
Pintu berwarna kuning itu di dorong oleh Zoya secara perlahan, setelah sebelumnya Zoya mengetuk pintu dan sudah memastikan ada suara sahutan dari dalam sana. Senyum manis terlihat dari wajah Zoya sebagai salam pertemuan. Fifah yang memang belum tahu Zoya menyipitkan kedua matanya ketika ada seorang wanita berparas ayu yang tertutup hijab tersenyum dan berjalan menghampirinya. Fifah yang tengah di pijat tangan dan tengkuknya oleh mamah Mia penasaran siapa sebenarnya wanita itu, kenapa sepertinya ia sangat kenal dengan Fifah. Mamah Mia juga penasaran siapa sebenarnya wanita yng masuk ke kamar Fifah, pasti kenal akrab dengan menatu kesayanganya. Namun kenapa sebelumnya tidak pernah berkunjung ketempat ini?
"Siapa Fah?" tanya mamah Mia dengan berbisik. khas ibu-ibu yang tengah ngomongin tetangganya.
Fiah menggeleng sembari pandanganya tetap mengawasi Zoya. "Tidak tau Mah, Fifah juga baru liat," jawab Fifah dengan yakin. Karena setelah mengamati Zoya, Fifah tetap tidak mengenali siapa wanita itu.
"Assalamualaikum," sapa Zoya dengan ramah dan mengulurkan tangan guna menjabat tangan mamah Mia dan Fifah.
"Walaikumsallam," jawab Fifah dan mamah Mia hampir bersamaan. Di mana tatapan mereka semua mengambarkan kebingungan kenapa wanita yang sama sekali tidak mereka kenal, tetapi terlihat seolah mereka sangat akrab.
"Fifah, apa kabar? Aku dengar dari Mas Meta kamu lagi hamil lagi, selamat yah," ujar Zoya sembari memeluk dan cepika cepiki, pada Fifah, sementara Fifah masih kebingungan.
"Ah... I... iya terima kasih yah, tapi kalau boleh tau kamu siapa?" tanya Fifah yang penasaran dengan wanita yang ada di hadapanya itu.
"Hehehe... kalian pasti bingung yah siapa aku dan tiba-tiba masuk ke kamar ini, sebelumnya aku masuk ke kamar kamu sudah di izinkan oleh Mas Mata. Kamu sepertinya tidak kenal dengan aku, karena memang kita yang belum pernah bertemu tetapi aku kenal sama kamu. Bahkan aku kenal banget sama kamu, tapi kalau kamu tahu nama aku kayaknya kamu bisa tebak aku itu siapa," ucap Zoya dengan senyum manisnya.
"Maaf kalo boleh tahu namanya siapa?" tanya Fifah dia sudah sangat penasaran dengan wanita yang ada di hadapanya. Mereka kini tengah mengobrol berdua saja setelah Mamah Mia pamit untuk kemberikan waktu untuk Zoya dan Fifah berbincang-bincang.
"Aku Zoya, kam kenal kan dengan nama aku?" tanya Zoya dengan tersenyum karena dia yakin bahwa Fifah pasti akan mengenalinya.
"Sudah aku sudah ketemu dengan Mesy, tapi anak kamu enggak mau ikut dengan Bundanya, bahkan dengan Papahnya pun tidak mau. Penginya di gendogan Mas Meta terus jadi aku lebih baik ngobrol sama kamu ajah deh, kamu tidak keberatan kan?" tanya Zoya, dengan berhati-hati takutnya kehadiranya malah menggangguk istirahat Fifah.
"Apaan sih Mba, Fifah malah senang ada Mba Zoya di sini. Fifah jadi tahu kan, kalau tidak kesini mungkin selamanya Fifah tidak tahu wajah Mba Zoya yang cantik gini, mana adem banget liat Mba Zoya," puji Fifah, tetapi bukan sekedar puji memuji memang kenyataanya Zoya itu sangat cantik dan pembawaanya tenang. "Dan kalau soal Mesy memang anaknya seperti itu kalau Dadynya sudah pulang kita-kita enggak bakal di lirik lagi, udah Dadynya yang akan dia cari, aromanya beda cuma Dedynya yang bisa bikin dia diam biarpun sedang nangis kejar, aku pun heran rasanya aku itu jadi orang asing kalau Dadynya Mesy udah pulang kerja bahkan mandi saja Mate harus nunggu Mesy sampai tidur baru dia bisa santai mandi, kalau anaknya belum tidur bakal di tangisin sekalinya pergi," ujar Fifah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan kelakukan anak perempuanya, nanti kalau anak kedua juga sama dengan kakaknya pasti Meta langsung tidak mau punya anak dulu.
"Kira-kira mantranya Mas Meta itu apa sih, kayaknya enak banget ajak Mesy aku pengin ajak dia main ajah susah banget," adu Zoya dengan muka dibikin sedih, padahal dia ngerti kok bahwa anak bayi memang banyakan seperti itu, kalau tidak terlalu kenal degan dia akan sulit untuk diajak, dan mungkin itu yang Zoya alami, Mesy belum terlalu kenal dengan Zoya sehingga tidak mau untuk diajaknya.
"Kalau itu tidak tahu Mba, coba tanya sama Meta, tapi pelan-pelan saja nanti juga akan dekat dengan sendirinya, kalau pertama wajar kayaknya yah kalau belum dekat mah, "ucap Fifah.
"Oh iya, kata Mas Meta kamu lagi hamil lagi yah, bagi-bagi triknya Fah, kenapa aku tidak hamil-hamil yah. Pengin juga ngerasain hamil kayak kamu kayaknya senang banget deh kalau aku bisa hamil kaya kamu gitu," ujar Zoya sembari mengelus perut Fifah yang masih rata itu.
"Wah saya juga tidak tahu Mba, ini ajah rencananya tidak ingin hamil dulu, tapi kenakan bikin kali malah jadi deh," ucap Fifah sembari tersenyum dan wajahnya memerah, atuh gimana kalau udah enak mah boro-boro ke fikiran anak masih kecil gas terus pokoknya yah Fah.
Zoya dan Afifah pun terus bercerita apa saja dan mereka terihat sangat akrab sekali. Begitupun di lantai bawah setelah Niko berusaha terus dan Mesy masih belum mau ikut dengan papah kandungnya itu, sebuah ide konyol terlintas di pikiran Niko.
Berkat ide konyol Niko kini ia merasakan juga bisa menggendong buah hatinya. Yah ide konyolnya adalah Niko dan Met bertukar pakean, memang untuk pertama Mesy masih tidak mau ikut dengan papah kandungnya. Mesy terus menatap Niko, tapi pas hidunya di tempelin ke ketek Niko Mesy pada akhirnya mau juga iku dengan papahnya. Dan kini anak bayi yang cantik itu tengah di timang-timang oleh Niko, karena sepertinya dia akan tidur.
"Aduh kenapa enggak kefikiran tukar baju dari kemari sih bambang Niko."