Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kemarahan Naqi


Tantri langsung berhambur memeluk Qari, sosok yang belum ia kenal sebelumnya. Namun, karena rasa takutnya bahkan ia tidak perduli siapa wanita yang ia peluk. Yang ada dalam fikiranya hanya ia ingin berbagi ketakutan dan ia tidak sendiri.


Qari pun entah mengapa hatinya luluh melihat kesedihan pada diri Tanti. Ia mengelus-elus rambut indah Tantri dengan lembut. Qari pun ikut larut dalam kesedihanTantri, walaupun jujur ia masih bertanya dalam fikiranya. Ada apa sebenarnya. Siapa yang ada di dalam ruang oprasi itu? Lalu kenapa anak sekecil ini hanya seorang diri di depan ruang oprasi. Keluarga yang lain kemana? Banyak pertanyaan dalam pikiran Qari.


Setelah Qari melihat isakan sudah melemah, Qari pun melepaskan pelukanya. Qari mengusap air mata yang masih tesisa di pipi mulus Tantri dia mengambil tisu lalu ia berikan pada Tantri untuk membersihkan air mata Tantri, dan cairan bening yang seolah ingin ikut keluar dari lubang hidungnya. Tantri segera mengambil tisu pemberian Qari, dan sebera membuang cairan bening dari hidungnya yang sangat mengganggu.


Qari memastika melihat lagi kesekeliling. Mungkin sajah ada anggota lain yang menunggu di sini, selain anak kecil yang ada dihadapanya. Namun rupanya tidak ada. Hanya ada Tantri seorang diri.


"Kamu disini sedirian?" tanya Qari dengan suara lembut. Ia ikut duduk di lantai rumah sakit, di samping Tantri.


Tantri mengangguk lemah, tidak ada suara lain yang keluar dari bibir mungilnya, selain isakan yang masih samar terdengar.


"Keluarga kamu yang lain kemana? Apa mereka sibuk? atau???.... Qari tidak melanjutkan pertanyaanya, sebab Tantri kembali menangis sedih.


"Maaf, saya tidak tau apa yang terjadi sesungguhnya. Hanya saja heran kenapa kamu sendirian disini?" Qari merasa bersalah dan menarik tubuh mungil Tantri menyendel kepundaknya.


"Aku akan diam, tidak bertanya lagi. Kamu jangan nangis lagi yah. Aku bingung harus gimana kalo kamu nangis terus," Qari pun pasrah dan berjanji tidak akan bertanya macam-macam.


Hening... sangat terasa mencekam di sana, tanpa ada obrolan. Yang masih terdengar hanya isakan samar dari Tantri.


"Kedua orang tua Tantri sudah meninggal. Kami tiga bersodara. Kaka perempuan nomor dua kami juga sudah meninggal. Dan yang di dalam ruang operasi, itu adalah kaka nomor satu. Kaka laki-laki Tantri, sekaligus anggota kelurga satu-satunya yang Tuhan sisakan untuk Tantri. Namun, sekarang Abang sedang berjuang untuk sembuh agar bisa menemani Tantri sampe besar. Itu janji Abang. Abang orang baik. Kaka jangan marah-marah sama Abang yah! Tantri minta maaf kalo Abang ada salah. Tolong doakan Abang untuk sembuh?" Tanti berbicara dengan pandangan menatap iba pada Qari.


Qari tercubit hatinya, tanpa terasa air matanya jatuh dengan kesedihan mendengar kisah Tantri.


"Apa yang di dalam sana Alzam?" lirih Qari. Membalas tataban iba Tantri.


Tantri kembali menatap ruang oprasi dan memberikan anggukan lemah sebagai jawaban ia.


"Oh... ya Tuhan,..." air mata Qari tiba-tiba sajah mengalir deras di pipinya.


"Jadi dia cuti bukan untuk urusan keluarga? Tapi dia sakit?" Qari bertanya ulang, rasanya bagai dihantam sebuah bonkahan balok. Dadanya merasakan kesakitan yang luar biasa.


Tantri kembali mengangguk, bibirnya ia gigit kuat-kuat sampai meninggalkan bekas gigi-gigi yang menancap di daging kenyal itu. Ia tengah berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya.


"Sakit apa?" tanya Qari ia sangat penasaran dengan kondisi Alzam.


"Kangker Sacoma di kaki sebelah kiri, menyerang tulang kaki keringnya," lirih Tantri, tetapi pandanganya kosong.


"Astagah Alzam... kenapa... kenapa... dia diam saja, tidak bercerita kondisi yang sebenarnya?" Qari larut dalam kesedihan dan banyak penyesalan yang tiba-tiba datang dan membuat hatinya sesak. Ia memukul-mukul dadanya seolah mengeluarkan sesak itu.


