
Meta melebarkan kedua matanya, kaget dengan ucapan Niko. Eh... tunggu ini buka sekedar ucapan biasa tetapi ini lebih menjurus ke ancaman. Ingin Meta itu meletakan Mesy dan menghajar Niko, Meta adalah tipe laki-laki yang akan maju paling depan apabila wanita yang dia cintai di usik. Dan Niko sudah mulai mengusiknya. Tidak cuma mengusik Fifah tetapi juga ia mengusik anaknya Mesy.
Biarpun Mesy adalah anak bukan hasil jerih payahnya, tetapi Meta sama sekali tidaj membedakan Mesy, ia memperlakukan Mesy seperti anak kandungnya dan tidak hanya itu Meta juga mencukupi kebutuhan Mesy dengan sebaik-baiknya orang tua. Jadi kalo Niko ingin mengambil Mesy, Meta akan melakukan apapun kecuali Mesy sudah besar baru Meta akan izinkan. Dia tahu kok bahwa Niko memang ayah kandungnya sehinga berhak tau Mesy tetapi untuk saat ini biarkan Mesy bersama Meta dan Fifah.
"Apa maksud kamu Niko? Katakan dengan jelas jangan bertele-tele karena aku tidak suka memutar-mutar otak ku hanya untuk meladeni kamu. Aku orang yang cukup sibuk, terlebih aku juga mencari nafkah untuk keluargaku. Dan kamu menambah pikiran yang tidak berguna seperti ini. Sangat tidak penting omongan kamu itu," dengus Meta sembari menatap sinis kearah Niko.
Laki-laki yang akan memiliki dua orang anak itu, bukan terlalu bodoh sehingga tidak bisa mengartikan apa yang Niko katakan. Tetapi dia sedang mencari cara bagaimana supaya ia bisa berbicara baik-baik dengan Niko. Toh dari lubuk terdalam nya Meta ia juga ingin memberitahu Niko nantinya ketika Mesy sudah beranjak besar akan tahu siapa ayah kandungnya. Namun buka sekarang di mana Mesy masih terlalu kecil. Meta yakin sifat seperti Niko akan sangat sulit untuk mencoba berusaha damai dan membiarkan Mesy diasuh dengan Fifah terlebih Mesy masih full ASI sehingga harus dalam hak asuh Fifah,
"Kamu jangan pura-pula blo-on Meta, sangat mustahil sekali di mana orang baaru menikah menginjak satu bulan, tetapi sudah memiliki anak, dan anak itu seumuran dengan lamanya aku dan Fifah bercerai. Kamu tahu dong siapa sebenarnya anak ini?" tanya Niko dengan nada yang mengejek dan menyindir Meta agar berbicara jujur saja. Yah, Niko sebelumnya sudah meminta orang kepercayaanya mencari dulu tentang Fifah dan Meta, dan ternyata dari data yang dia dapat bahwa Meta dan juga Afifah baru menikah dan yang membuat Niko yakin bahwa anak yang di gendong oleh Meta adalah anaknya, yaitu usianya yang sama dengan usia perceraiannya, sehingga sangat besar kemungkinan bahwa anak kecil yang di sebut-sebut namanya Mesy adalah anak hasil kerja kerasnya bersama Fifah, perempuan yang dia tuduh mandul.
Meta mengeratkan gigi-giginya ingin meninjul Niko sampai giginya rontok. "Sabar Meta sabar, ingat Niko itu hanya mengprofokasi kamu ajah. Dia dalam hatinya takut sama kamu kok, takut masuk UGD lagi," batin Meta mengejek mentak krupuk Niko itu.
Deg! Jantung Afifah seolah berhenti saat itu juga, terasa sangat nyeri ketika ketakutanya menjadi nyata, di mana Niko suda bisa meruntutkan setiap kejadian demi kejadian yang membuat Niko meyakinian bawa Mesy adalah anaknya.
"Kamu sudah tahu semuanya, lalu untuk apa aku menjawab lagi, tanpa aku jawab ucapan kamu sebagian besar memang benar kok. Lalu aku harus menjelaskan yang mana lagi?" ucap Meta, dia kali ini lebih melunakan nada bicarnya dan berharap bahwa Niko juga bisa melunakan egonya dan bersama-sama membesarkan Mesy, nantinya.
