Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Bersandiwara


Setelah saling melepas rasa kangen yang teramat banyak. Kini Cyra mengajak Qila untuk ikut ke rumah Meta. Yah, untuk sementara Meta memang meminta agar Qila juga menginap di rumahnya. Sampai nanti Cyra sudah memiliki rumah sendiri. Baru Meta mengizinkan mereka pergi. Mengenai Mamah Mia, Meta yakin seratus persen bahwa Mamah Mia tidak keberatan rumahnya dijadikan tempat penampungan sementara buat wanita yang kurang kasih sayang.


"Maafkan aku yah La, aku baru sempet jemput kamu. Aku juga baru tahu kalo terjadi huru hara di rumah Tuan Kifayat." Cyra sekarang sudah tidak mau memanggil Tuan Kifayat dengan sebutan Papah. Karena Cyra merasa panggilan itu tidak pantas disandangkan pada orang jahat seperi Kifayat. Seharusnya ia menggantinya dengan panggilan yang lebih kejam lagi dari itu semua.


"Iya nggak apa-apa Non. Lagian selama ini Qila juga baik-baik saja ko di rumah itu." Qila pun sejak Tuan Kifayat pergi dari rumah itu tidak mendapatkan ketakutan yang teramat seperti dulu saat rumah itu masih di tempati oleh Tuan Kifayat.


"Kamu jangan panggil Non lagi yah! Aku bukan majikanmu. Aku ini teman kamu mulai saat ini jadi kamu jangan merasa sungkan sama aku." Cyra sangat tidak nyaman ketika Qila memanggilnya dengan sebutan Nona.


Qila tersenyum masam. Baiklah Ra, lagian kita seumuran yah," kekeh Qila, mengikuti kemauan mantan anak majikanya.


Mereka pun bercerita baik Qila dengan kondisi di rumah Kifayat maupun Cyra dengan kebebasanya.


Qila dan Cyra bercerita di bangku penumpang bagian belakang. Sementar Meta di depan jadi sopir. Ia sangat cocok di panggil sopir karena memang dari tadi fokus dengan jalanan. Tapi tetap sajah telingganya menguping obrolan Cyra dan Qila. Bahkan Meta baru tahu bahwa Cyra selama ini tinggal di rumah Fifah mendapatkan kekerasan fisik.


Meta memang dari dulu curiga dengan Cyra yang di tubuhnya terdapat beberpa bekas luka, tetapi dia tidak menyangka bahwa itu semua karena perbuatan papahnya Fifah.


"Pantas Cyra dipertama ketemua I'm seperti orang ketakutan. Ini toh alasanya," batin Meta.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, karena lokasi rumah Tuan Kifayat yang jauh sehingga memakan jarak tempuh yang lumayan melelahkan.


Terlebih mereka berangkat jam dua sore dan kini sudah hampir jam sepuluh malam, mereka baru pulang sampe rumah.


Meta yang biasanya rame kalo sampe rumah, kali ini justru loyo, letih dan lesu. Itu semua karena ia terlalu kelahan mengemudikan mobilnya. Belum mereka juga belum makan malam, tambah loyo dong.


Kebetulan Mamah Mia masih setia dengan tontonanya, yaitu acara dangdutan dan sinetron Azab.


Setelah mengucapkan salam Cyra langsung menghampiri Mamah Mia, sementara Qila duduk di pojok sofa. Tentu sebelumnya Meta sudah memperkenalkan Qila sama Mamh Mia.


"Mah, maaf yah Cyra mau minta izin menginap lagi di rumah Mamah, tapi mau bawa temen Cyra satu lagi. Namanya Qila. Nanti kalo Cyra sudah beli rumah kita pindah dari sini, tapi untuk sementara selama Cyra belum punya rumah boleh kan kalo Cyra dan Qila menginap di sini?" tanya Cyra dengan sopan.


Cyra tidak mau apabila nanti Mamah Mia merasa Cyra dan yang lainya di nilai tidak memiliki sopan santun. Yah, walaupun Meta sudah bilang bahwa dia mengizinkan Qila, dan Cyra menginap di rumahnya sepuasnya.


