
Naqi yang melihat Rania pingsan pun langsung berbalik, dan buru-buru ia bopong masuk ke dalam mobil. Niat awal dirinya yang akan pergi mencari papihnya dan akan menyeretnya menemui Rania, dan juga Naqi yang berniat untuk meminta penjelasan dari papihnya, dengan semua kejadian ini. Namun malah Rania yang drop dan pingsan. Membuat Naqi membatalkan rencana awalnya.
"Sial, kenapa semuanya jadi sekacau ini sih." Naqi memukul setir mobilnya, sepanjang perjalanan ia selalu mengumpat apa saja. Di lain pihak ia marah, tetapi marah sama siapa pun ia tidak tahu. Di sisi lain ia cemas dengan kondisi Rania. Naqi tidak pernah membayangkan sedikit pun akan berada di posisi sekacau ini.
Setelah menempuh perjalanan tidak terlalu lama, hal itu di sebabkan karena memang ia yang menyetir mobil dalam keadaan yang cukup kencang. Begitu sampai di depan UGD, Naqi langsung membopong Rania lagi, ia sangat cemas dan khawatir pasalnya wajah Rania sangat pucat seolah tidak ada darah setetes pun yang mengaliri di pembuluh darahnya, dan juga Naqi merasakan tubuh Rania sangat dingin.
"Dok... Sus... Tolong Kakak saya pingsan!" Naqi berteriak sembari berjalan setengah berlari menuju berangkar yang berada di ruang UGD. Para tenaga medis saat itu juga langsung di buat sibuk oleh kedatangan Naqi.
Naqi sembari menunggu Rania mendapatkan pertolongan, langsung menghubungi Papahnya, tetapi nomornya tidak juga aktif. Walaupun tidak aktif saking paniknya Naqi sampai tiga kali terus sajah mencoba menghubungi papahnya. Naqi bahkan bingung harus bagai mana. Ia tidak ada orang yang bisa diandalakan untuk membantu masalahnya.
"Papih... kenapa kamu selalu buat kami di masa-masa seperti ini sih. Kenapa...?" Naqi meninju udara dengan sekuat tenaga. Seolah sosok papihnya ada dihadapanya.
"Bagai mana aku bisa tahu di mana keberadaan Papih, selain sama Kakek? Enggak mungkin aku meminta bantuan Kakek untuk mencari tahu di mana Papih berada." Naqi masih ingat betul bagai mana kakeknya marah padanya hanya karena lebih memilh Rania dari pada Cyra istrinya. "Cyra, bagai mana keadaan Cyra saat ini?" Naqi kembali mengingat mantan istrinya.
Naqi pun kembali mengamati kontak di dalam ponselnya satu-satu. Ia mencari siapa gerangan yang akan ia mintai tolong untuk mencari tahu di mana papihnya berada, ingin rasanya Naqi membuat perhitungan dengan papihnya itu.
"Mamih... apa aku minta bantuan Mamih saja, tapi Mamih juga pasti tidak tahu nomor ponsel Papih, untuk tahu kabar saja Mamih enggan mendengarnya, apalagi tahu di mana Papihnya berada. Sangat Mustahil" Naqi kembali di landa kebimbangan. Dia benar-benar di buat bingung. Namun justru jari-jarinya menekan kontak mamih, sehingga langsung terhubung.
Naqi yang bingung, dan panik, akan segera mematikanya, tetapi...
[Halloh... sayang kamu gimana kabarnya?] Saat itu juga terdengar sapaan hangat dari mamihnya yang sudah hampir satu bulan ia tinggalkan. Suara lembut mamih berhasil membuat jantung Naqi berdesir di liputi rasa bersalah dan segudang penyesalan karena sudah membuat mamih bersedih. Walaupun Naqi tidak melihat reaksi mamih waktu dirinya keluar dari rumah mewah Tuan Latif tetapi Naqi tahu bahwa mamih sangat sedih dan kecewa berat atas keputusan putranya.
[Ha... hallo Mih, kabar Naqi baik. Kabar Mami bagai mana?] Dengan terbata Naqi menjawab telpon dari mamihnya. Entah mengapa ia akhir-akhir ini jadi melow. Padahal dia dulu selalu tegar, tetapi kali ini dengar suara mamih saja dia langsung melow, dan berkaca-kaca.
[Baik sayang. Kapan kamu pulang?] pertanyaan dari Mamih berhasil membuat hati Naqi kembali teriris, ia ingin rasanya menangis sejadi-jadinya. Ia ingin mengadu pada orang yang telah melahirkanya, dengan apa yang ia tengah alami saat ini, tetapi Naqi takut mamih malah semakin kefikiran, dan jatuh sakit.
