Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Laki-Laki Misterius


Setelah mempersiapkan semuanya barang-barang yang akan di bawa, tidak lupa oleh-oleh untuk teman dan mantan ipar dan mertuanya. Hari yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Hari ini Cyra, momy dan juga Mr Kim akan pulang ke Indonesia. Wajah Cyra sudah nampak pucat padahal mereka belum melakukan penerbangan bahkan dari jadwal masih harus menunggu sekitar setengah jam lagi.


"Sayang kamu kenapa pucat seperti itu, apa kamu masih takut akan mabok?" tanya momy dengan sangat berhati-hati. Mana dari tadi mereka melihat Cyra selalu gelisah dan tidak bisa diam, seolah Cyra tengah dilanda kebingungan.


"Entah Mom, Cyra juga tidak tahu tapi Cyra akan mencoba mengikuti kata mommy biar nggak mabok," jawab Cyra mencoba menenangkan momy dan orang-orang sekitar.


Cyra mencoba menekan rasa takutnya sampai ia benar-benar rasa takut itu sudah pergi dan orang-orang disekitarnya mengira bahwa Cyra sudah tidak merasakan takut lagi. Sampai Cyra benar-benar sudah terbang awalnya ia sangat tegang dan bahkan wajahnya sangat pucah bahkan Cyra tidak berani berbicara karena takut akan mabok. Padahal setelah mengikuti saran mommy untuk mencoba santai dan tidak merasa sedang di persawat Cyra tidak merasakan apa-apa lagi. Yah meskipun Cyra tidak mau makan dan tetap tidak mau berbicara apapun.


Sampai penumpang laki-laki misterius yang berada di samping Cyra dengan penampilan rapih dan menggunakan masker, datang menghampiri Cyra.


"Apa Anda sedang merasakan mabok udara nona? Saya perhatikan Anda sejak tadi gelisah dan wajah Anda pucat tidak karuan. Kalo boleh tahu apa Anda sedang mengalami mabok udara?" tanya laki-laki misterius sok kenal yang duduk di samping Cyra. Sementara mommy dan Mr Kim langsung memberikan tatapan membunuhnya karena takut laki-laki itu akan berbuat jahat terhadap Cyra.


Cyra yang memang tebakan laki-laki itu benar pun menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia memang tengah mengalami mabok udara.


"Kalo begitu coba lah makan permen ini dan pasti Anda tidak akan merasa mabok lagi." Laki-laki mesterius itu memberikan satu bungkus permen yang diyakininya bisa menyembuhkan rasa mual karena mabok udara.


Awalnya Cyra tidak langsung percaya bahwa apa yang laki-laki itu sampaikan akan berhasil terlebih rasa mual hanya disembuhkan oleh sebuah permen yang bentuknya sangat kecil dan terlihat sangat biasa sajah. Terlebih Cyra juga tidak tahu laki-laki itu baik atau justru laki-laki jahat, apalagi Cyra belum mengenal laki-laki miaterius tersebut. Bagai mana kalo isi dalam permen itu narkoba atau obat penenang lainya, tentu Cyra harus waspada dengan itu semua.


"Kenapa Nona, apa Anda takut dan mengira bahwa saya adalah orang jahat dan saya akan mencelakai Anda dengan satu bungkus permen ini? Saya tidak bodoh Nona di mana mau berbuat kejahatan pada Anda dan di tempat serame ini. Belum dua pengawas Anda sekarang saja tengah menatap saya seolah saya akan dicintang oleh mereka. Coba Anda lihat ke sana! Pengawas Anda tengah bersiap mengangkat samurai dan tombak untuk melindungi Anda, Nona. Jadi mana berani saya mencelakai Anda. Saya berani siap untuk di tombak dan di penggal kepalanya oleh orang-orang penjaga Anda itu semua karena saya kasihan melihat Anda yang masih pucat karena menahan mual di udara. Percaya atau tidak saya itu sebenarnya merasakan rasa yang sama setiap berpergian menggunakan pesawat terbang, saya akan mabok. Sampai ada salah satu penumpang menyarankan makan permen ini, dan sampai sekarang saya bisa menghilangkan mabok udara dengan permen ini." Laki-laki misterius itu terus memberikan keyakinan bahwa dia bukan orang jahat seperti yang Cyra cemaskan.


