Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Mencari Aman


Naqi mengendarai mobil dengan tidak sabar karena ia sudah ingin tahu jawaban apa yang akan Sam berikan mengenai di mana Cyra berada.


"Mudah-mudahan Sam bisa memberikan aku jawaban yang memuasakan yah. Rasanya aku entah mau bertanya sama siapa lagi kalo Sam saja lagi-lagi menjawab tidak tau seperti yang lain," batin Naqi, sembari terus fokus mengemudi.


"Huh... akhirnya sampai juga di rumah sakit ini," ucap Naqi sembari mematap rumah sakit yang beberapa bulan lalu banyak dia lewati waktu bersama Cyra. Tiba-tiba kenangan bersama dengan Cyra kembali terputar dengan sendirinya. "Gimana keadaan anak-anak yang sering Cyra hibur yah apa Cyra masih datang kesini lagi?" batin Naqi di kepalanya banyak ditersimpan kenangan yang indah bersama Cyra berloba berfutar lagi. Sehingga Naqi sampai tersenyum seorang diri.


Naqi buru-buru masuk keruangan Sam, dan tidak ada kata menyerah dalam kamus Naqi, dia selalu optimis bahwa ia akan menemukan Cyra.


"Qi loe kemana ajah?" tanya Sam begitu Naqi masuk ke ruanganya, yang memang sudah selesai praktek.


"Nggak penting ke mana gue pergi, karena gue udah memutuskan untuk melupakanya," jawab Naqi dengan dingin dan mulai meletakan bokongnya di kursi yang berada di hadapan Sam seolah dia seorang pasien.


"Terus Rania gimana? Udah sembuh, lalu kondisinya gimana?" tanya Sam lagi yang memang penasaran bagaimana keadaan Rania saat ini, gimana pun kelakuan dia, Rania itu juga teman Sam jadi dia ingin tahu kondisi Rania.


"Entah lah, dia diurus bokapnya," jawab Naqi, yang memang tidak tahu kondisi Rania sampai saat ini. Masih di rumah atau sudah di bawa ke rumah sakit Naqi juga tidak tahu kondisinya sampai. Itu semua karena Luson yang melum memberikan kabar pada dirinya.


Sam mengernyitkan dahinya dan menyipitkan matanya, ia heran kenapa bisa Naqi bicara seperti itu. "Bu... bukanya Rania sudah tidak memiliki orang tua lagi. Tapi kenapa sekarang ada ayahnya datang," tanya Sam dengan heran, karena sepengetahuan Sam dan Naqi juga bercerita bawa Rania tidak memiliki siapa-siapa lagi, maka dari itu Sam kaget, dan penasaran siapa papah dari Rania.


"Entah Sam, gue ngadapin masalah Rania setres sendiri," gerundel Naqi, dengan duduk bersender ke senderan kursi.


"Maksud kamu apa sih Qi, Rania sudah punya keluarga? Lalu hubungan kalian gimana? Kenapa loe tiba-tiba ada di kota ini lagi bukanya loe ada di kampung Rania yah?" Sam memberondong pertanyaan sama Naqi, habisnya dia datang dengan membawa kabar yang sangat membuat penasaran.


"Yah, Rania sudah ketemu bokapnya yang selama ini dia cari. Kalo masalah gue kembali ke sini karena mau nyari istri gue. Mau memperbaikin rumah tangga gue yang sempat hancur karena keegoisan gue yang memilih pergi bersama Rania, tetapi ternyata Rania...(Naqi tidak melanjutkan ucapanya, dia mengantung ucapanya itu. Sehingga membuat Sam jadi penasaran).


"Rania... dia kakak tiri gue Sam." Naqi menunduk ada rasa malu ketika ia mengatakan itu semua, malu karena dia menempatkan Rania diatas segalanya, tetapi malah dia kakak tirinya. Ia kembali keingat bagai mana ia memuja Rania segimana gilanya, tetapi malah Rania kaka satu ayah dengan dirinya.


