
"Aku mau minta maaf sama kamu, dan aku mau kamu nikahin aku!" Qari langsung menggigit bibir bawahnya rasanya sangat lega, karena sudah mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya.
Degg... jantung Alzam seolah berhenti berdetak. Entah mimpi apa ia semalam, kenapa Qari tiba-tiba menembaknya. Eh... tunggu dulu ini bukan menembak, melainkan melamar.
"Kamu ngomong apa sih Qari, aku tau kamu itu hanya kasihan sama aku. Nikah itu harus dengan cinta dan yang kamu katakan tadi bukan cinta, belainkan rasa iba. Pikirkan lagi kata-katamu Nona, karena itu akan merugikan diri Anda." Alzam mencoba menyadarkan Qari. Yah, Alzam tau bahwa Qari hanya iba dan kasihan melihat fisiknya.
"Iya aku tahu, maka dari itu aku mau kamu kasih kesempatan aku untuk belajar mencintaimu. Belajar jadi Kaka yang baik untuk Tantri." Qari tidak mau menyerah.
Sementara dari pojok ruangan Cyra dari tadi menguping pembicaraan Qari dan Alzam. Cyra terkekeh, bertepatan dengan itu Naqi keluar hendak kembali ruangan Alzam.
"Mas tunggu!" Cyra menarik tubuh Naqi sembari menahanya dan suara yang di pelankan.
"Kenapa? aku udah lapar nih?" ucap Naqi mengikuti Cyra berbisik juga.
"Adik kamu melamar Alzam," bisik Cyra di telinga Naqi.
"Hahah..." Naqi terkejut dan biji matanya seolah hendak loncat. "Ko bisa?" tanya Naqi heran sembari masih berbisik.
Cyra mengangkat bahu tanganya menandakan bahwa ia tidak tahu, kenapa bisa Qari melamar Alzam.
"Makanya sini dulu, kamu dengarkan deh," Cyra meminta Naqi supaya mengikuti langkahnya yang menguping Alzam.
"Nona Qari, nikah itu bukan percobaan atau permainan. Sekali nikah ya itu harus udah siap bukan percobaan apabila tidak cocok dan gagal, bisa dilepaskan begitu sajah." Alzam malah semakin dibuat pusing dengan kelakuan Qari. Ini sih bukanya sembuh malah tumbuh sakit baru.
"Tapi, aku serius Al dengan ucapanku. Kalo kamu tidak percaya coba berikan aku satu kali kesempatan untuk membuktikan kalo aku layak kamu nikahi." Qari terus menekan Alzam agar mau menerimanya.
"Nona Qari coba Anda lihat fisik saya! Saya cacat, kaki saya tidak normal. Apa yang Anda harapkan dari laki-laki cacat seperti saya. Anda pantas mendapatkan laki-laki yang lebih sempurna dari saya. Jangan dengan alasan kasihan Anda langsung menghukum hidup Anda dengan menikahi saya." Alzam sebaliknya dari Qari dia selalu menyadarkan Qari bahwa keputusanya memimta Alzam menikahinya adalah keputusan yang salah.
"Aku tau, dan aku terima semua kondisi fisikmu, kamu mau alasan apa lagi?" tanya Qari seolah dengan jawaban itu Alzam sudah luluh.
"Saya tau, Anda itu masih belum benar-benar yakin dengan keputusan Anda. Jangan gegabah Nona. Penyesalah datanganya di belakang. Lebih baik Anda siapkan diri dulu, Saya yakin nanti lama kelamaan, Anda yang akan menjauh dari saya," jawab Alzam sembari mengembangkan senyumnya samar.
"Kamu mau aku buktikan dari mana? Aku akan belajar jadi istri yang baik. Memasak, nyucil, ngepel, setrika aku bisa belajar sama Bibi di rumah. Tidak hanya menjadi Istri aku juga bisa menjadi Kakak yang baik buat Tantri. Aku akan sayang sama Tantri. Lalu kamu mau bukti yang mana?" tanya Qari dengan nada tidak terima Alzam seolah merendahkan dirinya.
"Nona sepertinya Anda salah menafsirkan arti dari sebuah pernikahan. Nikah tidak harus sang istri bisa memasak, mencuci dan lain sebagainya. Namun di mana kita bisa saling mengerti, memahami, memberi dan melindungi. Poin satu dan dua, mungkin saya bisa jalankan poin tiga dan empat saya tidak bisa jadi lebih baik Anda cari laki-laki lain yang lebih sempurna fisiknya dan juga menyayangi Anda. Saya yakin Anda akan menemukan laki-laki itu." Entah keberapa kali Alzam memperingatkan Qari agar mencari laki-laki lain.
