Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Ramuan Tradisional


Cyra terkekeh samar, ketiak Bibi menyodorkan segelas jamu berwarna hampir sama dengan jamu yang tadi pagi ia minum. Namun, hanya khasiatnya sajah yang berbeda.


"Apa ini Kek?" tanya Naqi yang tidak tahu apa yang bibi sodorhan itu.


Mamih pun nampaknya ikut terkekeh, melihat anaknya tengah bingung meminta penjelasan dari kakek.


"Itu namanya jamu, buat kamu minum biar nanti malam makin Greng," jelas kakek.


"Jamu? Apa itu, bahkan (Naqi mengenduskan penciumanya pada gelas) baunya sangat aneh," ujar Naqi sembari menutup hidungnya.


Sementara Cyra sudah tidak bisa menahan rasa gelinya, ia terkekeh di balik telapak tanganya yang menutupi senyumanya. Naqi yang kesal karena kelakuany istrinya. menendang kaki Cyra.


"Au...." pekik Cyra yang merasa kaget kakinya ditendang oleh Naqi. Sementara Naqi mengkode dengan matanya agar Cyra diam


dan nggak lagi menertawaknya.


"Berani sekali dia menertawakan aku," runtuk Naqi di dalam hatinya, memaki istri kecilnya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya mamih ketika mendengar menantu kesayanganya mengaduh karena kakinya ditendang oleh anaknya.


"E... engga Mih, tadi ada semut gigit kaki Cyra," ujar Cyra mencari alasan, agar tidak ketahuan bahwa di bawah meja barusan terjadi perang kaki.


Oh....


"Kamu minumlah, itu hanya minuman tradisional yang memiliki segudang manfaat, sehingga kamu wajib mencobanya. Minuman itu bisa membuat kamu tidak mudah lelah dan juga meningkatkan imun tubuh. Belakangan Kakek lihat kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga minuman itu sangat cocok untuk kamu minum," ujar kakek sedikit berbohong dengan manfaat jamu itu.


"Ini diminum Kek?" Naqi kembali memastikan, sebab dari baunya sajah sudah membuat ia pengin muntah. Apa lagi harus meminumnya. Bisa-bisa makanan yang barusan singgah di lambungnya kembali keluar menjadi penghuni closet.


"Iya dong, masa ngaku laki-laki hebat nggak bisa minum jamu. Cyra sajah tadi bisa loh minum jamu buatan Mamih," sindir mamih agar Naqi cepat meminum jamu itu bukan malah protes sajah.


"Hidunya ditutup Mas, lalu ambil nafas dalam langsung diteguk semua, tadi Cyra juga gitu." Cyra pun tidak ketinggalan memberikan dorongan agar Naqi segera meminum jamu tersebut, dan memberikan contoh hidung yang dijepit dengan jari jempol dan telunjuknya.


"Apa coba dia ikut-ikut nimbrung, padahal dalam hatinya dia lagi ngetawain aku tuh," dengus Naqi kesal, dengan oceha istrinya.


Naqi tetap mengikuti saran Cyra ia menutup hidupnya dan menarik panjang nafasnya. Lalu meneguk segelas jamu.


"Huek....


"Huek...


Naqi langsung menyambar segelas air putih dan mengunyah beberapa potong buah segar agar rasa pahit yang melekat di lidahnya segera hilang.


Cyra tertawa lirih agar tidak ketahuan oleh Naqi, tetapi terlambat Naqi sudah melihatnya, ketika istri bocilnya tengah menertawakan dirinya.


"Kakek itu apa-apan sih minuman pahit seperti itu dikasihkan kecucunya. Ada salah apa, aku sampe dihukum seperti ini," protes Naqi.


"Itu bukan hukuman, mana ada hukuman dikasih yang enak-enak. Nanti kamu akan berterima kasih dengan Kakek ketika sudah merasakan manfaat dari jamu itu," ujar kekek dengan bangga.


"Cuih.... segimana hebatnya sih manfaat jamu ini, sampe Kakek begitu yakin aku akan berterima kasih dengan manfaat jamu ini," batin Naqi ada rasa penasaran dengan manfaat yang kakek bangga-banggakan.


"Ya udah buruan sanah kalian katanya mau nyari tempat aman dan yang berbeda. Buruan sanah berangkat nanti keburu malam. Waktu buat senang-senangnya kurang malah." Usir mamih.


Naqi dan Cyra pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit, bukan hotel seperti kakek dan mamih bayangkan.


"Amin...." ucap serentak mamih dan kakek yang sudah benar-benar menginginkan kehadiran baby mungil ditengah-tengah istanah megah tempat tinggal mereka.


