Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Melamar Adam


"Kemana Meta?" tanya Naqi, begitu keluar dari kamar mandi.


"Pulang, keinget malam jum'at katanya," ucap Cyra sebari terkekeh, jurus andalan Meta. Apapun harinya, malamnya tetap malam jum'at. Cyra sampai heran apa kakaknya itu enggak pernah datang bulan.


Naqi pun ikut terkekeh mengingat betapa gesreknya Meta, tapi dia tidak juga kesal dengan keisengan Meta. Yah gimana lagi sepesies seperti Meta sulit di cari di belahan bumi manapun, jadi harus dilindungi. "Kenapa emang dia sih, kepo terus sama urusan kamu Ra?" tanya Naqi, heran sih setiap saat di telepon dah gitu diawasin terus kemana-mana.


"Tadi sih bilangnya kangen sama Mas Naqi makanya dia nyusul Mas kesini," jawab Cyra, tentu itu jawaban bohong, Meta tidak ada bilang bahwa dia kangen dengan Naqi, itu hanya akal-akalan Cyra sajah.


"Dih, amit-amit udah punya pawang juga, masih ajah godain anak bujang orang," balas Naqi, sama-sama berkelakar ria.


"Udah-udah jangan bahas Meta terus kita sarapan dulun yuk, kebetulan Mamih bawa sarapan buat kalian." Mamih melerai anak-anaknya untuk bahas Metalita Kurnia-Wan alias Mak Wawan.


"Ya udah sarapan dulu baru Cyra pulang," ujar Cyra sembari turun dari atas kasur. Hendak menuju meja di mana mamih Nita menyiapkan sarapan.


"Gosok gigi dulu Neng, bau loh," goda Naqi, yang melihat Cyra langsung menyambar tempe goreng.


"Udah tadi pas mau sholat Subuh," jawab Cyra enteng, lagian bau-bau juga di deketin terus kok. Cyra masih mending sikat gigi nah si Qari bangun tidur langsung ngunyah kan lebih keren.


Mereka bertiga pun sarapan dengan hening, hanya mamih yang tidak ikut sarapan karena sebelum berangkat ke hotel setok isi makanan di lambungnya sudah aman.


Setelah sarapan, sesuai janji Cyra ia langsung pamitan sama mamih dan Qari. Tentu di antar pulangnya sama abangnya Qari.


"Ra, gimana mau enggak nikah lagi sama aku?" tanya Naqi begitu mereka menaiki mobil.


"Mas Naqi udah dapat restu dari Mommy, mamah Mia, Mamih, Meta, Qari, kakek sama Mr Kim?" tanya Cyra kali ini tidak menolak tetapi memastikan sejauh mana usahanya.


"Kalo mommy kamu dan mamah Mia udah. Tapi Meta dan yang lainya susah Ra, apalagi itu ada Mr Kim. Kenapa nama Mr Kim masuk ke daftar restu sih Ra?" tanya Naqi dengan wajah kusutnya. Yang lain ajah sudah sulit di dekati apalagi Mr Kim bikin darah tinggi. Di mana Naqi juga tidak suka dengan Mr Kim yang kayak kulkas itu.


"Ya udah, Mas minta restu dulu sama mereka nanti baru Cyra ambil keputusan final," ucap Cyra, ia tahu pasti Naqi setelah ini enggak akan tanya-tanya nikah terus. Mungkin saja setelah ini ia akan fokus dengan cara meminta retusnya. Dan soal Mr Kim, itu memang keisengan Cyra saja agar Naqi mau berusaha lagi. Sebenarnya enggak ada apa-apa pengaruhnya Mr Kim buat dia toh dia bukan papah tirinya kan.


"Hehehe... Emang Mas Naqi bisa bawa motor? Punya motornya?" tanya Cyra, sepele sih pertanyaanya tetapi maknanya nusuk sampai dada.


"Astagah Ra, biar gini-gini kalo soal naik motor mah bisa, tapi kalo lupa caranya biar nanti Neng Cyra yang naik, dan Aa yang tuntun motornya," kelakar Naqi. Tentu enggak akan pernah lupa gimana cara naik motor. "Dan soal motor kamu maunya motor apa, biar nanti Mas langsung telpon ke deller motornya buat kirim kerumah," imbuh Naqi tanpa mikir, nanti tagihan motor, othor yang bayar.


