
Helaan nafas panjang dihembuskan dari bibir tipis milik Qila. "Sam sudah kembali ke negara di mana orang tuanya tinggal. Dan kemungkinan besar tidak kembali ke negara ini, itu sama ajah dengan aku tidak akan bertemu dengan dia kan Ra?" tanya Qila dengan wajah masih tergurat jelas kesedihannya. Padahal pertanyaan yang ia lemparkan pada Cyra hanya sebagai hiburan. Di mana ada harapan kecil kalo Cyra akan menjawab 'mungkin saja Sam akan kembali tinggal di negri ini setelah dirinya sembuh nanti'. Namun ia juga bingung kalo Sam kembali lagi apa itu tandanya ia akan sama mengikuti jejak sahabatnya, kembali dekat dan malu-maluin. Eh... malu-lalu kucing maksudnya.
"Berati kamu harus mulai merelakan Sam, La. Laki-laki banyak yang mungkin bisa menerima kamu apa adanya. Mungkin Sam bukan laki-laki yang dikirimkan Tuhan buat kamu," hibur Cyra, seolah ia adalah penasihat percintaan yang handal. Masalah kehidupanya yang gagal biar itu dirahasiakan saja. Anggap saja ia selalu berhasil dalam urusan percintaan.
"Aku udah mengakhiri hubungan kita, tapi rasanya kalo tidak bertemu lagi sakit Ra. sedih ajah gitu bawaanya. Dan mungkin ini proses yang sulit untuk mengawali agar bisa melupakan mantan kekasih yah Ra?" tanya Qila seolah Cyra memang lebih ahli dengan urusan cinta-cintaan.
Qila benar-benar lupa bahwa sahabatnya itu juga korban dari kegagalan cinta. Bahkan belum bisa move on, dan tipis-tipis cinta yang diakhirnya, mulai bersemi kembali. Justru kehadiranya lebih menggetarkan hati dua sejoli itu.
Cyra bingung akan menjawab apa takut-takut salah jawab dan menambah Qila tengelam dalam kesedihanya. "Pelan-pelan saja tidak usah terburu-buru. Gunakan waktu senggang itu buat mendengarkan musik, bernyanyi, nonton film, atau membaca novel karya Kak "Ocy" itu juga sepertinya ide yang bagus La, author kita ada novel baru juga loh yang ceritanya nggak kalah menarik dari kisah-kisah perjalan kita. Cinta Diambang Derita itu judul novelnya La, kamu baca ajah di jamin ketawa dan sedih. Tapi kalo baca novel itu aku iri sama Meyra yang punya suami setia, sayang dan bucin sama istrinya enggak kaya Naqi sama Sam yang suka lirik-lirik cewek lain. Malah kata readers Naqi Biawak Darat loh lah. Nah kalo Ammar cukup satu enggak akan ada wanita-wanita lain. Pokoknya suami idaman banget deh Tuan Ammar mah," ujar Cyra merekomendasikan novel kesayanganya agar sahabatnya itu ikut membaca dan merasakan kebucinan Tuan Ammar.
"Masa sih La, aku jadi penasaran sama sosok Tuan Ammar itu, pasti istrinya beruntung banget yah Ra?" tanya Qila dengan antusias.
"Iya La, tapi istrinya kebalikanya La, dingin dan kaku, hahaha... lucu deh sama pasangan itu. Bentar baikan bentar musuhan tapi kangen-kangenan." Cyra sepertinya sangat menyukai karya novel author deh.
"Ah kalo gitu aku mau baca juga deh, siapa tau ketemu dengan laki-laki kaya di tokoh itu," ucap Qila sembari membuka gawainya dan membuka apli'kasi baca online dengan icon huruf N berwarna biru dan M berwana merah itu, dan mencari judul novel yang Cyra rekomendasikan.
Bahkan saking terbawa dengan ceritanya, Cyra yang ada di sebelahnya pun di abaikan.
"Yah dia jadi ikutan bucin sama bambang Ammar, pasti dia dalam hatinya membayangkan dapat pasangan kaya Ammar tuh," sindir Cyra dengan suara di bikin sekencang mungkin, tetapi karena Qila yang tengah asik membaca novel romantis itu pun tidak mendengarnya.
Memang benar yang di katakan Cyra, kalo Qila dalam fikiranya membayangkan mendapatkan suami seperti tokoh di novel itu. "Ah, ini mah authornya pilih kasih masa kita-kita dikasih pasangan yang bandel. Sedangkan Meyra yang polos, dingin dan enggak peka kaya gitu dapat pasangan yang romantis dan setia abis. Kayaknya kita harus protes nih sama penulis kita, biar kita dikasih pasangan kaya Tuan Ammar, kaya raya, setia, sabar, jail, romantis. Huhuhu... Tokoh novel banget itu. Mey tukeran jodoh Mey," ucap Qila sembari meletakan ponselnya di atas meja setelah membaca novel rekomendasi dari Cyra itu.
"Iya yah La, aku kalo dikasih jodoh yang kaya Tuan Ammar udah deh aku enggak bakal jual mahal kaya Meyra, aku pasti tak pepet juga Tuan Ammar sampe nggak bisa gerak, pokoknya kalo perlu aku kekep'in udah enggak boleh kemana-mana di kurung di dalam kamar ajah." Cyra juga tidak mau kalah dengan sahabatnya itu. Memimpikan Ammar sebagai jodohnya atau kalo tidak Naqi di bikin sifatnya kaya Ammar udah bahagia luar biasa pasti Cyra. Itu adalah harapan Cyra dan Qila. Mereka pun karena suka ceritanya mengikuti kisah pasangan yang unik itu.
