Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Menjadi Obat Nyamuk


"Maksud kamu apa? Bicara langsung sajah aku tidak banyak waktu," balas Naqi dengan jutex. Difikiranya terlalu mencemaskan Rania yang tengah sakit. Sehingga tanpa sadar ia berkata dengan nada meninggi.


"Aku ikut sama Mas Naqi, agar Kakek dan Mamih tidak curiga, dan kalo kita pergi berdua kita bisa menginap di rumah Mba Rania. Kakek nggak akan marah, karena kita pergi bersama. Nanti kita tinggal cari asalan untuk tidak bisa pulang ke rumah malam ini." Cyra mengutarakan alasanya ketika ia ingin ikut dengan suaminya.


Naqi pun tampak berpikir mencerna perkataan Cyra. Baiklah kalo begitu. Kamu buruan ganti pakean agar kita bisa buru-buru berangkat."


Cyra bergegas mengambil pakaianya dan menggantinya di kamar mandi. Tidak lupa Cyra juga memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan lipstik.


"Ayo Mas," ajak Cyra yang sudah rapih.


"Cepet banget, biasa kalo cewek itu dandanya selalu lama," ledek Naqi. Tentu Naqi sangat hafal kebiasaan cewek kalo dandan lama, sebab Rania pun begitu.


"Beda Mas, kalo Cyra lama-lama mau ngapain rambut pun nggak harus disisir udah pake baju ya udah jalan," ucap Cyra dengan membuka pintu kamarnya.


Ketika menuruni tangga kebetulan kakek tengah menonton televisi.


"Malam Kek," sapa Cyra dengan ramah.


Kakek menoleh kesumber suara, "Mau kemana kamu? Ko rapih banget?"


"Mau ajak Cyra makan diluar Ke, kebetulan pekerjaan dia hari ini lancar, jadi Naqi pengin kasih bonus buat jalan-jalan keluar malam ini. Boleh kan?" tanya Naqi berpura-pura meminta izin, padahal di dalam hatinya sekali pun tidak mendapatkan izin ia tetap akan keluar malam ini.


"Ya terserah kamu sajah. Kalian memang sudah seharusnya banyak-banyak menghabiskan waktu berdua. Kalian itu lagi masa-masa pacaran paska pernikahan jadi memang sudah seharusnya sering keluar untuk kencan," ucap kakek yang secara tidak langsung mengizinkan mereka keluar rumah.


"Kalo perlu kalian sekali-kali, berdua jalan-jalan menyewa hotel buat cari suasana baru biar cepat launching Naqi junior," imbuh mamih yang baru bergabung.


"Mamih bikin kaget sajah." Cyra terkejut ketika mamih datang secara tiba-tiba di sampingnya padahal ia tidak mendengar kedatangannya.


"Sabar Mih, baru juga nikah satu bulan masa langsung kejar setoran. Nikmatin dulu dong masa-masa berduaanya, baru deh bikin mainan buat diajak main bola," elak Naqi, ia sudah hafal keinginan mamihnya menimang cucu.


"Ya sudah sana buruan kalian berangkat nanti keburu malam, kencanya nggak puas," usir mamih pada anak dan menantunya itu.


Naqi dan Cyra pamit kemudian bergegas menuju rumah Rania.


Sepanjang perjalanan mereka tidak terlibat obrolan apapun. Cyra juga tidak berani untuk memulai obrolan. Ia bingung mau memulai obrolan apa, sehingga Cyra lebih baik menatap keluar menikmati indahnya malam di ibukota. Tidak lama mereka sampai di rumah yang lumayan besar.


"Mas, apa Mba Rania tinggal seorang diri di rumah sebesar ini?" tanya Cyra ketika melihat hunian yang lumayan besar tetapi terlihat sunyi.


"Biasanya ada asisten rumah tangga yang menemaninya." Naqi berjalan tergesa ke dalam rumah, diikti oleh Cyra.


Naqi membuka kamar Rania dengan perlahan, terlihat di sana Rania tengah terbaring dengan lemah.


"Sayang, Naqi masuk dengan terburu-buru ketika melihat Rania benar-benar terbaring di atas ranjang empuknya. Naqi memeluk Rania dengan kencang dan seolah memberika kekuatan. Sementara Cyra menunduk mengalihkan pandanganya ia memainkan kakinya agar tidak gugup. Cyra tentu merasa malu sendiri ketika melihat sepasang kekasih saling melepaskan Rasa rindunya.


