
"Cyra, setelah sarapan nanti kamu siap-siap. Mamih akan mengajakmu berbelanja!" ucap mamih ketika mereka tengah sarapan.
Cyra tidak langsung menjawab, melainkan melirik kearah Naqi, seolah bertanya boleh atau tidak? Dan Naqi yang tau arti dari lirikan Cyra pun mengangguk, mengizinkan.
"Baik, Mih," jawab Cyra, setelah mendapatkan anggukan dari Naqi.
Tentu Naqi, merasa dihormati oleh Cyra, karena setiap apa pun itu yang akan dilakukannya, Cyra selalu meminta izin pada suaminya itu.
Selesai sarapan Cyra mengantarkan Naqi berangkat kerja sampai ke depan rumah. Naqi membuka dompet dan menyerahkan kartu sakti berwarna hitam.
"Buat belanja, beli apa pun yang kamu butuhkan, nanti Mamih yang akan membantumu untuk memilih barang yang pantas untuk kamu pakai. Jangan lupa kamu beli HP, supaya aku gampang menghubungimu. Untuk saat ini kamu belanja sama Mamih dulu, Mas lagi banyak kerjaan tidak bisa menemanimu belanja," jelas Naqi, sembari menyodorkan black card, sebelum ia berpamitan kerja.
Cyra dengan ragu mengambil kartu yang Naqi sodorkan. "Iya nggak apa-apa Mas. Mamih juga baik ko sama aku jadi kita bisa bertukar cerita," balas Cyra dengan senyum di wajahnya.
" Ya, udah Mas berangkat kerja dulu. Jangan jauh-jauh dari Mamih, takutnya ilang malah nyusahin Mamih," pesan Naqi sebelum dirinya benar-benar pergi.
"Iya, Mas." Cyra menyalami Naqi, layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Tentu semua karena Naqi sudah memberitahu terlebih dahulu, agar ia melakukan ritual suami istri didepan orang tuanya, tentu paling utama di depan kakenya. Mereka harus berperan menikmati pernikahan yang sesungguhnya dan tentunya terlihat bahagia.
Setelah mobil Naqi tidak terlihat lagi, Cyra masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai atas untuk berganti pakaian. Tidak butuh waktu lama, Cyra sudah siap dan mamih pun sudah terlihat rapih dan siap dengan pakaianya. Tentu mamih terlihat rapih dan sangat cantk. Berbeda dengan Cyra yang masih terlihat sangat kampungan dangan pakaian yang kuno.
"Cyra, coba kamu ikut Mamih dulu. Mamih ingin memoles wajahmu supaya tidak terlihat pucat," ajak mamih gemas pada Cyra.
Cyra pun mengikuti Mamih. Hanya butuh waktu setengah jam, kini Cyra sudah di make up oleh mamih, dan tentu tampak lebih fresh dan tambah cantik. Tanpa make up ajah Cyra sudah cantik apa lagi di poles dengan make up ia makin terlihat rupawan.
Kini kedua wanita beda generasi itu sudah sampai di mall terbesar di ibukota. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah toko Hp. Mamih memilihkan Cyra handphone pengeluaran terbaru dengan logi buah apel.
"Mamih apa ini tidak terlalu berlebihan. Cyra bahkan tidak bisa menggunakanya, apa tidak lebih baik beli yang biasa sajah Mih, asal bisa untuk bertelepon dan berkirim pesan," usul Cyra, dengan suara berbisik di samping telinga mamih mertuanya. Apalagi harga dari satu HP terlalu mahal buat Cyra.
Cyra pun pasrah sajah ketika Mamih tetap memilih ponsel dengan harga yang fantastis itu. Setelah mendapatkan ponsel, mereka kini memasuki toko pakaian muslim. Mamih dengan antusias memilihkan pakaian yang cocok dengan Cyra. Dari warna dan model mamih semua yang memilihkan, Cyra hanya mengikuti sajah pilihan mamih, toh pasti mamih sudah sangat tau mana yang cocok dengan Cyra.
Di toko pakaian mamih menghabiskan waktu lumayam lama, karena memang mamih membelikan pakaian yang cukup banyak untuk menantunya.
"Mih, udah ini terlalu banyak, lagian kan kalo pake baju satu-satu, nggak langsung dipake semua. Kalo terlalu banyak malah bingung pakenya," keluh Cyra karena mamih seperti orang yang kesurupan ketika memilihkan pakaian, entah sudah berapa pasang pakaian yang mamih pilih.
"Udah lebih baik kamu duduk saja, dari pada protes terus," sungut mamih tidak mau Cyra mengganggunya. Lagi, Cyra hanya pasrah dengan mamih dari pada dikutuk jadi batu.
Setelah dari toko pakaian muslim kini mamih mengajak Cyra memasuki toko pakaian dalam wanita. Tentu mamih pikir, pasti pakaian dalam Cyra hanya itu-itu sajah dan bisa saja udah buluk dan mungkin malah saja sudah tak layak pakai.
"Kamu pilih pakean dalam kamu ukuran berapa?" ujar mamih kali ini menyerahkan pilihan pada Cyra, karena tidak mengetahui ukuran yang pas untuk Cyra.
Cyra memilih dalaman sesuai dengan ukurannya. Tentu hanya memilih beberapa pasang sajah dan dengan model yang sangat biasa. Mamih timbul kejailanya, tanpa sepetahuan Cyra mamih membelikan dalaman yang teramat seksi tak lupa mamih juga mengambil beberapa potong lingeri dengan bentuk yang sangat seksi pula. "Biar cepat-cepat punya cucu," batin mamih.
setelah dari pakaian dalam, mereka melanjutkan ke toko sepatu. Mamih memilihkan high heels untuk Cyra, sehingga apabila ada acara dia bisa menggunakanya dan sandal denga bentuk flat untuk sekedar jalan-jalan santai.
Toko terakhir yang mereka kunjungi adalah peralatan make up. Mamih memilih satu set make up dengan merek yang terkenal dan tentunya sudah lengkap semua dari alat, kosmetik dan semua keperluan make up juga sudah tersedia. Tanpa sadar mereka hampir menghabiskan seharian untuk berbelanja. Sementara itu barang-barang belanjaanya. Mamih meminta petugas toko langsung mengirimkanya ke rumah mereka.
Semenjak mamih tau bahwa Cyra terdapat luka dipunggunya, mamih sudah tidak mengizinkan mereka tinggal di rumah terpisah lagi. Mamih meminta anak dan menantunya tonggal di rumah utama, tentu agar tetap mengawasi Cyra, tidak melakuan pekerjaan berat.
Mamih terlihat sangat akrab dengan Cyra dan juga Cyra tentunya sepanjang berbelanja terlihat sangat senang. Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat keabraban manantu dan mertua itu dengan iri.
...****************...