****


Begitu Cyra dan Naqi masuk ke mobil...


"Mas, kamu itu apa-apaan sih ngomong gitu, Mamih sama Kekek mengira bahwa kita tengah program anak beneran tau nggak sih!" runtuk Cyra dengan kesal.


"Kamu juga apa-apaan ngetawain aku barusan gara-gara jamu sialan itu," balas Naqi tak mau kalah bersungut dari istrinya.


"Biarin itu hukuman buat kamu, tadi pagi sajah aku sama minum jamu yang pait, dan Mas tertawa dengan nyaring, aku balas dong," ucap Cyra dengan tanpa dosa. "Memang Mamih dan Kakek itu adil yah," cicit Cyra sembari terkekeh.


Sementara Naqi yang kesal dengan ocehan istrinya, langsung menginjak pedal gasnya dalam, tak lama setelahnya ia injak pedal remnya. Sehingga membuat Cyra hampir terbentur dashboard mobil.


"Mas, (Cyra menepuk lengan suaminya dengan keras) kamu benar-benar mau bikin aku jantungan. Biarin sajah liat nanti kalo aku merajuk dan kamu nggak lagi dapat bantuan dari aku. Biar Kakek sama Mamih nggak ngizinin kamu keluar lagi," sungut Cyra ngedeumel bak emak-emak komplek yang tengah bergosip dengan tetangga.


"Eh... enak ajah sekarang sudah bisa ngancem-ngancem. Aku ngelakuin itu karena kesal dengan kamu yang ngoceh terus," balas Naqi, tidak mau kalah.


Cyra memilih diam sajah sudah malas meladenin suaminya. Mulutnya berbusa tapi tetap sajah nggak mau mengalah.


Naqi pun melajutkan kembali mobilnya dengan benar menuju rumah sakit, tempat Rania dirawat, Cyra memilih pura-pura tidur agar tidak terlibat obrolan.


Tidak butuh waktu lama kini keduanya telah sampai di halaman rumah sakit, dan Naqi langsung mengambil posisi depan, berjalan lebih dulu. Diikuti oleh Cyra yang mengekor dibelakangnya.


"Malam sayang," sapa Naqi ketika baru masuk kedalam kamar rawat Rania yang memang hanya ada Rania dan bibi sajah, Naqi langsung mengahampiri Rania yang tengah bersandar di bed pasien dan memeluknya dihadpan Cyra yang baru sajah masuk ke kamar Rania juga.


"Malam...," jawab Rania dengan lemah, dan membalas pelukan kekasihnya.


Sementara Cyra menunduk mengalihkan pandanganya berpura-pura tidak melihat adegan orang dewasa itu.


"Kenapa dia ikut terus sayang? Apa dia sengaja mau menertawakan aku?" runtuk Rania dengan jutex kepada Cyra.


"Iya, kalo nggak ajak dia aku tentu tidak bisa keluar rumah sayang, Kakek dan Mamih curiga kalo aku keluar seorang diri. Makanya aku ajak dia agar mereka nggak curiga, dan mengizinkan aku untuk menginap disini," jelas Naqi dengan halus agar Rania tidak lagi salah paham.


Rania tidak tau sajah gimana perjuangan Cyra dan Naqi rela berbohong agar bisa menemaninya di rumah sakit. Belum merasakan ramuan tradisional racikan kakek dan mamih yang luar nikmat.


"Tapi kehadiran dia malah membuat aku muak dan jadi tambah sakit," tunjuk Rania kearah Cyra.


Cyra yang merasa kehadiranya hanya menjadi memperburuk suasananya, memilih keluar kamar dan menunggunya di luar kamar Rania.


Cyra duduk seorang diri di luar ruangan memandangi setiap lalu lalang pengunjun rumah sakit, untuk menghilangkan kejenuhanya.


"Sayang kamu jangan ngomong kaya gitu. Gimana pun Cyra sudah membantu aku untuk menemani kamu," ucap Naqi dengan lembut.


"Bela sajah terus dia, ini yang aku nggak suka dari dia. Sifat polos dan seolah tertindas hanya akal-akalan dia agar kalian bersimpati. Terbukti kan kamu lebih membela dia dari pada aku. Kalo begitu buat apa kamu datang kesini, lebih baik kamu pegi bersamanya sajah," usir Rania dengan bersungut.


Cyra diluar ruangan yang mendengar pertengkaran sepasang kekasih itu karena kehadiranya, memilih pergi menenangkan diri.


Bersambung....