Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Cemburu???


Di sapa dulu yah sama Ayang Naqi...


Bebeb Naqi lagi main ama buluk...



Aa Naqi lagi sama teteh Rania



Cuekin ajah yah Ra....


Manyunin ajah, si Aa sama Tth mah emangnya bego, yang penting kamu mah Happy ajah...



...****************...


Begitu Naqi sampai di masjid rumah sakit, darahnya semakin mendidih, dibuatnya oleh Cyra. Istri bocilnya justru tengah asik bercengkrama dengan laki-laki tampan nan rupawan. Yah dokter Adam adalah laki-laki tampan yang sangat karismatik.


"Enggak habis fikir, dia malah asik ngobrol dengan laki-laki nggak jelas seperti itu, di saat suaminya tersiksa begini," gumam Naqi, dengan wajah semerah tomat menahan emosi dan efek jamu yang semakin menyiksa tubuhnya.


"Ra." Naqi menghampiri Cyra langsung menarik tangan Cyra dengan kasar.


"Au... apaan sih Mas, sakit," ringis Cyra, kaget dan sakit juga karena tanganya dicengkram kuat oleh Cyra.


Cemburu? Entahlah yang jelas Naqi kesal ketika melihat istri bocilnya mengobrol dan tertawa dengan laki-laki lain.


"Bung, jaga perlakuan Anda, sama sajah Anda melakukan kekerasan denga istri Anda, kalo cara Anda bersikap begitu," runtuk Adam, ia tidak suka melihat Cyra diperlakukan kasar oleh laki-laki yang Adam yakini adalah suami Cyra.


"Diam!!! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang. Dasar bibit P-E-M-B-I-N-O-R." Naqi mengumpat Adam dengan istilah pembinor.


Tentu Adam tidak terima dengan sebutan yang Naqi sematkan. Adam seketika meninju Naqi, sehingga Naqi yang tidak ada persiapam menjadi limbung dan hampir mencium ubin masjid yanh terasa dingin itu.


Ah...


Cyra kaget dan bingung kenapa situasinya jadi menegang begini.


"Dok, Cyra mohon jangan lakukan itu. Mas Naqi suami Cyra jangan pukul dia lagi. Sekarang Dokter Adam pergi sajah dari sini." Cyra mendorong Adam agar kembali ke dalam rumaha sakit. "Please!" Mohon Cyra dengan mengatupakn kedua telapak tanganya, dengan tatapan yang memelas.


Adam yang menghargai Cyra sebagai adiknya pun mengabulkan keinginan Cyra, ia terpaksa masuk ke dalam rumah sakit. Namun sebelumnya kedua netra Adam dan mata Naqi saling beradu tatapan tajam, seolah berkata bahwa urusanya belum selesai.


Naqi mengusap darah yang keluar dari sela bibirnya. Setelah memastikam Adam pergi Cyra langsung berlari menghampiri suaminya dan membantu untuk bangun.


Naqi diam sajah mengikuti Cyra yang dengan sabar memapah dirinya untuk bangun, sementara badan Cyra yang kecil dan lebih pendek dari Naqi tentu susah untuk memapah Naqi.


"Cukup Ra, kamu hanya menyiksa aku," ucap Naqi yang semakin tersiksa dengan gesekan dari kulit Cyra yang menyentuk kulitnya. Menyebabkan rasa sakit, dan semakin sesak di bawah sana.


Cyra pun mengikuti kemauan Naqi ia melepaskan Naqi dan berjalan dengan pelan di belakang Naqi.


"Laki-laki itu siapa?" tanya Naqi dengan suara baritonya.


"Dokter Adam," jawab Cyra cepat dan singkat.


"Iya dokter Adam itu siapa kamu? Pacar? Apa selingkuhan?" tanya Naqi dengan suara semakin kesal, tetapi ia tetap berjalan dengan langkah lebarnya.


Akhirnya Naqi sampai di palkiran dan ia langsung membuka pintu mobilnya dan duduk. Naqi berfikir keras gimana caranya meredakan hasrat ber'cintanya yang semakin memucah. Bahkan rasanya saat ia melihat Cyra ingin sekali menerkam dan menyeret dengan pakas ke atas ranjang.


"Sial... sial... sial," murka Naqi dengan memukul setir.


