
Kini setelah Rania maupun Naqi tahu bahwa mereka sodara. Keduanya jarang terlibat obrolan. Bukan marah, hanya menyesali kenapa mereka bisa seceroboh ini sehingga mereka bisa tidak sadar bahwa mereka tidak boleh saling mencintai.
Sejak dari tadi Naqi bermain dengan ponsel Rania. Eh buka bermain, tetapi lebih tepatnya sibuk membalas pesan dari Luson. Yang ternyata Luson tidak lama lagi akan sampai di rumah sakit.
"Nia aku akan ke depan, Luson sudah ada di rumah sakit ini." Naqi segera bergegas meninggalkan Rania dan keluar rumah sakit, di mana barusan Luson mengabarkan bahwa ia sudah berada di rumah sakit ini.
Laki-laki bertubuh tegap dan kekar, Naqi yang memang memiliki tubuh atletis karena ia senang berolahraga, berjalan dengan tergesa. Rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Luson. Perasaanya sudah tidak karuan. Ia ingin menghajar Luson sampai tersungkur dan babak belur.
Dari kejauahan Naqi sudah melihat mobil Luson, dan tidak lama pun laki-laki yang selama ini ia panggil papih itu pun keluar dari mobil mewahnya. Naqi heran padahal Luson sudah tidak mendapatkan fasilitas yang mempuni dari kakeknya tetapi laki-laki itu masih saja bergaya layaknya orang kaya. "Apakah dia sebagai simpanan wanita-wanita kaya raya yang kesepian," gumam Naqi merendahkan papihnya, dengan senyum mengejek.
Naqi berjalan mengendap-endap agar Luson tidak mengetahui keberadaanya. Yah, dia ingin langsung memberikn bonus, sebagai salam pertemuan dari anak untuk papih durjananya.
Begitu Naqi sampai di palkiran mobil dan Naqi langsung menarik kerah baju bagian belakang milik Luson. Di mana Luson saat itu tengah menutup pintu mobilnya.
Luson yang kaget tidak sempat menghindar serangan dari Naqi. Anak kandungnya itu secara membabi buta bemberikan tijuan pada Luson, mungkin Naqi mengira kalo Luson adalah samsak tinju. Orang-orang yang ada di palkiran rumah sakit pun langsung melerai Naqi yang seperti orang kesurupan memukul papihnya.
Bahkan wajah Luson sudah babak belur dan bibir serta hidungnya sudah mengeluarkan darah. Begitu Naqi berhasil di lerai, Luson yang sudah tersungkur di tanah dan darah yang masih mengucur dari hidungnya. Mencoba bangkit dan mencari tahu siapa yang berani menghajarnya secara berutal. Saking brutalnya sampai-sampai laki-laki paruh baya itu tidak bisa melihat wajah yang menyerangnya.
"Naqi... apa yang kamu lakukan?" tanya Luson dengan kaget ketika ia tahu bahwa yang menghajarnya adalah anaknya sendiri.
"Kalian saling kenal Pak?" tanya security yang membantu Luson berdiri dan Naqi pun tengah di tahan agar tidak melakukan kekerasan lagi.
"Iya, dia anak saya, tapi saya tidak tahu alasan dia memukul saya seperti tadi," jawab Luson masih bingung.
Sementara Naqi dari sebrang Lusion masih menatap papihnya dengan kemarahan. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia menjadi tontonan banyak pasang mata yang ingin tahu mereka ada masalah apa? Kenapa ada perkelahian. Mungkin itu yang ada di fikiran orang-orang yang berkerumun dihalaman rumah sakit demi menonton orang berkelahi.
Naqi pun akhirnya mau ikut dengan mereka setelah dibujuk oleh salah satu dokter yang memang melihat kejadian itu, dengan perjanjian Luson tidak akan lepas tanggung jawab kalo tahu fakta kenapa Naqi sampai semarah ini.
Naqi dan Luson duduk dengan terpisah keduanya belum di dekatkan takutnya Naqi akan kembali menyerang Luson padahal Naqi tidak akan melakukanya. Semarah-marahnya Naqi ia tidak akan sampai hati kalo harus membunuh Papihnya.