Marah, yah Naqi sangat ingin marah dengan takdir yang seolah menertawakan dirinya. Membuat ia mengartikan rasa sayang pada Rania, seharusnya sayang sebagai sodara karena satu darah yang mengalir dengan dirinya, tetapi justru dia memgartikanya sayang lain. Bahkan ia sempat berhubungan sampai yang menjurus kemaksiatan dengan kakak tirinya. Sampai ia sendiri malu apabila mengingatnya.


"Hah... loe nggak bercanda kan Qi. Kok bisa dia kakak tiri loe. Keturunan dari mana dia kakak tiri loe?" Sam sendiri kaget dan seolah tidak percaya ketika Naqi mengatakan bahwa Rania adalah kakak tirinya.


"Luson, dia yang suka menabur benih sembarangan sehingga membuat aku kena imbasnya. Pokoknya semua permasalahan karena Luson, tapi gue bersyukur semuanya terungkap dengan cepat sehingga gue bisa segera mengejar cinta sejati gue lagi," ucap Naqi dengan senyum bangga di wajahnya.


"Maksud kamu mau ngejar siapa?" tanya Sam semakin bodoh dengan apa yang Naqi katakan.


"Tujuan gue datang kesini untuk mengejar cinta Cyra lagi. Loe pasti tahu kan di mana Cyra berada," ucap Naqi dengan wajah mengiba, agar Sam setidaknya tahu gimana dirinya yang sangat membutuhkan kehadiran Cyra. Biasanya sesama laki-laki lebih peka, dan bisa saling mengerti sehingga Naqi berharap Sam berbeda dengan si ben-cong Meta yang malah dari awa selalu menceramahinya.


"Cyra? Kenapa loe tanya Cyra ke gue. Gue ajah tahu cerita loe waktu Tuan Latif sempat drop dan memanggil gue untuk memeriksanya. Bersamaan dengan itu mamih loe juga sakit. Jadi gue harus periksa juga. Karena gue penasaran kenapa bisa dua orang hebat sakit secara bersamaan. Gue tanya sama adik loe. Dan dia cerita sama gue apa yang terjadi dengan loe. Gue nggak tahu di mana Cyra loe tahu sendiri Cyra nggak bisa dekat dengan sembarangan laki-laki," jawab Sam dengan santai dan berharap bahwa Naqi bisa percaya dengan apa yang dia katakan.


"Maafin gue Qi, gue terpaksa berbohong dengan loe, karena gue nggak mau Qila marah dengan gue. Gue udah cinta banget sama tuh cewek, nanti kalo dia tahu aku membocorkan rahasia Cyra yang ada nanti cewek gue ngamuk-ngamuk," batin Sam yang sudah mulai takut dengan Qila..Padahal Qila tidak pernah marah dan tidak pernah ngomel-ngomel, tetapi sekalinya kecewa jurus diam seribu bahasa di lakukan.


"Gue pikir loe tahu di mana Cyra berada, soalnya loe kan pernah bilang sama gue bahwa loe bakal merebut dia dari gue. Makanya itu aku berfikir loe langsung pake jurus pepet ke Cyra pas tahu gue ninggalin dia buat bisa bersama Rania yang ternyata kakak gue."


"Hahaha... Naqi-Naqi masa iya gue tega ngelakuin itu sama sahabat sendiri. Gue cuma bercanda ajah Bro nggak mungkin gue beneran ngelakuin itu. Lagian kalo memang Cyra mau dengan gue itu karena tulus cinta mungkin gue akan mengejarnya. Kalo gue yang ngejar-ngejar seorang diri mah sama ajah. Cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit Bro." Sam tidak mau Naqi salah sangka dengan dirinya.


Naqi menunduk, merenung yang di katakan Sam. "Cinta sebelah tangan memang sakit, dan itu pasti yang di rasakan Cyra pada saat aku memilih Rania. Ya Tuhan kenapa aku baru sadar sekarang. Setelah semuanya pergi," lirih Naqi, ia mengusap bulir bening yang keluar dari sudut matanya.