
Pulang kerja Niko langsung menyambangi rumah Fifah. Di mana biasanya ia langsung ke rumah Zoya dan ia akan beralasan lembur dengan Fifah. Namun, karena permintaan dari Zoya, agar Niko mulai jujur dengan setatusnya yang sudah memiliki istri sebelum menikah dengan Fifah. Jadi Niko sudah memutuskan, akan bicara jujur mulai saat ini. Agar Zoya juga tidak merasa bahwa Niko tidak adil memperlakukan mereka.
Fifah yang tengah bersantai di kamarnya begitu mendengar suara mobil suaminya sudah pulang lebih awal, langsung berjingkrak gembira. Pasalnya selama ini Niko selalu pulang diatas jam sembilan malam. Afifah langsung bersolek dan mengenakan pakaian yang seksi tak lupa juga menyemprotkan minyak wangi ketubuhnya. Fifah menunggu Niko di kamarnya. Sebab sudah menjadi kebiasaan apabila Niko pulang langsung masuk ke kamarnya bersama Fifah.
"Fifah belum pulang Bi?" tanya Niko pada asisten rumah tangganya. Sebab Fifah setiap hari juga mengunjungi Papahnya di rumah sakit. Jadi Niko mengira kali ini Fifah juga belum pulang dari rumah sakit.
"Udah Tuan, sudah lumayan lama sih, kayaknya lagi istirahat," jawab Bibi dengan sopan.
Niko pun langsung naik ke kamar Fifah. Begitu masuk ke dalam kamarnya sudah dikejutkan dengan Fifah yang langsung memeluknya dengan kencang. Niko nggak kuasa untuk menolaknya, sebab imanya lemah apabila dihadapkan dengan perlakuan yang romantis.
"Tumben kamu pulang awal sayang. Kamu mau mandi atau mau apa dulu?" tanya Fifah dengan manja.
"Kamu udah mandi?" tanya balik Niko pada Fifah.
"Sudah Mas, barusan dari rumah sakit aku langsung bersih-bersih. Kenapa emang?" Fifah kembali melontarkan pertanyaan yang polos.
"Kalo belum pengin lah ngerasain mandi bareng," goda Niko. Tabur benih dulu kali, sebelum bawa kabar yang pasti bikin mood Fifah jadi down.
"Isss... Mas itu. Masa harus mandi lagi," dengus Fifah, tetapi ia juga pengin merasakan mandi bareng ala penganten baru.
"Enggak apa-apa, kan dapet pahala gede malah." Niko melancarkan jurusnya, dan akhirnya Fifah pun luluh, setelah sebelumnya di rayu terus agar nyobain mandi bareng.
Setelah melewati senam yang berkedok mandi, mereka pun kini telah fresh telah mengenakan pakaian masing-masing. Niko sangat berharap bahwa usahanya tidak sia-sia. Fifah cepat hamil. Rasanya ia sudah sangat tidak sabar ingin merasakan menimang darah dagingnya.
"Fah kita ngobrol dulu yuk, ada yang Mas mau sampein." Niko menuntun Fifah agar duduk di sisi ranjangnya.
"Ada apa sih Mas, kok kayaknya serius banget?" tanya Fifah dengan raut wajah menyelidik.
"Mas mau jujur sesuatu, tapi kamu jangan kaget yah. Kamu juga harus terima dengan apa yang terjadi di dalam pernikahan kita." Niko menarik nafas sejenak, tiba-tiba sajah rasanya ia sangat tegang, padahal sebelumnya ia sudah mempersiapkan semuanya, tetapi kenapa ketika dihadapkan dengan situasi yang sudah ia persiapkan nyalinya jadi ciut. Niko tidak tega apabila membuat Fifah sedih dan merasa hanya dibutuhkan karena menginginkan keturunan dari rahimnya. Namun Niko juga tidak tega dengan Zoya yang sudah banyak mengalah selama ini.
"Mas mau ngomongin apa sih, ko kayaknya tegang banget, membuat Fifah jadi deg-degan." Fifah menekan Niko agar cepat berbicara jujur.
"Sebenarnya Mas sebelum menikah dengan kamu Mas sudah memiliki seorang istri. Dia adalah Zoya. Wanita yang selama ini Mas sangat cintai." Niko akhirnya memberanikan diri berkata terus terang.
Tanpa bisa dibendung air mata Fifah mengucur deras. Ia sudah terlanjur mencintai Niko, bahkan dihatinya sudah dipenuhi oleh Niko. Namun apa yang ia dapatkan Niko justru sudah memiliki istri lain yang ia akui sangat dicintainya. Lalu kehadiran Fifah apakah tidak berarti sama sekali.
