Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Qari yang Cemburu


Di tempat lain...


"Mirna kamu tahu kemana perginya Qari kenapa saya lihat dari tadi dia tidak ada di mejanya?" tanya Naqi yang melakukan sidak ke ruangan Mirna dan Qari.


"E... tidak Tuan, Nona Qari tidak mengatakan sesuatu. Mungkin Nona Qari ada urusan di luar Tuan dan lupa untuk memberi tahu Anda." Mirna yang memang hampir tiap hari bersama tetapi tidak saling menyapa pun mencoba memberi jawaban yang masuk akal. Sebab ia tidak tahu ke mana Qari tetapi justru di beri pertanyaan yang sangat mengerikan oleh bosnya. Dan memang sudah menjadi kebiasaan Qari bahwa ia akan pergi dengan tidak pernah bilang juga dengan Mirna.


Naqi pun langsung meninggalkan ruangan Mirna karena tidak mendapatkan jawaban dari Mirna yang memuaskan. Kini Naqi beralih ke ruangan Alzam. "Al, apa kamu tahu kemana Qari pergi?" tanya Naqi begitu ia masuk ke ruangan anak buahnya itu.


"Oh astagah... saya terkejut Tuan. Nona Qari yah Tuan? Dia tidak memberitahu pada saya kalo akan keluar hari ini Tuan." Alzam sengaja berkata demikian sebab Qari yang meminta. Tentu Alzam tahu kemana perginya Qari. Sebab Qari sempat mengajak dirinya ikut menyambut Cyra tetapi dia tidak mau hal itu karena pasti Naqi akan mencari-cari kemana dirinnya pergi. Dan benar sajah Naqi melakukan hal itu. Di mana Naqi mencari Qari sampai ke ruangan Alzam. Alzam pun harus merelakan dosa berbohong untuk menutupi perbuatan Qari.


"Ok baiklah, coba kamu telpon Qari Al, dan coba kamu hubungi Qari samapai ia mau mengangkat telponya dan katakan aku mencari dia segera kembali ke kantor banyak kerjaan dia yang terbengkalai," titah Naqi sebelum meninggalkan ruangan Alzam. Yah, Naqi memerintahkan Alzam yang menghubungi Qari. Sebab dirinya sudah mencoba menelepon adiknya itu, tetapi justru telepon Naqi tidak diangkat oleh Qari.


Namun, Naqi sangat yakin bahwa apabila Alzam yang menelepon pasti Qari mau mengangkatnya. Benar saja dugaan Naqi, begitu Alzam yang memanggil Qari langsung mengangkatnya.


[Halloh calon imam kenapa?] tanya Qari dengan suara menggodanya.


[Nona, lebih baik Anda pulang ke kantor segera hal itu karena Tuan Naqi nampak marah sekali dengan hasil kerja Anda. Barusan Tuan Naqi dari ruangan saya dan memerintahkan saya menelepon Anda untuk segera datang dan menyelesaikan kerjaan saya dan apabila Anda menolak Tuan Naqi akan memotong gajih saya Nona. Jadi tolong Anda kembali ke kantor sekarang yah. Semua demi gajih saya Nona." Alzam memang sengaja menambahkan ancaman mematikan seperti itu sebab ia tahu Qari apabila tidak ada ancaman akan sangat sulit untuk kembali kekantor dan menyelesaikan pekerjaanya. Hal itu sontak menambah pekerjaan Mirna dan dirinya juga pada ujung-ujungnya. Sehingga Alzam harus memutar otak agar Qari mau kembali ke kantor dengan cepat.


[Ok, baiklah-baiklah, katakan pada bos loe, gue balik sekarang! Tidak usah potong gajih siapa pun itu,] balas Qari sedetik kemudian sambungan telepon ia putuskan secara sepihak dengan kasar. Bagi Alzam tidak masalah yang terpenting ia bisa pulang dan kembali tanpa kena omel lagi oleh Naqi.


