
"Sayang kamu baik-baik di sana yah, jaga kesehatan, jangan banyak fikiran dan cari kebahgiaanmu di sana." Mamah Mia adalah orang pertama yang memberi nasihat pada Cyra dan sebelum Cyra berpamitan dengan mamah Mia, sementara yang lainya sudah siap menunggu dan mendapat giliran saling memberikan pesan dan dukungan untuk Cyra.
Yah, itu yang bisa berikan untuk Cyra, memulai dengan yang baru, dan menjemput kebahagiaan baru. Meskipun mereka pasti tetap menjadi sahabat terbaik Cyra.
"Terima kasih Mah, Mamah juga jaga kesehatan yah, jangan sampai Mamah sakit. Semoga kita bisa bertemu lagi yah Mah. Cyra sangat sayang dengan Mamah, Cyra nggak tahu bagai mana kalo tidak ada mamah yang selalu baik dengan Cyra, selalu mau kapan saja menampung Cyra. Rumah Mamah adalah rumah ternyaman buat Cyra." Cyra berkata dengan suara bergetar dia sudah sangat sesak di tenggorokanya ingin menangis, tetapi itu semua ia tutupi agar yang lain tidak ikut menangis. Yakin nggak nangis yang lain? Oh tidak! Meta berbeda, dari tadi ia sudah menghabiskan satu kotak tisu, tangisan Meta adalah musik yang mengiringi dari awal memasuki halaman bandara sampai saat ini Cyra tengah berberpamitan.
"Ra, aku bingung mau kasih nasihat dan pesan apa buat kamu. Intinya kamu cari kebahagiaanmu, semoga mommy kamu cepat pulih, kalo bisa doa saya satu ini di kabulkan. Semoga kamu bisa pulang ke negara ini lagi dalam waktu cepat, sebulan nggak apa-apa kamu balik lagi ke negeri ini," ucap Qila yang memang dia nggak bisa merangkai kata-kata melankolis jatuhnya aneh dan sangat geli untuk di dengar.
"Hahaha... Cyra yang mendengar doa Qila pun tertawa dengan renyaj, akhirnya tidak hanya momen sedih yang mewarnai perpisahan mereka, tetapi ada juga momen lucu yang membuat suasana yang haru tidak terlalu kental ada momem lucunya juga.
"Kenapa tertawa" tanya Qila heran, padahal ia sudah menyusun kata-kata itu dari di rumah dan sepanjang perjalanan sudah ia persiapkan dengan demikian rupa, tetapi malah di tertawakan oleh Cyra.
"Lucu ajah Qila, kamu bilang jangan lama-lama satu bulan sudah balik lagi kesini, itu mah liburan Qila, kalo liburan ngapain kalian mellow-mellow sedih, kan nanti juga balik, liburan identik dengan bahagia bukan sedih sayang." Cyra mencubit pipi teman baiknya selama masih tinggal di rumah Tuan Kifayat.
Qila pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah yang sok polos.
"Kamu juga jangan pacaran mulu sama Dokter Sam, jangan mentang-mentang kekasih baru kamu tancap terus, berpacaran sampe nggak kerja. Minta Sam kalo serius segera nikahin kamu. Janagan kelamaan pacaran itu tidak baik, banyak setan yang coba menjerumuskan ke lembah dosa. Met, kamu awasin adaik kamu, jangan sampai Sam berpengaruh buruk sama Qila, dan awasi juga Qila kerjanya jangan sampai dia pacaran terus sampai kerjaan dia terbengkalai. Kalau itu terjadi potong sajah gajinya," ucap Cyra sembari memperaagakan lehernya terpotong dengan jari jempol. Yah, yang sudah kenal Cyra pasti tahu bahwa ini hanya candaan semata.
Buktinya baik Qila dan Meta justru tersenyum geli dengan perintah Cyra, mana tega Cyra memperlakukan itu pada sahabatnya. Yang ada selama ini juga Cyra selalu memberi bonus pada teman-temanya.
"Siap cin, Meta dengan senang hati menjadi security buat Qila. Awas kamu kalo macam-macam sama Sam. Meta seret ke penghulu saat itu juga," goda Meta pada Qila.
Sementara Qila yang awalnya bersedih jadi terhibur dengan kelakuan sahabatnya.
Sekarang giliran Fifah, Cyra memeluk kakaknya yang dulu tidak pernah akur tetapi sejak semua cobaan satu persatu datang dengan Fifah dan keluarganya, sosok Cyra adalah yang paling berarti dan paling di cari dalam hal apapun.
