
"Iya pokoknya kamu ikutin ajah yang Mas bilang, dan kalo tidak kamu tanya dulu sama Mas mesti jawab apa, kamu WA dulu Mamih atau Kakek tanya apa nanti Mas langsung balas," ucap Naqi mengambil keputusan akhir, dari pada menjelaskan tapi Cyra nggak mudeng juga.
"Ya udah iya nanti Cyra ikuti semua yang Mas bilang." Pada akhirnya Cyra menyerah dan mengikuti apa yang Naqi perintahkan. "Udah yah Mas, Cyra mau mandi dulu." Cyra akan memutus sambungan teleponya.
"Oh iya tunggu Ra,.... nanti kamu coba googling tentang malam pertama lalu kamu pelajari agar nanti ketika Mamih atau Kakek bertanya-tanya kamu nggak ngelagapan jawabnya." Naqi pada akhirnya memerintah Cyra untuk bertanya pada ponsel pintarnya karena memang lebih pintaran ponsel dari pada otak Cyra.
"Iya Mas, ada lagi?" tanya Cyra.
"Engga itu ajah, awas jangan salah jawab loh," ancam Naqi, nggak mau nambah masalah lagi. Andai Cyra salah jawab pasti makin berabe lagi urusanya.
Cyra pun akhirnya ikut sajah dengan kerjasama yang Naqi buat. Setelah menutup pangilanya Cyra bergegas ke kamar mandi.
"Itu makanan buat menantu Mamih yah Bi?"
"Iya Nyah," jawab Bibi.
"Kalo gitu biar Mamih sajah yang membawanya buat Cyra. Kebetulan Mamih baru selesai bikin jamu buat dia."
*****
Sementara di rumah sakit Rania tengah menangis dengan sedih ketika mengetahui hasil pemeriksaanya.
"Kenapa mesti aku sih yang sakit begini Sam?" tanya Rania pada Sam, dengan putus asa.
"Hust... kamu nggak boleh ngomong gitu Na, semua pasti ada hikmahnya. Kamu yang sabar yah. Sakit kamu masih bisa diobati ko, jadi kamu nggak boleh bersedih. Sam mencoba menenangkan Rania.
"Tapi kemungkin sembuh berapa persen Sam? Pasti sangat kecil kan?"
"Semuanya nggak ada yang nggak mungkin Na, asal kamu semangat buat menjalani pengobatan dan yakin dengan kuasa Tuhan, pasti semuanya akan baik-baik sajah." Sam terus menguatkan Rania.
Tentu Sam tau bahwa sakit Rania bukan sakit yang mudah disembuhkan, tetapi Sam juga nggak tega kalo harus memberitahukan kenyataan sesungguhnya.
"Aku harus kasih tau Naqi dengan hasil pemeriksaan kamu," ucap Sam akan mengambil ponselnya dan menghubungi Naqi.
Namun, dengan sigap Rania menahan dan menggelengkan kepalanya. "Jangan sekarang, nanti sajah, aku belum siap mendapatkan simpati dari dia," ucap Rania dengan mata sembabnya yang seolah memohon. Sehingga Sam pun tidak tega menolak permintaanya.
"Kamu sekarang harus banyak istirahat, jangan terlalu kefikiran dengan sakit kamu, karena aku dokter jadi sangat tahu dengan kondisi sakit kamu itu masih sangat besar kemungkinan untuk sembuh," tutur Sam dengan memberikan semangat untuk Rania.
Rania mengangguk dengan lemah, dan ia merebahkan badanya. Sam pun tetap menemani Rania hingga ia benar-benar terlelap dalam mimpinya.
Pagi tadi tepat pukul delapan hasil pemeriksaan Rania telah keluar dan Sam pun mengambil hasil dari pemeriksan itu. Betapa kagetnya Sam ketika melihat hasilnya di mana Rania dinyatakan mengindap tumor ganas dirahimnya, dan dokter menyarankan untuk melakukan oprasi, sebelum sel tumor benar-benar menyebar. Namun Rania yang mengetahui hasil dari kesehatanya menolak untuk oprasi ia takut kalo tidak bisa memiliki keturunan. Walau pun Rania menolak untuk melakukan oprasi tetapi Sam akan berbicara dengan Naqi agar membujuk Rania melakukan oprasi itu, sebelum kondisinya semakin parah dan sulit untuk menyelamatkan Rahimnya.
