
Mereka semua pun sudah selesai makan malam, dan Naqi pun tidak lagi banyak meledek adiknya. Sebab ada Cyra yang selalu melerai mereka.
"Ra kamu emang belum ada tanda-tanda telat datang bulan gitu?" tanya Mamih tiba-tiba membuat Cyra kaget.
Uhukkk uhukkkk.... Naqi malah tersedak mendengar pertanyaan Mamih.
"Kenapa kamu Bang? Ko kaget gitu?" tanya Qari kepo.
"Belum Mih, emang kenapa?" tanya Cyra bingung.
"Ya, Mamih pengin buru-buru kamu hamil aja. Kemarin Mamih sudah beli tespek. Jadi nanti kalo kamu telat datang bulan bisa langsung digunakan," ucap Mamih dengan antusias.
Naqi dan Cyra pun kaget dengan ucapan Mamih, pasalnya, mereka tidak menyangka bahwa mamih akan seantusias ini. Terlebih Naqi sangat kaget dengan kelakuan mamihnya sikap bingung ditunjukan oleh Naqi dan Cyra. Sehingga Qari dari sebrang meja menduga ada yang tidak beres dengan pernikahan kakanya.
"Ah... iya Mih, nanti kalo Cyra telat haid akan langsung dites kehamilan," ucap Naqi mewakilkan Cyra. Sementara Cyra diam sajah, tidak mau berucap apa pun itu yang menyebabkan makin runyam masalahnya.
Setelah obrolan selesai Naqi dan Cyra pamitan hendak ke kamarnya. Tanpa sepengetahuan Cyra dan Naqi, Qari membuntuti mereka. Begitu pintu kamar hendak ditutup...
"Stop!" pekik Qari dan Cyra pun seketika tidak jadi menutup pintunya.
"Kenapa Ka?" tanya Cyra, ia bingung mau memanggil Qari, ia panggil Ade, umur mereka terpaut jauh Qari bahkan lima tahun lebih tua dari Cyra. Panggil Kaka, tetapi posisi Cyra ada lah istri dari Abangnya, sehingga dari urutan silsilah kekeluargaan posisinya diatas Qari.
Qari masuk ke kamar kakanya dan langsung mengambil posisis duduk diatas tempat tidur pasangan suami istri itu.
"Ngapain sih kamu De, main masuk-masuk kamar orang ajah!" sungut Naqi nggak suka Adeknya masuk wiayah kekuasaanya.
"Jelaskan apa yang kalian sembunyikan!" Qari tanpa basa basi langsung ketopik tujuan dirinya masuk ke kamar Abangnya. Qari bertanya sembari memainkan kukunya yang lentik, seolah tengah menanti kejujuran dari murid yang tengah dihukum guru BK.
"Maksud kamu apa? Enggak usah ngadi-ngadi deh, kami sembunyikan apa?" bentak Naqi makin kesal dengan sok tahuanya adiknya.
Sementara Cyra berdiri di belakang pintu nggak mau ikut campur urusan kaka beradik itu.
"Bang, gue emang kuliah juga jadi mahasiswi abadi, tapi bukan berati gue bodoh sampe bisa loe kibulin. Kakek dan Mamih mungkin sajah bisa loe kibulin dengan setatus pernikahan loe, tapi gue, adik loe. Enggak bakal mempan sama jurus kibul loe." Qari memainkan kata-katanya. Seharusnya Naqi tau lah maksud dari ucapan adiknya. Kalo Naqi nggak nangkep juga berati dia lulus sekolah dan kuliah hasil dari nyogok.
"Kalo loe udah tau kenapa tanya lagi," ucap Naqi dengan santai sebab ia tau adiknya bukan orang yang mudah untuk dikibukin. Pasalnya adiknya adalah tukang kibul, jadi udah tau betul reaksi, gerak gering orang yang tengah berbohong.
"Gue hanya pengin tau atas dasar alasan apa loe ngelakuin itu semua. Membohongi orang tua. Dosa Bang, selain dosa, loe juga hidupnya nggak berkah." Biar nakal dan urakan tapi Qari masih tau dosa dan batasan untuk nakal.
"Loe nggak usah pengin tau karena semua nggak ada urusanya sama Loe," ucap Naqi nggak mau kalah. "Sekarang loe keluar deh, gue mau mandi dan mau istirahat. Loe balik sanah ke kamar loe, gangu ajah," sungut Naqi sembari mendorong Qari keluar kamarnya.
