
Setelah membersihkan diri, Naqi keluar dengan menggunakan Bathrobe berwarna putih tulang. Kini tubuhnya sudah lebih fresh dan tidak terlalu menyiksa seperti tadi. Walaupun efek jamu masihterasa, tetapi setidaknya tidak terlalu menyiksa seperti sebelumnya. Di mana ia benar-benar seperti orang gila. Bahkan rasa malunya sudah digadaikan. Bisa-bisanya ia telanjang di depan Cyra.
Jujur Naqi sedikit merasa canggung ketika hendak keluar dari kamar mandi, itu karena perbuatanya yang gila dan konyol. Bertelanjang didepan istri bocilnya. Namun, Naqi berpura-pura lupa akan hal itu. Alias jurus 'muka tembok' dikeluarkan.
"Mas Naqi, kenapa Mas Naqi rusak baju Cyra! Kalo kaya gini Cyra harus pake apa?" pekik Cyra ketika Naqi baru sajah menyembul keluar dari kamar mandi.
"Ya Ampun kirain kamu sudah tidur," runtuk Naqi yang kaget dengan, pekikan Cyra.
"Gimana mau tidur Cyra nggak ada baju masa iya telanjang," oceh Cyra.
Naqi kembali lagi ke kamar mandi hendak mengambil bathrobe. Agar Cyra memakai bathrobe untuk sementara waktu sama seperti dirinya.
"Ini kamu pake ini ajah dulu! Nanti Mas minta Pak Kurso mengantarkan pakaian kamu kesini." Naqi menyodorkan bathrobe yang barusan ia ambil dari kamar mandi.
Cyra langsung menyambar handuk berbentuk jubah itu dan hendak memakainya.
"Mas ngadep kesana," titah Cyra dengan menunjuk arah yang memunggungi dirinya.
"Astagah Ra, barusan Mas udah liat, dan bentuknya kecil banget, ngapain sih harus malu," ucap Naqi sembari membuat simbol kecil dengan jarinya.
"Hish.. kebiasaan dia mah selalu sajah senang mengejek," gerutu Cyra yang masih terdengar oleh Naqi dengan samar.
"Aku denger yah kamu ngomong apa Ra," balas Naqi.
"Iya-iya terserah deh mau dikatai kecil juga biari yang penting asli, dari pada gede-gede tapi palsu," bela Cyra dengan bangga.
"Memangnya ada palsu?" tanya Naqi menguji Cyra.
"Adalah, bahkan ada juga yang cowok tapi berubah jadi cewek kan itu juga palsu, dan ada juga yang cewek tapi sengaja ditambahin biar makin gede," ucap Cyra dengan polosnya.
"Hahahaha..." Naqi tergelak dengan ucapa Cyra yang baginya sangat kocak.
Kemudian Naqi malah dengan santai berjalan kekasur dan menyibakan selimut dengan kasar, di mana selimut itu sebelumnya Cyra pakai untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu.
"Auwww....." pekik Cyra yang kaget tiba-tiba selimutnya disibakan oleh Naqi.
Dengan sigap Cyra menutup selimutnya agar Naqi tidak melihat tubuhnya.
"Ra..."
"Apa?" jawab Cyra dengan ketus.
"Kamu mau nggak dibikin gede itunya," ucap Naqi dengan menunjuk ke aset kembar Cyra.
"Mas......" Cyra melotot kearah Naqi. "Kenapa Mas Naqi jadi mes'um gini sih?" tanya Cyra dengan aneh.
"Itu karena Kakek, dia ngasih aku jamu kuat, jadi bawaanya pengin bercocok tanam Ra," bela Naqi, tetapi memang itu kenyataanya.
"Ra aku serius, kalo kamu mau dibikin gede sini Mas bantu," kekeh Naqi.
"Buukkk" sebuah bantak empuk melayang ke punggung Naqi.
"Awas yah macem-macem bakal Cyra seruduk lagi," ancam Cyra dengan menampakan wajah garangnya.
Naqi pun akhirnya mengalah dan menutup matanya, ia hendak beristirahat. Karena besok adalah hari yang ditunggu-tunggu. Di mana mereka akan meluncurkan prodak-prodak terbaru dari perusahaanya.
Sementara Naqi semenjak tadi memejamkan matanya, tetapi tidak bisa tertidur juga. Justru kini senjatanya kembali menegang. Mengajak berperang menelusuri lembah yang dalam.
"Ya Tuhan, Kakek..." pekik Naqi dengan menarik rambutnya kasar.
"Ingin Naqi membangunkan Cyra dan meminta haknya, tetap Naqi masih ingat pemohonan Cyra barusan bahwa ia memikirkan nasibnya andai mereka berpisah sementara kondisinya sudah tidak perawan lagi tentu Cyra akan sangat rugi.