Tantri dan Qari larut dalam kesedihanya.


****


Sementara Naqi di ruanganya tengah marah besar. Mengamuk karena laporan dari pagi tidak ada yang selesai.


"Qari....!!!" Naqi menggenggam jari-jarinya dengan kuat. Manakala pangilan terakhirnya tidak diangkat oleh adiknya.


"Ini yang gue khawatirin semua kerjaan kacau balau. Semua gara-gara Al... kenapa dia berikan tanggung jawab ini sama anak bau kencur itu." Naqi menggerutu terus meneru.


Ia juga bingung mau mengerjakan laporan dari mana. Kondisinya kacau balau. Sangat berantakan dan tidak memungkinkan untuk memperbaiki seorang diri.


Naqi memutuskan menghubungi Alzam, asistennya.


Satu pangilan tidak diangkat...


Di rumah sakit Tantri kembali mendengar pangilan telepon yang ternyata dari Bos Abangnya. Tantri bingung mau bagaimana. Menurut pesan Abangnya ia tidak boleh mengangkatnya. Namun sepertinya itu sangat penting pasalnya pangilan terus menerus.


"Siapa?" tanya Qari yang melihat Tantri tengah kebingungan.


Tantri menyodorkan ponsel yang dilayarnya tertera nama Bos Naqi memanggil...


"Oh... astagah." Qari menepuk jidatnya dan segera mengecek ponselnya.


"Ya Tuhan mati aku," batin Qari, ia sangat panik manakala begitu banyak panggilan dan pesan dari Abang sekaligus Bosnya. Ia bingung mau bagai mana, sedangkan meninggalkan Tantri seorang diri juga tidak mungkin.


****


"Ini orang-orang pada kenapa sih? Kenapa pangilan gue nggak ada yang diangkat satu pun, pesan juga tidak ada yang dibalas." Naqi kembali marah-marah tidak jelas.


Ia mencoba duduk dan mencoba mengambil satu map, dan mengerjakan laporan seorang diri. Namun otaknya tidak memungkinkan untuk bekerja. Emosinya telah menguasai otaknya sehingga yang ada adalah kemarahan yang tertinggal.


Di rumah sakit Qari memutuskan menghubungi Abangnya.


[Halloh...] bentak Naqi. [Kamu diminta Kakek pulang, untuk membantu perusahaan, tapi kenapa kamu kamur Qari? Kenapa kamu jadi anak tidak bisa diandalkan sedikit pun, Qari? Kenapa kamu hanya menyusahkan, Hah....?] Terdengar kemaran Naqi dari sebrang sana. Kemarahan yang membuat siapa sajah yang mendengarnya pasti akan merasa ketakutan.


[Abang...] Qari terisak, bukan karena takut akan kemaran Abangnya, tetapi entah tangisan apa, yang jelas hati Qari tengah sedih.


[Kamu kenapa? Jangan pura-pura jual kesedihan untuk mendapatkan maaf dari Abang. Kesalah kamu sudah sangat fatal. Kamu tetap harus dihukum dan di laporkan pada Kakek.] Naqi masih diselimuti hawa emosi.


[Abang, Alzam lagi sakit, dan sekarang Qari tengah menemani adik Alzam di depan ruang operasi.] Akhirnya Qari berbicara jujur pada Naqi. Agar tidak marah-marah terus.


[Kamu jangan gunakan alasan Alzam sakit, hanya untuk menutupi kesalahan kamu, Qari. Itu tidak lucu.] balas Naqi, tidak percaya kalo Alzam sakit. Selama ini Naqi melihat Alzam itu sehat-sehat sajah, dan tidak sekali pun ia melihat ada tanda-tanda Alzam sakit. Dia seperti biasanya sangat sehat, cekatan, sangat bisa diandalkan.


[Abang kali ini sajah gunakan hati nurani Abang. Kalo Abang tidak percaya datang ke rumah sakit, Menuju Sehat. Aku ada di depan ruang operasi menunggu Alzam bersama adiknya.] Qari dengan suara lemah meminta Naqi menemuinya, agar percaya.


Naqi pun heran kenapa tiba-tiba suara Qari menjadi lemah lembut sekali. Biasanya ia akan ngegas disetiap ngomong dengan siapa pun.


Naqi pun jadi penasaran, apa jangan-jangan memang benar Alzam sakit. Ia menyambar ponsel dan kunci mobi untuk memastikan ucapan Qari, Naqi mengarahkan mobilnya pergi ke rumah sakit, Menuju Sehat. Ia akan memastikan omongan Qari benar atau tidak. Andai itu hanya akal-akalan Qari, maka Naqi akan menghukum anak nakal itu.