
Naqi mencoba menjelaskan pada Rania kondisi Cyra agar Rania bisa mengerti betapa susahnya di posisi dirinya saat ini.
Walaupun Naqi menjelaskan panjang lebar kondisi Cyra, nampaknya Rania tetap pada pendirianya ia tidak mau berteman dan bertemu sama Cyra. Naqi pun tidak akan memaksa karena takut malah membuat hubunganya dengan Rania jadi hancur.
****
Di rumah Naqi...
Dokter Sam telah selesai mengobati luka Cyra.
"Udah selesai, inget pesan aku loh, jangan terlalu cape, jangan angkat berat-berat takutnya lukanya basah lagi. Ini udah bagus, lukanya udah kering." ujar Sam mewanti-wanti Cyra.
"Iya Dok." jawab Cyra singkat. Namanya juga Cyra biarpun sudah diwanti-wanti pasti tetap keras kepala kalo soal kerjaan rumah pasti memilih untuk dikerjakan seorang diri.
"Kalo gitu Sam pamit yah Tante, ini udah gelap, nggak enak kalo terlalu lama disini takut jadi fitnah." pamit Sam dengan Mamih.
Padahal Sam masih ingin berlama-lama dengan Cyra. Rasanya berapa lama pun ia menghabiskan waktu dengan Cyra akan terasa kurang.
"Iya makasih yah Sam." ucap mamih dengan tulus, begitupun Cyra sangat berterima kasih dengan Sam yang sudah mengobati lukanya.
"Sama-sama Tan, pamit yah Ra." ujar Naqi pamit dengan Cyra dan mamih.
Mamih dan Cyra mengantar Sam sampai ke depan pintu.
"Kamu ko diam ajah, kenapa nggak bilang sama Mamih kalo kamu sedang sakit." omel mamih kesal dengan Cyra yang merahasiakan sakitnya.
"Ini luka ringan Mih, lagian udah nggak sakit lagi ko." jawab Cyra dengan santai karena memang pada kenyataanya lukanya sudah tidak sakit lagi.
"Apanya yang luka ringan, itu bukan luka ringan tapi luka parah, punggung kamu sajah banyak luka gitu. Kamu nggak boleh remehin luka, kalo diremehin kalo infeksi gimana?" Mamih tak henti-hentinya ngomel ke Cyra ia khawatir kalo Cyra ada apa-apa. Biarpun mamih kelihatan jutek dan ceplas ceplos tapi mamih sebenarnya baik dan sangat sayang sama Cyra, menantunya.
"Iya Mih, Cyra akan nurut apa kata dokter Sam." jawab Cyra pada akhirnya mengalah sajah ikuti semua perkataan mertuanya kalo tidak mau dikutuk jadi rempeyek...
"Ya memang harus begitu. Kamu harus nurut dan jangan kerja dulu. Kamu berkemas sanah biar ikut ke rumah Mamih, kalo kamu tetap disini mana bisa kamu istirahat." titah mamih nggak mau dibantah.
Cyra awalnya ingin menolak, tetapi karena mata mamih yang menajam menandakan perkataanya tidak bisa dibantah lagi. Pada akhirnya Cyra menuruti kemauan Mamih mertuanya.
"Nanti apa Mas Naqi nggak marah kalo pulang Cyra nggak ada di rumah Mih?" tanya Cyra dengan polosnya.
"Biar nanti Mamih telpon sama Naqi dan meminta dia juga tidur di rumah Mamih." jawab mamih dengan santai, lalu ia mengambil gawainya dan men'deal nomer anak kesayanganya.
"Hallo Min," sapa Naqi dengan lembut begitu menekan tanda telpon warna hijau.
"Sayang istri kamu Mamih ajah nginap di rumah Mamih, nanti kamu juga pulangnya langsung kesini yah. Kamu juga nginep disini. Mamih udah kangen banget sama kamu." ujar Mamih dengan nada memelas.
Naqi nampak berpikir sejenak soalnya barusan Rania meminta agar Naqi menemaninya malam ini, tetapi justru mamihnya juga meminta hal yang sama. Naqi tentu bingung memilih diantara dua wanita yang sangat berarti dihidupnya.
"Sayang ko kamu diam sajah, apa kau nggak mau nginep di rumah Mamih. Kamu nggak kanget sama Mamih?" tanya mamih dengan nada dibikin sesedih mungkin.
"Bukan gitu Mih, hanya......... " Naqi menggantung perkataanya, ia tidak melanjutkan kata-katanyaa. Bisa berabeh kalo mamih tau Rania dan dirinya masih berhubungan.
