
Naqi bergegas membukakan pintu kamarnya. Dia sudah yakin bahwa yang datang adalah Sam. Ia dengan tidak sabar membukakan pintu untuk Sam, tetapi justru Naqi kaget pasalnya Sam datang tidak sendiri, melainkan bersama Rania yang bersembunyi di belakang punggung Sam.
"Kamu kesini bersama Rania? Ko bisa ?" tanya Sam, dia tidak mengerti kenapa justru Rania datang bersama Sam dan ketika dia dan Cyra berada satu kamar.
"Kenapa memang kalo aku datang, apa nggak boleh?" jawab Rania dengan ketus.
"Bukan masalah nggak boleh, hanya bertanya saja ko kalian bisa bersama?" jelas Naqi, ia tau bahwa Rania cemburu. Maka dari itu ia berusaha semanis mungkin.
"Udah-udah hal ini bisa kita bicarakan nanti, sekarang gimana kondisi Cyra." Sam mencoba melerai Naqi dan Rania agar tidak bersitegang.
"Ah aku sampe lupa, dia ada disana," jawab Naqi sembari mengacungkan jari telunjuk ke ranjang tempat Cyra berbaring.
Naqi menggeser tubuhnya, membiarkan Sam diikuti oleh Rania masuk ke kamar Cyra dan Naqi. Rania menatap semua sudut kamar kekasihnya bersama istrinya, ada rasa cemburu yang membakar hatinya ketika mengetahui bahwa kekasihnya tidur satu tempat tidur dengan Cyra, istri sementara Naqi.
Mata Rani beradu pandang dengan mata Cyra. Rania menatap dengan teliti Cyra. "Dia memang cantik, bisa sajah Naqi berpaling dariku dan memilih istrinya," batin Rania. Lagi, cemburu di dadanya semakin berkobar. Sedangkan Cyra justru tersenyum manis kepada Rania, meskipun Cyra belum tau bahwa yang ikut datang bersama Sam adalah kekasih dari suaminya, tetapi kebiasaanya yang selalu ramah dengan siapa pun, tentu ia tunjukan dengan Rania pula.
"Apa yang dirasa Ra?" tanya Sam sembari menghampiri Cyra dan membuka tas periksanya. Seamentara Naqi dan Rania berdiri di samping ranjang. Terlihat jelas Naqi sangat menghawatirkan kondisi Cyra, terlebih semua yang Cyra alami karena keisenganya.
"Sepertinya lukanya berdarah lagi dok," jawab Cyra sembari meringis ketika ia berusaha bangun. Naqi yang melihat Cyra hendak bangun, dengan sigap berlari dan membantunya. Rania yang melihat kesigapan Naqi merasa sangat kesal, Rania memilih keluar ke balkon yang berada di kamar Naqi. Ia memilih melihat kegelapan malam dari pada harus melihat kemesraan Naqi dan istrinya. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca setiap membayangkan kebersamaan Naqi dan Cyra.
Naqi yang melihat Rania pergi kebalkon tentu menjadi merasa bersalah pada kekasihnya itu, tetapi Naqi melakukan itu semua reflek sehingga ia lupa ada Rania disampinya.
"Kamu lebih baik temanin Rania, jangan sampai dia salah paham dengan hubungan kalian. Biar urusan Cyra aku yang tangani, kamu nggak usah khawatir dia akan baik-baik sajah bersama aku." Sam memerintahkan pada Naqi, agar menemani Rania saja.
"Ya udah gue serahkan Cyra sama loe, biar gue jelaskan sama Rania apa yang terjadi diantara kami." Naqi pun menyusul Rania yang berada di balkon.
"Memangnya wanita barusan siapa dok?" tanya Cyra, ia tentu tau dari sikap Rania dan Naqi ada hubungan diantar keduanya.
Sam meminta Cyra membuka baju bagian belakangnya agar ia bisa dengan mudah mengobatinya. "Cewek barusan namanya Rania, dia itu kekasih Naqi. Bukanya Naqi sudah bercerita dengan hubungan mereka," ucap Sam dengan mengobati luka Cyra.
"Oh, udah Mas Naqi udah bercerita, tapi sebelumnya belum saling ketemu, jadi Cyra belum tau wajah Mba Rania. Baru kali ini Cyra ketemu dengan Mba Rania," Cyra berkata apa adanya.
"Ini Naqi apain sih, ko luka kamu malah makin parah kaya gini?' tanya Sam yang heran kenapa justru luka Cyra makin parah.
"Tadi Mas Naqi bercanda gitu, taunya kaki aku tidak sengaja tersankut kekarpet, terus jatuh punggungnya kena pinggiran meja itu," jawab Cyra jujur dengan menunjukan meja yang terletak di kamar mereka.
Hemz... Sam tidak bisa berkata-kata lagi. Memang ia sendiri ada perasaan cemburu dan takut apabila yang dikatakan Rania benar. Ia juga takut kalo Naqi dan Cyra justru jatuh cinta sungguhan. Mengingat mereka memang sering juga berinteraksi baik ngobrol maupun fisik, bukan tidak mungkin keakraban mereka bisa menimbulkan rasa nyaman.
Sementara di balkon rumah Naqi dan Rania justru terlarut dalam diam. Keduanya seolah bingung mau memulai obrolan dari mana.
"Kamu cemburu dengan Cyra?" tanya Naqi, pada akhirnya ia duluan yang memulai obrolan diantara keduanya.
'Menurut kamu?" jawab Rania dengan ketus.
"Cemburu. Aku bahkan bingung mau meyakinkan kamu dari mana lagi. Semua udah aku jelaskan sejelas-jelasnya. Namun kamu selalu tidak mempercayai aku. Katakan aku harus bagaimana? Supaya kamu percaya dengan aku. Aku nggak akan mencintai Cyra." tutur Naqi dengan yakin.
"Siapa yang akan percaya kalo sikap kamu begitu perhatian sama wanita itu. Kamu bahkan terlihat sangat ketakutan kalo dia bakal meningglkan kamu," pekik Rania, air matanya sudah tidak bisa ditahankan lagi.
Samar-samar tangisan Rania terdengar sampai kedalam kamar. Cyra yang mendengarnya semakin dihantui rasa bersalah.
"Dok apa aku ini bisa dibilang perusak hubungan orang?" lirih Cyra bahkan ia sudah tidak merasakan luka dipunggungnya. Hatinya lebih sakit dari pada luka dipunggungnya.
"Kenapa aku terlibat dalam hubungan yang sulit ini," batin Cyra sembari menunduk dan bulir air mata tanpa bisa dibendung, ikut terjun bebas membasahi pipi Cyra. Sam yang melihat kerumitan ini pun tidak bisa berbuat apa-apa.
****************************
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mamoir kenovel aku. Jangan lupa dukanganya tekan fav, like dan komen.
Mampir juga yah ke novelku yang satu lagi judulnya " Beauty Cloads" ceritanya nggak kalah seru loh.