
"Ra ini kamu lagi nggak ngerjain aku kan?" tanya Naqi yang merasa bahwa Cyra hanya ingin mengerjainya.
"Ngerjain gimana lagi sih yang Mas maksud? Kalo Mas nggak percaya sama kerokan coba google deh, disana ada semua ulasan tentang kerokan," jawab Cyra tapi tanganya masih dengan lihat memainkan koin diatas punggung mulus Naqi. Bahkan sepertinya lebih mulus punggung Naqi dari pada punggung Cyra yang terdapat banyak bekas luka.
"Abisan kenapa rasanya sakit sekali Ra," balas Naqi dan kini tanganya mencengkram kuat ke bantal.
"Nggak ko Mas, ini karena Mas belum biasa ajah kalo udah biasa juga enak dikerok itu. Justru kalo belum kerokan sakit apapun belum mau pergi dari tubuh kita," jawab Cyra dengan yakin.
"Ngaco kamu mana bisa gitu, kalo cuma kerokan sembuh, buat apa ada dokter sama rumah sakit di mana-mana," sungut Naqi gemas sama Cyra yang terlalu berlebihan membanggakan jurus andalanya, kerokan.
"Hehe... ya maksudnya Cyra nggak gitu juga, tetep berobat kedokter. Kan sakitnya beda-beda masa nanti kalo ada yang patah tulang dikerok sembuh kan nggak juga, liat-liat sakitnya juga Mas," ujar Cyra menjelaskan maksud dari omonganya.
"Ngomong-ngomong ini udah belum? Lama banget kamu kerokin, apa lagi menghayal liat punggung aku yang seksi," ledek Naqi agar cepat disudahi kegiatan kerokanya.
"Ini sebentar lagi ko Mas, ini merah banget loh Mas itu tandanya kamu emang masuk angin. Emang kemarin kamu mandi malam-malam yah, ko bisa sampe masuk angin gini, biasanya kalo masuk angin karena kehujanan dan mandi malam-malam." Cyra menebak-nebak.
"Iya kemarin aku beberapa kali mandi malam, habisan badan panas banget, gara-gara jamu kakek, jadi buat ngademinya, ngilangin gerahnya aku mandi ajah," tutur Naqi, sembari nyengir kuda.
"Pantesan, lain kali jangan gitu, bahaya juga kalo mandi malam, ditakutkan terkena angin duduk," jelas Cyra agar Naqi tidak mengulanginya lagi.
"Apa lagi itu angin duduk, emang ada angin bisa duduk?" dengus Naqi, Cyra itu ada-ada ajah namain sakit itu.
"Udah, nih liat punggung Mas merah bengat kan!" Cyra menyodorkan foto punggung Naqi yang merah hasil kerokan Cyra.
"Astagah Ra, kamu apain punggung aku kenapa sampe kaya gini! Wah kamu bisa dituntut, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga!" ujar Naqi sambil menyesali punggungnya yang mulus jadi berbentuk tidak karuan, garis-garis merah.
"Lebai banget sih Mas, polisi juga bingung kali kalo laporanya kasus beginian, yang ada Mas paling diceramahin sama Pak polisinya," omel Cyra,
"Ini bisa ilang nggak bekasnya Ra? Punggung mulus aku jadi kaya gini," ujar Naqi meratapi nasib punggungnya.
"Ilang atuh Mas, dua tiga hari juga nanti punggung Mas mulus lagi kaya pantat bayi," kekeh Cyra.
Naqi hanya melirik jengah pada Cyra, sedang Cyra terkekeh mambayangkan pantat bayi.
"Ra ada makanan nggak sih, aku laper. Gara-gara kamu kerokin tenaga aku habis," ucap Naqi, sembari memegangi perutnya yang kelaparan.
"Cyra lagi yang disalahin! Emang Mas mau makan apa nanti Cyra bikinin, tapi baiknya Mas minum air jahe ini biar badanya anget. Pas banget nih air jahenya udah hangat." Cyra menyodorkan air jahe campur madu murni agar badan Naqi hangat.
Naqi menatap curiga pada gelas yang Cyra sodorkan, ia masih trauma dengan ramuan tradisional gara-gara tragedi jamu racikan kakek kemarin malam dia jadi sakit.
"Ini aman Mas, Cyra yang bikin. Kalo Mas curiga nih Cyra cicipin dulu (Cyra meminum air jahe lebih dulu lalu menyodorkan ke Naqi) Tuh Cyra udah minum jadi dijamin aman." Cyra seolah tau arti tatapan Naqi.
Akhirnya Naqi pun meminum air jahe yang Cyra buat sampai tandas satu gelas.
"Mas mau makan apa? Biar Cyra bikinkan," tanya Cyra dengan lembut.