"Awas ajah loh Bang, gue pasti buktiin, dan akan bongkar kebusukan loe," ancam Qari sebelum bener-bener keluar sari kamar Abangnya.
"Sebelum loe melakukanya, gue pastin mulut loe udah gue sumpel duluan pake cabe setan," ancam Naqi.
"Dasar adik durjana, cewek jadi-jadian." gerutu Naqi melihat kelakuan adiknya.
Naqi menutup pintu kamarnya dengan kasar. Cyra pun sampai terlonjak kaget, karena ulah Naqi.
"Mas apa lebih baik kita ngaku ajah sama Kakek dan Mamih bahwa kita belum pernah melakukan hubungan suami istri," usul Cyra dengan wajah menunduk. Takut apabila Naqi marah dan tidak mau terima usulanya.
"Kamu tenang ajah, selagi rahasia kita hanya diketahui oleh Qari berati masih aman. Karena Qari bukan tipe anak yang bocor. Dia hanya menggeretak sajah. Aslinya dia pasti bakal mau bantu kita untuk menutupi pernikahan sandiwara kita." Naqi pun mencoba menenangkan Cyra agar tidak termakan ancaman Qira.
"Ya udah Cyra terserah Mas sajah, tapi lain kali jangan dibiasain berbohong Mas. Masih ingat kan kasus jamu, karena kebohongan menimbulkan malapetaka buat diri kita." Cyra berusaha menasehati Naqi siapa tau dia sadar.
"Baiklah Mas akan ingat-ingat kasus jamu kemarin, dan kedepanya Mas akan hati-hati kalo mau berbohong," jawab Naqi santai.
"Loh ko hati-hati. Kirain bakal berhenti untuk berbohongnya," sungut Cyra, dengan membuat pandangan kelain arah. "Ini mau Mas Naqi yang mandi duluan atau Cyra yang duluan?" Pasalnya apabila tidak ditanya siapa yang duluan, sifat jail Naqi selalu kambuh, yang lagi mandi enak-enak, digedor sama tuh laki biar buruan katanya kelamaan lah pengin BAB lah pengin BAK, pokoknya nggak bakal tenang mandinya.
"E...Gimana kalo kita mandinya barengan," ledek Naqi dengan menaik turunkan alisnya.
"Cyra mah mau ajah yah mandi bereng, ayuk kalo mau mandi bareng mah!" Cyra justru menantang Naqi, sebab Cyra tau bahwa Naqi hanya bercanda.
"Wah... kamu nantangin Ra, kalo terjadi perang gimana di dalam kamar mandi sana," balas Naqi secara tidak langsung ia menyerah tantangan Cyra.
"Kalo Cyra sih nggak masalah yah, paling yang masalah Mas Naqi, kan yang punya cewek Mas Naqi. Kalo Cyra sih bebes," jawab Cyra dengan santai.
"Udah kamu ajah yang duluan mandi, tapi jangan lama-lama mandinya!" ucap Naqi akhirnya dia yang nggak mau mandi bareng. Padahal Cyra sudah tau bahwa Naqi hanya bercanda, dan Cyra pun sama hanya bercanda.
****
Di ruangan kerja Kakek...
"Gimana kalian sudah pastikan dan sudah sampaikan pada keluarga Tuan Kifayat, tawaran kita?" Kakek bertanya pada seseorang yang berada di sebrang telpon.
"Sudah Tuan, dan istri Tuan Kifayat akan menyetujui tawaran kita, hanya sajah anaknya yang bernama Afifah belum memberikan tanda tangan, sebab kita juga butuh tanda tangan anak itu sebagai penguat hukum." Seseorang disebrang sanah melaporkan hasil kerjanya.
"Bagus, kamu harus teken terus dan apabila sudah setuju semua segera lakukan pembayaran, dan priksa dalam rumah itu. Bebaskan semua pekerja dan maid yang ada di sana, periksa setiap inci rumah itu dan temukan orang yang aku cari!"
"Baik Tuan semua permintaan Anda akan kami jalankan," balas seseorang dari sebrang sanah.
Setelah memutuskan sambungan teleponya Kakek pun kembali termenung.
"Kamu harus membayar semua kejahatanmu Kifayat!"