"Yank kenapa dia ikut." Tunjuk Rania pada Cyra yang mematung ditengah-tengah pintu menunduk dan memainkan kakinya.


"Iya sayang, kalo Cyra nggak ikut Kakek tidak mengizinkan aku keluar," balas Naqi agar Rania tidak banyak berprotes. Sebab kalo ia tidak beralasan karena kakek pasti Rania akan selalu bertanya terus.


"Kakek kamu itu nyebelin banget yank, apa-apa harus libatin cewek itu, rasanya bosen sekali liat dia selalu ada di samping kamu," sungut Rania tidak suka apabila Cyra bersama Naqi terus.


"Udah lah sayang, Cyra sajah tidak keberatan dengan hubungan kita. Padahal dia istri aku lebih berhak atas diriku. Udah jangan sedikit-sedikit dipermasalahin aku juga jadi pusing dengarnya." Naqi melerai Rania yang selalu menyalahkan kehadiran Cyra.


"Kamu duduk ajah Ra," ucap Naqi memberi intruksi agar Cyra duduk jangan berdiri terus.


"Kondisi kamu gimana? Sam belum datang?" tanya Naqi.


Sebelum berangka memang Naqi sudah menghubungi Sam agar datang kerumah Rania dan mengabarkan bahwa Rania sakit, tetapi justru Naqi belum melihat Sam datang.


"Sam, entah lah dia belum ada kesini," jawab Rania. " Perutku dari dua hari ini berasa tidak enak, dan badan pun lemas sekali," keluh Rania sembari merebahkan badanya, dibantu oleh Naqi.


"Kamu belum periksa ke dokter mana pun?" tanya Naqi lagi.


"Belum. Aku nunggu kamu menemaniku melakukan pemeriksaan," jawab Rania.


Sementara Cyra dipojokan hanya menjadi obat nyamuk dan melihat perhatian Naqi terhadap Rania.


"Apa nanti kalo aku sakit, Mas Naqi juga akan perhatian, seperti ia perhatian terhadap Mba Rania," batin Cyra. Tentu di dalam hatinya ada rasa iri ketika suaminya justru memperhatikan wanita lain. Namun Cyra juga sadar diri bahwa dirinya lah yang masuk pada hubungan mereka.


"Biarkan sajah, jodoh nggak akan lari kemana," gumam Cyra ketika kembali merasakan kegamangan dalam hatinya.


Tok..tok..tokkk... (pintu kamar diketuk)


Ternyata yang datang dokter Sam.


"Sakit apa Rania?" tanya Sam sembari menyiapkan peralatan pemeriksaan yang akan ia gunakan.


"Entah lah, kan yang dokter juga loe, kenapa jadi tanya ke aku," sungut Naqi.


"Maksud gue, yang dia keluhin apa, Bambang." Sam meluruskan pertanyaanya.


"Bilang makanya yang jelas. Perut tidak nyaman, lemes dan pusing," jawab Naqi singkat.


"Masuk angin kali," ledek Sam, tetapi ia tetap memeriksa Rania.


"Lebih baik besok di bawa periksa ke rumah sakit sajah Na, aku takut ada sesuatu yang bermasalah dengan tubuh kamu," ujar Sam setelah melakukan pemeriksaan terhadap Rania.


"Memang gimana hasilnya?" tanya Naqi semakin cemas.


"Gue tidak bisa memastikan, karena tidak ada alat yang memadai. Maka dari itu besok kalian cek up kerumah sakit sajah agar terlihat apa yang terjadi dengan kesehatan Rania," jelas Sam, sebab yang Sam duga Rania ada masalah dengan kesehatanya yang perlu mendapatkan penanganan yang seriu.


"Yank, aku jadi takut," rengek Rania.


"Tenang, nggak akan kenapa-kenapa, besok kita cek up ke rumah sakit yah." Naqi mencoba menenangkan Rania. Sementara Cyra hanya menyimak dari tempatnya duduk. Bahkan Sam belum mengetahui bahwa Cyra juga ada di kamar Rania.


"Kenapa nunggu besok dok? Kenapa nggak sekarang sajah di bawa ke rumah sakit untuk memastikan apa sakit Mba Rania." Cyra menyela obrolan merka. Terlebih ia juga simpati dengan kondisi Rania.


"Diam kamu," bentak Rania, tidak suka Cyra ikut menyumbangkan pendapatnya.


"Udah lah Rania, kamu itu kebiasaan selalu menyalahkan Cyra," balas Sam, kesal dengan sifat Rania yang selalu sajah angkuh.


Bersambung...


...****************...