Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Relawan


Naqi yang merasa diacuhkan oleh Cyra, lalu ia menginjak pedal gasnya. Setelah mobil di depan Cyra, Naqi langsung membukan kaca jendela mobilnya.


"Masuk!!!" ucap Naqi dengan suara tegasnya.


"Kemana?" tanya Cyra tak kalah singkat.


"Udah masuk ajah cin, I'm takut nanti loh malah diapa-apain sama tuh Bos besar!" ucap Meta sembari berbisik, agar Naqi tidak mendengarnya. Meta mendorong Cyra agar masuk kemobil Naqi.


"Terus kamu pulangnya gimana?" tanya Cyra ke Meta, masih dengan berbisik ditelinga Meta.


"Itu urusan gampang, I'm bisa naik taxi, dari pada I'm dicincang sama laki you," bisik Meta dengan bergidig ngeri.


"Enak ajah, dia berani cincang kamu. Aku balas lebih kejam, dari jurus kerokan semalam," balas Cyra kembali berbisik ke Meta.


"Bisa buruan nggak!!!" bentak Naqi, karena kesal melihat kelakuan Cyra dan Meta justru asik saling berbisik.


Cyra melirik kearah Naqi dengan jengah, setelah cipika cipiki dengan Mas Wawan, Cyra masuk ke dalam mobil. "Lagian kan Cyra nggak minta dijemput sama Mas, kenapa malah Mas jemput Cyra?"


"Kita ke rumah sakit dulu!" ucap Naqi memberitahukan alasannya mencemput Cyra.


"Benar apa kata aku, Mas Naqi menjemputku karena ada maunya," gumam Cyra, dan ia pun enggan menimpali obrolan Naqi, lalu Cyra memilih memejamkan matanya. Tidak tidur hanya pura-pura tidur ajah. Menghindari obrolan dengan Naqi.


"Ayo turun!" Naqi tau bahwa Cyra hanya pura-pura tidur.


"Mas ajah yang masuk, Cyra disini ajah," balas Cyra tanpa membuka matanya.


"Turun!" Lagi, Naqi memaksakan kehendaknya.


Cyra pun tanpa membalas perkataan Naqi ikut turun, dengan sangat malas Cyra mengikuti langkah Naqi, mengekor dengan sangat santai dibelakang suaminya.


"Cyra disini ajah nungguinya, lagian kalo masuk juga ujung-unjungya diusir," ucap Cyra begitu sampai di depan ruangan rawat Rania.


"Aku masuk dulu sebentar," ucap Naqi.


Cyra hanya membalas dengan anggukan samar. Lalu menyandarkan tubuhnya didinding.


Naqi tidak tahu bahwa di dalam sana Rania tengah bercengkrama dengan dokter Adam. Yah, sejak perkenalan kemarin Rania sudah lebih terbuka dengan Adam, lagi Adam selalu meluangkan waktunya untuk Rania. Ketika ada waktu kosong Adam menyempatkan berkunjung ke ruangan Rania. Entah itu mengajaknya bercerita atau malah sekedar mengecek perkembangan Rania.


Tanpa mengetuk pintu Naqi masuk begitu sajah, di saat Rania dan Adam yang tengah bercerita kaget dengan kedatangan Naqi. Terlebih Naqi sangat kaget ketika melihat Adam ada di ruangan Rania.


"Sedang apa Anda disini?" tanya Naqi dengan ketus kepada Adam.


"Oh, saya hanya mengecek perkembangan pasien saya, karena Rania besok akan menjalani oprasi, dan yang menangani oprasinya kebetulan saya yang ditugaskanya, jadi saya hanya ingin memastikan kesiapan pasien," jawab Adam dengan santai dan tegas.


"Terlalu kebetulan yah? Kenapa saya justru curiga bahwa Anda sengaja melakukan semua ini untuk ikut campur dengan urusan kami," tuduh Naqi dengan asal dan tanpa bukti.


"Mohon maaf Tuan Naqi yang terhormat, saya disini dokter, semua yang saya jalankan disini sesuai prosedur dan saya profesional. Kalo Anda dan saya ada masalah pribadi diluar rumah sakit, tolong jangan bawa-bawa kedalam pekerjaan saya. Karena saya disini bekerja untuk kesembuhan pasien siapa pun akan saya perlakukan dengan sama, adil dan tanpa pilih kasih." Adam memperingatkan Naqi agar tidak asal menilai sesorang.


Sebelum meninggalkan ruangan Rania, tentu Adam terlebih dulu meminta maaf pada Rania apabila ada kesalah pahaman diantara Adam dan Naqi.


Rania yang tidak tau apa-apa pun heran dengan perdebatan Naqi dan Adam yang memang seperti memiliki dendam pribadi.


Setelah meminta maaf Adam pun keluar, meninggalkan Naqi dan Rani, begitu Adam membuka pintu dan hendak menutupnya, kembali ia dibuat kaget lagi....


"Tuh..."Cyra hanya menjawab dengan menggerkan dagunya menunjukkan kamar Rania.


Otomatis Adam langsung konek dengan maksud jawaban Cyra.


"Engga, maksudnya kamu kenapa nggak ikut masuk kedalam? Kan bisa ngawasin suami kamu di dalam sanah?" tanya Adam menjelaskan maksud pertanyaanya.


"Malas Dok, palingan juga diusir," jawab Cyra asal.


Adam semakin dibuat bingung dengan hubungan antara mereka. Adam pun hendak pergi meninggalkan pertanyaan yang berseliweran dipikiranya.


"Dok, Anda sedang sibuk?" tanya Cyra, dan Adam langsung berhenti dan menghadap ke Cyra.


"Kenapa?" tanya Adam dengan heran.


