Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Berada di Antara Dua Wanita


"Sudah lah Rania kenapa kamu itu selalu menyalahkan Cyra, dia hanya ingin agar kamu itu cepat mendapatkan kepastian dalam kesehatan kamu dan tidak ingin kamu itu merasakan sakit terus," ujar Sam yang kesal karena Rania selalu sajah bersikap tidak suka dengan Cyra.


Rania pun mendengus kesal dengan Sam yang selalu membela Cyra. Sebenarnya Naqi pun ingin menegur Rania agar tidak selalu menyalahkan Cyra. Padahal Cyra sudah membatu agar Naqi bisa menginap di rumahnya, tetapi apabila Naqi ikut menasihati Rania pasti ia akan semakin kesal. Justru bisa-bisa terulang kembali seperti tempo hari. Rania yang kabur karena mengira Naqi dan Sam membela Cyra.


 Sam pun menghampiri Cyra. "Sejak kapan kamu disini? luka kamu gimana?" tanya Sam karena Cyra sendiri tengah sakit.


"Saya datang bersama Mas Naqi, dan untuk luka sudah nggak berasa sakit lagi Dok," jawab Cyra dengan lembut.


"Boleh aku periksa juga luka kamu?' tanya Sam.


"Boleh Dok," balas Cyra.


Sedangkan Naqi mengawasi setiap yang Sam lakukan pada Cyra, bagaimanapun Cyra adalah istrinya sehingga ia berhak melindungi dan menjaga Cyra. Sam pun memeriksa luka Cyra.


"Luka kamu udah bagus, sekarang buka perbannya sajah yah, biar makin cepat proses penyembuhanya," saran Sam.


"Boleh Dok, malahan kalo dibuka enak punggung rasanya nggak ada yang ngeganjal," balas Cyra.


"Hahaha... memang selama ini ngeganjal perbanya," kekeh Sam.


"Iya, jadi agak risih gitu," jawab Cyra polos.


"Baiklah ini saya buka, biar nggak ganjal lagi." Dengan sangat pelan Sam membuka perban di luka Cyra.


Sementara Rania semakin malam semakin terasa sakit bahkan ia beberapa kali mengerang menahan sakit di perutnya.


"Qi sepertinya memang kita harus membawa Rania malam ini ke rumah sakit. Aku jadi tidak tega melihat dia menahan sakitnya." Sam menyarankan agar Naqi segera membawa Rani ke rumah sakit.


"Naqi pun mengikuti saran dari Sam, malam itu juga membawa Rania ke rumah sakit. Cyra pun ikut dan mengekor dibelakang Naqi yang memapah Rania.


Tidak memakan waktu lama mereka telah sampai di rumah sakit, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Dokter menyarankan agar Rania di opname karena memang kondisinya yang lemah dan kekurangan cairan. Mulai malam itu juga Rania di opname. Sam sudah lebih dulu pulang. Kini hanya ada Cyra, Rania, dan Naqi. Rania sejak tadi telah tertidur karena efek obat yang sehingga ia bisa tidur pulas. Sementara untuk hasil pemeriksaan baru akan keluar esok hari.


"Ra, aku nitip Rania yah, kalo ada apa-apa kamu telpon Mas saja. Mas mau ke kantin dulu." Naqi pamit dengan


Cyra untuk pergi ke kantin guna mencari makanan. Ia ingat saat pergi bahkan mereka belum makan malam.


"Iya Mas biar Mba Rania Cyra yang jaga," balas Cyra.


Naqi pun keluar kamar tempat Rania dirawat, dan berjalan melewati lorong rumah sakit dan menuju kantin yang berada di lantai tiga. "Pasti Cyra kelaparan sejak tadi, tapi aneh anak itu tidak pernah mengeluh apa-apa," gerutu  Naqi. Sangat berbeda jauh dengan Rania yang selalu mengeluh ketika menginginkan sesuatu. Naqi pun membeli makanan dan minuman untuk Cyra dan dirinya sendiri.


"Makan dulu Ra." Naqi mengajak Cyra makan. "Emang kamu nggak lapar?" tanya Naqi sembari membuka bungkusan nasi yang ia beli.


"Lapar sih, bahkan laper banget, apa lagi dari tadi kan belum makan apa-apa," jawab Cyra sembari mengusap usap perutnya yang rata.


