Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Menemukan Teman Baru


Cyra di luar ruangan yang mendengar pertengkaran sepasang kekasih itu, karena kehadiranya yang dianggap hanya untuk mencari muka, oleh Rania. Cyra memilih pergi menenangkan diri. Entah kemana ia akan pergi ia mengikuti sajah kemana kakinya melangkah.


Melewati lorong rumah sakit yang sunyi. Cyra melihat ada sebuah masjid di sekitar rumah sakit, Cyra mendekat dan berencana menenagkan diri di sanah. Benar sajah setelah bersuci Cyra masuk. Ia lebih tenang terutama hawanya sejuk, sangat nyaman untuk menenagkan diri. Setelah menjalankan sholat Isya, Cyra memutuskan berdiam di dalam masjid. Dari pada harus mendengar pertengkaran suami dengan kekasihnya, rasanya menambah beban fikiran sajah.


Tidak lama terdengar seseorang masuk juga ke dalam masjid yang hendak melaksanakan sholat Isya juga. setelah selesai sholat laki-laki itu pun duduk dan bersandar ke dinding. Seolah tidak melihat keberadaan Cyra. Nampak sekali sang laki-laki tersebut lemas seolah telah kehilangan semangat hidupnya. Pandanganya kosong dan tersirat kesedihan yang mendalam.


Karena jenuh tidak ada teman ngobrol Cyra pun bermaksud menghampiri laki-laki itu.


"Ehemz... malam Mas, mohon maaf kalo lancang, sedari tadi saya perhatikan Mas'nya lemas dan seperti ada masalah? Kalo boleh tau kenapa?" tanya Cyra dengan sopan, terkesan kepo dan sok kenal sih, tapi biar yang penting niatnya baik ingin mengajak ngobrol, kali sajah bisa mencairkan suasana.


Hening.... Sekian lama nggak ada jawaban dari lawan bicar Cyra. Ia pun jadi merasa bersalah karena telah terlalu kepo dengan urusan orang lain bisa sajah laki-laki tersebut malas mendengarkan ocehan Cyra.


"Maaf Mas, anggap sajah saya tidak bertanya. Saya lancang terlalu kepo dengan urusan Anda." Cyra bergegas akan berdiri dan kembali lagi ke kamar Rania.


Namun dengan sigap, tanganya di cengkram oleh laki-laki tersebut. "Jangan pergi, aku pengin cerita tapi bingung dari mana aku memulai cerita ini. Hidupku terlalu berat dan rumit, kehidupanku terlalu berat lagi." Laki-laki itu merancau seolah ingin menuangkan beban berat dalam dadanya, tetapi bingung harus mulai dari mana.


"Sebelumnya Mas'nya namanya siap? Nama saya Cyra, saya disini tengah menemani suami saya menjenguk teman wanitanya," jelas Cyra dengan santai.


Laki-laki itu menyipitkan matanya, "Suami kamu? Dengan teman wanitanya?" tanya laki-laki tersebut dengan nada heran.


Cyra pun menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecut.


"Aku pikir hidup aku yang sulit, ternyata masih ada yang lebih sulit lagi," batin Adam, Yah, laki-laki itu bernama Adam.


"Oh iya, nama ku Adam, aku bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter bedah, dan aku memang sedang banyak fikiran, terutama dari tunangan aku yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, padahal dua bulan lagi kami memutuskan untuk menikah." Adam menceritakan kronologi yang membuat Adam murung dan bersedih


" Hemz, apa Anda sudah mencarinya ke keluarga atau sanak soudara dan teman-temanya?" tanya Cyra.


"Sudah bahkan semua yang kenal dengan tunangan aku sudah aku tanyakan keberadaan dia, tetapi aku belum menemukanya," jawab Adam dengan lesu.


"Sabar yah mudah-mudahan masalah Anda lekas menemukan jawaban terbaiknya. Percayalah jodoh, rezeki, maut Allah sudah atur semuanya." Cyra memberikan semangat untuk Adam. Laki-laki yang baru sajah ia kenal.


Adam mengangguk dan tersenyum manis, cukup lama Adam dan Cyra saling bercerita.


Sedangkan Naqi di kamar rawat Rania...


Kenapa ini badan aku perasaan dari tadi panas banget, serasa ruangan ini nggak ada AC, Naqi mengibas-ibaskan bajunya agar badanya tidak gerah.


"Kenapa sayang?" tanya Rania yang melihat Naqi sedari tadi gelisah dan seolah tengah merasakan sesuatu.


"Nggak tau yang, badan aku serasa panas, gerah tapi ruangan ini ber AC," jawab Naqi asal.


