
"Mas kamu udah siap belum sih Kok lama banget," ucap Zoya yang sudah tidak sabar di mana sore ini mereka akan berkunjung kerumah Meta untuk bertemu dengan Mesy, anaknya.
"Sabar dong sayang, ini lagi pake baju," balas Niko sembari setengah berteriak pasalnya Zoya sudah lebih dulu rapih dan sekarang sudah bersiap di lantai bawah. Sudah tidak sabar untuk ketemu Mesy, mungkin kalau Zoya tahu alamatnya bahkan dia lebih memilih jalan sendiri, biarkan Niko menyusulnya.
"Aduh kamu itu lama banget sih Mas, kita itu janjianya setelah ashar loh ini udah jam tiga nanti kalau telat gimana? Nanti malah kita enggak di kasih waktu buat ketemu Mesy, Mas yah nanti yang tanggung jawab." cerocos Zoya, saking tidak sabarnya untuk ketemu buah hatinya sampai-sampai dia itu tidak sadar nerocos seperti itu padahal biasanya dia itu sosok istri yang lemah lembut dan tidak banyak ngedumel, tetapi mentang-mentang sudah menjadi ibu-ibu rumah tangga sampe-sampe dia enggak sadar kalo dia ngomong sudah kayak kereta.
Niko justru bukanya merasa takut dan nurut dengan kemarahan istrinya, justru dia malah tertawa terbahak-bahak. Sebab Zoya ketika marah dan nyerocos gitu sangat lucu dan bagi Niko sangat menggemaskan, karena tidak cocok dengan pembawaan yang biasanya akan diam dan lebih tenang bukan Zoya yang panikan seperti ini.
"Tuh kan ah, Mas itu kenapa sih selalu bikin Zoya kesal ajah,"dengus Zoya sembari mengentakan kakinya pergi ke halaman rumah di mana mobilnya di palkir.
"Perasaan Mesy itu anak aku dan Fifah kenapa jadi Zoya yang lebih baper dan lebih semangat buat ketemua Mesy sih," gerundel Niko, tetapi juga ada rasa syukur karena Zoya tidak membedakan anak dari wanita lain atau dari rahimnya.
"Bunda, jangan marah-marah dong, nanti kalau bunda marah-marah Mesy malah enggak mau bertemu sama kita gimana," ucap Niko dengan menirukan suara anak kecil, di mana mereka sekarang sudah berada di jalan untuk menuju alamat yang sudah Meta share.
"Habisan Mas itu kebiasaan, kan aku sudah ingatin supaya cepat-cepat pulang kalau perlu Mas pulang jam dua belas supaya kita tidak telat, tetapi malah Mas pulangnya mepet dengan jam yang sudah kita janjikan kan jadinya mepet gini." Zoya masih saja terus menyampaikan kekecewaanya ketika niko sampai rumah malah sudah jam setengah tiga, alhasil Zoya sudah kalang kabut, menunggu Niko yang lama pulang kerjanya.
"Iya-iya, Mas janji ini yang terakhir kalinya soalnya Mas tadi ada meating yang tidak bisa di tinggalkan, sehingga mau tidak mau harus mengikuti meating sampai selesai. Kamu jangan marah yah sayang." Niko terus berusaha merayu istrinya itu agar tidak marah lagi, toh sampai rumah Fifah pasti tidak sampai jam empat sore berati itu tandanya mereka tidak telat.
Zoya pun yang sebenarnya tidak sedang betul-betul marah, Zoya hanya ingin memberitahu bahwa kebiasaanya Niko itu bisa menghilangkan kepercayaan orang lain. Terlebih ini urusanya sangat penting soal bertemu dengan anaknya. "Ya udah Zoya maafin, tapi tolong Mas lain kali jangan kaya gini. Aku juga yakin sih kalau Fifah dan suaminya tidak akan marah ketika kita telat datang ke rumahnya, tetapi kita enggak tahu cara mereka menilai keseriusan kita gimana. Baru di minta buat ketemu jam segini dengan buah hatinya sudah telat, pasti mereka kalau mau memberikan izin buat Mesy di ajak main oleh kita akan berfikir, takut kita tidak tanggung jawab. Terlebih orang yang suka ngaret itu bikin orang lain menunggu sudah sangat-sangat tidak menghargai orang lain sih." Itu lah sedikit ceramah dari Zoya untuk Niko yang sering telat kalo ada janji dengan orang.
"Iya sayang Mas janji,' ucap Niko dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya untuk membut simbol janji.
"Pasang alarm kalau perlu," balas Zoya dengan mengembangkan senyumnya.
Zoya dan Niko pun sudah ada di depan rumah yang Meta share lokasinya. Rumah yang asri karena banyaj pohon dan tanaman hias di halaman rumah yang tertata dengan rapih.
