Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Sikap Manis Naqi


Pagi hari menyapa tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini Naqi terlihat lebih semangat untuk bangun, dan.Langsung kemeja makan, mungkin ia teringat kerjaan dia sekarang dobel karena tuan putri Qari yang masih ingin bermanja-manjaan ria.


"Pagi Mamih yang paling cantik sedunia," sapa Naqi dengan wajah yang lebih ceria, tidak seperti semalam yang lusuh, padahal baru pulang kencan dengan pujaan hati. Naqi memeluk ibu kandungnya dari belakang, tanganya di kalungkan di pundak mamih, dan kepalanya di senderkan di pundak mamihnya.


"Bang, kamu ngak lagi kesambet kan?" tanya Mamih sembari mencoba melepaskan pelukaan putranya itu. "Perasan dia belum ketemu kakek, kenapa bisa sebahagia ini. Apa jangan-jangan dia tahu semuanya, semua rencana kakek jangan-jangan dia sudah tahu," batin Qanita.


"Enak ajah Mih, masa kesambet sih," dengus Naqi sembari melepaskan tanganya yang ada di pundak mamihnya. Ia langsung menarik kursi dan duduk dengan satu buah bakwan jagung di tanganya, mulutnya langsung menyambarnya.


"Ya bisa saja kemarin kamu perginya kesemak-semak jadi ada penunggu yang terganggu kan, mungkin saja bukan?" tanya Mamih dengan wajah seriusnya.


"Astagah, Mamah... istigfar Mih. Begini-begini anak Mamih masih tahu dosa yah Mih. Meskipun tadi malam sempat punya niat buat ajah Cyra mampir ke hotel," kelakar Naqi, tentu itu hanya candaan dia sajah, klau bener bisa-bisa di gantung readers Naqi.


"Kali sajah kamu sudah tidak sabar dan nyari yang adem dan bikin gatel, ya menuju semak-semak selain adem bikin gatal juga," kekeh Mamih.


"Mih, ngomong-ngomong kakek kemana?" tanya Naqi pandangan matanya di tujukan ke sekeliling, mencari sosok kakeknya buronan Naqi saat ini.


"Oh, baik-baik karena ada maunya pasti ini. Kalau kakek kamu kan udah mamih bilang lagi ngurusin pernikahan kakak kamu, jadi dari semalam tidak pulang. Katanya nginep di rumah keluarga Adam," jawab Mamih, sesuai apa yang di bilang Kakek.


Wajah ceria Naqi berubah jadi wajah mendung. "Sampe sebegitunya yah Mih sayang sama cucu yang enggak jelas asal usulnya," sindir Naqi, yang tentu Naqi sudah sangat gondok dan serasa udah di atas ubun-ubun kekesalannya dengan kakeknya itu.


"Mamih enggak tahu kalo urusan itu Bang, Mamih cuma nyampein apa yang kakek kamu katakan," jawab Qanita dengan suara lembutnya, dan memang mamihnya itu tidak tahu segimana sayang papah mertua pada cucu-cucunya.


"Mih, dulu Mamih yakin kan kalau Abang itu di bikin sama Luson?" tanya Naqi mulutnya masih sibuk mengunyah.


"Maksud kamu apa sih Bang?" tanya Mamih yang malah bingung dengan maksud dari omongan putranya itu.


"Ya kali kalau Abang ternyata anak dari laki-laki lain, dan harapan Naqi kalau itu kenyataan biar enggak punya papih yang gila dan kakek yang pilih kasih," jawab Naqi dengan santai, bahkan mungkin dia tidak takut kalau-kalau kakeknya dengar ucapanya itu.


"Hust... kamu jangan ngomong gitu deh Bang, nanti kalau ada yang dengar dan berfikir yang enggak-enggak malah makin berabe Abang," cicit Qanita sembari mencubit pinggang anaknya agar jangan ngomong ngadi-ngadi. Cuma anaknya Mamih Qanita doang memang yang minta emaknya selingkuh. Enggak si Qari pengin Mamihnya selingkuh dan dia bukan anak Luson, si Naqi juga sama.


