
Naqi mencoba mendengarkan nasihat dari kakek, meskipun dalam hatinya ia bertekat tetap akan mencari Cyra, hanya mungkin tidak secara terang-terangan seperti ini sehingga memancing kemarahan kakek lagi. Naqi harus mulai mengatur setrategi agar kakek dan yang lainya tidak tahu apa yang sebenarnya tengah ia rencanakan.
"Iya Kek, maaf kan Naqi, Naqi terlalu berambisius dan terlalu menyesal dan merasa bersalah dengan semua ini sehingga Naqi seolah tidak tahu apa yang tengah Naqi lakukan. Kedepanya Naqi akan lebih berhati-hati lagi Kek, apabila mengambil keputusan Naqi tidak akan mengulang hal yang sama," lirih Naqi yang tidak mau membuat kakek marah terus pada Naqi. Yah, Naqi sedang mengambil hati Tuan Latif lagi, mengambil kepercayaan Tuan Latif, menjadi Naqi yang seperti dulu lagi. Naqi yang berwibawa, tetapi tetap sajah dia diam-diam akan terus mencari Cyra.
Setelah secara terang-terangan Naqi merasa semua orang justru menutupi keberadaan Cyra, kini Naqi harus menggunakan cara halus. Yah, bergerak seperti kawan untuk melumpuhkan lawan. Naqi tidak terlalu bodoh yang bisa di bohongi dengan kata tidak tahu, dan lain sebagainya hanya untuk membuat Naqi nyerah dan tidak mencari Cyra lagi.
Naqi hanya perlu tenang dan mengorek informasi dari orang terdekatnya. Karena musuh paling sulit ditaklukan juga orang terdekatnya, mereka dengan mudah akan mengetahui pergerakan kamu sehingga mereka akan menggunakan langkah lain untuk mencari aman sebelum kamu menyerang. Itu yang ada dalam fikiran Naqi.
"Kalo begitu makanlah sayang, kamu butuh tenaga," ujar mamih dengan penuh perhatian, mamih tidak ingin Naqi jatuh sakit karena terlalu banyak fikiran akhir-akhir ini.
"Tidak usah Mih, Naqi tidak lapar," tolak Naqi ia ingin buru-buru beristirahat dan mungkin saja ia bisa bertemu dengan Cyra meski pun di alam mimpi.
"Sedikit sajah Naqi, demi kesehatan kamu." Mamih dengan sabar selalu berusaha membujuk Naqi.
"Naqi, makan, jangan bikin mamih kamu kefikiran, tidak kasihan kamu selama ini membuat mamih kamu kefikiran masalah yang kamu buat terus." Kakek dengan suara baritonya ikut meminta Naqi makan. Karena beliau tahu hanya dirinya yang mampu membuat Naqi mengikuti ucapan Qanita.
"Baiklah Naqi makan." Naqi dengan malas dan sangat tidak berselera melanjutkan berjalan ke meja makan.
Qari pun yang biasanya akan selalu membangkang dengan ucapan siapa pun termasuk kakek. Sejak Naqi pulang kembali kerumah ini melihat perubahan Qari ia kini lebih terdidik prilakunya. Sehingga Naqi yang dari dulu memang sudah nurut dengan aturan-aturan kakek rasanya malu apabila mencontohkan hal yang tidak baik lagi pada adiknya.
Mereka pun akhirnya makan malam dengan damai dan tanpa saling mengobrol, yah mau ngobrol apa lagi toh memang Naqi juga fikiranya masih semrawud.
Setelah makan malam Naqi pun berpamitan lebih dulu, bahkan ia saja makan sangat-sangat sedikit.
"Mih, Kek, Naqi mau ke kamar dulu yah. Pengin buru-buru istirahat. Naqi pun tanpa menunggu jawaban pergi lebih dulu ke dalam kamarnya. Padahal baik kakek maupun mamih ingin menayakan kondisi Rania, tetapi sepertinya Naqi memang tidak tahu kondisi Rania.
****
Pagi hari di kamar rawat Rania....
Adam yang hendak memeriksa gimana komdisi Rania setelah diberikan perawatan yang intensif agar membaik dan siap menjalani serangkaian oprasi untuk ke dua kalinya.
Rania masih meringkuk di bawah selimutnya, kondisinya semakin memperihatinkan, benar kata Sam, Rania sudah tidak memiliki semangat hidupnya. Adam melihat sarapan Rania masih untuh padahal ini sudah jam sepuluh lewat tetapi bahkan jatah sarapanya belum di buka sama sekali.
"Apa dia tidak sarapan?" batin Adam, sedetik kemudian Adam mencari sosok yang Sam kemarin katakan bahwa dia adalah papihnya. "Kemana laki-laki itu apa dia tidak menemani Rania," gumam Adam lagi.
Rania tidak sedang tidur tetapi dia sedang melamun sehingga tidak mendengar ada orang yang masuk ke kamar Rania.
Ehemz... Adam akhirnya berdehem ketika sudah lama ia berdiri di sana tetapi memang Rania tidak meresponya. Rania yang baru sadar ada orang yang datang pun langsung menoleh ke belakang.
"Ada keluhan?" tanya Adam, mungkin saja Rania menangis karena sakitnya.