"Mas yakin ini rumahnya?" tanya Zoya yang ragu kalo ini rumah Meta.
"Nanti coba Mas telpon dulu sama Meta." Jadi sekarang Meta dan Niko sudah baikan bakan sering chating untuk menangakan Mesy dan lainya. Yah memang Fifah yang meminta apabila ada apa-apa dengan Mesy agar menguhubungi Meta saja, sebab takutnya akan ada udah di balik rempeyek,kl kalau berkomunikasinya lewat Fifa.
"Udah di mana Nik?" tanya Meta dari dalam rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari mobil Niko.
"Coba loe keluar Met, gue sih udah sampe di rumah yang loe share tapi masih ragu benar enggak rumahnya," balas Niko.
"Ok gue coba cek keluar." Meta segela mematikan sambungan teleponya dan menghampiri Niko halaman depan rumahnya. Sebenarnya buka goden jendela saja sudah ketahuan ada tau tidaknya orang di luar sana.
Meta yang sedang menggendong Mesy pun langsung menghampiri Niko dan Zoya yang tengah menunggu di depan pagar.
Zoya langsung pengin menggendong Mesy yang sedang ngetek di bawah lengan Dadynya. Itu sebabnya Meta belum juga mandi karena anaknya masih betah dengan wangi badanya Meta yang baru pulang kerja. Mesy akan nangis kalo Meta mandi harus nunggu tidur dulu baru bisa mandi. Begitu kira-kira yang setiap hari Meta lakuin.
"Mas Meta kok Mesy enggak mau ikut?" tanya Zoya yang aga murung karena Mesy tidak mau lepas dari Dadynya.
"Iya memang begitu Mba, jangankan sama Mba yang belum kenal. Sama Mamihnya ajah kalo saya udah pulang kerja enggak kenal. Nempel terus kaya gini di ketek. Sampe saya dari tadi mau mandi susah buat lepas dari dia. Nangis lagi nangis lagi kalo di turunin. Harusnya kaya gini terus sampe bobo," jawab Meta dengan bangga.
"Maaf yah Met, gue sama bini datangnya aga telat soalnya ada kerjaan tadi," ucap Niko yang mungkin saja Meta marah dengan kelakuan dirinya.
"Ah tidak apa-apa Niko, santai saja. Lagian kita enggak kemana-mana jadi kapan pun datangnya enggak ada perngaruhnya. Cuma kalo datangnya sore kan kalian banyak waktu buat main sama Mesy. Kalo malam takut Mesy ngantuk," ucap Meta. Di mana sekarang Mesi udah belajar sedikit-sedikit merangkak.
"Ngomong-ngomong Fifah kemana Mas Meta?" tanya Zoya, matanya di edarkan kesegala penjuru dan tengah mencari di mana kira-kira Fifah.
"Oh iya maaf Fifah enggak bisa bergabung kesini soalnya dia lagi mabok dan hamil yang kedua ini rada berat," ucap Meta agar Zoya tidak merasa tidak dihargai datang kerumahnya malah Fifah tidak menemuinya.
"Kalo gitu boleh aku yang menemui Fifah," tanya Zoya dengan lembut. Toh mau gensong Mesy saja anak itu tidak mau di gendong. Lebih baik bertemu dengan Fifah. Di mana dia dari dulu belum pernah bertemu.
"Oh boleh atuh Mba. Naik ajah ke lantai atas belok kanan pintu kamar yang warna kuning itu kamar kita. Masuk ajah dia lagi rebahan kok," balas Meta, kini diruang tamu tinggal ada Meta dan Niko, di mana Mesy melihat Niko seperti ingin ikut, tetapi apabila di dekatkan akan kembali menyembunyikanya wajahnya di balik ketiak Meta.
Niko ada rasa isi dengan Meta yang bisa sedekat itu dengan Mesy, sedangkan dia hanya mengajak Mesy bercanda dan dia akan tertawa renyah saja sudah sangat bersyukur banget. Namun Niko juga percaya bahwa nanti dia akan merasakan dekat juga dengan Mesy, putrinya.
#Kak Mampir yuk kerkarya othor #Beauty Clouds# baru tamat jadi ga usah nunggu up langgsung gencarin ajah.
Ceritanya menarik, menceritakan persahabatan yang kental dengan perjalanan cinta setiap pemainya yang unik-unik di jamin bikin baper. Setiap Kisah cinta pemainya bikin tegang dan bikin senyum-senyum sendiri.
Coba kalian yang udah ikutin Kisah Beauty Clouds paling suka dengan kisah siapa?
Yang bikin baper "Ody dan Rio"
sijahil "Ipek sama Clovis"
si cengeng "Zawa sama Arzen". Atau
yang habis ijab pingsan "Aarav dan Emly"
Yuk baca kisah mereka unik dan persahabatan mereka juga patut diacungi jempol.