Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Membuat Janji dengan Model Terkenal


"Hallo... kenapa Mas? Tumben telepon di jam istirahat?" tanya Cyra dari sebrang telpon.


"Iya nih, nggak tau kenapa udah kanget ajah. Padahal tadi pagi udah berantem yah, tapi berasa kangen lagi." Naqi mulai kejahilanya.


"Mas buruan ada apa? Soalnya Cyra mau makan. Enggak enak di tungguin Meta," ucap Cyra, yang pada kenyataanya Meta tengah menunggunya untuk makan bersama.


"Iya cuma mau ingetin, nanti kalo mau pulang kerja kirim pesan lagi ajah, kita hari ini ke rumah Kakek penjual pisang, sekalian beli sembako buat beliau." Naqi tidak berlama-lama lagi karena memang ia sendiri kerjaanya tengah menumpuk.


"Iya Mas, nanti Cyra whatshap kalo mau pulang." Selanjutnya mereka kembali kekesibukanya masaing-masing.


"Huh, susah banget mau buat janji sama model terkenal mah, tapi demi kencan berkedok membantu aku relain dah," batin Naqi dengan tersenyum.


"Kenapa Al?" tanya Naqi yang melihat Alzam berdiri di sampingnya. biasanya Alzam setelah meletakan laporanya akan langsung kembali ke ruanganya, guna mengerjakan pekerjaan lain. Namun kali ini ia tetap berdiri di samping meja, menunggu Naqi yang tengah menelepon istri bocilnya.


"Tuan kalo Nona Qari sudah bisa dilepas mengerjakan lapor, saya ingin mengajukan cuti sekitar satu minggu apa Anda mengizinkan?" Alzam menyampaikan niatanya untuk cuti nanti setelah Naqi mengizinkan Alzam tinggal memberikan kabar pada Kakek.


"Ada urusan apa? Kenapa mesti satu minggu? Kamu tahu kan Qari itu tidak akan pernah bisa diandalkan. Apalagi sampai satu minggu yang ada kerjaan kamu kacau balau semua." Naqi sedikit keberatan dengan rencana Alzam yang ingin mengajukan cuti satu minggu, terlebih Qari yang tidak pernah bisa diandalkan.


"Saya ada urusan keluarga Tuan, dan hanya saya yang bisa menyelesaikan semuanya. Saya mohon Tuan hanya satu minggu setelah urusan semuanya beres saya pasti segera menyelesaikan kekacauan kerja ini," ucap Alzam ia berjanji dengan suara beratnya.


"Urusan keluarga apa Al. Kenapa urusan keluarga sampai satu munggu. Apa dikira yang punya keluarga kamu saja? Aku juga punya keluarga, tapi setiap masalah bisa diselesaikan dalam waktu lebih singkat dan lagi kamu bisa juga selesaikan selagi pulang kerja, jadi nggak harus cuti, itu lebih baik lagi. Kalo nggak kamu tetap ambil cuti, tapi satu atau tiga hari. Setelah itu masuk kerja kembali! Jangan satu minggu aku nggak sanggup kalo harus kerja seorang diri." Rio tidak memberikan izin lebih dari tiga hari karena alasan Alzam mengambil cuti terlalu ambigu.


Alzam menunduk bingung apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya agar mendapatkan cuti atau gimana, sebab nggak mungkin proses penyembuhan paska amputasi bisa secepat itu.


"Kenapa diam saja, apa kamu keberatan dengan keputusan saya?" tanya Naqi.


"Buka Tuan, hanya sajah bukanya ada Nona Qari yang akan membantu Anda untuk mengerjakan laporan-laporan Anda, jadi Anda tidak kerja seorang diri." Alzam tetap mencoba meminta pengertian dari Naqi.


"Saya akan buktikan bahwa satu minggu ini Nona Qari sudah bisa menyelesaikan tugas-tugasnya. Saya akan tanggung jawab Tuan." Alzam dengan percaya diri akan membuat Qari bisa mengerjakan laporan dengan baik.


"Terserah sajah, yang penting aku nggak mau laporan kerjaku berantakan. Lalu kamu cuti jangan kelamaan. Kecuali kalo kamu sakit, kalo sehat jangan dibiasain malas!" Naqi tetap tidak memberikan cuti untuk Alzam. Padahal Alzam selama kerja selalu rajin dan tidak pernah membolos. Untuk cuti pun Alzam tidak pernah megambilnya.