"Ya Tuhan Cyra, sejak kapan Mamah marah ada orang yang mau tinggal di sini. Mamah malah seneng kalo kalian betah di mari. Asal kalian mau tinggal di rumah yang seadanya ini. Mamah malah seneng loh. Tandanya rumah Mamah nyaman. Mamah seneng kalo ada temenya. Kaya tadi sore Mamah sama Fifah asik ngobrol sampe nggak sadar sudah magrib ajah. Sekarang Mamah udah nggak kesepian lagi kalo Wawan kerja, kan banyak anak Mamah yang lainya." Benar memang dengan apa yang dikatakan Meta, kalo Mamah suka rumahnya rame. Sebenarnya Cyra juga berat harus meninggalkan Mamah Mia, dan berpundah kerumahnya, tapi kasian juga kalo Mamah Mia terganggu di jam istirahatnya.


"Alhamdulillah Mah, makasih yah sudah baik banget sama kita. Mamah tidak pernah membedakan kita. Mamah memang the best." Cyra memeluk Mamah Mia.


Setelah meminta izin mereka pun makan malah dan setelah makan malam Cyra dan Qila naik ke kamar Meta karena memang mereka akan tidur satu kamar dengan Fifah juga. Sementara Meta akan tidur di mana saja nanti. Yang penting bisa merem ajah.


Qila pun kaget ketika ternyata di rumah itu juga ada Fifah anak dari majikanya dulu, yang terkenal sombong, dan manja.


Namun, kali ini kondisi Fifah seratus delapan puluh derajat berbeda. Fifah juga tidak lagi sombong dan manja. Malah Fifah terlihat banyak berbicara.


Qila juga baru tahu dengan kondisi yang menumpa Fifah. Qila tidak menyangka bahwa Fifah bisa mengalami kekerasan oleh suaminya. Padahal Qila melihat dulu bahwa suami Fifah adalah orang yang baik dan ramah, tidak menduga bahwa suaminya tega melakukan kekerasan pada Fifah.


Cyra tidak bisa marah dengan Fifah, karena kata kakek Fifah juga tidak tahu kalo Papahnya melakukan kejahatan pada mommynya.


"Kak, ngomong-ngomong di mana keberadaan Papah? Apa papah baik-baik saja? Cyra kangen pengin tahu kondisi Papah?" Cyra berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Agar Fifah maupun yang lainya tidak tahu rencana dia yang ingin membuat perhitungan pada laki-laki durjana itu.


Manusia berhati iblis yang tega membuat Mommynya menderita. Cyra bertegad akan membalaskan semua yang Mommynya alami pada laki-laki itu.


Tidak perduli walaupun nantinya ia dan Fifah akan kembali memanas.


"Oh Papah, dia tinggal sama Mamah di perumahan X jalan S nomor sembilan. Yah kondisi Papah sangat memprihatinkan. Kamu jenguk yah Ra, katakan pada Mamah dan Papah kalo Kaka juga kangen sama mereka. Kakak belum bisa jenguk mereka karena kondisi Kakak yang masih belum setabil." Fifah pun mengira Cyra benar-benar kangen dan masih menganggap bahwa orang tuanya masih orang tua Cyra juga.


Tanpa Fifah ketahui, Cyra berkata seperti itu hanya untuk berbasa basi saja, dan mengorek informasi mengenai Tuan Kifayat.


"Baiklah Kak, besok Cyra akan menemui Papah, setelah pulang kerja. Kebetulan Cyra juga kangen dengan Mamah Daima." Cyra benar-benar pandai memerankan sandiwaranya.


Fifah pun nampak senang kalo Cyra tidak membenci keluarganya. Awalnya Fifah ada perasaan takut apabila Cyra membenci papah, dan Mamahnya, tetapi nampaknya ketakutan itu nggak ada buktinya.


Terbukti Cyra masih baik, bahkan besok akan mengunjungi orang tuanya.