"Tapi kamu nggap apa-apa Ra, ini udah tengah malam loh, nanti kamu kecapean lagi, biar minta tolong Bibi ajah buat siapkan makanan aku." Naqi nggak enak dengan perlakuan Cyra.
"Tumben ada rasa nggak enak. Biasanya ajah cuek ajah," sindir Cyra. " Udah nggak apa-apa nggak tiap malam kan ngerepotin kaya gini! Buruan mau makan apa, mumpung Cyra lagi mode baik nih!"
"Apa ajah lah Ra yang penting kenyang." Naqi pasrah sajah mau dikasih makan apa ajah.
"Ra...(Naqi mengangkat bantal hendal melemar kearah Cyra yang tengah berdiri di samping ranjang dengan memegangi gelas bekas air jahe.)
Hehehe... kabur...
Cyra dengan sigap kabur, dari pada kena lemparan bantal.
Di dapur Cyra membuat Nasi goreng sepesial, hanya itu yang bisa dibikin dengan waktu yang singkat.
"Makanan datang!" pekik Cyra ketika baru masuk ke kamar, dan Naqi langsung melihat kearah Cyra yang membawa sepiring Nasi goreng dengan pleating yang sangat menggiurkan. Ditambah teh hangat sangat cocok.
"Masak apa itu Ra, aromanya wangi banget," ucap Naqi penasaran dengan masakan yang Cyra buat.
"Nasi goreng sepesial ala chef Cyra," balas Cyra dengan antusias.
" Cobain deh Mas, pasti rasanya enak. Masakan Cyra itu sudah teruji kelezatan dan kebersihanya sehingga banyak yang ketagihan kalo udah cobain masakan Cyra." Cyra dengan bangga menyombongkan dirinya.
"Udah buruan suapin, cacing udah pada demo nih," ucap Naqi nggak sabar pengin buru-buru mencicipi nasi goreng buatan Cyra yang aroma dan penampilanya sangat menggiurkan.
"Ko suapin, makan sendiri lah! Udah gede nggak usah manja," sungut Cyra.
"Ih ko tega sih, suamimu itu lagi sakit, butuh perhatian, lagian kalo sakit itu lemas dan nggak kuat angkat sendoknya. Kan katanya kalo melayani suami dapat pahala," ucap Naqi agar Cyra mau menyuapinya. Naqi ketagihan ketika disuapi Cyra rasanya jadi lebih nikmat.
"Hemz.. giliran gini ajah bawa-bawa agama," liri Cyra, akhirnya ia mengalah dan menyuapi Naqi dengan sabar.
"Enak Ra," ucap Naqi, mengacungkan jari jempol, sedangkan mulunya tetap mengunyah nasi goreng.
"Sudah dibilang masakan Cyra nggak ada yang gagal," ucap Cyra dengan sombong.
Tanpa terasa satu piring penuh nasi goreng sudah berpindah ke dalam perut Naqi.
"Kamu nggak makan Ra? Biasanya kamu yang bentar-bentar lapar," tanya Naqi, yang melihat Cyra nggak ikut makan.
"Enggak lagi diet," balas Cyra singat.
Dih dari mana rumusnya diet makanya dua bakul," ejek Naqi, yang tau jawaban Cyra hanya asal.
Cyra tidak menggubris omongan Naqi, dia segera meletakan piring kotor ke dapur dan mencucinya, matanya sudah berat menahan ngantuk.
Setelah mencuci pring dan bekas ia memasak, kini Cyra kembali kekamarnya, ia hendak melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda setidaknya tidur dua atau tiga jam bisa mengurangi rasa lelahnya.
"Cyra masuk kedalam kamar.
"Dih... kenapa Mas Naqi udah tidur duluan, baru juga makan udah tidur ajah dia," oceh Cyra yang melihat suaminya sudah tidur dengan posisi memeluk guling. "Kalo lagi tidur gini lucu, imut, gemezin, tapi kalo udah bangun ngeselin terus bawaanya," lirih Cyra sembari menatap wajah Naqi yang ganteng sempurna. Sehingga tidak jarang banyak yang tergila-gila dengan suaminya itu. "Beruntung sekali Mba Rania bisa singgah dihati Mas Naqi." Cyra merasa tercubit hatinya mana kala mengingat isi hati suaminya hanya ada nama Rania. sedangkan dirinya hanya dibutuhkan ketika sedang susah.
"Ah mikirin apa aku ini, udah tidur-tidur! Besok kerja!" omel Cyra membuang fikiran gilanya.
Cyra pun tidak menunggu waktu lama sudah ikut larut kedalam alam mimpi.
#Selamat bobo Ayang Naqi, Neng Cyra....