya.


"Tidak salah memang aku memilih yang sudah berpengalaman. Tidak perlu buka les kilat, langsung cepat tanggap." Malahan faktanya kebanyakan Meta yang diajarin Fifah. Tubuhnya sedikit-sedikit di geser mendekati Fifah. "Baby kalo pagi olah raga katanya bikin sehat, olah raga yuk!" bisik Meta, usaha yah, biarpun semalam sudah di beri bekal tetap saja aktifitasnya yang padet kalo bekalnya cuma satu pasti nggak kenyang.


Fifah membalik badan. Meta yang melihat tatapan Fifah langsung nyalinya menciut. "Heheh...enggak Baby tadi itu bercanda, kan udah semalam sekali," elak Meta sembari mengacungkan jari telunjuk di depan wajahnya menujukan angka satu.


Tatapan Fifah masih dengan mata menyerupai Elang, Meta pun merasa menyesal karena kemungkinan membuat Fifah marah.


"Mau berapa?" tanya Fifah dengan suaranya yang jutek dan tegas persis cewek kalo mau datang bulan, semua dianggap musuh.


Kaget, Meta terkejut dengar pertanyaan Fifah. Tetapi tak ayal langsung menjawah. "Sa...satu engap apa-apa Baby, cukup kok," jawab Meta terbata, seolah Fifah pagi ini terlihat seperti monter mengerikan.


"Tidak mau," jawaban yang membuat Meta langsung berubah wajahnya menjadi murung.


"Ya udah enggak apa-apa Babyku, Dady tau kamu pasti cape dan enggak enak badan." Met menarik selimut agar menutupi tubuhnya yang setengah telanjang dan tubuh Fifah yang masih menggunakan daster kebangganya.


"Tidak mau tidur." Selimut yang Meta pasangkan dan hampir menutupi sebagian tubuh Fifah pun di tepisnya, sehingga tubuh Fifah kembali terbuka yang membuat Meta tidak bisa menahan tubuhnya yang semakin menegang, 'Fix jalan satu-satunya bersolo karir di kamar mandi' batin Meta. Matanya di pejamkan agar tidak melihat benda yang membuatnya semakin memanas.


"Aku enggak mau satu, tapi aku mau dua." jari-jari Fifah di ulurkan ke wajah Meta dan menunjukan ada jari tengah dan telunjuk berdiri.


Meta terbelalak kaget, "Ini seriuz?" Kaget campur seneng pastinya.


Fifah mengangguk dengan bersemangat. Meta langsung berjingkrak dengan penuh semangat.


"Yes... Yes... Yes... Dua..dua..." Diatas ranjang dia berjoged-joged hanya dengan handuk yang masih menempel di tubuh bagian bawahnya. Tanpa sadar suaranya memenuhi seisi kamar....


"Ea... ea... ea..." tangisan nyaring dari Mesy langsung menyadarkan Meta bahwa suaranyaa sudah membangunkan anaknya yang masih tidur tadi. Laki-laki itu lupa kalo masih ada Mesy di kamar mereka. Meta membekap suaranya dengan sepontan, semangatnya jadi melemah. Fifah langsung bangun dan menggendongnya anaknya yang sebelumnya ada di box bayi samping ranjangnya.


"Iiihhh... Gara-gara kamu Mesy jadi bangun kan," ucap Fifah gemas, alamat gagal kan dua ron'de.


"Ampun Baby kelepasan," mohon Meta, dengan mengatupkan kedua tanganya di depan dadanya.


"Dua kali gagal!!!" ujar Fifah dengan manyun apalagi ketika melihat Mesy justru langsung on, dan mengajak bercanda.


Wis... wis... Gagal.


"Fah kita biarkan Mesy main sendiri ajah kita tetap main, udah enggak bisa ditahan," bisik Meta, ya kali ajah Fifah berbelas kasih mengabulkan permintaanya.


Fifah kembali menatap Meta, yang menatapnya penuh rasa iba, sehingga Fifah jadi enggak tega juga.


"Ya udah, tapi enggak jadi dua yah," balas Fifah pasrah, dia juga tidak menampik ingin kembali merasakan suaminya yang per'kasa, jadi enggak ada alasan untuk menolak.


"Iya enggak apa-apa yang penting, keluar," cicit Meta udah enggak sabar, rasanya tubuhnya sudah panas dingin apa lagi ketika melihat tangan mungil Mesy meremas-remaa daerah jajahanya, rasanya enggak rela harus berbagi dengan anaknya.


"Sekarang ganti buka dua tapi tiga," jawaban Fifah bikin jantung Meta berhenti berdetak sejenak.


"Yo wis gas Baby," pekik Meta mengambil kuda-kuda untuk permainan pertama.


"Mesy jangan rewel yah Dady sama Mamih mau senam dulu sebentar," bisik Meta sembari meletakan anaknya di bok bayi dan mainan yang banyak di sekitar Mesy agar Mesy tidak nangis ketika bermain seorang diri, sementara orang tuanya bekerja dulu.


"Bohong Mey, kamu harus nangis! Ganggu mereka ok." Pof othor...


Ini Just hiburan yang readers, jangan diambil serius. Meta dan Fifah memang dibikin buat tujuan hiburan yang mengandung pemanasan, anggap ajah ada wanita yang nakalnya kaya Fifah hehehe...