Cyra menatap laki-laki mistirius itu, dan sepertinya ia kenal dengan matanya, walaupun ia memakai kaca mata, tetapi ada satu perbedaan dari laki-laki yang ada di hadapanya dengan laki-laki yang mengisi relung di hatinya. Warna kulit keduanya memiliki warna kulit yang berbeda.


"Baik lah Nona kalo Anda masih takut kalo saya akan berbuat jahat, saya akan kembali ke tempat duduk saya kembali." Laki-laki misterius itu pun bersiap akan membalik badanya dan akan kembali ke tempat semula ia duduk.


"Tunggu Tuan!! Saya akan coba apa saran Anda. Mana permenya." ucap Cyra, dengan nada jutek.


"Ini bukan narkoba atau racun kan Tuan?" tanya Cyra sebelum ia memakan permen itu, memastikan bahwa memang yang Cyra makan tidak berbahaya.


"Hahaha, Anda lucu sekali Nona. Kalo racun mungkin saya lebih dulu yang akan mati karena setiap penerbangan saya memakan permen itu dan itu tidak satu atau dua biji, dan kalo ini narkoba mana bisa lolos sedang saya membawanya satu pak besar buat setok kalo ada penumpang yang merasakan nasib seperti saya, suka mabuk udara." Laki-laki misterius itu pun mencoba meyakin kan kalo memang yang ia beri adalah real permen dengan rasa jahe dan membuat tenggorokan lega dan tidak mual.


Setelah mendapatkan kepastian dari laki-laki misterius itu Cyra pun menerima permen itu dan memakanya. Ia menikmati permen itu yang memang pada kenyataanya sangat enak di tenggorokanya. Dan benar yang dikatakan laki-laki misterius itu bahwa rasa mual yang Cyra rasakan tiba-tiba menghilang. Cyra pun bisa merasakan naik pesawat dengan hati dan bisa menikmati suasana di dalam pesawat. Tidak seperti waktu pertama kali dia naik pesawat terasa dunia mau kiamat, badan sampai pucat dan tidak ada gairah untuk makan sama sekali.


Kali ini justru Cyra bisa makan dengan dengan lahap. Dari samping laki-laki misterius itu tersenyum dengan bahagia karena ia bisa membuat Cyra menikmati naik pesawat tanpa merasakan mual karena mabok udara.


Setelah makan kenyang kini Cyra bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada rasa mual-mual lagi. Tanpa terasa perjalanan panjang yang cukup mengerikan di awal karena takut akan mabok kini sudah bisa dilewati dan tanpa ada rasa yang mengerikan itu. Mual dan pusing seketika tidak lagi Cyra rasakan karena permen dari laki-laki misterius itu. Cyra ingin menyampaikan rasa terima kasih pada laki-laki itu, berkat dia Cyra tidak merasakan mabok udara lagi. Tadi dia lupa mau mengucapkan terima kasih. Begitu selesai makan Cyra langsung ketiduran karena perut yang sudah kenyang.


Begitu Cyra sudah turun dan ingat belum sempat mengucapkan terima kasih. Cyra sampai keliling mencari laki-laki misterius itu tetapi Cyra tidak sedikit pun tidak menemukanya.


"Kamu cari siapa sih sayang? Kok kayaknya dari tadi gelisah amat?" tanya momy yang melihat Cyra melihat gelisah kesana kemari seolah tengah mencari seseorang.


"E... momy lihat orang yang tadi duduk di samping Cyra nggak? Dan tadi dia kasih Cyra permen sehingga Cyra nggak jadi mabok. Tapi tadi Cyra belum sempat memberikan ucapan terima kasih udah kehilangan jejak," jawab Cyra tetapi bola matanya masih mencoba mencari kesana kemari barang kali laki-laki itu masih ada di samping Cyra.


"Tidak sayang, momy malah nggak begitu ingat orangnya yang seperti apa," jawab Mommy.


Cyra pun tidak lagi mencari-cari karena memang laki-laki itu sepertinya sudah tidak ada lagi.


Namun dari balik tihang yang besar laki-laki misterius itu tersenyum. "Sama-sama cantik, aku bahagia kalo kamu juga bisa bahagia. Semoga suatu saat kita bisa di pertemukan lagi. Sampai Tuhan menjawab doa-doaku."