"Kalo lapar kenapa diam sajah? Lain kali jangan dibiasain nahan lapar.Enggak bagus nanti malah sakit ngerepotin Mas lagi," ucap Naqi, tanganya yang masih sibuk dengan menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


"Iya maaf Mas, lain kali Cyra akan bilang kalo lapar," balas Cyra merasa bersalah.


"Bukan hanya lapar, tapi kalo ada sesuatu atau menginginkan sesuatu kamu bilang agar Mas tau. Kamu itu tanggung jawab Mas, jadi kalo terjadi apa-apa dengan kamu, Mas juga yang akan dimintai pertanggung jawaban.' Nasehat Naqi.


"Ia Mas Cyra akan ingat nasihat Mas," jawab Cyra.


"Ya sudah sini makan, Mas sudah belikan dan siapkan buat kamu. Makan yang banyak biar nggak sakit." Naqi menggeser duduknya agar Cyra bisa duduk disampingnya.


Cyra pun duduk disamping Naqi  dan mengambil makanan yang sebelumnya telah Naqi siapkan. Mereka pun makan, tanpa terlibat obrolan apapun.


"Kamu nggak apa-apa kalo malam ini menginap di sini? Atau kamu mau menginap di hotel? Kalau mau, nanti Mas antar kamu ke hotel, tapi Mas nanti kembali lagi kesini kasian Rania nggak ada yang jagain," ucap Naqi.


"Engga apa-apa di sini ajah Mas, lagian kan kalo aku disini bisa gantian jaga dengan Mas Naqi. Bukanya Mas besok harus kerja nanti kalo bergadang malah sakit. Jadi biar nanti gantian dengan Cyra jaga Mba Ranianya," jawab Cyra.


"Kamu yakin kalo tidur di sini nanti badanya pada sakit loh?" tanya Naqi memastikan keputusan Cyra.


"Yakin dong Mas masa aku bohong," jawab Cyra dengan senyum terkembang di wajahnya.


Mereka berdua pun mengobrol dengan santai layaknya pasangan yang tengah bercerita, tentang perjalanan hidup masing-masing sebelum kisah mereka terjalin.


Ketika Naqi tengah asik bercerita, tiba-tiba sajah pundaknya terasa berat. Ia melihat kesamping ternyata Cyra telah tertidur menyandar kepundaknya yang kekar.


"Ternyata dia sudah tertidur," kekeh Naqi yang menatap wajah damai Cyra. Naqi membopong tubuh Cyra memindahkan ke sova yang lebih lega agar Cyra bisa tidur dengan nyaman.


"Astagah Cyra kamu itu enteng sekali badannya. Apa dia selama ini tidak pernah makan sampai badanya sajah enteng seperti kapas," gerutu Naqi.


"Naqi menatap wajah Cyra yang damai dalam tidurnya. Naqi akui kalo Cyra adalah orang yang sangat kuat dan hebat. Dia tidak pernah sekalipun mengeluh dalam menjalani kehidupanya, yang Naqi yakini pasti banyak hal yang membuatnya berkecil hati, tetapi ia selalu terlihat tersenyum. Terutama ketika berhadapan dengan Rania yang tidak menyukai Cyra, banyak perkataan Rania yang menyakiti hati Cyra, tetapi tidak sedikit pun Cyra membalasnya.


"Semoga kebahagiaan selalu mengikuti kamu, kemana pun hidup kamu nanti berlabuh," bisik Naqi disamping telinga Cyra yang tengah tertidur. Naqi yakin bahwa Cyra akan tetap hidup bahagia walaupun tidak bersamanya, karena Cyra memang memiliki sifat yang gampang untuk menyesuaikan dengan lingkungan, dan Cyra bukan wanita yang mudah menyerah dan memiliki mental yang lemah. Cyra adalah gadis yang tangguh. Sehingga ia bisa sehebat sekarang, itu karena ia memiliki mental yang kuat. Tidak lemah dan mau berusaha.


Sedangkan Rania, dibalik sifatnya yang arogan dan seolah kuat, ia adalah gadis yang lemah, yang selalu membutuhkan uluran tangan Naqi. Rania tidak sekuat Cyra dari segi mental, serta perasaan Rania lebih sensitif.