
Setelah mandi Cyra dan Meta pun turun untuk sarapan yang sudah lewat. Bahkan ini sih bukan sarapan lagi namanya, tapi merangkap sekaligus sarapanya dobel sekaligus makan siang.
"Mamah, kanget..." Cyra memeluk Mamah Mia yang tengah menonton TV.
"Eh kamu sayang, kapan datang? Mamah juga kangen, kangen banget malah sama kamu Nak." Mamah Mia, membalas pelukan anaknya yang bontot.
"Semalam Mah," jawab Cyra singkat.
"Ayo cin makan nanti keburu pinsan you." Meta meminta Cyra buruan makan.
Karena merasa kasihan dengan Fifah yang pasti dia juga kelaparan di atas sana Fifah dan Meta pun akhitnya makan di atas sekaligus membawa makanan untuk Fifah.
Setelah sarapan sekaligus makan siang, Cyra dan Meta pun memutuskan untuk menyambangi rumah Tuan Latif. Lebih tepatnya Meta menjadi sopir pribadi Cyra untuk mengantarkan pulang ke rumah keluarga Ralf.
Begitu Cyra sampai, ia pun langsung di sambut Mamih. "Sayang, kamu kemana saja, tau nggak pagi tadi di rumah ini terjadi kehebohan pada nyari kamu, tapi kamu nggak ada di kamar, kamu kemana ajah sih sayang?" Mamih tampak murung, sebenarnya Cyra pun mulai tidak nyaman dengan orang-orang rumah ini. Hanya mamih orang yang tidak pernah ikut-ikut urusan apa pun, sehingga Cyra menganggap mamih sudah seperti orang tua sendiri.
"Ah... itu Mih, Cyra habis mengerjakan syuting untuk endorse sehingga malam hari Cyra pergi ke rumah Meta." Cyra yang belum ada persiapan untuk jawaban pun berbicara terbata. "Cyra mau ketemu Kakek, beliau ada Mih?" Cyra bertanya dengan bahasa yang sangat formal sehingga membuat mamih sedikit heran.
"Kakek? Tumben kamu cari Kakek?" Mamih sangat heran dengan kelakuan Cyra pagi ini yang mana Cyra juga terlihat menahan kemarahanya, tidak seperti Cyra yang seperti biasanya ramah dan murah senyum.
"Enggak Mih, ada yang mau Cyra tanyakan saja sama Kekek." Cyra tidak ingin Mamih tahu dengan semuanya sebelum kakek yang memberi tahu semuanya.
"Ok lah kalo memang penting kamu bisa temui kakek di ruangan kerjanya. Kakek lagi kerja menggantikan Naqi dari rumah." Mamih memberitahu keberadaan kakek.
Cyra sebenarnya ada rasa takut, apabila ia mengganggu Kakek, tetapi ia juga ingin tahu dengan keluarganya. Enggak bisa Kakek seenaknya sendiri menyembunyikan kebenaranya. Cyra juga butuh sosok orang tua, sosok keluarga.
"Terima kasih Min, Cyra temuin Kakek dulu yah Min." Tanpa menunggu jawaban dari Mamih, Cyra pun langsung meninggalkan mamih yang Cyra tahu, mamih tengah bingung dengan tingkah dirinya.
****
Cyra masuk keruangan kakek, setelah ia sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sementara Meta di luar gerbang tengah berdoa untu Cyra. Meta terlalu parno, ia sangat takut kalo Cyra diapa-apakan oleh Tuan Latif. Tapi Meta nggak bisa berbuat banyak, pasalnya yang awalnya ia akan ikut masuk ke dalam, dan membantu Cyra untuk berbicara dengan Tuan Latif di tolak oleh Cyra. Dengan alasan semuanya akan baik-baik saja. Cyra meyakinkan Meta bahwa semuanya akan sesuai dengan misi mereka.
Cyra sangat percaya diri bahwa Kakek tidak akan berbuat kasar pada dirinya. Setelah Cyra meyakinkan Meta cukup lama. Kini Meta pun menunggu di dalam mobil dengan tangan dan mulut komat kamit membaca doa agar anak angkatnya terlindungi dari kebengisan Tuan Latif.
"Di mana Kakek sembunyikan keluargaku? Kenapa Kakek tega membiarkan aku berpisah dengan mereka, di mana hati nurani Kakek? Apa Kakek tidak tahu buhwa aku sangat menginginkan sebuah pertemuan dengan orang tuaku. Kakek kejam membiarkan aku seperti orang hilang tanpa tau siapa orang tuaku." Cyra tidak bisa lagi membendung emosinya, ia mengira bahwa Kakek memang sengaja menyembunyikan keluarganya.