Naqi akhirnya berjalan dengan lemas ke kamar mandi, disanalah ia kembali bersolo karir. Hampir satu jam ia mencoba menghilangkan efek dari jamu kakek.
"Ah.... Ah..... Ah..... lengkuhan panjang terdengar dari Naqi. Setelah mencapai puncaknya.
Ia kembali ke atas kasur dengan wajah yang memerah karena menahan rasa nyeri di bagian senjatanya.
Naqi kembali mencoba beristirahat, tetapi selalu sajah tidak bisa tidur. Mata dan tubuhnya tidak bisa bekerjasama.
Lagi, tubuh Naqi lagi-lagi menegang, senjatanya terus menegang dan ingin kembali dimanjakan.
Semalaman ini Naqi benar-benar dikerjain oleh jamu buatan kakek.
Sudah empat balik ia bersolo karir dan kini senjatanya sangat perih, mungkin lecet atau bagaimana yang jelas rasanya semakin menyiksa, belum rasa ngantuk yang sangat menyiksa tetapi belum juga mata bisa terpejam, semuanya karenya perbuatan kakek.
Naqi melirik ke arah istri bocilnya yang justru tidur dengan damai dan nyenyak tanpa terganggu oleh suara-suara bising lengkuhanya yang panjang, maupun suara deritan kasur yang selalu bergerak karena Naqi yang selalu gelisah dengan semua yang ia alami.
"Ya Tuhan mana besok ada acara penting, aku tidak bisa tidur sama sekali. Rasanya sangat menyiksa ya Tuhan," gumam Naqi dalam hati.
Ia kembali melirik Cyra, wajah damai dan cantiknya selalu menemani dalam tidurnya, tetapi tidak bisa Naqi miliki, itu karena perjanjian yang ia buat ditengah-tengah pernikahan mereka.
Andai kamu bisa aku sentuh mungkin rasanya tidak seperti ini, aku bisa lebih menikmati efek jamu ini. Sayang semuanya hanya angan sajah. Kamu tidak membantu sedikit pun untuk meredakan siksaan ini." Naqi terus sajah memandang Cyra, sampai yang dipandanginya terbangun, karena merasakan ada tangan kekar yang mengusap-usap pipi mulusnya.
"Mas Naqi," ucap Cyra, kaget ketika bangun Naqi lah yang mengusap wajahnya itu.
Dengan cekatan Naqi menarik tangan nakalnya dari pipi Cyra.
"Mas Naqi kenapa? Apa ada yang dirasakan sampai jam segini belum tidur?" tanya Cyra sembari melihat jam diponselnya.
Naqi menggeleng lemah, sembari tertunduk lesu. Layaknya seorang anak yang tengah dihukum, karena telah melakukan kesalahan.
"Ya Ampun ini udah jam tiga loh Mas, bukanya besok ada acara penting. Ayo tidur! Masih ada waktu tiga jam sampai pukul enam. Baru nanti Cyra bangunkan. Setidaknya Mas Naqi tidur biarpun hanya tiga jam, dari pada nanti sakit. Yang ada nggak bisa nemanin Mba Rania di rumah sakit," oceh Cyra seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Pengin tidur Ra, lemez juga sebenarnya, tapi gara-gara jamu buatan kakek aku nggak bisa tidur. Rasanya sangat menyiksa," lirih Naqi.
"Jamu?" Cyra mengernyitkan dahinya, "Ada apa dengan jamu buatan kakek? Cyra juga kemarin minum jamu buatan mamih, tapi justru badanya segar dan bisa tidur nyenyak. Kalo tidak salah jamu 'penyubur kandungan'. Memang sih rasanya pait banget, seperti mengunyah obat," ucap Cyra dengan serius.
"Beda Ra, jamu yang Kakek kasih buat menambah gairah ber'cinta otomatis bawaanya pengin bercocok tanam terus," jawab Naqi dengan lemas.
Cyra melototkan matanya. "Jadi Mas dari tadi mandangin Cyra pengin itu....?" Kalimat Cyra sengaja di putus.
"Iyah Ra, gimana kalo kita melakukanya?" tanya Naqi dengan lembut agar Cyra bersimpati.
"Maaf Mas, bukanya Mas Naqi yang bilang kalo hubungan kita hanya sebatas perjanjian hitam diatas putih, dan juga kita akan bercerai setelah satu tahun, dan Mas Naqi akan kembali pada Mba Rania. Lalu nasib aku gimana? Bukanya Cyra tidak mau melayani Mas, sebagai suami Cyra, tapi pernikahan kita itu berbeda dengan pasangan di luaran sanah, yang menikah karena saling cinta. Pernikahan kita hanyalah perjanjian kerja sama sajah Mas." Cyra dengan sabar menjelaskan hubungan dalam pernikahanya.
Naqi termenung dengan perkataan Cyra "Semua yang dikatakan Cyra ada benarnya," batin Naqi tertampar dengan semua ucapan Cyra.