"Belajar sabar ternyata susah banget yah, dada sampe sesek," batin Meta meringis memegangi dadanya.
Fifah yang melihat bahwa Meta sepertinya akan mengatakan yang sesungguhnya pun mencubit suaminya dengan kesal. Dia sedang tidak baik moodnya, tetapi masih di tambah dengan ocehan Niko. Ingin Fifah menjambak mantan suaminya itu tetapi Fifah sadar bahwa di dalam perutnya ada bayi yang harus dia jaga. Afifah setelah mencubit Meta, dan kepalanya berdenyut pun mencoba mencari tempat untuk duduk, Fifah udah pasrah dengan semua yang terjadi. Yang terpenting dia mengontrol emosinya demi anak yang tumbuh di dalam rahimnya.
Meta melihat ke arah Fifah dan meletakan telapak tanganya agar dia sabar dan percayakan semuanya akan baik-baik sajah, sementara Mesy yang ada di dalam gendongan Meta sedang bersembunyi di tempat ternyamanya, yaitu ketiak Dady nya. Dan heranya anak itu seolah tidak terganggu dengan suara-suara tegang dari kedua papahnya yang tengah merebutkan dirinya.
"Aku hanya ingin kejujuran dari kalian, karena bagai manapun juga Mesy ini adalah darah daging saya," ucap Niko suaranya pun kali ini mengikuti Meta di kecilkan volumenya sehingga lebih terdengar enak di telinga.
"kami bukan tidak mau jujur dengan apa yang terjadi dengan Fifah, hanya waktunya belum tepat, bisa kita bicarq baik-baik saja. Cari tempat untuk mengobrol?" tanya Meta suara yang lebih lembut, sehingga yang mendengarnya pun tidk terpancing dengan menganggapnya menatangnya. Padahal Niko tidak tau bahwa di dalam dada Meta tengah perang batin.
"Nanti malam biarkan kami datang ke rumah kamu gimana? Aku dan Zoya juga harus tahu dengan kondisi anak kami," ucap Niko memberkan penawaran, meskipun dia tahu bahwa mungkin saja Meta dan Fifah akan keberatan, tetapi dia juga memiliki hak atas anak yang sekarang ada dalam gendongan meta dengan antengnya.
"Boleh saja, nanti alamat rumahnya saya share," jawab Meta, walaupun di dadanya dia sudah sangat-sangat ingin membuat Niko bonyok, tetapi dia juga berfikir bahwa manusia seperti Niko sepertinya ketika di kerasin dia akan semakin keras tetapi apabila di lembutin dia juga akan lembut. Agar masalah tidak semakin runyam maka Meta memilih cara nomor dua, dan tentu dia harus tetap waspada takutnya di balik kelembutan yang niko tunjukan dia masih menyimpan rencana untuk membawa kabur Mesy.
Setelah cukup lama Meta mengobrol dengan Niko, entah apa saja yang di bicarakan Meta dan Niko itu tetapi karena keasikan mengobrol bahkan Meta sampai lupa bahwa dari tadi Fifah sudah gelisah karena badanya yang lemas dan ingin buru-buru di rebahkan.
"Met, apa aku boleh gendong Mesy?" tanya Niko dengan menjulurkan tanganya, sebenarnya dari tadi juga Niko sudah bermain dengan anaknya, dan juga entah berapa kali dia mencium anaknya itu. Saking gemasnya Niko dengan Mesy si pipi tembem.
"Boleh, tapi bentar ajah yah, kayaknya Fifah udah kecapean deh," ucap Meta sembari melirik ke arah Fifah yang sudah gelisah duduknya. Niko pun mengangguk dengan penuh semangat laki-laki itu mengajak Meyra untuk di gendong, tetapi justru anaknya beberapa kali memalingkan kepalanya seolah bayi itu tidak mau untuk diajak di gendong oleh papahnya.
"Hemz ka... Anak sendiri ajah enggak mau dengan papahnya," batin Meta, dalam hatinya tetap nyiyir.