Qari pun di sebrang sana asik ngedumel. "Dasar laki-laki durjanah, baru ajah gue bebas sebentar kangen-kangenan sama kakak Ipar ini udah di telpon suruh balik kerja, rasanya dunia kejam banget sama gue," gerundel Qari tetapi tetap ia membawa mobilnya menuju kantor tempatnya bekerja, sebenarnya kalo bukan karena gajih Alzam yang akan di potong oleh Naqi apabila ia tidak datang maka Qari pun lebih memilih tidur rebahan di rumah kakeknya. Seperti Rania yang kerjaanya hanya tiduran dan makan, tidur setiap hari. Hal itu tentu membuat Qari iri. Sementara dirinya baru kabur beberapa jam dari perusahaanya bekerja tetapi Naqi sudah meneleponinya dan mengancam dengan memotong gajih Alzam.


Itu sebabnya sampai sekarang Qari dan Rania belum bisa akur. Justru sekarang Qari semakin membenci Rania karena dinilai di rumahnya hanya menumpang tetapi memiliki perhatian khusus dari semuanya sampai kerja pun Rania tidak diizinkan. Yah, Rania hanya tidur dan makan setiap hari di rumah itu. Dan hal itu beberapa kali memancing kemarahan pada Qari yang selalu di bikin iri dengan Rania. Saking marah dan kesalnya Qari sampai menyebut Rania dengan sebutan Tuan Ratu. Hal itu membuat Qari iri dan memanggil Rania dengan sebutan itu yang mereka yakini panggilan sangat cocok untuk mereka yang menumpang makan dan tidur sajah di rumah mereka ini.


Brakkkk... Suara pintu Qari buka dengan paksa karena ia sudah sangat lelah dan Qari juga marah karena pulang kerumah tahu Rania sedang iatirahat tidur dengan nyeyak dan setelah itu Tuan ratu bangun untuk makan sungguh hidup menjadi Rania itu sangat enak. Itu yang menjadi gambaran di pikiran Qari tanpa ia tahu Rania juga sebenarnya ingin bisa kerja sama seperti yang lainya.


Naqi melihat kearah yang berani menggebrak pintu ruanganya, meskipun tanpa di lihat pun Naqi sidah tahu bahwa orang yang sangat berani membuat pintu ruanganya di gebrak cuma satu orangnya yaitu Qari, adiknya sendiri.


"Sudah datang toh, kemana saja kamu?" tanya Naqi dengan tatapan penuh kemarahan.


"Kenapa sih Bang kamu sama aku membedakan banget, aku pergi sebentar sajah sudah heboh satu kantor tahu semua, seolah aku udah berbuat kejahatan. Sementara kamu tuh di rumah Tuan Ratu kerjaanya cuma makan dan tidur nggak ada yang negor. Apa sebegini tidak adilnya dalam keluarga ini. Aku juga ingin sekali-kali merasakan apa itu artinya kebebasan dan apa itu istirahat di rumah dengan nyaman tanpa mendengar teriakan pekerjaan setiap saat. Cape aku Bang!!" Qari justru lebih galak dari Naqi. Namun itu cara Qari yang hanya bisa menuangkan perasaanya, di mana ia sangat kecewa dengan semua perlakuan Naqi terhadap dirinya yang sangat mengerikan sedikit-sedikit Naqi akan marah denganya.


Qari begitu sudah mengungkapkan segala unek-unek dirinya ia langsung pergi ketempat kerjanya dengan bola mata yang memanas dan juga rasa kecewa yang sangat besar dia memang tengah marah dengan Naqi, dwn tentu dengan Rania, kakak tirinya.


Tanpa Naqi tahu bahwa Qari itu merasa di anak tirikan semenjak kedatangan Rania yang seolah menjadi ratu di rumah itu.


*****


"Apa kalian berpisah karena orang ketiga?" tanya momy dengan Cyra.


Cyra tidak langsung menjawab pertanyaan mommy dan Cyra pun bingung mau menjawab apa? Karena memang pada kenyataanya Cyra dan Naqi berpisah memang karena adanya orang ketika di mana Naqi memilih wanita lain dan baru Cyra ketahui bahwa wanita itu adalah sodaranya sendiri. Lucu, yah kisah yang sangat lucu seolah dunia tengah mempermainkan perasaan sodara itu. Terlibat cinta dalam satu darah.


"Apa diamnya kamu itu arti dari iya sayang. Di mana itu artinya kamu memang berpisah karena orang ketiga?" tanya mommy lagi untuk memastikan apa yang ada difikiran momy memang seperti itu pada kenyataanya.