"Aku tidak mau, pokoknya aku akan bilang sama kakek untuk melmarkan kamu untuk aku. Kamu tidak bisa menolaknya. Karena aku akan marah kalo kamu menolak," ancam Qari dengan mengancam.
Alzam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya berbicara dengan Qari itu tidak bisa menemukan titik terang selalu ingin menang sendiri.
Tantri sejak tadi mendengar perbincangan Qari dan Alzam. Meskipun tidak tau bentul dengan maksud ucapan Qari dan Alzam, tetapi Tantri berusaha mengartikan setiap kata yang ia pahami. Tantri tidak begitu setuju apabila Abangnya menikah dengan Qari. Terlebih Tantri tidak suka sama Qari karena ia memanggil abangnya dengan sebutan cupu tempo hari. Sampai sekarang pangilan itu masih terekam jelas dalam ingatan Tantri. Di mana Qari berkata sangat tidak sopan pada Abangnya. Namun kembali lagi semua keputusan ada pada Alzam. Sehingga Tantri akan pasrah dan berharap Alzam mendapatkan jodoh yang baik seperti Cyra, bukan Qari.
"Benar kata Alzam Qari, Nikah itu harus ada pertimbanganya, bukan asal Sah saja. Harus ada persiapan untuk rencana kedepamya. Nikah bukan permainan yang bosan bisa di tinggalkan begitu saja," ucap Naqi menasihati Adiknya yang memaksakan keinginannya untuk dinikahi oleh Alzam.
"Pandai sekali kamu Bang menasihati aku. Bukanya kamu dan Kaka Ipar juga nikah atas dasar candaan. Justru pernaikahan kalian lebih parah dari aku. Kalo aku setidaknya menikah tapi tetap berusaha untuk mencintai, menerima kelebihan dan kekurangannya. Kalo kamu gimana? Apa kamu akan saling mencoba untuk jatuh cinta? Oh tapi setidaknya engga yah karena cinta kalian justru sangat memprihatin kan." Qari justru menasihati Naqi. Bagi Qari pernikahan Naqi dan Cyra sangat tidak bisa dikatakan menikah yang mana mereka selalu membuat rumah tangganya penuh kepura-puraan.
"Kenapa kamu malah jadi bahas pernikahan kami, emang apa salahnya dengan pernikahan kami. Aku dan Cyra baik-baik sajah, biarpun kami menikah dijodohkan tapi kami bisa menjalaninya dengan baik " bela Naqi, tidak mau Qari tau bahwa ternyata pernikahanya justru lebih parah. Nikahnya dengan Cyra hanya sebuah kesepakatan di mana tidak ada bedanya dengan permainan.
Qari tertawa mengejek, "Ingat Bang sepandai-pandainya kau menyimpan bangkai, pasti baunya akan tercium juga. Jangan kau pikir kita diam tidak tau apa yang terjadi di dalam penikahan kalian. Lebih baik kau urusi dulu keluarga kecilmu. Tunjukan pada kami kalo loe sudah move on dari tuh nenek-nenek(Rania)," kekeh Qari justru membuka aib keluarga kakaknya. Qari memang tidak suka dengan Rania, sehingga menyebut Rania adalah nenek-nenek itu karena umur Rania dua tahun lebih tua dari pada Naqi.
Naqi pun hanya bisa menelan salivanya, niat hati menasihati adiknya malah justru dibuat tak berkutik dengan ucapan adiknya. Pasalnya yang di katakan Qari benar. Seharusnya ia tidak menasihati Qari, karena rumah tangganya sendiri pun hanya candaan belaka. Bahagianya hanya sandiwara. Naqi akui tidak bisa tegas dengan perasaanya hari ini ingin bersama Cyra tetapi keesokan harinya ingin bersana Rania. Dia sendiri bingung dengan perasaanya.
...****************...
Sambil nunggu Abang Al di lamar Kakek untuk Qari, mampir yuk kekarya bestie othor namanya Momputt, kalian wajib mampit yah, jangan lupa fav, like komen dan bawa bunga setaman buat TANTE CEO...