"Kok, enggak mau Mes?" tanya Niko seolah putus asa dengan tingkah laku anaknya itu.
"Nanti juga biasa Ko, ini karena belum kenal ajah, dia memang anaknya kaya gitu sulit mau ikut dengan orang baru terlebih kalo tidak begitu kenal dia akan menangis," jawab Meta, mencoba menenagkan Niko agar tidak bersedih.
Setelah Niko menerima dan tidak lagi memaksa ingin menggendong Mesy. Meta pun bisa bernafas lega ketika Niko berpamitan, dan dia juga bisa buru-buru mengajak pulang Fifah, dan memintanya beristirahat.
"Huh... Akhirnya si Niko pergi juga, cape banget harus ekting baik sama dia." Meta mengumpat ayah kandungnya Mesy.
"Maaf yah Cinta, gara-gara si Niko ngajak ngobrol terus kamu jadi Dady abaikan," ucap Meta sembari mengelus perut Fifah yang masih datar. Itu adalah cara agar Fifah tidak marah, terlebih ketika mata Fifah memancarkan kemarahan. Seolah dari matanya keluar kilatan api kemarahan.
"Kenapa di ladenin sih orang gila itu?" sungut Fifah dengan berjalan di tuntun oleh Meta.
"Gimana yah Fah, Niko itu orangnya keras, kalo bukan kita yang ngalah dan baik-baikin dia yang ada Niko makin menjadi. Bukan tidak mungkin dia akan mengambil Mesy dengan cara kotor. Makanya aku coba cari jalan damai agar dia tidak merasa di pisahkan dengan anaknya. Meskipun dalam hati ini juga enggak ikhlas banget ketika Niko dekat sama Mesy. Tapi gimana pun juga kata readers Niko ayah kandungnya Mesy jadi harus di kasih tau. Makanya aku ngalah dan coba kasih tau Niko dengan cara lembut. Agar Niko bisa lembut juga ke kita," jelas Meta dengan sangat pelan agar tidak menyakiti hati Fifah.
"Terserah kamu ajah Dad, aku cape urusan sama dia," jawab Fifah mencoba menenangkab fikiranya, demi bayi yang ia kandung.
Meta pun akhirnya sedikit lega karena Fifah tidak marah-marhin dia terus, dan mencoba mengerti keputusan Meta. Meta mencium pucuk kepala Fifah. "Aku janji bakal tetap mengusahakan Mesy kamu yang dapat hak asuhnya. Tapi kalo Niko dan Zoya pengin ketemu kamu juga harus izinkan yah! Biar Mesy dibesarkan dengan kasih sayang dari keempat orang tanya," ujar Meta sebelum melajukan kendaraanya.
Fifah mencoba menarik bibirnya sehingga membentuk garis lengkung yang samar. Berat tentu sangat berat, tetapi ini lah konsekuensi dari perceraian yang memiliki anak harus adil membiarkan anak di asuh bersama-sama dengan keluarga mantan suami.
Meta melanjutkan mobilnya sedang Mesy sudah berada di pangkuan Fufah dengan meminum ASI.
"Huh... Baru ajah selesai hadapin Niko kali ini harus hadapi nyak sendiri di rumah," gumam Meta, tetapi dia tahu kok, Mamah Mia tidak akan marah dengab benar-benar marah. Hanya paling di beri ceramah panjang lebar, mengingat cita-cita mamah Mia dalah menjadi pendakwah.
Tidak sampai lama Meta sudah sampai di depan rumahnya, dan ia mengambil Mesy yang udah pulas tidur, dan setelah itu menuntun istrinya dengan hati-hati.
"Ya Ampun Fah, kamu sakit apa?" tanya mamah Mia yang ternyata sejak tadi cemas menunggu mantunya pulang. Beliau terlalu cemas apabila Fifah sakit yang serius. Apalagi ketika melihat Meta menuntun Fifah dan berjalan dengan lemah wajah yang juga pucat cukup memberi tahu mamah Mia kalo Fifah sedang sakit.
"Ini Fifah sakit apa Met?" tanya mamah Mia begitu Fifah sudah tiduran di atas sova.
"E... Itu Mah..." Meta bingung mau ngomong apa.
"Hamil????"