
Obrolan kali ini mungkin menjadi obrolan paling serius sepanjang hidup Naqi dengan mamihnya. Sebelumnya obrolan mereka hanya terjadi karena seperlunya. Mamih justru terkesan cuek dan terserah apa mau anak-anaknya. Namun kali ini Naqi tahu bagai mana sedihnya menjadi ibunya itu. Bagai mana sulitnya menjalani kehidupan rumah tangganya di saat dia memiliki suami seperti papihnya.
Pasti sebelum mamih setegar sekarang, di awal mengetahui bagaimana kelakuan suaminya cukup membuat sakit hati dan entah bagaimana terpuruknya saat itu mamihnya. Pantas saja mamih sangat marah ketika mengetahui Naqi merencanakan pulang kerumah, padahal lukanya masih sangat rawan untuk di rawat di rumah. Dengan tujuan agar bisa berlama-lama bersama wanita yang di cintainya, padahal mereka sudah tidak ada hubungan yang mengikat.
Kecewa, sedih campur marah, mamih rasakan pada putranya, bukan karena wanita paruh baya itu benci dengan putranya, melainkan terlalu sayang. Sehingga mamih tidak mau nanti di kemudian hari Naqi terlibat masalah Lagi karena Cyra yang kecewa dengan cara kotornya.
Naqi perlahan mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap wajah mamihnya. Terlihat dengan jelas wajah kecewa mamih, bahkan mata mamih memerah. Mungkin mamih sempat meneteskan air mata kekecewaan. Naqi tidak begitu mengetahuinya sebab sejak tadi ia berbicara dengan mamihnya tidak berani untuk menatap wajah mamih. Dia tidak sekuat orang lain, ia tidak tega melihat ekspresi wajah marah, dan kecewa ibunya.
Naqi dengan menahan punggung yang terasa pegal, berusaha mendekatkan diri kearah mamihnya. Ia menghamburkan diri memeluk mamihnya. Entah sudah berapa lama dia tidak melakukan ini. Berpelukan dengan wanita yang telah mengandung dan melahirkanya.
"Maafkan Naqi Mih. Naqi tidak bermaksud membuat mamih sedih. Dalam pikiran Naqi hanya satu, bagaimana agar bisa selalu berdekatan dengan Cyra. Naqi kangen banget dengan Cyra dan ketika ada kesempatan Naqi bisa bersama Cyra, Naqi tidak mau melepaskan Cyra. Naqi ingin selalu bersama Cyra," Akunya, dengan suara berat dan bergetar. Sebelumnya Naqi sama sekali tidak memikirkan bagaimana mamihnya akan sekecewa ini. Yang ada di pikiranya hanya satu Cyra, Cyra dan Cyra. Mungkin Naqi sampai lupa bahwa namanya cinta tidak harus sampai memaksa. Kalau seperti ini apa bisa di katakan cinta? Sepertinya ini bukan cinta tetapi obsesi, sehingga ditakutkan nanti apabila ada yang lebih dari Cyra, maka Naqi akan mengabaikan Cyra karena rasanya sudah berkurang dan bisa jadi malah bosan.
"Mamih sudah memaafkan kamu, tapi bolehkan mamih kecewa sama cara kamu. Mamih bukan tidak sayang sama kamu, tertapi kamu adalah anak yang paling mamih sayang, sehingga mamih sedih ketika anak kesayangan mamih mengikuti jejak Luson. Biarkan darah Luson mengalir di tubuh kamu tapi jangan mewarisi sifat buruknya. Mamih sudah sangat bersyukur ketika Luson tidak menurunkan sifat buruknya pada anak kesayangan mamih. Tunjukan sama mamih kalo kamu berbeda dengan papih kamu. Sabar, serahkan dengan Tuhan jodoh kamu, jangan memakksakan cinta karena tidak akan ada gunanya memaksakan cinta. Biarkan cinta tumbuh dengan alami. Mamih yakin kamu bisa melewati ini semua." Mamih menepuk punggung putranya yang tidak terluka dengan lembut, memberikan semangat pada anak kesayanganya itu.
"Terima kasih Mih, atas peringatan yang mamih tunjukan dengan Naqi. Andai mamih mengabaikan sikap Naqi mungkin Cyra akan benar-benar tidak memberikan kesempatan kedua lagi buat Naqi meraih cintanya. Naqi akan mengikuti apa saran dari mamih. Jangan pernah bosan yah Mih, untuk menegur Naqi, karena Naqi masih sangat butuh mamih untuk menasihati Naqi." Antara sadar dan tidak Naqi berbicara seromantis itu terhadap mamihnya. Di mana dia adalah anaknya cukup kaku dengan mamihnya. Hubungan Naqi dan mamih hanya sebatas say hay biasa, layaknya ibu dan anak tanpa ada ucapan atau perhatian yang di tunjukan khusus terhadap mamihnya.
