Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kerja Sama Yang Aneh


Selesai sarapan Naqi berangkat kerja, tetapi pikiranya masih belum tenang karena bercandaanya barusan dengan kakek dan mamihnya justru dianggap serius oleh mereka. Alhasil Naqi harus ada kerja sama dengan istri kecilnya, tapi gimana caranya sedang Cyra si bocil itu polos banget.


"Ah... sial, gara-gara niat pengin bikin candaan malah jadi tambah masalah lagi," gerutu Naqi dengan memukul Sertir mobilnya, sehingga menimbulkan suara kelakson yang nyaring dan panjang.


Tiiiiiitttt..........


"Astaga apa lagi ini bikin kaget ajah," umpat Naqi ketika mendengar bunyi kelakson yang panjang karena ulahnya, tapi justru mengagetkan dirinya sendiri.


Sepanjang perjalanan Naqi memikirkan gimana caranya agar iya bisa menjelaskan pada Cyra agar dia berpura-pura telah melakukan malam pertama dengan Naqi semalam di hotel. Naqi udah yakin bahwa mamih dan kakek akan kepo dengan kegiatan panas semalam yang dikira benaran terjadi.


Sesampainya di kantor Naqi mencoba menghubungi Cyra, tetapi tidak ada respon juga. Akhirnya ia meninggalkan pesan buat Cyra melalui pesan suaran.


[Ra nanti kalo kamu udah bangun, langsung telpon Mas yah!] Naqi berharap agar Cyra begitu bangun langsung membuka ponselnya agar bisa melihat pesan yang ia tinggalkan.


Sampai pukul delapan pagi Cyra tidak jua menelepon Naqi, ia pun makin panik, takut apabila keduluan mamih atau kakeknya yang menemui Cyra dan mencecar pertanyaan yang tak jelas sehingga pasti ketahuan bahwa Naqi telah berbohong.


"Aduh kemana sih ini Cyra kenapa nggak juga menelepon aku," gerutu Naqi bolak balik sudah seperti setrikaan sajah. "Gara-gara menunggu telpon dari Cyra, Naqi jadi tidak konsentrasi untuk bekerja.


Akhirnya Naqi kembali memutuskan menghubungi Cyra kembali.


"Satu kali sambungan belum terangkat.


Dua kali sambungan juga belum diangkat.


Awas ajah kalo sampe dipanggilan ketiga kali nggak diangkat juga, gue kawinin beneran nih bocil biar banggun dan nggak bisa tudur sekalian." Naqi lagi-lagi ngedumel kesal sendiri ketika menelepon Cyra tetapi tidak ada respon juga.


Benar sajah panggilan ketiga Naqi, Cyra juga tidak mengangkatnya. "Memang harusnya dia dikawinin beneran kayaknya baru bangun. Masa aku telpon-telpon sampe puluhan kali dia nggak bangun juga, jangan-jangan nanti ada gempa dia juga tidak bangun orang-orang pada heboh lari kesana-kesini dia malah asik molor sajah." Naqi ngoceh seorang diri di ruanganya.


"Kenapa Pak, nampaknya Anda tengah banyak pikiran?" tanya Alzam, asistenya.


"Ya gimana nggak banyak fikiran dari tadi hubungi istri nggak diangkat-angkat mana ada sesuatu yang penting," oceh Naqi sembari mengetuk-ngetukan pena keatas meja.


"Mungkin masih sibuk Pak di rumah, gimana kalo sembari menunggu telfon diangkat, Anda cek laporan dan lihat hasil pemotretan dan iklan kamarin." Azlam meletakan setumpuk map untuk Naqi cek, dan juga hasil pemotretan dan rekaman iklan.


Naqi pun dengan enggan mengecek satu per satu laporan, dalam pikiranya masih terbagi dengan Cyra yang tak juga menelepon.


Ditengah kesibukan Naqi terdengar suara panggilan masuk. Naqi dengan sigap melirik poselnya dan tertulis jelas nama yang istrinya.


"Halloh, kemana ajah si Ra? Dari tadi ditelponin juga, kenapa nggak diangkat-angkat!" cecar Naqi begitu ponsel tersambung.


"Hallo Mas, iya maaf ini Cyra baru bangun, kenapa emang?" tanya Cyra dengan tanpa dosa, dan juga masih menguap dari sebrang sana.


"Mamih gimana? Ada dikamar kamu nggak?" tanya Naqi dengan tegas.