"Baik Tuan, saya akan usahakan semua selesai lebih cepat." Selanjutnya Alzam mengundurkan diri dan kembali ke ruanganya dengan wajah pucatnya.


Alzam masuk ke dalam ruanganya dengan lesu.


"Kenapa loe abis dimarahin Abang gue? Ko muka loe ditekuk, mana pucet banget kaya mayat hidup. Loe sakit atau gimana sih ko gue perhatiin loe itu kaya orang cacingan sih," crocos Qari begitu Alzam masuk ke dalam ruanganya.


Alzam hanya diam saja tidak menanggapi oceh Qari, karena ia sudah sangat kebal dengan ocehan orang-orang semacam Qari, dari jaman ia sekolah orang-orang sudah biasa membuly dan berkata tidak terkontrol karena penampilanya dan karena ia termasuk orang paling miskin disekolahanya. Bahkan ia harus kerja paruh waktu agar tetap memberikan pengobatan pada almarhum ibunya. Ia yang hanya lulusan SMA tapi bisa membuktikan mengerjakan laporan dengan sangat lihat sudah lebih dari bangga, meskipun banyak yang meremehkanya tetapi Alzam bisa membuktikan bahwa ia mampu untuk bersaing dengan orang-orang yang bahkan sudah S1. Otaknya tak kalak lebih encer dari mereka-mereka yang berpendidikan tinggi.


"Nona, saya minta tolong, sekali ini sajah. Anda bekerjalan yang benar tunjukan bahwa satu minggu ini Anda bisa saya lepas dan bisa mngerjakan laporan dengan benar dan cepat. Saya sangat mohon pada Anda karena kalo Anda tidak bisa melakukanya Tuan Naqi tidak mengizinkan saya cuti. Sedangkan saya sangat membutuhkan cuti itu. Masa depan saya dan adik saya ada dicuti satu minggu itu. Jadi tolong kerja samanya Nona." Alzam sembari bergetar meminta agar Qari lebih serius lagi dalam bekerja.


"Kamu kenapa sih cupu? Ko kamu itu aneh banget tau nggak. Kamu kaya orang yang mau mati kalo nggak dapat cuti itu. Loe sakit? Sakit apa?" Qari melihat wajah Alzam memang lebih pucat dan seperti orang yang menahan sesuatu.


"Tidak ada yang Anda harus ketahui dari saya Nona, karena urusan saya tidak ada hubunganya dengan Anda. Saya hanya meminta keseriusan Anda dalam mengerjakan laporan." Alzam tidak ingin siapa pun tau dengan niatnya cuti untuk menjalankan oprasi amputasi kakinya.


"Iya gue tunjuki sama loe dan Abang gue kalo gue ini memiliki otak cemerlang. Hanya akhir-akhir ini aku pura-pura bodoh ajah," ucap Qari dengan percaya diri.


"Iya Nona, saya percaya bahwa Anda memang bisa melakukan pekerjaan itu semua." Alzam menyemangat Qari agar lebih semangat dan bisa membuktikan pada Naqi bahwa adiknya bisa bertanggung jawab."


Alzam sedikit lega setidaknya Qari mau usaha agar bisa mengerjakan laporan dengan baik. Maka dari itu iya tinggal berkonsultasi dengan dokter yang menangani sakitnya dan menyampaikan niatanya. Lalu akan meminta jadwal oprasinya.


Sepulang kerja nanti Alzan akan menyampaikan niatnya untuk amputasi pada Tantri. Karena apabila Tantri sudah mengetahui rencanaya dan sudah setuju, dalam waktu dekat ini akan melakuakan oprasi itu. Alzam sih sangat yakin bahwa Tantri akan menyetujuinya, karena ia tau betul gimana saat malam tiba Alzam merasakan kesakitan dikakinya. Hanya dengan Tantri ia berbagi penderitaan sakit seperti patah tulang, nyeri dan pegal, rasa sakit itu hampir Alzam rasakan setiap malam, sakit itu cukup membuat tubuhnya semakin kurus. Belum efek kemo yang juga menjadi nafsu makan berkurang dan mual yang sering datang. Alzam harus menahanya agar tidak ada yang tau bahwa ia tengah sakit. Bahkan Alzam harus memakai kaus sampai beberapa lapis agar tubuh kurusnya tidak terlalu menonjol baru dilapisi dengan kemeja dan jaket. Sehingga tidak ada yang mengira dibalik tubuh yang nampak beriisi ada tubuh ringkih di dalamnya.