"Enggak, saya bosen ajah disini sendirian, boleh Cyra ikut dengan Dokter Adam?" tanya Cyra dengan lirih, mungkin takut apabila Adam menolaknya.


"Aku mau ngecek kepasien yang lain, apa nggak jadi masalah kalo kamu ikut? Nanti suami posesif kamu nggak nyariin, dan nuduh aku pembinor lagi?" tanya Adam seolah masih sakit hati dengan omongan Naqi.


"Ish... dokter Adam, malam kemarin-kemarin itu Mas Naqi lagi kurang berfikir normal jadi omonganya emang gitu, rada ngaco," ucap Cyra seolah meminta maaf agar Adam tidak marah lagi.


"Tidak berfikir Normal? Maksud kamu suami kamu itu gila?" tanya Adam dengan serius.


"Ih... bukan itu Dok! Mas Naqi waras ko, hanya kadang-kadang memang setengah gila," kekeh Cyra sembari mengikuti Adam padahal Adam belum bilang boleh ia mengikutinya.


Mereka pun ngobrol santai sepanjang lorong rumah sakit, menuju ruang rawat pasien.


Cyra mengikuti Adam mengunjungi pasien anak-anak yang sebagian dari mereka seperti Cyra, tanpa rambut atau botak.


"Dok, anak-anak ini apa bernasib seperti Cyra memiliki kelaian genetik atau..." ucapan Cyra tidak dilanjut karena memang Cyra nggak tega untuk melanjutkanya.


"Kamu masih beruntung. Nasib mereka lebih parah dari kamu." Seolah Adam tau dari maksud pertanyaan Cyra.


"Cyra membekap mukutnya. Ia berfikir bahwa nasibnya sudah yang paling menyedihkan, tetapi ketika Cyra memasuki ruangan ini, Cyra sadar masih banyak sekali orang-orang yang kurang beruntung dibandigkan dia.


Cyra memperhatikan Adam memberikan semangat untuk anak-anak yang memiliki sakit kangker sehingga mereka rata-rata berkepala botak karena pengobatan yang mereka jalani dengan tubuh ringkih dan wajah pucatnya. Pasien-pasien kecil itu memaksakan menarik ujung bibirnya untuk tersenyum dengan cerita yang Adam bawakan.


Meskipun cerita yang Adam bawa sangat garing. Setelah meminta izin pada Adam, Cyra pun ikut bercerita dan mengisahkan perjuangan untuk memcapai titik kuat ini. Cyra bercerita dirinya yang dulu sering menjadi korban Bullying sehingga ia memilih beberapa pindah sekolah untuk menghindari pelakuan bully yang berulang, dan juga Cyra mengatakan gimana ia menguatkan hati dan pikiranya mana kala mendapat perkataan yang kurang menyenangkan. Berharap agar mereka pun sama mempunyai kekuatan hati agar tidak tersinggung, dengan tatapan-tatapan dari banyak pasang mata yang seolah menghakimi perbedaan dari mereka.


"Ra, kenapa kamu nggak ikut jadi relawan? Aku liat kayaknya motifasi kamu buat anak-anak penderita kangker bangus banget. Kamu memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, sehingga membangun benteng yang kokoh didiri kamu agar tidak mudah berkecil hati dari perkataan dan pandangan orang-orang yang kadang tidak memiliki empati," ujar Adam yang ternyata sejak tadi mendengar cerita yang Cyra kisahkan kepada anak-anak penderita kangker.


"Emang bisa Dok? Lalu gimana caranya? Cyra mau banget!" Cyra sangat antusias dengan ide Adam, terlebih Cyra memang ingin memberi motifasi buat orang-orang yang memiliki perbedaan entah itu karena bawaan lahir atau pun karena musibah (kecelakaan) dan sakit yang mengakibatkan fisiknya berbeda dari yang lain.


Ada sebagian yang memang ia mencoba mengiklaskan hatinya sehingga dengan lapang mereka menerima tadirnya, tapi nggak jarang juga ada yang merasa depresi dengan perbedaan itu dan berubah menjadi murung bahkan bisa sajah mereka memiliki pemikiran yang sempit, sehingga memilih jalan pintas yang sangat berdosa. Cyra ingin merangkul mereka yang mentalnya belum bisa iklas menerima takdir itu, sehingga ketika dokter Adam memberikan masukan agar Cyra ikut menjadi relawan Cyra sangat senang setidaknya kesempatan untuk mememberi motifasi pada mereka yang kurang beruntung semakin terbuka lebar.


"Tentu bisa, kalo kamu mau nanti aku kenalkan ke kepala yayasan. Nanti kamu bisa sepulang kerja atau diwaktu libur dan senggang kamu bisa datang ke rumah sakit ini, buat hibur mereka. Pasti mereka sangat senang kalo dapat teman baru." Adam pun ikut merasakan senang karena masih banyak yang peduli dengan anak-anak yang sepesial seperti mereka.


"Mau Dok, Cyra mau banget! Rasanya nggak sabar pengin sering berkumpul dengan mereka," oceh Cyra dengan mengusap-usapkan kedua telapak tanganya.


Adam tersenyum melihat antusiasnya Cyra, tidak semua orang mau melakukan kegiatan ini, justru masih banyak orang yang acuh, dan berpikiran buruk terhadap sakit mereka, sehingga mereka enggan untuk berdekatan, karena menganggap akan tertular. Padahal kangker bukan pernyakit yang menular sehingga penderitanya nggak harus dijauhi. Justru seharusnya dirangkul dan diberi kekuatan karena ketika hatinya mereka happy imun tubuh pun semakin bagus, dan bisa sebagai terapi penyembuhan.


#Semangat buat yang sedang merasa kurang baik entah hati maupun fisiknya...