Tentu Naqi akan meberitahu Naqi tanpa sepengetahuan Rania. Untuk sementara Sam akan merahasiakan sakitnya dengan Naqi sesuai kemauan Rania, tetapi apabila telah melihat kekuatan dihati Rania, Sam akan langsung memberi tahu Naqi dengan kondisi Rania.
****
Di kamar Cyra...
"Astagah, Mamih," pekik Cyra kaget ketika keluar dari kamar mandi melihat mamih tengah duduk santai di atas sova.
"Loh kenapa? Kok kayaknya takut banget liat Mamih?" tanya mamih dengan senyum terkembang di wajahnya.
"Bukan takut Mam, hanya kaget sajah. Soalnya barusan sepertinya di kamar nggak ada siapa-siapa kenapa pas Cyra selesai mandi ada Mamih."
"Ya udah, sini buruan kamu sarapan. Pasti kamu cape kan, karena ulah anak Mamih yang nakal itu." Mamih yang menganggap perkataan Naqi benar tentu senang meledek Cyra, terlebih muka Cyra yang memerah padam menambah keisengan mamih.
"Ah... I.... iya Mih, ko Mamih tau?" tanya Cyra dengan malu-malu. Gimana nggak malu, barusan Cyra di kamar mandi mengikuti saran Naqi meminta bantuan sama mbah google untuk mencari tahu tentang malam pertama dan mata Cyra ternodai dengan gambar yang tak senonoh dan juga penjelasan yang membuatnya panas dingin. Maklum Cyra masih delapan belas tahun, dan enam tahun dikurung oleh orang tuanya dan untuk menonton televisi pun sangat jarang, karena kesibukanya mengerjakan pekerjaan rumah. Serta selama ini ia tidak memiliki alat komunikasih yang canggih dan pandai sehingga ia tidak tau pacaran atau pun bercinta. Namun ketika ia ada waktu senggang Cyra sering belajar dari buku-buku bekas Afifah sekolah. Terlebih Cyra memiliki kemampuan otak yang bagus sehingga ia bisa belajar sendiri tanpa harus ada guru yang membimbingnya. Tidak hanya itu para maid juga suka mengajarkan Cyra ilmu dari mengaji sampai bahasa inggris sehingga Cyra biarpun tidak jago tetapi ia bisa sedikit-sedikit bahasa internasional itu.
"Ya tau dong kan anak Mamih yang cerita, dan juga Mamih pernah muda jadi dulu juga pernah begitu. Memang kalo pertama itu bawaanya pengin nambah terus. Jadi mamafin anak Mamih yang bandel itu yah, (Mamih terkekeh sebelum melajutkan perkataan selanjutnya) gara-gara dia kamu jadi nggak bisa tidur, dan pasti sedikit menyakitkan," bisik mamih dengan nada menggodan.
"E... enggak apa-apa Mih, kan sudah kewajiban Cyra melayani suami," jawab Cyra terbata dan muka semerah tomat.
"Ya udah makanya sini makan, biar setaminanya kuat, pasti nanti malam kamu dipaksa lembur lagi, sehingga butuh banyak tenaga." Mamih mengajak Cyra duduk disampingnya, dan meminta sarapan dengan menu yang banyak dan bergizi. Tidak lupa mamih juga membawakan jamu untuk penyubur kandungan, tujuanya tentu agar Cyra segera hamil dan ia bisa menimang cucu.
Cyra pun mengikuti perintah Mamih duduk disampingnya dan menikati sarapan dengan lahap. Sedangkan mamih masih menatap dengan senyum bahagia kearah mantunya itu. Sarapan sudah selesai dan kini waktunya meminum segelas kecil cairan berwarna coklat pekat yang mamih buat khusus untuk Cyra.
"Apa ini Mih?" tanya Cyra yang mencium aroma menyengat dari minuman itu dan juga penampilanya yang mencurigakan.
"Ini jamu tradisional, mamih tadi langsung membelinya ketoko jamu langganan mamih dulu. Mamih juga dulu minum jamu itu sampe akhirnya cepat tek-dung, anak pertama, ya suami kamu itu," jawab mamih dengan semangat.
"Ini diminum Mih?" Cyra masih ragu terlebih dengan aroma yang menyengat membayangkan rasanya pasti sangat tidak bersahabat di mulut.
"Ya ampun gara-gara kebohongan Mas Naqi aku harus minum ramuan aneh ini," gerutu Cyra di dalam hatinya, mengutuk kelakuan konyol suaminya. "Semoga sajah Mas Naqi juga kena karmanya, sama kaya aku dikasih ramuan ajaib beginian," imbuh Cyra berdoa didalam hatinya.