Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Fakta


Ketika Cyra sudah pergi untuk bisa berkumpul dan menjaga mommy'nya, di tempat yang berbeda Rania masih saja belum di perbolehkan untuk pulang. Padahal ia sudah hampir satu minggu di rumah sakit.


Naqi juga belum mendapatkan informasi mengenai papihnya, entah mamih belum tahu informasi itu atau sengaja meraahasiakanya dari Naqi.


"Bukanya dulu kakek pernah bilang kalo papih itu ngurus perusahanaanya di Bandung atau di mana yah? Apa aku harus menjemput papih di kantor cabang, tapi kalau tidak ada bagai mana?" gumam Naqi ia sudah tidak sabar menunggu dan hanya menunggu dengan ketidak pastian. Ia ingin segera kembali ke Jakarta dan memulai dengan kehidupan yang baru, dan juga mulai memperbaiki hubunganya dengan Cyra.


Ketika Naqi tengah di sibukan dengan ide-idenya, tiba-tiba telpon Rania berbunyi. "Umur panjang ternyata Luson," ucap Naqi ketika melihat bahwa yang telepon ke nomor Rania adalah orang tengah mengisi sebagian pesar isi kepalanya. "Bagus deh, aku tidak harus menyeretnya paksa dia kesini, biarkan dia yang datang kemari," batin Naqi. Ia kembali masuk ke kamar Rania. Di mana kakanya tengah beristirahat tidak tidur hanya melamun, setiap hari yang dilakukanya hanya seperti itu. Bahkan sepertinya Rania sudah tidak memiliki tujuan hidup ia seolah ingin menyiksa badanya dan ingin menyusul Ibunya. Itu yang selalu Rania katakan ia selalu berkata ingin ketemu Ibunya. Namun sekeras apapun ia menginginkan sebuah kematian, itu akan sia-sia kalo Tuhan belum berkehendak mengambil nyawanya.


Naqi menyodorkan ponselnya. Rania pun heran dengan sikap Naqi.


"Papih telpon, katakan sama laki-laki itu bahwa kamu tengah sakit, dan dirawat di rumah sakit ini. Minta dia datang kemarin agar kamu tahu fakta sesungguhnya." Naqi dengan nada berbicara yang datar meminta Rania mengangkat teleponya dan mengikuti apa yang Naqi katakan.


Rania sebenarnya sangat malas sekali ketika harus melakukan hal itu, tetapi juga ia tidak bisa menolak kemauan Naqi. Ia akhirnya mengambil ponselnya dengan sangat malas. Lalu Rania menggeser ikon telepon berwarna hijau. Saat itu juga ponsel Rania dengan nomor yang diduga pemiliknya adalah papah kandungnya.


Berbeda dengan dulu yang mana Rania dulu sangat menginginkan Papahnya meneleponya dan dia akan bercerita panjang lebar dengan papah kandungnya. Namun kali ini Rania enggan mengangkat telepon dari nomor tersebut. Tidak hanya itu Rania juga lebih baik tidak mengetahui siapa papahnya, kalo tahu setelah mengetahui siapa papahnya perasaanya justru semakin tidak nyaman, semakin tidak karuan, dan tidak ada harapan untuk kebahgianya.


"Ha... halloh..." Dari tadi suara sapaan dari tempat yang tidak diketahui keberadaanya berkali-kali terdengar, tetapi mulut Rania seolah tidak bisa berkata sesuatu.


Naqi menoel Rania yang justru mematung, seketika itu Rania kaget, ia sadar dari lamunanya, "Apa?" jawab Rania dengan singkat.


"Apa kamu adalah anak dari Nasila?" tanya Luson dengan bergetar dan tegas. Di mana Nasila adalah nama ibu Rania.


"Air mata Rania benar-benar jatuh dan tidak bisa menjawab, bahkan ia lupa kalo Naqi meminta Rania untuk memberitahu keberadaanya sehingga Luson datang ke rumah sakit ini. Ponsel pun jatuh kepangkuanya.


Naqi langsung mengambil ponsel Rania, dan mengambil alih teleponya.


"Nak... nak... kenapa kamu menangis?" tanya Luson dari sebrang telepon. Yah, itu Luson suaranya sangat hafal di telinga Naqi. Ingin Naqi memaki saat itu juga. Emosinya sudah sangat memucah, tetapi Naqi tahu ini bukan waktu yang tepat. Ia harus berpura-pura baik dan memancing agar Luson yang kesini setelahnya bebas ia akan melakukan apapun pada laki-laki yang memegang setatus ayah kandungnya.