"Hanya apa? Udah jelas ko kamu nggak kangen Mamih." sungut mamih kesal dengan anak laki-lakinya.
Mamih pun tersenyum puas karena pada akhirnya anaknya mengalah dan mengikuti kemauanya.
Mamih menatap Cyra, "Urusan Naqi udah beres kamu nggak usah khawatir, dia nggak akan marahin kamu. Kalo dia marah sama kamu, bilang ke Mamih biar diberi hukuman." ucap mamih dengan tersenyum lebar.
"Iya Mih, Mas Naqi baik ko selama ini sama Cyra. Malah Cyra yang merasa bersalah karena belum jadi istri yang baik buat Mas Naqi." balas Cyra dengan lesu.
"Kamu sama dia menikah karena dijodohkan Mamih tau gimana rasanya menikah karena perjodohan. Dulu Mamih pun sama dijodohkan dan untuk pengenalanya lama. Begitupun dengan kamu dan anak Mamih. Pasti nggak akan langsung menerima. Nikmati prosesnya kalo jodoh nggak akan kemana." "Ucap mamih mencoba memberi suntikan semangat buat menantunya.
Kini mereka telah sampai di rumah keluaga Naqi. Tentu rumahnya berkali-kali lipat dengan rumah Naqi yang mereka tempati sekarang.
"Ayok turun." ajak Mamih dengan ramah.
Cyra pun mengikuti kemauan Mamih.
"Kek, apa kabar?" sapa Cyra dengan ramah begitu masuk kedalam rumah Naqi dan melihat kakek tengah duduk sembari menonton televisi.
"Kakek sehat, ayo sini temanin Kakek nonton." ajah kakeh dengan ramah.
Cyra pun ikut duduk menemani kakek menonton TV, diselungi obrolan ringan diantara keduanya.
***
"Siapa?" tanya Rania ketika Naqi baru selesai mematikan telponya.
"Mamih, meminta aku pulang dan menginap di rumahnya." jawab Naqi.
"Lalu kamu memilih pulang ke rumah Mamih kamu, dari pada tetap tinggal disini untuk menemaniku." runtuk Rania, ia sudah tau bahwa Naqi akan berkata demikian.
"Sayang please kamu ngertiin aku. Mamih adalah segalanya bagiku. Aku tidak bisa menolak kemauanya." jelas Naqi dengan lembut agar Rania tidak marah dan kecewa denganya.
"Pergilah, memang aku nggak ada artinya di matamu. Aku nomer sekian dibandingka istri dan mamihmu." sungut Rania kecewa dengan keputusan Naqi.
"Sayang bukan kaya gitu maksudku. Aku hanya nggak mau Mamih curiga dan marah apabila aku masih berhubungan denganmu." ujar Naqi semakin merasa bersalah.
"Ia pergilah aku tau Mamihmu memang tidak pernah munyukaiku." balas Rania dengan berlalu meninggalkan Naqi. Dengan sigap Naqi menahan Rania da memeluknya. Ia benar-benar bimbang.
"Bukan Mamih tidak menyukaimu, hanya Mamih belum tau bahwa hubungan aku dan kamu belum berakhir. Aku yang salah berbohong pada Mamih dan Kakek bahwa hubungan kita sudah berakhir. Sehingga Mamih bisa marah apabila tau aku menduakan Cyra." bisik Naqi dengan masih mendekap Rania di dalam pelukanya.
"Cyra lagi Cyra lagi, bisa tidak kamu nggak usah bawa-bawa nama itu didepanku, aku muak dengar namanya." pekik Rania dengan kesal. "Kamu bahkan pernah berjanji bakal menjamahku dan tidak akan menggauli istri murahanmu itu, Mana? Gimana kamu kamu tidur denganku kalo Mamih kamu selalu mengganggu waktu kita." umpat Rania dengan berlari ke kamarnya dan membanting pintu dengan kasar. Ia sudah berpenampilan seseksi mungkin agar Naqi tertarik, tetapi malah gagal membuatnya bertekuk lutut dibawah permainanya, gara-gara mamihnya.
"Sial, gue gagal membuat Naqi terjerat dalam permainanku. Semua gara-gara nenek lampir itu." runtuk Rania, dengan perasaan sangat kesal.
Naqi menjambak rambutnya, prutasi. Ia tidak ingin berada diposisi sulit seperti ini, seolah ucapanya sekarang telah membawanya pada pilihan yang sulit.
Naqi membiarkan Rania menenagkan hatinya, ia pun pulang dan akan kembali membujuk kekasihnya nanti. Biasanya setelah suasana hatinya membaik Rania akan luluh dengan sendirinya.
...****************...