
Pagi hari kakek bangun, dan begitu bangun ia membuka ponselnya dan membaca laporan dari orang suruhanya. Kakek langsung mendeal nomor orang yang ia percaya untuk menjalankan misinya.
"Apa yang kamu, tulis dalam pesan ini benar?" tanya kekek dengan nada tegas.
" Benar Tuan, kemarin orang-orang Tuan Kifayat juga pada berkata demikian," jawab seseorang dari sebrang sana.
"Bagus kalo gitu, kamu tinggal jalankan misi kedua, pastika kerja kamu bagus dan halus sehingga nggak ada yang curiga dengan kamu!" Kakek mewanti-wanti anak buahnya agar tidak gegabah dalam bekerja, karena bisa sajah orang-orang Tuan Kifayat menyadari kekacauan dalam perusahaanya ada yang dengan sengaja menyabotase, sehingga memiliki kerugian yang sulit untuk dipulihkan kembali.
"Baik Tuan saya akan lebih hati-hati lagi melaksanakan misi kedua," balas seseorang dari sebrang telfon dengan yakin.
"Bagus, kalo gitu nanti saya akan tambah bonus buat kalian, karena kerja kalian sangat memuaskan," ucap Kakek sebelum menutup sambungan teleponya.
"Tuan Kifayat, saya sudah yakin bahwa Anda adalah orang yang licik dan sangat jahat. Cara melawan kamu tidak harus dengan, Belati yang tajam untuk menikah kamu, Samurai yang panjang untuk menebas leher kamu, senapan untuk menembak kamu atau Kopi yang mengandung sianida. Cara-cara itu hanya akan mengotori tanganku. Aku tau kamu orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Maka cara menghancurkan kamu adalah dari yang paling kamu sukai yaitu harta dan kekuasaan," gumam Kakek dengan tersenyum sinis. "Rasanya tidak sabar ingin melihat kehancuran iblis itu," lmbuh Kakek, bukan tanpa sebab-tiba kakek menikahkan Cyra dan Naqi, ada tujuan tersembunyi kakek melakukan itu dan semuanya masih dalam tahap penyelidikan, tetapi semua informasi dan bukti mengarah pada Tuan Kifayat. Maka dari itu Kakek melakukan misi-misi ini, dengan sangat hati-hati kakek melakukan ini semua. Sebab apabila salah sasaran bisa-bisa timbul peperangan yang mengakibatkan banyak korban.
Kakek menyusup dengan sangat halus kekubu Tuan Kifayat sehingga mereka tidak menyadari bahwa ancaman kehancuran telah mengintainya. Memang rencana Kakek terlalu halus untuk dicurigai, sehingga Kakek tetap bisa bernafas lega.
Kakek pun bangun dan akan menemui cucunya yang menurut penuturan asisten rumah tangganya tengah sakit.
#Balik lagi ke Naqi dan Cyra...
Cyra mengrejapkan bola matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang remang-remang, segera ia meraih ponselnya dan menatap pada layar yang menunjukan pukul lima pagi. Cyra segera bergegas membersihkan diri dan menjalankan kewajibanya sebagai seorang muslim.
Cyra yang miskin akan ilmu agama itu tetap sebisa mungkin selalu meluangkan waktunya untuk menjalankan kewajibanya. Sementara Naqi yang memiliki garis keturunan dari tanah arab justru enggan untuk melakukan kewajiban menyembah Tuhanya. Memang ibadah urusanya dengan hati buka dari keturunan dan lain sebagainya, mungki hati Naqi masih belum tersentuh sehingga masih belum mau melakukan kewajibanya.
Setelah selesai melakukan kewajibanya, Cyra segera menghampiri Naqi. Yah setelah dikerok dan makan, Naqi bisa tidur dengan pulas. Cyra meletakan punggung tanganya diatas pelipis Naqi.
"Alhamdulillah sudah tidak demam lagi," lirih Cyra yang merasa lega, berati sakitnya Naqi udah sembuh.
Ketika Cyra tengah menatap Naqi, tiba-tiba kedua bola mata Naqi terbuka lebar dan saling beradu dengan bola mata indah Cyra.
"Ngapain kamu?" tanya Naqi dengan jutek, dan suara beratnya yang seksi ditambah baru bangun tidur nambah serak dan menggoda.
"E... itu....(Belum sempat berkata, sudah dipotong Naqi)
"Ngapain aku tanya?" Naqi kembali menekankan pertanyaanya.
"Awas yah kamu macem-macem apalagi curi-curi kesempatan, bukan berati aku terima semua bantuan dari kamu, terus kamu seenaknya pegang-pegang aku. Mau mancing-macing, nggak bakal tergoda," oceh Naqi sembari beranjak duduk dari tidurnya.
"Engga Mas, mana berani Cyra curi-curi kesempatan. Cyra anggap Mas bukan suami Cyra ko, Cyra anggap Mas itu seperti kaka sama seperti Mas menganggap Cyra adek Mas Naqi," balas Cyra dengan menunduk.