Cyra yang berda satu mobil, merasa takut dengan kemarahan Naqi. Cyra berfikir bahwa Naqi marah karena ia mengobrol dengan Adam. Padahal Naqi mengumpat karena kesal dengan kakek yanh memberika jamu sialan itu.


"Bereng-sek gara-gara Kakek ngasih jamu sialan itu. Gue jadi kesiksa gini." Naqi terus sajah meruntuki nasibnya dan mencoba menahan sahwat yang semakin menegang.


Cyra masih mencoba diam sajah tidak ingin menambah kemarahan Naqi.


Konsentrasi Naqi semakin terganggu, semakin Naqi mencoba menahanya justru rasa sakit dan menyiksa semakin kuat dan tidak bisa ditahan lagi.


Naqi langsung membelokan mobilnya kehalaman hotel yang menjulang megah.


"Turun!" ucap Naqi dengan suara bergetar.


Cyra yang takut akan kemaranan Naqi, bingung kenapa harus ke hotel, dan Naqi kenapa suara dia bergetar, apa Naqi masih marah atau kenapa? Batin Cyra berhamburan pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Naqi.


"Mas, kamu kenapa? Apa masih marah dengan kejadian tadi dan Cyra harus jelaskan apa lagi biar Mas percaya," ujar Cyra dengan nada selembut mungkin.


"Udah deh Ra, ikutin aku buruan! Kalo kamu tanya-tanya terus tubuhku makin tersiksa!" Naqi turun, dan saat itu juga Cyra ikut turun tanpa banyak pertanyaan lagi.


Naqi dengan terburu-buru berjalan kearah resepsionis di lobi hotel dan mulai cek in. Tentu sebagai persyaratan Naqi dimintai menunjukan KTP begitu juga Cyra.


Keringat sebesar biji jagung makin banyak berhamburan keluar. Dengan tubuh gelisah menahan sesak di bawah sana yang semakin keras dan kokoh. Andai dibukakan jendela pasti penghuninya langsung menyembul, menyapa siapa sajah yang ditemuinya dari dalam selah jendela. menunggu resepsionis menyerahkan kunci kamar hotel bikin Naqi semakin gelisah.


Cyra yang tidak tau apa yang terjadi dengan suaminya pun hanya heran dengan tubuh Naqi yang gerak-gerak terus menerus seolah ingin buang air kecil atau air besar.


Sementara petugas hotel yang sudah biasa mendapatkan tamu semacam Naqi, tentu hanya bergumam dan merasa bahwa Naqi adalah pasangan yang memang sengaja menyewa hotel hanya untuk mencari aman untuk menikmati indahnya surga dunia.


Begitu kartu kamar hotel diberikan oleh Mbak resepsionis. Naqi langsung menyambar dan menarik Cyra agar cepat mengikutinya.


Petugas resepsionis yang malam itu berjumlah tiga orang, diantarnya dua wanita dan satu pria. Mereka bersamaan menggelengkan kepalanya dan saling bergumam.


"Dasar udah nggak tahan tuh," ucap salah satu dari mereka panggil sajah si A.


"Kasian yah, ceweknya kayaknya masih kecil, tapi mau digarap ajah," balas si B.


"Bocil, masih polos, tapi harus ternodain oleh om-om buaya." Mereka pun tertawa, membayangkan akan terjadi adegan "Nunu nana" di dalam kamar Naqi dan Cyra.


Cyra tergopoh mengikuti langkah Naqi yang lebar dan panjang. Rasanya ingin protes agar berjalan pelan sajah toh tidak akan telat juga. Namun, melihat wajah Naqi yang merah dan tatapan yang tajam membuat nyali Cyra ciut.


Setelah melewati jalan yang panjang akhirnya Naqi sampai di kamar hotel. "404, yah ini benar nomornya," gumam Naqi di dalam hati. Naqi langsung merangsak masuk ke dalam kamar, dan membanting tubuh mungil Cyra ke atas kasur yang empuk.


"Ya Tuhan, Mas, kenapa kamu mendorong aku sperti membuang sekarung beras," pekik Cyra.


Namun, tatapan Naqi yang tajam seperti mata Elang, yang ingin mencabik-cabik mangsanya. Membuat Cyra takut dan mundur mencari posisi yang aman.


"Ya Alloh, tolong lah hamba, semoga hamba selalu dalam lindungan Mu," batin Cyra berdoa dalam hatinya, agar dirinya selalu dilindungi dari niat butuk Naqi.


Bersambung....


...****************...