"Iya nanti salam dari kakak pasti Cyra sampaikan untuk Mommy, terima kasih untuk semua waktu yang sudah kakak berikan pada Cyra, walaupun kita sempat melewati begitu banyak derama dalam bersodara, tetapi percayalah kakak adalah kakak terbaik ku. Kakak juga jaga kesehatan yah, titip ponakan aku, nanti kita ketemu kalo ponakan aku sudah lahiran." Cyra rengelus-elus perut Fifah, di mana justru Fifah memeluk Cyra dan menangis dengan terisak dan ini adalah momen sedih, sehingga yang lain ukut meraskan kesedihan itu.
Cukup lama Cyra menenangkan ibu hamil yang terus terisak dan memeluk Cyra, seolah Fifah tidak mengizinkan Cyra untuk pergi. Setelah dibujuk akhirnya Fifah mau melepaskan pelukanya dan mau berhenti nangisnya, walaupun itu tidak langsung berhenti, Fifah masih saja terisak halus di dalam pelukan mamah Mia.
Yap, sekarang giliran si cengeng Meta, yang sejak tadi berasa paling sedih, nangis terus bawaanya.
"Cin...huhuhu... I'm nggak tahu mau ngomong apa." Meta dengan tersenggal kebingungan mau memberikan pesan apa, dari tadi ia nangis sehingga lupa menyiapkan rangkaian kata untuk perpisahan dengan Cyra.
"Kamu nggak usah ngomong apa-apa, aku yang mau ngomong sama kamu. Kamu nggak boleh cengeng! (Cyra menepuk pundak meta) Liat tuh katanya kamu mau jadi Daddy buat anaknya kak Fifah, tapi kalo kamu nangis terus kaya gini, gimana mau jadi Daddy yang ada kamu di ketawain sama anak Fifah dari dalam perut sanah." Cyra mnengomel pada Meta sembari menunjuk perut Fifah yang ada anaknya, yang Meta selalu bilang dengan bangga kalo anak itu adalah anaknya. Malahan Meta akan marah apabila ada yang bilang itu anak Niko, bagi Meta jabang bayi yang ada di perut Fifah adalah anaknya. Dan dia Ddday satu-satunya.
Meta mengangguk-angguk dengan mencoba menarik bibirnya untuk senyum.
"Aku juga titip kak Fifah, bahagiakan dia, segera tepati janji kamu kalo kamu mau menikahi dia, dan buat dia bahagia, dan tunjukan kalo kamu adalah laki-laki tanggung jawab dan baik serta penyayang, jangan bikin kak Fifah nangis, awas sajah kalo aku dengar kak Fiffah nangis aku gantung kamu di tiang jemuran." Cyra memberika ancaman yang sangat mengerikan bukan?
"Siap cin, I'm pasti jaga kaka you dan bahagiain kakak you, soal nikah pasti I'm nikahin dia setelah ia melahirkan anak kita, dan akan I'm kasih ponakan yang banyak buat you," Meta pun pada akhirnya tidak menangis lagi, ia benar-benar menepati janjinya tidak menjadi laki-laki yang cengeng.
Setelah berpamitan kita saatnya Cyra melanjutkan perjalanan hidup di negri orang, mencari pengalaman yang baru, membawa segudang impian dan berharaap membawa kekehidupan yang baru, hidup yang lebih bahagia.
Ia bertekad denga kepergianya dia bisa mengubur semua kesedihanya dan mengganti dengan hidup yang penuh warna dan penuh dengan bahagia. Tidak memungkiri niat ia untuk pergi adalah ingin menghindar dari Naqi dan ingin memulai hidup tanpa ada bayang-bayang suaminya. Andai ia tetap tinggal di Indonesia pasti akan sangat sulit untuk menghapus jejaknya sehingga ia dengan matang mengambil keputusan ini, meskipun resikonya ia akan sangat kangen dengan orang-orang yang sayang dengan dia.
Cyra menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya ketika pesawat sudah mulai terbang meninggalkan negeri tercinta.
Buat readers, Cyra pamit yah, maaf kan Cyra kalo selama ini banyak salah. Cyra akan kembali dengan cerita yang baru, terus dukung Cyra yah! Peluk cium dari Cyra buat readers yang sudah setia ngikutin perjalanan Cyra. Maafkan Cyra kalo ada salah-salah kata, percayalah itu karena jari-jari Othor keseleo....