Fifah sangat marah ingin ia meluapkan kemarahanya dengan Niko, yang dengan sangat sadar telah menipunya. "Kenapa Mas, kenapa kamu tega sekali mempermainkan perasaanku. Kamu tahu kan, aku sangat cinta sama kamu. Bahkan aku lebih mencintai kamu dari pada diriku sendiri, tapi kamu tega menghancurkan hati ini seketika. Sehingga hatiku kini tidak berbentuk lagi. Hancur sudah." Afifah meluapkan semua emosinya.
"Maafkan aku Fah, aku cuma mau berkata jujur agar kamu tahu posisi aku. Mas juga berharap kamu mau berbagi suami dengan istri pertamaku karena rasanya sudah lebih dari cukup Zoya mengalah demi kita," ucap Niko dengan suara beratnya.
"Jadi Mas mau aku membiarkan Mas tidur bergantian dengan istri tuamu. Cuih... menjijihkan sekali. Aku nggak mau!!! Fifah dengan lantang menolak kemauan Niko.
"Fah, kamu jangan egois dong! Kamu harus tau bahwa suamimu memiliki dua istri, jadi kamu harus mau menerima dan membaginya. Nggak bisa dikuasai seorang diri," bentak Niko. Ia kesal karena Fifah terlalu kekanakan.
"Apa selama ini Mas juga bergiliran memberikan nafkah batin pada kami?" tanya Fifah dengan mata nyalang.
"Iya. Aku akan memberikan nafkan batin pada Zoya setiap pagi dan sore sampai malam tiba. Baru bergantian sama kamu." Niko menjawab dengan jujur, ia tidak ingin menyembunyikan lagi setatus dan perlakuanya.
"Oh ya Tuhan sangat menjijihkan sekali. Jadi kamu pakai aku setelah memakai istri tuamu? Kamu bener-bener laki-laki bereng'sek Mas! Kamu bereng'sek. Memang tujuan kamu menikahi aku untuk apa, kalo kamu sendiri sudah memiliki istri. Apa kamu kurang puas dengan pelayanan istrimu. Sehingga kamu cari yang lebih mudah dan kuat untuk bergoyang di ranjang?" tanya Fifah dengan mengejek.
"Jaga mulut kamu yah Fah. Aku menikahi kamu hanya karena seorang anak. Aku bermain sama kamu bukan karena cinta dan pelayanan kamu yang liar dan memabukan. Aku menyirami rahim kamu karena sebuah tanggung jawab. Kalo kamu membandingkan pelayanan dengan Zoya, tentu Zoya tetap nomor satu. Dia sangat tau apa seleraku jadi aku akan merasakan kepuasan oleh sentuhanya." Niko berbohong padahal Fifah pun tak kalah jago apabila urusan ranjang. Hanya sajah Niko kesal dengan ucapan Fifah yang merendahkan Zoya. Padahal Zoya tidak pernah sedikit pun merendahkan Fifah. Justru Zoya selalu memuji Fifah.
Hahahaha... Fifah tertawa, tetapi dalam tangisnya. Terlalu sakit perkataan Niko baginya.
"Lalu apa mau kamu dengan tubuh ini?" tanya Fifah pasrah. Tubuhnya bahkan sudah tidak memiliki harga diri lagi.
"Aku tetap akan bergiliran dengan kalian setiap satu seminggu, tapi aku tetap akan mendatangimu setiap pagi sebelum kerja untuk memberikan kewajibanku. Kamu harus siap melayaniku apabila aku datang kesini. Karena aku nggak suk penolakan." Niko memberitahu yang bersifat mengancam.
Afifah pun membuang nafas kasar dan membuang pandangan kelain arah. "Kalo aku sudah bisa menghadirkan anak buat kalian lalu apa imbalan kalian untuk aku?" tanya Fifah dengan jutek.
"Apa pun yang kamu minta kami akan penuhi," balas Niko dengan yakin.
"Apa setelah kalian mendapat anak dariku. Kamu akan membuangku?" tanya ulang Fifah dengan pandangan masih ia buang ke samping.
"Itu semua tergantung kamu, mau melanjutkan pernikahan ini atau mau bercerei." Niko menjawab dengan santai Rasanya hati Fifah sangat sakit. Seolah ia sudah tidak ada harga dirinya lagi. Niko pun meninggalkan Fifah, mulai malam ini dan satu minggu kedepan Niko akan tidur di rumah Zoya dan akan menyambangi Fifah di pagi hari untuk menaburkan benihnya. Setelah itu Niko akan kembali meninggalkanya untuk bekerja.