"Nak, kenapa kamu tega memukul papih kamu sendiri, Beliau adalah papih kandung kamu. Kenapa kamu tega membuat papih kamu seperti ini, pasti ada alasanya coba ceritakan biar papih kamu tahu dan bisa memperbaiki kesalahan yang mungkin saja beliau buat, baik sadar maupun tanpa sadar." Salah satu dokter peremupan yang mungkin umurnya hampir sama dengan mamihnya, pun memncoba mendamaikan Naqi dan Luson.
"Aku mukul papih, aku cuma sebagai perantara dari para wanita yang sudah papih sakiti bahkan dari anak-anak yang harus lahir tanpa tahu papah kandungnya. Seperti Rania, Ibu Nasila, Mamih, dan terakhir dari aku dan adiku Qari," jawab Naqi dengan pandangan tetap tertuju pada Luson.
"Maksud Nak Naqi apa?" tanya dokter itu.
"Luson sudah tau maksud aku, biarkan kami bebicara antara dua laki-kai, antara ayah dan anak, karena ini masalah keluarga aku harus berbicara langsung dengan laki-laki tua ini, dan aku berjanji tidak akan bermain fisik lagi. Aku juga masih sadar memukul dia hanya untuk memberikan pelajaran, aku tidak akan tega kalo harus menghantarkan dia kedalam kuburan saat ini juga. Dosa dia terlalu banyak, aku kan berikan kesempata untuk laki-laki ini bertaubat dan meminta maaf pada para korban. Anda semua nggak usah mencemaskan kami, karena aku masih sangat sadar ," ucap Naqi yang secara tidak langgung mengusir orang-orang yang ada di ruangan itu agar meninggalkan Naqi dan Luaon hanya berdua saja.
Setelah saling berbisik akhirnya dokter dan pihak keamanan baik kepala keamanan maupun bawahanya, meninggalkan Luson dan Naqi di ruangan kantor mereka.
"Siapa Rania? Jelaskan kenapa kamu bilang Rania adalah anak kamu. Ada hubungann apa kamu dengan ibunya Rania?" tanya Naqi tanpa melihat ke Luson ia membuang pandangan keluar jendela. Menandakan bahwa Naqi sangat jijik dengan wajah Luson yang sok polos, dan berpura-pura menahan nyeri dan membuat Naqi ingin menghajarnya lagi, tetapi ia masih ingat dengan janjinya yang tidak akan membuat Luson masuk liang lahat secepat kilat.
"Tunggu kenapa kamu kenal Rania? Terus sepertinya kamu marah sekali dengaan dia, kamu memang siapanya dia?" tanya Luson dengan santai seolah tidak ada penyesalan atau tidak mengingat nama Rania yang mana dulu sering Naqi sebut bahwa ia adalah nama kekasihnya.
"Rania calon istri aku, yang dulu aku sering cerita sama kamu, dan kamu selalu mendukung hubungan aku dan Rania, sekarang setelah aku kehilangan semuanya aku baru tahu ternyata Rania adalah anak dari selingkuhanmu. Yang itu artinya aku dan Rania adalah sodara yang tidak boleh menikah karena kami memiliki satu ayah yang sama," ucap Naqi kali ini denga menatap penuh marah ke pada Luson.
Laki-laki paruh baya itu pun tampak kaget mendengar kabar yang Naqi bawa, mungkin dia juga tidak tahu kenapa masalah bisa serunyam ini. Mungkin ini masalah terunyam selama ini, dari perbuatan yang dia sering lakukan yaitu menabur benih di ladang mana saja.
#Buat Readers, untuk kedepanya bakal bongkar Masalah Naqi dan Keluarganya dulu, menyelesaikan ulah Luson yang sering tabur-tabur benih. Cyra akan muncul hanya sebagai selingan dulu setelah Masalah burung Luson selesai, bakal dibagi rata lagi Naqi dan Cyra akan ada porsi masing-masing. Paling cuma dua atau tiga episode lah nggak lama ko, jadi jangan protes yeh....🙏🙏🙏