Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Melamun


"Kamu kenapa Fah?" tanya Meta, dengan suara beratnya, yang melihat Fifah senyum-senyum seorang diri.


"Ah, tidak ini lihat anak temen-temen aku pada lucu-lucu banget. Aku jadi nggak sabar pengin buru-buru cepat lahiran juga, biar bisa pamer anak juga sama teman-temanku," ucap Fifah dengan tersenyum kecut, pasalnya yang barusan ia katakan pada Meta adalah sebuah kebohongan, agar Meta tidak curiga bahwa Fifah tengah stalking sosial media calon mantan suaminya dan istrinya kesayanganya.


"Oh, kirain kamu kenapa, ketawa-tawa sendiri mana masih pagi kan ngeri yah. Itu anak sulung belum bangun?" tanya Meta sembari memanyunkan bibirnya ke arah Cyra yang masih anteng nggak ada tanda-tanda akan bangun, padahal cahaya matahari sudah hampir di tengah-tengah ubun-ubun.


"Belum, dia kayaknya benar-benar kecapean," balas Fifah yang baru kali ini ia timbul rasa iba dengan adiknya. Dulu Fifah akan sangat cuek dengan Cyra, tetapi kali ini ia benar-benar kasihan dengan nasib Cyra.


Padahal Fifah belum tahu bahwa Cyra pun sebentar lagi akan menyandang setatus Jamur (janda di bawah umur) sementara Fifah akan menyandang setatus Jamu (Janda Muda).


Fifah belum banyak mengetahui kehidupan Cyra. Yang Fifah tau Cyra sekarang sudah menjadi model dan selebgram terkenal, tetapi ia belum begitu tahu kehidupan pribadi adiknya itu.


Aaaahhhhhh.... suara teriakan Cyra yang mana Cyra langsung duduk dan berteriak seolah orang yang kesurupan.


"Kenapa cin?" tanya Meta, yang melihat Cyra seolah tengah ketakutan dan seperti orang ling-lung.


Cyra yang melihat cahaya matahari sudah sangat silou pun tambah ketakutan.


"Met, ini jam berapa? Kita telat." Cyra buru-buru menyibakan selimutnya dan ia akan belari menuju kamar mandi, tapi buru-buru Meta cegat.


"You mau kemana sih? Duduk dulu!" Meta menekan kening Cyra dengan jari telunjuknya, dan Cyra pun mengikuti perintah Meta ia berjalan mundur dan kembali duduk di sisi tempat tidur.


Fifah yang melihat Meta dan Cyra pun terkekeh. Sungguh perlakuan yang sangat manis.


"Kenapa minta aku suruh duduk lagi? Ini itu udah siang nanti kerjaan aku gimana? Aku harus cari uang yang banyak Met, aku pengin buru-buru beli rumah sendiri dan keluar dari rumah Tuan Latif." Cyra protes dengan kelakuan Meta.


"You lupa, I'm itu manajer you. I'm yang atuh kerjaan you. Hari ini you libur, I'm sudah atuh semua jadwal you, aman nggak ada yang di cencel. Semuanya aman, you tinggal ganti di hari lain. You sekarang gunakan waktu hari ini untuk mengatur urusan rumah tangga you dan juga urusan you dengan Mr Latif. You tanya tuh keluarga you di mana dan siapa. Pokoknya you hari ini gunain waktu buat urusan pribadi you. Soal duit jangan difikirin terus, aman ko duit you sama I'm kalo you mau beli rumah udah cukup uangnya. Tinggal you tunjuk mau beli rumah di mana dan yang kaya apa. Bilang sama I'm nanti I'm urus semua." Meta pun menjelaskan semuanya dengan detail sampai Cyra speechless mendengar ucapan Meta.


"Cin, you dengar apa yang I'm bilang?" tanya Meta dengan penuh perhatian, dan mengucap pundak Cyra. Meta benar-benar takut kalo Cyra benar-benar kesurupan.


Dari tadi bangun tidur Cyra nampak sekali berbeda.


"Iya aku dengar. Cyra hanya kaget, ternyata kamu orang yang sangat baik dan benar-benar tanggung jawab dengan semua urusan Cyra. Aku pikir kamu hanya akan mengurusi jadwal kerjaan aku saja. Ternyata kamu juga mengurus semua urusan aku sampai akar-akarnya dalaman dan semuanya. Aku sampe bingung Met, mau ngomong apa sama kamu, selain terima kasih." Cyra memeluk Meta. Laki-laki yang Cyra anggap ibu angkatnya.


Buuuukkkk... sebuah bantal melayang ke punggung Meta. "Jangan macam-macam yah Pih, ini anak ajah masih baru jadi zigot dan besarnya ajah baru sebesar kacang ijo." Fifah mode emak-emak komplek.


Sekarang giliran Cyra yang terkekeh dengan kelakuan Fifah dan Meta. Cyra pun bangun membiarkan calon keluarga bahagia ia beradu mulut.


"Met... Maju terus kalo perlu pepet terus sampe nggak bisa gerak tuh bumil." Cyra yang kini berada di ambang pintu kamar mandi malah memberi semangat untuk Meta. Dan Meta pun membalasnya dengan mengajungkan kedua jari jempolnya.


Cyra di dalam kamar mandi terkekeh dengan kelakuan Meta dan Fifah. Setidaknya ia tertawa dulu dengan puas sebelum ia nanti sore menemui kakek. Yang Cyra yakin nanti di sana Cyra pasti bakal ber melow-melow dan tentu emosinya akan mudah sekali terpancing.


Cyra tidak menyangka bahwa Kakek yang selama ini ia nilai baik dan menjadi dewa penolong di saat ia dan Naqi ada masalah. Bahkan kemarin pun kakek masih membelanya dan melindungi dari Naqi yang notabenya ia adalah cucu kandungnya.


Cyra sangat bingung dan penasaran dengan kakek, tujuanya apa beliau menyembunyikan keluarganya? Apa yang membuat kakek melakukan itu? Yah, Cyra di kamar mandi tidak lantas mandi dan buru-buru untuk sarapan yang mana di dalam perutnya peliharaanya surah mulai berdemo.


Di dalam kamar mandi Cyra justru melamun, memikirkan semua kemuangkinan yang dikeluarkan dari mulut kakek sebagai jawaban atas pertanyaan Cyra.


Dari detik, berganti menit dan bahkan Cyra sudah lebih dari satu jam ia di kamar mandi. Namun tidak ada tanda-tanda bawa Cyra akan keluar. Meta dan Fifah pun nampak saling lirik. Memberi kode satu sama lain yang kode hanya bisa diartikan oleh mereka berdua.


Setelah saling lirik Meta pun menuju pintu kamar mandu...


Tok.....


Tok....


Tok....


"Cin... ini udah satu jam lebih you di kamar mandi, you baik-baik ajah kan?" Meta bertanya pada Cyra dari balik pintu kamar mandi yang sebelumnya ia sudah ketuk.


"Ah... iya sorry Met, aku keenakan melamun," balas Cyra, ia nggak sadar bahwa lamunanya justru sudah lebih dari satu jam.


"Astagah... you belum mandi?" Meta mengeleng-gelengkan kepalanya. Akhirnya ia mengalah memilih mandi di kamar mandi yang ada di dapur rumahnya.


Nunggu Cyra mandi bisa-bisa selesai lebaran haji. Fifah pun kembali terkekeh, sungguh tinggal di rumah Meta itu selain pemilik rumah yang baik, mereka pun sangat lucu. Sehingga Fifah bisa melupakan sejenak kemarahanya pada Niko.