[Minta bantuan apa sayang?] mamih biar pun di hatinya ada rasa kecewa sakit dan lain-lain dengan perilaku Naqi, tetapi mamih tidak bisa membiarkan Naqi kesulitan di luar sana. Mamih ingin anaknya tetap pulang, ia sudah memikirkan matang-matang dan mencoba berdamai, dan akan menerima semua keputusan Naqi. Walupun kakek dan Qari masih sangat-sangat marah dengan Naqi, hanya Mamih yang sudah bisa berdamai dengan semua yang Naqi buat.
[Mamih, tolong mintakan nomor Luson yang bisa di hubungi, atau kalo tidak ada nomor ponselnya, alamat rumahnya pun tidak masalah. Asalkan Naqi bisa ketemu dengan laki-laki itu.] Naqi dengan terbata memohon agar mamih kali ini mau membantunya.
[Buat apa kamu meminta nomor Papih kamu? Terus kenapa sepertinya kamu marah sekali dengan Papih kamu? Apa yang sudah Papih kamu lakukan dengan kamu, sampai kamu bisa semarah ini?] tanya mamih dengan penuh selidik bagai mana pun mamih tidak pernah mengajarkan anaknya bersikap kurang sopan seperti itu, apalagi itu Naqi sudah sangat keterlaluan memanggil Papihnya dengan hanya sebutan nama tanpa menyematkan panggilan yang seharusnya. Seharusnya semarah-marahnya Naqi ia tidak harus melakukan itu. Ia harus tetap menghormati papihnya, itu yang Mamih selalu ajarkan.
[Tolong Mih... kali ini Mamih bantu Naqi. Naqi benar-benar butuh informasi Papih, ini semua demi masa depan Naqi. Entah apa jadinya kalo Naqi sampai tidak bisa menemukan Papih.] Naqi terus menggunakan semua jurus agar Mamih mau membantunya.
[Tunggu, apa Papih kamu juga menipu kamu? Kenapa kamu bisa sepanik ini. Tolong katakan dengan Mamih dengan sedetailnya! Agar Mamih bisa bantu kamu. Bagai mana Mamih bisa membantu kamu kalo kamu saja tidak bisa menceritakan apa yang terjadi diantara Papih dan Kamu.] Mamih yang penasaran pun tidak semudah itu mau memantu Naqi. Ia harus tahu dulu apa yang terjadi antara anaknya dan suaminya itu, baru ia akan membantu Naqi, itu pun kalo memang perlu dibantu. Sebab Mamih tidak mau semakin membuat keluarganya pecah belah.
Naqi menarik nafas berat. Ia sangat takut apabila menceritakan yang sebenarnya terjadi justru mamih akan syok dan terjadi sesuatu dengan orang yang paling disayanginya. Namun apabila ia tidak bercerita tentu mamih tidak mau membantunya. Naqi mengacak-acak rambutnya yang dari tadi juga sudah acak-acakan, bahkan penampilanya sangat-sangat tidak karuan. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa itu adalah Naqi yang satu bulan lalu masih menyandang pemimipin di perusaha Ralf Grup yang terkenal penampilanya selalu prefeksionis. [E... itu Mih, tapi kalo Naqi mengatakan sesuatu Mamih jangan kaget yah, Mamih harus jaga emosi, agar Mamih tidak terjadia apa-apa.] Naqi mencoba mengatur nafasnya lagi.
[Astagah Naqi, kabar yang seheboh apa yang belum Mamih dengar. Mamih bahkan semua kabar buruk udah mamih rasakan, dari kamu maupun Papih kamu. Jadi ayo katakan. Mamih nggak mau buang-buang waktu.]
[E... itu Mih, ada seseorang yang mengakui memiliki anak dari Papih. Naqi sekarang mau mencari Papih untuk mencritakan yang sebenarnya, tapi nomor ponsel Papih tidak aktif, sehingga Naqi bingung mau menghubungi Papih dari mana.] Naqi dengan terbata menceritakan permasalahanya, walaupun ia tidak menceritakan dengan detail siapa anak dari Papihnya. Naqi saja masih syok bagai mana dengan Mamih kalo tahu yang sebenarnya terjadi. Naqi ketakutan sendiri dengan semua yang menimpa keluarganya.
[Hahahaha... Mamih sudah tidak heran dengan berita seperti itu sayang. Udah saran Mamih, kamu nggak usah cari Papih kamu untuk meminta penjelasan apa pun, kamu akui saja sudah jelas itu berati sodara kamu satu Bapa,] ucap mamih dengan santai, yang berhasil membuat Naqi makin bingung. Naqi pikir Mamih akan syok mendengar kabar itu, tetapi mamih justru tertawa renyah. "Apa kalo tahu Rania sodara satu Bapa yang Mamih maksud, beliau akan bersikap sesantai ini, " batin Naqi yang membuat Naqi heran.
...****************...
Hai Bestie Othor bawa novel yang kece, karya Abang kita Suka Paris, yuk langsung meluncur jangan sampe nggak mampir, nyesel datangnya belakangan loh.