"Ya memang harus begitu, ingat kan perjanjian kita." Naqi kembali mengingatkan setatus pernikahan mereka.
"Iya Mas, Cyra akan selalu ingat," lirih Cyra, dengan menundukan pandanganya, tidaj berani menatap mata Naqi.
Cyra berfikir bahwa hubunganya dengan Naqi akan semakin baik, setidaknya saling menjaga perasaan, tetapi nampaknya tidak. Naqi kembali jutek dan membatasi diri.
Naqi beranjak masuk ke kamar mandi hendak membersihkan badanya yang lengket karena keringat yang semalam membanjiri tubuhnya.
"Maaf Ra, aku melakukan ini agar kamu nggak jatuh cinta sama aku. Jujur semakin hari pelakuanmu membuat hatiku bergetar. Aku hanya takut akan mengecewakan kamu, kamu berhak bahagia dengan laki-laki lain. Aku takut nggak bisa membuat kamu bahagia, karena entah kenapa persaanku sama Rania pun ingin tetap bisa disampinnya dan bisa melindungi Rania. Aku yakin kamu lebih kuat dari Rania. Kamu wanita hebat dan kuat sehingga bisa menata kembali kehidupanmu dan kamu pun masih sangat muda hidupmu masih sangat panjang. Andai kamu memang jodoh ku pasti nanti kita akan bersatu lagi. Sedangkan Rania diluarnya ia kuat tapi didalamnya dia sangat rapuh, aku takut apabila aku tinggalkan dia dan memilih hidup dengan kamu justru akan mebuat Rania semakin hancur. Terlebih Rania sekarang tengah berjuang dengan sakitnya di mana dia sangat butuh dukungan." Naqi meratapi nasib dirinya.
Berada diposisi Naqi jelas tidak enak di mana dia dihadapkan pada dua pilihan yang mana dua wanita itu sama-sama memiliki sisi yang berbeda. Rania yang tegas dan seolah angkuh tapi sebenarnya lemah, sedangkan Cyra yang pendiam terlihat lemah tetapi pada kenyataanya ia lebih dewasa dan sabar dari Rania. Naqi juga ketika berdekatan dengan Cyra selalu nyaman dan tenang. Tidak bisa memungkiri hati Naqi pun lebih bahagia dengan kehadiran Cyra.
Di dalam kamar mandi Naqi masih menata hatinya yang tidak karuan dengan hadirnya dua wanita di dalam hidupnya, sedangkan Cyra di kamar duduk dengan lesu diatas pembaringan.
Hatinya sakit, sakit sekali mana kala menghadapi Naqi yang sifatnya selalu berubah-ubah. Sebentar perhatian dan ramah sehingga merasa bahwa Naqi juga menerima pernikahan ini, walaupun pada akhirnya akan berpisah, tetapi setidaknya bisa saling menghargai dan mejaga. Namum, kadang Naqi akan bersikap jutek dan berkata sering melukai hatinya, tanpa sadar Cyra menitikan butiran bening dari sudut matanya.
"Kuat Cyra, kamu harus kuat," lirih Cyra sembari menepuk-nepuk dadanya. Hanya itu yang bisa Cyra lakukan, menguatkan diri sendiri, dia sudah sedari kecil dihadapkan dengan kesukitan dan perlakuan yang tidak adil, dan berkali-kali ia bisa melalu semuanya. Cyra yakin kali ini pun ia bisa melewatinya.
Meskipun entah mengapa perasaan kali ini lebih sakit, lebih sesak didada. "Apa ini namanya Cinta?" lirih Cyra, " Ah, bukanya kata pak ustad kalo jodoh itu tak akan pernah lari kemana, sejaupun kita berpisah pasti akan dipertemukan kembali." Cyra kembali memberi semangat pada dirinya sendri, ia menyeka air matanya, dan akan kembali dengan Cyra yang ceria.
Cyra menyiapkan pakaian Naqi dan akan menunggu Naqi sampai selesai. Cyra harus memastikan bahwa Naqi meminum obat-obatnya. Hanya ini yang bisa Cyra lakukan sebagai baktinya sebagai seorang istri sampai waktu perpisahan itu akan datang. Satu tahun lagi? Entah lah lebih cepat atau lambat hanya Author yang tahu.
Naqi keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar menutupi bagian bawahnya sementara perut berbentuk roti sobeknya dibiarkan menodai mata Cyra. Keduatanganya asik menggosok rambutnya yang basah, menggosok-gosok dengan menggunakan handuk kecil.
"Mas ini pakeanya Cyra sudah siapkan," ucap Cyra dengan wajah cerianya, seolah tidak terjadi apa-apa barusan....
Naqi kaget, ia pikir Cyra sudah kebawah lebih dulu, tapi malah dia masih melayaninya dengan baik, padahal ucapanya tadi sudah keterlaluan.
"Kenapa dia masih baik sajah sih, dan lagi dia seolah tidak sedih mendengar ucapanku, apa sebegitu baiknya kamu Cyra? Kenapa membuat kamu marah susah sekali?" batin Naqi, ia semakin dibuat kagum dengan sifat Cyra.