"Ish... Beda orang kaya mah mau beli motor kaya beli seblak, tinggal telopon, tinggal nunggu dikirim," ucap Cyra, yah tentu sebenarnya Cyra tahu harga motor bagi Naqi sangat murah, tapi bukanya kalo beli cuma sekali pake nanti kalo enggak di pake buat apa lagi.


"Bukan gitu buat kamu bisa bayangin naik motor apa nanti Mas belinya sesuai yang ada diimajinasi kamu, biar enggak ngecewain," ucap Naqi agar Cyra tidak mencap terlalu boros.


"Enggak bisa minjem ajah yah Mas, minjam ke tukang ojek gitu nanti di bayar sekian buat bantu mereka cari rezeki juga," usul Cyra.


"Ya udah besok Mas jemput pake motor yah," balas Naqi, sebelum Cyra turun dari mobilnya. Yah sekarang Cyra dan Naqi sudah ada di depan rumah Cyra.


Cyra pun membalas dengan senyum manisnya sebagai tanda bahwa ia mau besok di jemput dengan motor. Dan Cyra juga tidak sabar gimana besok kalo di jemput pake motor sama Naqi. "Loh, besok bukanya hari sabtu yah, libur kerja dong," ucap Cyra seorang diri, ia malah baru ingat kalo besok libur. "Terus kalo Mas Naqi mau jemput kira-kira mau ke mana yah?" batin Cyra, tidak sabar apa mau di ajah berburu Cilok atau berburu batagor?


****


Rania yang sebelumnya sudah membuat janji dengan Adam pun langsung masuk kedalam ruanganya.


"Aku enggak ganggu kan?" tanya Rania, mereka memang mulai dekat lagi, tetapi tidak sedekat dulu, dan Rania yang lebih membatasi diri agar tidak terlalu mengecewakan Adam. Rania berfikir bahwa Adam bisa mendapatkan wanita yang lebih dari dirinya, bukan wanita pernyakitan dan tidak tau hukum agama, seperti keluarga Adam.


"Kalo ganggu pasti sudah aku tolak, dan tidak bakal aku iyakan permintaan kamu. Kenapa emang? Soal kesehatan atau ada masalah lain?" tanya Adam dengan nada datar.


Rania tidak langsung menjawab, tetapi menunduk dan memainkan jari-jarinya. "Bukan soal kesehatan aku, tapi soal hubungan kita. Apa masih ada kesempatan aku untuk dinikahi kamu?" tanya Rania. Malu? Yah Rania merasa malu oleh sebab itu ia menundukan pandanganya, tidak berani melihat Adam. Terlebih dia sudah menolak Adam tetapi malah dia sendiri yang datang menemui Adam untuk minta dinikahi. Mungkin Adam menilai ia cewek murahan, Rania sudah tidak peduli lagi yang terpenting ia bisa keluar dari rumah keluarga Latif. Bukan karena ia tidak betah, melainkan keluarga itu terlalu baik buat Rania, sehingga Rania merasa sudah terlalu merepotkan mereka. Dan juga Luson yang selalu membuat hubungan dia semakin terpojok. Mau tidak mau Rania mengubur rasa malunya demi bisa di nikahi oleh Adam dan ia bisa tinggal di rumah Adam.


"Kamu enggak lagi ngigo kan? Apa ini artinya kamu sedang melamar aku? Bukanya kamu sendiri yang udah nolak aku. Kenapa sekarang kamu juga yang datang ke aku dan meminta aku menikahi kamu? Gimana kalo kenyataanya aku udah punya istri apa kamu mau aku jadikan istri ke dua? Kalo aku mah di minta nikahin kamu mau-mau saja, terlebih rasa cinta ini masih ada sama kamu. Tapi gimana dengan kamu apa kamu mau aku jadikan istri ke dua. Dan membagi waktu bersama istri pertama aku?" tanya Adam, tatapanya yang tajam membuat Rania sulit mengartikan ucapan laki-laki dihadapanya sungguhan atau hanya candaan saja.