"Abisan Mih, Naqi kesal banget, barang kali ajah kalo Mamih selingkuh dan Naqi bukan anak Luson juga kakek bakal baik dan perhatian sama Naqi. Gini amat yah jadi cucu yang sah dari penikahan yang diakui secara agama dan negara, selalu kalah saing sama anak yang lahir dari hubungan yang belum menikah.


"Bang, ah kamu itu, kenapa sih selalu cari gara-gara, takut ada yang dengar sayang," ujar Mamih sembari matanya melirik ke kamar Rania, di mana dia masih ada di rumah ini. Kalau dengar akan semakin runyam hubungan mereka, sekarang saja Rania jarang sekali bergabung baik dengan mamih maupun dengan asisten rumah tangga yang lain. Hal itu karena kepergian Qari mungkin dia merasa bersalah gitu.


Naqi yang malas mengobrol dengan mamihnya yang di rasa terlalu takut untuk menilai ketidak adilan, Naqi memilih lebih fokus dengan makananya.


"Ngomong-ngomong anak mamih yang bar-bar itu belum pulang?" tanya Naqi kali ini mengalihkan obrolanya biar tidak jenuh.


"Yang mana, adik kamu yang banyak maunya bukan?" tanya Mamih balik.


"Iya pokoknya orang paling ngeselin dan manjanya setengah mati," balas Naqi jengah, udah tau pake di putar-putar segala.


"Enggak tahu mau pulang kapan, harusnya sih hari ini pulang, tapi tadi dia bilang katannya pengin nambah lagi nginap di hotelnya." Qanita menanggapinya dengan santai.


Sontak saja kedua mata Naqi langsung melebar dan gemas. "Dia itu sebenarnya kalo lagi ngomong gitu sadar enggak sih kalau dia itu masih miskin, tapi kalo suruh cari duit susahnya minta ampun," geram Naqi sama adiknya yang selalu ingin nambah-nambah lagi cutinya, tetapi giliran gajihan dia selalu minta yang paling gede.


"Ya enggak apa-apa kali Bang, sekali-kali baik sama Adek sendiri. Nanti biasanya kalo di seneng mau loh deketin Abang dengan Cyra," rayu Qanita agar anak perempuanya di kasih waktu sekali lagi, itu semua karena Qari yang tadi pagi memohon-mohon untuk di bantu agar abangnya mau memberikan waktu satu hari lagi untuk Qari bermalas-malasan di hotel, tetapi pada kenyataanya Qari bukan bermalas-malasan, tetapi menggunakan waktunya sebaik mungkin bahkan sampi Qari tidur hanya beberapa jam. Waktu yang panjang itu ia gunakan untuk mencari segala informasi mengenai Deon.


Bahkan Qari sampai mendatangi gedung di mana ia dan Deon sempat terkunci di atap gedung itu. Lagi-lagi ucapan 'tidak tahu' dari semua karyawan membuat Qari semakin kebingungan siapa sebenarnya Deon. Kehidupanya terlalu misterius. Selain mendatangi tempat yang sekiranya Deon datangi. Qari pun mencari tahu siapa Deon, laki-laki yang telah menjebaknya dan memperkosanya dengan ganas, Qari mencari cara kedua yaitu lewat jaringan internet. Dari bertanya sama Mba google, semua sosmed dengan mengetik nama Deon, tetapi yang keluar di laman pencarian bukan orang seperti Deon yang di cari.


"Kalau kamu bisa membuat hidup aku hancur, dan kamu pergi dengan tanpa dosa, maka aku pun akan membuat kamu sendiri yang menyesali perbuatanmu." Tangan Qari mengepal dengan kuat, seolah ia telah menemukan sasaranya.


...****************...


Readers othor terlope-lope yang belum mampir novel baru othor mampir yuk...


Tengokin mereka masih di dasar jurang😄


Yuk kepoin


#Pelangi Tanpa Warna


#Cinta Diambang Derita