Gengsi? Mungkin itu yang Naqi rasakan ketika harus mengucapkan kata yang romantis dan bahkan sebuah pelukan hangat dari seorang anak terhadap ibunya juga hampir tidak pernah setelah Naqi beranjak remaja. Namun kali ini semuanya di patahkan. Naqi sendiri yang menarik diri kedalam pelukan hangat ibunya, dan juga dia yang menyusun kata-kata romantis mengandung makna cinta yang sangat dalam untuk wanita istimewanya itu.
"Mamih tidak akan pernah bosan memberikan nasihat dan memperingatkan anak-anak mamih. Karena mamih ingin mereka bahagia. Mamih ingin bahagia di hari tua dengan kalian dan tentunya cucu-cucu mamih yang lucu-lucu. Mamih juga sama Naqi, seperti orang tua di luaran sana yang memimpikan anak-anaknya berumah tangga dengan bahagia dan memberikan kado terindah buat mamih, cucu-cucu yang lucu yang selalu merawaikan rumah adalah impian sedehana mamih sayang." mungkin dengan Naqi mengetahui keinginan ibunya itu dia akan lebih bisa bersabar meraih cinta Cyra dan berjuang dengan bersungguh-sunggu agar seperti yang mamih katakan ketika kita meraihnya dengan perjuangan makan hal itu akan lebih merharaga dan bernilai tinggi. Dibandinkan mendapatkan dengan instan dan semuanya hanya bertahan sebentar, karena ketika bosan akan mudah membungnya dengan anggapan ia bisa kembali mendaptkan yang lain dengan mudah apa yang ia inginkan dengan cara yang instan itu.
Naqi bisa bernafas lega, dan sangat bersukur memiliki mamih sekaligus merangkap sebagai papihnya, menegur dengan tegas ketika anaknya salah. Tidak meninggalkanya dengan jalan salah yang Naqi ambil. Tetapi Mamih menyeret Naqi agar kembali ke jalan yang sewajarnya. Cinta seorang ibu tidak dapat di ragukan lagi dari mamih, meskipun kadang bersikap cuek dan bodo amat dengan anak-anaknya mau berantem atau apa tetapi mamih sangat peka ketika kesalahan anaknya yang fatal mamih akan bergerak paling depan untuk menegur anaknya.
Awalnya Naqi sama kesal ketika mamihnya ikut campur dengan rencananya, tetapi setelah tahu tujuanya mamih melakukan semua itu. Naqi berbalik penilaianya, sangat bersyukur dan berterima kasih karena biarpun papihnya tidak pernah memperdulikanya, tetapi mamihnya ada di saat Naqi membutuhkan bimbingan orang tua dengan jalan yang benar.
Berat? Pasti menjadi mamih sangat berat, membesarkan dua orang anak yang memiliki sifat yang sangat jauh berbeda, terlebih Qari yang unik dan selalu bertingkah, tetapi mamih bisa menunjukan bahwa bahu seorang ibu mampu memikul beban berat itu. Mamih cukup kenyang memiliki anak seperti Qari tetapi di balik sifat Qari dari jaman sekolah yang selalu bar-bar tetapi Qari paling mengerti perasaan mamihnya. Qari paling sensitif dengan kesedihan mamihnya. Sehingga mamih berfikir mungkin tingkah konyolnya Qari sebagai wujud menghibur mamihnya agar tidak berlarut dalam sedihan yang papihnya torehkan dengan nasib rumah tangganya.
Terbukti dengan mengurus kenakalan Qari mamih bisa melupakan kesedihany yang hanya mamih yang bisa merasakanya.
"Iya Mih, Nanti Naqi minum obat," jawab Naqi pasrah kalo tidak mau di jewer sama ibu negara.
Mamih pun bangkit dari duduknya berjalan dengan hati dan fikiran sudah seringan kapas.
"Mih," panggil Naqi, ketika mamih sudah membuka setengah puntu kamar putranya.
Mamih menoleh dan menyipitkan kedua matanya dengan alis berkerut, seolah melemparkan pertanyaan, apa lagi?
"Salam buat calon istri, kangen. Di tunggu di kamar!" ucap Naqi dengan bibir menipis menandakan laki-laki itu tengah menahan senyumnya.
"Istirahat!! Jangan macem-macem, awas ajah kalo berani nakal-nakal lagi, mamih nikahin kamu sama Mbok Ijul (Tukang jamu langganan kakek).
"Ih amit-amit mamih, bercanda doang," bela Naqi, agar tidak dinikahin dengan Mbok Ijul di mana tukang jamu langganan kakek itu sudah seumuran kakeknya udah gitu giginya ompong di bagian depan dan hitam-hitam pula.
"Makanya jangan macem-macem," ancam mamih dengan mata melotot sebesar bola kasti. Eh bola golf ajah deh bola kasti ke gedean susah kedipnya nanti....
...****************...
Sambil nunggu kelanjutan Curhatan Rania, Cyra dan Mamih yuk mampir ke novel karya bestie othor 'Mom Al'. Wajib mampir yah, dan pastikan sebelum baca kalian tekan favorite, tinggalkan jejak dan dukungan komenya. Sekalian bawa mawar atau kopi biar othornya happy...
Selamat membaca....