"Maaf Mih, Cyra tidak tahu, karena memang rumah tangga kita dari awal sudah salah. Kami di jodohkan tanpa ada cinta oleh Tuan Latif, mungkin ini salah satu alasan yang tepat sehingga kita semua berpisah. Di mana sifat Cyra juga masih sangat kecil dan banyak faktor lainya yang memaksa kita untuk berpisah dan mungkin juga ada orang ketiga yang salah satu faktornya bisa diberikan ke pada Percerian kita. Intinya pernikahan kita memang bukan karena saling suka di awal sehingga untuk saling mempertahkan sangat sulit." Cyra bukan mau membela Naqi tetapi dia sediri juga sadar bahwa dia itu juga memiliki kelemahan dalam menggenggam ikatan pernikahan itu. Masih terlalu lemah dan belum begitu paham dengan urusan cinta.


"Apa jawabanmu yang seperti itu, berati kamu masih mencintai mantan suami kamu sayang?" Mommy rupanya sangat penasaran dengan isi hati putrinya itu. Sampai jam istirahat yang akan mereka gunakan untuk tidur siang pun masih di gunakan untuk mengorek perasaan Cyra terhadap mantan suaminya. Yang mommy sendiri belum tahu bagai mana wajah dan rupa Naqi, mantan suami Cyra.


"Untuk melupakan bener-benar lupa tentu sulit Mom, terlebih dia orang yang baik. Namun Cyra ingin menyerahkan semuanya kembali ke pada Tuhan bukan karena perjodohan seperti pernikahan awal kita dulu," ucap Cyra, karena pernikahan dalam perjodohan itu banyak gengsinya. Cyra akui dirinya juga banyak gengsi untuk mengakui perasaanya yang sesungguhnya pada Naqi. Begitu pun Naqi gengsi untuk mengakui perasaanya dengan Cyra.


Momy hanya menggerak-gerakan kepalanya naik turun sebagai tanda bahwa ia tahu bagai mana perasaan Cyra. "Mommy jadi penasaran bagai mana mantan suami kamu itu. Mommy boleh tahu gimana orangnya?" tanya Mommy dengan antusias ingin mengenal mantan menantunya itu.


"Entah Mom, Cyra justru belum berani untuk ketemu dengan dirinya. Mommy minta sajah Meta untuk menunjukan mantan suami Cyra nanti pasti Meta bisa ajak mommy untuk melihat dari jauh yang namanya Naqi itu. Kalau Cyra justru belum siap untuk bertemu dengan Cyra dan Naqi. Hati Cyra terlalu lemah apabila dihadapkan dengan Naqi, jadi lebih baik dia menghindari laki-laki itu dari pada isi hatinya berbohong dengan semua yang terjadi lagi.


Di kehidupan yang sekarang Cyra ingin bisa jujur dengan hatinya dan menggenggam yang memang ia harus di genggam tidak akan ia mengulangi kesalahan yang sama. Apalagi mengalah demi wanita lain itu tidak akan terjadi.


Setelah mengobrol dengan mommy dan menghabiskan sebagian waktu tidur mereka untuk mengobrol, kini Cyra dan mommy pun tidur siang bersama. Tidur pertama kali ditanah kelahiran dan dengan mommy, wanita yang telah melahirkan Cyra.


****


Sementara Meta dia jadi kefikiran apa yang diucapkan Cyra agar dia dan Fifah di minta menikah secara cepat. "Benar juga apa yang di bilang Cyra, gimana kalo tiba-tiba Niko tahu bahwa Fifah punya anak dan dia tahu Fifah belum menikah dengan aku pasti Niko akan mati-matian mengambil Mesy dari aku." Meta perasaanya jadi tidak tenang. Ia maju mundur dan tidak sabar ingin segera menikahi Fifah biar deh nikah siri atau nikah KUA dulu ajah nanti baru resepsi. Yang terpenting sah dulu biar bisa kuat melindungi Mesy dari Niko.


"Yah, Niko tidak boleh tahu bahwa Mesy adalah darah dagingnya. Gue sudah terlanjur sayang sama anak itu," gumam Meta, tidak bisa membayangkan apabila Mesy diambil oleh Niko.