"Haloh maaf Om, Ranianya kelihatanya sangat syok, dan dia tidak bisa melanjutkan obrolan kalian. Itu semua karena Rania sedang sakit," ujar Naqi, ia membekap mulutnya dengan sapu tangan agar suaranya tidak di kenali oleh Luson.


"Tumor Om, tumor yang di rahim sekarang kambuh lagi, dan sekarang juga sudah satu minggu Rania di rumah sakit tetapi kondisinya makin memburuk. Kasihan dia mana tidak ada ibu dan ayahnya dia hanya sebatang kara." Naqi mencoba mancing Luson, agar ia yang mau menemui Rania dengan sendirinya, bukan diseret olehnya.


"Apa yang kamu bilang benar? Lalu kamu siapa?" tanya Luson penuh selidik.


"Benar Om, mana berani saya berbohong. Kalo saya teman kerjanya Rania dulu Om, saya kasihan karena Rania tidak ada sodara dan hidup sebatang kara jadi saya yang nemanin dia. Ngomong-ngomong Anda siapanya Rania?" tanya Naqi terus memancing agar Luson mau mengakui setatusnya ada hubungan apa ia dan Rania apa ia benar-benar papahnya sesuai dengan yang ia curigai, andai benar maka siap-siap saja Naqi akan memberikan bonus untuk kelakuanya.


"Sa... saya Papihnya. Yah saya papih dari Rania." Luson dengan terbata mengakui setatusnya yang benar sesuai dengan dugaan Naqi.


Naqi mengeratkan gigi-giginya ingin ia melampiaskan kemarahanya saat ini juga. Marah, kecewa, benci itu yang ada dalam hati Naqi. Bagaimana bisa perempuan yang menemaninya selama dua tahun dan selalu ia anggap kekasih bahkan mereka berencana menikah adalah kaka satu ayah.


"Kalo begitu temui sekarang Rania di rumah sakit, alamatnya aku share. Sekarang Anda datang kalo tidak Anda akan menyesal seumur hidup. Tidak akan ketemu lagi dengan anak Anda." Naqi dengan nada bicara yang dingin meminta agar Luson menemui anaknya, bahkan nada bicara Naqi tidak seramah awal ia mengangkat telpon.


"Iya... iya saya pasti akan kesana sekarang, kamu tinggal kirim alamat di mana Rania di rawat," ucap Luson dengan bergetar, mungkin ia cemas atau apa entah lah, tapi yang jelas suaranya langsung berbeda ketika Naqi mengatakan bahwa anaknya yang tengah sakit keras.


Naqi langsung memutus sambungan teleponya dan buru-buru mengirim lokasi rumah sakit Rania di rawat. Ia tidak langsung masuk ke dalam ruangan Rania, emosinya masih memucah. Rasanya ia masih belum percaya dengan semua yang terjadi di hidupnya belum sampai satu bulan semuanya sudah acak-acakan. Kehilangan semuanya harta, jabatan, istri dan sekarang fakta apa lagi yang membuat ia naik pitam.


Setelah ia menenangkan perasaanya. Naqi masuk ke dalam kamar. Di mana Rania tengah berdiri menatap ke luar jendela.


Rania menoleh kearah pintu ketika ia mendengar pintu di buka. "Papih akan kesini. Dia benar Papah yang kamu cari. Kita sodara satu ayah," ucap Naqi semari duduk diranjang pasien.


"Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi pisah sama Cyra. Padahal kita tidak seharusnya saling mencintai. Maaf karena ambisiku yang ingin memilikimu seorang diri, kamu harus telibat banyak masalah." Rania berkata tetapi tidak menatap Naqi ia justru menatap keluar jendela.


"Semuanya sudah terjadi, sekarang kita tinggal perbaiki semua yang sudah terjadi. Nanti tolong kamu bantu aku untuk menjelaskan pada Cyra. Karena jujur aku sudah mencintai dia. Aku ingin rumah tangga kita tetap utuh, dan memulai lagi dari awal," ucap Naqi sangat berharap agar Rania mau mebantunya.


Rania pun sebenarnya sakit hatinya, mendengar penuturan Naqi, tetapi mau bagai mana lagi ia juga tidak bisa memisahkan mereka, terlebih mereka saling mencintai. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya memperbaiki hubungan dengan Naqi tetapi tanpa perasaan suka seperti kekasih, sulit. Pasti sangat sulit. Itu yang tengah Rania rasakan. Baru membayangkan saja sudah sangat sakit.