"Apa kamu salah makan sesuatu sayang?" ucap Rania semakin kasihan melihat gelagat Naqi yang makin tidak nyaman.


"Entah lah sayang, perasaan aku makan normal," balas Naqi, tetapi ia mengingat-ingat kembali apa sajah yang ia makan sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Kakekkkk....." pekik Naqi ketia ia baru sadar dia sudah meminum jamu yang kakek maksud. Dia bukan Cyra, yang polosnya nauzubillah, dia cukup paham apa yang dimaksud kakek dengan manfaat jamu itu. "Bener-bener yah orang tua satu itu, selalu sajah nambah-nambah masalah. Kaya gini aku on mau gimana coba. Mana posisi di rumah sakit. Istri bocil, nggak bisa dipake," gerutu Naqi di dalam hati.


"Sayang aku pamit pulang dulu yah, sepertinya benar apa kata kamu aku barusan makan udang, makanan yang aku hindari karena alergi. Sepertinya tubuhku mulai bereaksi dan akan keluar bintik-bintik merah. Aku akan kedokter dulu nanti apabila sudah baikan, aku janji akan kembali lagi kesini," ujar Naqi sembari tanganya mengibas-ibaskan baju. Rasanya semakin menyiksa.


Naqi pun langsung melesat ke luar ruangan. Namun Cyra tidak nampak di luar ruangan.


"Aduh kemana lagi itu si Cyra, pake segala ngilang," geritu Naqi, lalu ia merogoh ponselnya dan men'deal nomor Cyra.


Di Masjid, Cyra yang masih bercerita dengan dokter Adam mendengar suara pangilan dari ponselnya.


"Sebentar yah Dok, Cyra angkat telefon dulu," ucap Cyra dengan ramah.


Adam pun mengangguk dengan senyuman manisnya.


"Halloh Ra, kamu di mana?" pekik Naqi dengan suara menggelegar di balik ponsel Cyra.


"Astagah, Mas Naqi kenapa? Kayak orang yang kesetanan sajah," ucap Cyra sembari mengusap usap telinganya yang panas karena teriakan Naqi.


"Udah buruan bilang kamu di mana?" balas Naqi dengan angkuh.


"Cyra ada di masjid rumah sakit, posisinya di belakang rumah sakit," jawab Cyra.


Tut... tut...tut... "Loh main putus ajah, nggak jelas banget," dumel Cyra sembari menatap layar pintarnya.


"Siapa?" tanya Adam, sembari terkekeh melihat reaksi Cyra.


"Mas Naqi, suami Cyra. Aneh banget dia tiba-tiba telfon, tapi kaya marah-marah gitu," jawab Cyra, heran apa yang terjadi dengan suaminya.


"Ah... udah lah dia memang gitu aneh," imbuh Cyra sembari mengibaskan tanganya.


Adam pun semakin terkekeh dengan Cyra, baginya rumah tangga Cyra dan suaminya itu unik, sehingga Adam pun penasaran dengan sosok suami Cyra.


Back to Naqi...


Naqi dengan tergopoh berjalan mencari masjid di rumah sakit ini, sesuai yang Cyra bilang bahwa letaknya ada di belakang bangunan rumah sakit.


Semakin lama rasa panas dan gairah untuk ber'cinta semakin terasa senjata kepemilikan Naqi sudah mulai menegang. Membuat jalan Naqi semakin tidak nyaman terlebih sesak dibawah sanah sudah semakin terasa.


"Di mana sih masjidnya kenapa aku jalan lama sekali tidak sampe-sampe," ucap Naqi, dengan bersungut-sungut tidak jelas. "Ah itu dia, tahan Naqi sebentar lagi kamu sampai." Naqi mencoba mengontrol anggota badanya yang mulai tidak setabil.


"Ber'eng'sek memang itu jamu," umpat Naqi nggak henti-henti mengutuk jamu sialan itu.


Begitu Naqi sampai di masjid, darahnya semakin mendidih dibuatnya oleh Cyra. Istri bocilnya justru tengah asik bercengkrama dengan laki-laki tampan nan rupawan. Yah dokter Adam adalah laki-laki tampan yang sangat karismatik.


"Enggak habis fikir, dia malah asik ngobrol dengan laki-laki sialan itu, di saat suaminya tersiksa begini," gumam Naqi, dengan wajah semerah tomat menahan emosi dan efek jamu yang semakin menyiksa tubuhnya.


Bersambung....


Aduh kira-kira Cyra bakal dihukum nggak sama Ayang Naqi...


...****************...