"Hah... Mamih, ada di luar kayaknya, kenapa emang Mas? Mau ngomong sama Mamih, biar Cyra panggilkan......(omongan terputus oleh Naqi)


"Loh, kenapa? Tadi bukanya Mas tanya Mamih? Mamih nggak ada disini, tapi kayaknya kalo diluar ada deh," balas Cyra yang mengira bahwa Naqi justru mencari mamihnya.


"Aku nggak cari Mamih, Cyra. Justru aku mau bilang sama kamu, kamu jangan ketemu Mamih sama Kakek dulu sebelum kamu kerjasama dengan aku." Naqi dengan sabar menjelaskan maksudanya melarang menemui mamih.


"Kerjasama apa Mas? Terus ada bayaranya nggak?" Tanya Cyra dengan polos.


"Astagah Cyra, kamu baru sehari kerja apa-apa udah minta bayaran terus," gerutu Naqi, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe kan namanya kerjasama ya biasanya ada bayaranya Mas," kekeh Cyra nggak mau kalah dengan pendapatnya.


"Yang penting dengerin dulu aturan mainya, masalah bayaran, nanti aku bayar pake baso," balas Naqi dengan asal.


Cyra pun langsung semangat ketika mendengar Naqi akan membayarnya menggunakan baso. "Enggak apa-apa lah baso juga lumayan," gumam Cyra yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Naqi.


"Ya Tuhan, lama-lama istriku kenapa jadi matre begini. Baru sehari kerja, apa-apa mau dijadikan duit sama dia," gumam Naqi sembari terkekeh dengan kelakuan Cyra. "Kamu pastikan disekitar kamu nggak ada orang dan nggak ada yang dengar pembicaraan kita," ucap Naqi.


"Iya Mas, nggak ada siapa-siapa. Lagian Cyra ada di kamar mana ada yang denger," balas Cyra dengan polos.


"Ya udah kita mulai yah. Tadi aku bercanda sama Mamih sama Kakek, soal kepergian kita tadi malam, tapi malah mereka mengira seriuz dan kini kamu harus pura-pura kalo kamu dan aku sudah belah duren, malam tadi," ucap Naqi dengan sedikit berbisik.


"Oh, emangnya Mas bercanda apa?" tanya Cyra masih belum paham arah perbincangan Naqi.


"Tuh kan apa gue duga, dia lola (loading lama) soal beginian, menjelaskan sama bocil memang harus super sabar," batin Naqi. "Kamu tau nggak kalo sepasang suami dan istri kalo udah nikah, itu ngapain kalo malam pertama?" tanya Naqi agar Cyra tau apa itu belah duren.


"E.....e... nggak tau, kan waktu Cyra mah tidur." jawab polos Cyra.


Naqi tampak berpikir keras gimana ngejelasin sama Cyra. "Gini ajah deh nanti kalo Mamih tanya-tanya sesuatu sama kamu, kamu jawab iya-iya ajah, dan bilang semalam bergadang karena Mas Naqi yang gangguin terus. Sama kamu bilang (Naqi menjeda sejenak dan menggaruk kepalanya ragu) kamu bilang ******** kamu sakit." Naqi bilang dengan ragu-ragu dan suara dipelankan.


"Hah... ******** sakit. Kenapa gitu ko sakit? Padahal kan Cyra nggak sakit kemalua'nya" tanya Cyra merasa aneh.


"Ya karena habis di sodok! Udah, pokoknya kamu bilang gitu! Jangan banyakan protes nanti durhaka, kalo nggak nurut sam suami, mau?" Ancaman Naqi memastikan.


"Ya engga lah, amit-amit," balas Cyra tidak mau dikatakan durhaka.


"Makanya nurut! Lalu nanti kalo kamu jalan di depan Mamih atau Kakek pura-pura sakit di ke'maluan kamu, biar merek lebih percaya," imbuh Naqi.


"Ko aneh-aneh ajah sih Mas kerja samanya. Engga mau ah, orang sehat-sehat ajah kenapa harus pura-pura sakit sih," cicit Cyra keberatan dengan kerasama dengan suaminya itu.


"Udah nurut ajah sih. Kan cuma pura-pura. Apa maunya dibikin sakit beneran. Kalo mau sakit beneran ya udah Mas pulang nih," ancam Naqi, karena Cyra protes terus.


Bersambung....


Udah Cyra ikutin ajah kemauan suami kamu, dari pada dikutuk jadi istri beneraan.....(pov Author)