"Kalian juga yah ikuti kisah pasangan unik itu, yuk bis yuk bantu author ramaikan novel yang satu itu yah." pof Author.
"Tapi ngomong-ngomong kok kamu tahu kalo Sam udah kembali ke negara orang tuanya tinggal?" tanya Cyra, dia menduga bahwa Qila diam-diam masih menemui Sam karena belum bisa move on dari dokter itu.
"Perawat, perawat yang bilang kalo Sam di jemput sama keluarganya untuk di bawa pulang dan di rawat di sana. Karena di sini tidak ada yang merawat," jelas Qila dengan sangat bersedih, melebihi kemarin dia putus cinta. Wajar sih ia bersedih secara karena Sam kan cinta pertamanya, melupakan cinta pertama itu sulit setenga mati bukan.
Pl*k... Cyra menepuk pundak sahabatnya yang berada tepat di sampingnya dan itu dia lakukan karena gemas sama Qila.
"Aduh... Kamu mah kebiasaan kalo ngapa-ngapa suka tiba-tiba ngegele'pak kan sakit Ra, mana tanganya kaya ada besinya, kecil sih tapi pedes bener kalo nimpuk," rutuk Qila dengan tangan sebelahnya ia gunakan untuk mengusap-usap bekas pukulan Cyra.
"Tapi di sini juga setidaknyanya ada yang ngerawat, perawat yang aku bayar Ra," elak Qila, dan hal itu menambah kegemazannya dengan Qila.
"Qila, kamu kan udah putus dengan Sam. Ingat-ingat dan dengar P-U-T-U-S, putus (Cyra memeragakan gaya tanganya yang menggo'rok lehernya sendiri) Jadi Sam juga merasa tidak enak lah sama kamu. Lagian udah sih, bukanya kamu juga jadi enak uangnya utuh enggak lagi bayar perawat. Coba aku mau tanya buat bayar perawat yang kamu tugaskan untuk merawat Sam berapa?" tanya Cyra ujungnya kepo dengan uang yang Qila keluarkan untuk membayar perawat khusus yang di tugaskan untuk merawat Sam.
"Apan sih Ra, aku ikhlas kok," belanya, mungkin kalo tahu Qila rela menahan kebutuhanya, dan menghemat agar bisa membayar perawat itu, dan tetap mengirim kekeluarganya juga, Cyra akan lebih marah.
"Berapa?" tanya ulang Cyra, dengan nada dingin dan juga menyiratkan tidak ada mengeles atau pun yang lainnya.
Qila menunduk, tanganya sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Rasa takutnya Cyra akan marah kalo tahu berapa nominal yang ia keluarkan buat membayar perawat Naqi tersebut.
"Tiga Ra, tiga juta." Qila tidak berani menatap Cyra pasti marah besar Cyra mendengar nominal segitu.
"Astagah Qila, kamu bener-bener yah (Nada bicara gemas dengan mengeratkan gigi) gajih kamu berapa? Kirim keluarga kamu berapa?" tanya Cyra mengintimidasi penghasilan sahabatnya.
"Delapan Ra, kirim ke kampung biasanya Lima juta, dan aku pegang buat jaga-jaga tiga juta udah cukup. Makan tidur kan sama kamu," jawab Qila dengan jujur, meskipun ada rasa ketakutan setelahnya, kupingnya akan benar-benar panas lagi karena ocehan sahabat baiknya.
"Astagah Cyra ih... (Gaya Cyra nyubit udara) Gajih kamu delapan juta, kirim keorang tua kamu tiga juta, buat bayar perawat itu tiga juta, kamu hanya memegang sisanya dua juta." Cyra yang sudah tahu semua pengeluaran Qila, karena sahabatnya yang bercerita dengan rincianya yang detail itu pun tidak bisa menebak hati Qila terbuat dari apa kenapa sebegitu baiknya. Sedangkan yang kerja hanya kebagian capenya. "Cukup kamu dengan uang dua juta dalam jangka waktu satu bulan?" tanya Cyra wajahnya masih kesal.
"Dicukup-cukupin Ra, hemat dulu kalo pengin beli apa-apa ditahan dulu sampe ada uang lebih," balas Qila lagi-lagi masih menunduk.
"Kalo gitu aku malah bersyukur dokter itu di bawa pulang keluarganya. Bikin susah sahabat aku ajah. Lagian duit tiga juta kasih ajah ke othor udah pasti dia happy dari pada buat bantu Sam yang udah kaya," saran Cyra memang luar biasa cemerlang.
"Iya Ra, maaf," balas Qila, wajahnya mengiba menandakan bahwa ia juga merasa bersalah.
"Jangan di ulangin lagi! Terlalu baik sama laki-laki apalagi laki-laki itu sudah jahat sama kamu. Kecuali kalo kamu utang budi baru boleh baik, kan kamu enggak ada utang apa-apa jadi jangan deh relain kaya gituan biar apa coba?" sungut Cyra tidak marah hanya saja menasihati agar Qila jangan terlalu memuja laki-laki. Biarkan laki-laki yang berjuang untuk wanita yang di cintainya.
"Iya Ra, aku janji tidak akan lagi-lagi melakukan hal itu," janji Qila, ia juga heran kenapa dia bisa sebaik itu, padahal Sam sudah berkhianat. Benar kata Cyra biarkan laki-laki berjuang untuk wanitanya.
Qila dan Cyra pun berpelukan, karena Cyra yang merasa bersalah karena sudah memarahi Qila, untungnya Qila tidak merasa di marahi malahan bersyukur karena Cyra yang peduli dengan dirinya.
"Sahabat ibarat mata dan tangan, saat mata menangis tangan akan mengusap. Saat tangan terluka maka mata yang akan menangis"