"Tidak Dok, sudah baikan," jawab Rania, tetapi pandangan matanya tidak berani menatap Adam, sedangkan Adam justru kebalikanya sejak tadi matanya menatap Rania memperhatikan setiap gerakan Rania.
Adam meletakan buku, untuk menemani Rania agar tidak bosan, "Janga kebanyakan bengong, baca buku-buku ini semuanya mengajarkan kita berserah pada Allah dan cara memperbaiki diri. Manusia memang tempatnya salah dan tidak ada manusia yang sempurna, tetap belajarlah dari kesalahan dan mulai memperbaiki diri. Jangan biarkan kemarahan dan putus asa menguasai diri kamu. Mulai bebenah diri dan menata hidup yang baru agar tidak ada penyesalan di kemudian hari." Adam akhirnya bisa memberikan nasihat yang awalnya untuk menyapa Rania saja enggan, tetapi setelah melihat betapa kacaunya hidup Rania, Adam pun tidak tega.
"Terima kasih nasihatnya, dok."
"Ngomong-ngomong kemana papih kamu?" tanya Adam sembari sedua matanya mengawasi kesetiap sudut ruangan tak lolos juga Adam menatap kedalam kamar mandi.
"Tadi, beliau izin pulang sebentar," balas Rania dia tidak selepas dulu yang mau bercerita panjang lebar, bahkan hal-hal receh Rania mau ceritakan, kali ini lebih terlihat tertutup.
Adam hanya mengangguk lalu ia memeriksa kondisi keseluruhan Rania. "Besok langsung jalanin tindakan gimana, siap?" tanya Adam dengan meminta suster mencatat setiap hasil pemeriksaan Rania.
Lagi-lagi Rania mengangguk menandakan bahwa ia sudah siap. Setelah semua selesai pemeriksaan pada Rania, Adam meminta suster keluar lebih dulu karena Adam masih merasa memiliki urusan dengan Rania Meskipun Rania, sudah tidak memiliki urusan apapun.
"Kamu nggak sarapan?" tanya Adam ketika melihat jatah sarapan Rania masih utuh bahkan belum dibuka sama sekali.
"Oh... tidak lapar Dok," jawab Rania tiba-tiba gelisah, yang seolah seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Tidak lapar? Memang orang sakit itu selera makan akan menghilang Nia, kamu kan sakit bukan baru-baru ini seharusnya kamu sudah tau dong dengan kondisi ini. Kamu harus sudah siap dan tetap harus memaksa makan demi kesehatan kamu. Sampai kapan kamu mau menghukum tubuh kamu? Apa dengan kesalahan yang kamu lakukan, kamu mau menghukum tubuh kamu yang tidak tahu apa-apa?" tanya Adam dengan suara yang meninggi dan terdengar sangat mengerikan.
Rania menggeleng, dan terlihat matanya sudah berkaca-kaca.
Adam pun sebenarnya merasa tidak enak dengan ucapanya yang mungkin saja terlihat seperti memarahi Rania, tetapi Adam melakukan itu hanya agar Rania tahu diri dan jangan terus-terusan menyiksa tubuhnya dengan tidak mau makan tidak mau menjalani pengobatan dan lain-lain itu justru akan menambah fikiran dirinya.
"Kalo gitu makanlah, jangan siksa tubuh kamu karena keegoisan kamu. Semuanya tidak akan baik-baik saja kalo kamu melakukan semua itu. Yang ada akan timbul sakit baru dan akan semakin merepotkan yang lain." Adam mengambil jatah sarapan Rania dari rumah sakit yang sudah dingin. Adam mebuka tutupnya dan akan menyuapi Rania.
"Biar saya saja Dok, Saya bisa makan sendiri." Rania mungkin merasa tidak enak sehingga dia menolak Adam untuk menyuapinya.
"Bisa diam nggak, tinggal makan, kunyah lalu telen! Jangan banyak protes!" Adam menolak permintaan Rania untuk makan sendiri. Ia kalo makan kalo hanya diaduk-aduk ajah kapan mau sembuhnya, seperti itu fikiran Adam sehingga ia menolak permintaan Rania, yang ingin makan sendiri.
Akhirnya Rania pun kembali pasrah ia hanya tinggal makan dan mengunyah dengan pelan dan menelanya. Beberapa kali Rania seolah hendak muntah tetapi kembali ia menelanya, hal itu karena Pak dokter yang langsung melotot ketika Rania seolah akan memuntahkan makanan yang ia makan. Pak dokter jangan galak-galak nanti pasienya kabur....
"Udah Dok, udah nggak kuat perutnya nggak enak," tolak Rania, sembari memgangi perutnya yang selalu mual ketika ada makanan yang masuk kedalamnya, Rania menutup mulutnya ketika Adam menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya padahal Rania baru makan beberapa suap sajah itu pun sangat sedikit suapanya dan setiap menelan makanan seolah mau muntah.
"Itu karena kamu biasain tidak makan, nanti kalo kamu turutin terus malah tambah parah sakitnya. Kamu harus coba makan terus walaupun sedikit-sedikit." Adam memang menghentikan, tidak menyuapi Rania lagi, tetapi mulutnya selalu berisik menasihati apa bahayanya apabila Rania yang selalu tidak mau makan. Rania pun hanya mengangguk setiap Adam menasihatinya.