Kakek masih tampak santai, hal itu menambah emosi bagi Cyra.
"Jadi kamu sudah tau semuanya, duduk lah dulu biar Kakek ceritakan semuanya." Kakek menyodorkan tanganya agar Cyra duduk di depanya. Cyra sebenarnya sangat enggan mengikuti semua keinginan Kakek, tetapi ia juga penasaran kenapa Kakek melakukan itu semua pada dirinya. Sedangkan selama ini kakek sangat baik dengan Cyra.
"Kamu mau dengar cerita dari yang mana dulu? Biar Kakek bisa ceritakan dengan kamu." Kakek justru menantang Cyra agar menyebutkan kisah yang lebih dulu Cyra mau, kakek akan mengawali cerita mengenai keluarganya.
"Siapa orang tuaku dan di mana mereka?" Cyra tanpa pikir panjang dan berbasa basi langsung ketopik permasalahan.
Kakek pun masih tampak tenang dan hanya terlihat tarikan nafas yang dalam menandakan Kakek juga tengah berusaha menekan emosinya, sama seperti yang Cyra lakukan.
"Papah kamu namanya Darya dia sudah meninggal...(Kakek tidak melanjutkan ucapanya, karena Cyra lebih dulu menyelanya)
"Bohong!!! Kakek pasti berbohong lagi kan? Mau sampai kapan Kakek bohongi Cyra terus. Ka Fifah bilang orang tua Fifah masih ada, dan Kakek yang sembunyikan keberadaan mereka. Apa yang Kakek mau dari keluarga Cyra? Bukankan Kakek sudah ambil semuanya. Harta, dan yang lainya sudah Kakek ambilkan? Maka Cyra mohon kembalikan keluarga Cyra. Cyra ingin hidup bahagia dengan mereka." Cyra mulai terisak. Kelopak matanya memanas. Rasanya ia benar-benar tidak kuat untuk berkata-kata lagi. Tenggorokanya sudah tercekik oleh kemarahan.
"Jadi Fifah yang memberitahu semuanya. Tahu apa bocah ingusan itu. Dia tidak tahu apa-apa kenapa bisa kamu percaya sama dia. Bahkan keluarganya saja yang sudah membuat kamu kehilangan semuanya. Lantas kamu masih bisa percaya dengan dia?" Kakek justru tertawa mengejek. Hal itu lebih memancing kemaran Cyra.
"Kalo mereka memang jahat apa gunanya mereka meminta Cyra menanyakan pada Kakek. Sebenarnya di sini keluarga Tuan Kifayat yang jahat atau Anda Tuan Latif yang jahat sesungguhnya?" tanya Cyra dengan nada penuh ejekan juga.
Cyra sudah tidak peduli dengan kemarahan kakek, yang ia inginkan Kakek mengatakan di mana sebenarnya keluarganya. Bukan jawaban tidak jelas, telebih mengatakan Papahnya sudah meninggal dunia. Hal yang membuat jatung Cyra bergemuruh memompa darah semakin cepat karena kemarahanya.
"Apa foto yang pernah Cyra lihat di ruangan kerja ini adalah Ibuku? Di mana beliau sekarang berada? Apa Kakek juga akan mengatakan hal yang sama. bahwa Ibuku sudah meninggal?" tanya Cyra dengan nada memohon.
"Iya, dia adalah Ibu kamu, namanya Ezah. Dia belum meninggal, tetapi dia sudah seperti orang meninggal. Semua ini karena keluar Tuan Kifayat yang menyiksa Ibumu hampir dua puluh tahun lamanya, sehingga kondisi Ezah hidup tetapi seperti orang mati.
"Tidak mungkin, Kakek pasti berbohong. Kakek pasti mengarang cerita. Papah nggak mungkin melakukan itu semua. Pasti bukan Papah yang melakukanya. Dia hanya dijebak," isak Cyra ia tidak percaya dengan ucapan Kakek.
"Apanya yang tidak mungkin Cyra. Kifayat mencelakai kamu saja bisa. Memu-kul, menyik-sa kamu saja bisa, padahal kamu masih di bawah umur. Jadi yang mana yang kamu ragukan bahwa Kifatmyat tidak melakukan semuanya?" Kakek masih sangat santai menanggapi setiap ocehan Cyra yang sudah dikuasai kemarahan.
Cyra pun nampak menimang ucapan Kakek. "Lalu apa yang yang membuat Papah melakukan semua ini Kek? Cyra hanya ingin kumpul dengan orang tua Cyra."